Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Selir
Kaisar melangkah maju. Satu langkah. Aura kekaisaran meledak tanpa suara, seolah naga emas turun dari langit.
Ia berhenti tepat di depan Chen Gyu. Pandangan Kaisar menembus hingga ke tulang.
“Kau,” ucapnya pelan.
Kaisar mengangkat kakinya dan menendang Chen Gyu hingga terlempar beberapa langkah.
“Pengawal.”
“Siap, Yang Mulia!”
“Bawa dia ke penjara bawah tanah,” suara Kaisar dingin tanpa ampun. “Perlakukan seperti binatang. Masukkan ke kandang.”
Chen Gyu meronta histeris. “AMPUN!! Yang Mulia!! Hamba salah!!”
Kaisar tidak menoleh. Ia mengibaskan lengan jubahnya. Seolah suara itu tidak pernah ada.
Sementara si Pengadilan. Tanpa kehadiran kaisar, Jiao Lizhi tidak tinggal diam. Ia terus saja bergosip tentang kaisar. Betapa seru dan lezat nya melon kaisar saat ini.
Dan para pejabat tentu saja juga menikmati gosip Jiao Lizhi dan sistem nya di sepanjang kejadian.
“Wah… wah… wah... Melon hari ini benar-benar besar. Betapa seru dan lezatnya melon Kaisar kali ini.”
[Tuan Rumah, saat ini, kaisar akan menghukum pria itu!]
“Kaisar benar-benar menghukum Chen Gyu. Hukuman apa yang ia terima?”
Beberapa menteri langsung menegang.
“Hah?”
“Apa?”
“Benarkah?”
[Sekarang pria itu, dibawa ke penjara bawah tanah, dan akan diperlakukan seperti binatang sesuai perintah Kaisar.]
“Ckckck… bukankah hukuman itu terlalu ringan?”
Dalam Hati Para Menteri
“Ringan?!”
Para menteri hampir tersedak udara.
“Ringan dari mana?! Pria itu akan disiksa tujuh hari tujuh malam! Jika tujuh hari masih hidup, ia akan diseret kuda. Betapa sakit nya kulit dan dagingnya.”
Wajah-wajah pejabat itu pucat. Beberapa menteri tua bahkan merinding.
“Hukuman Kaisar… benar-benar mengerikan.”
Namun tak satu pun dari mereka berani membuka mulut.
Jiao Lizhi tampak sangat menikmatinya.
“Wow,” katanya lagi, matanya berbinar.
“Ini gosip paling seru yang kudengar belakangan ini.”
Para menteri, “…”
Telinga mereka, tanpa sadar, terbuka selebar mungkin. Tidak ada satu pun yang ingin melewatkan kelanjutannya.
“Cepat lanjutkan…” dalan hati pejabat.
“Sebentar. Aku juga penasaran. Gugu, cepat ceritakan, bagaimana Selir Cun dan pria itu bisa bertemu? Dan kenapa dia bisa jadi pengawal nya?”
Para menteri, “IYA. ITU. Kami juga penasaran!”
Para pejabat hampir ingin bertepuk tangan, jika saja mereka berani.
[Jadi begini ceritanya. Saat perburuan kerajaan, Selir Cun terpisah dari rombongan dan jatuh ke jurang. Chen Gyu yang kebetulan lewat menyelamatkannya.]
Beberapa menteri mengangguk pelan.
[Lalu dia dibawa pulang. Dijadikan pengawal pribadi. Dan saat Selir Cun masuk ke istana. Pria itu ikut masuk sebagai mahar.]
Ruangan seketika dipenuhi aura jijik tak terlihat. “Kalau begitu. Kalau suatu hari ada orang lain menolongnya. Apa semua akan dijadikan selingkuhan juga?”
Beberapa pejabat menggelengkan kepala, penuh penilaian.
“Tunggu. Kalau mereka sudah bersama begitu lama. Dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Jangan-jangan…” Jiao Lizhi sengaja menggantung kalimatnya.
Para menteri hampir kehabisan napas. Dalam hati semua Mentri bergejolak ingin bertanya,
Menteri Ritus, “Jangan-jangan apa?!”
Menteri lainnya, “Cepat katakan, Nona Jiao!”
Namun... Tiba-tiba, Jiao Lizhi terdiam. Ia menunduk sedikit. Lalu, dengan gerakan santai, ia mengeluarkan roti kukus putih isi daging dari lengan bajunya. “Ah… lapar.Bodoh sekali. Karena Kaisar tidak ada, pengadilan tidak dibubarkan.
Perutku protes.”
Jiao Lizhi menggigit bakpao itu perlahan. Aroma daging hangat langsung menyebar ke seluruh aula.
Para menteri, “...”
Tanpa sadar, satu per satu mereka menelan ludah.
“Kenapa baunya seenak itu?”
“Aku juga belum sarapan.”
Para menteri hanya bisa menatap bakpao itu, dengan mata penuh dendam dan lapar. “Sialan…
Nona Jiao, kenapa kau makan sekarang?!”
Jiao Lizhi sangat menikmati makanan nya, “Hm, bakpao ini sangat lezat, minus nya sudah dingin!”
Para menteri, “...”
Mentri Ritus terbatuk, “Huk, Huk, Huk!”
Jiao Lizhi yang hanya mendengar suara batuk dibelakangnya seketika menoleh, dan melihat Mentri Ritus menatapnya.
Dalam hati berbicara, “Kenapa kau melihatku? Apakah kau ingin mengambil bakpao ku? Hei pria tua, aku masih muda. Berani nya kau berminat dengan makananku.”
Mentri Ritus yang mendengar suara hati Jiao Lizhi merasa sakit dihati nya, meskipun itu benar. Tapi ia juga tak akan mengambil bakpao Nona Jiao. Apakah ia berani? Tentu saja tidak. Ia merasa kesakitan di salahpahami oleh Jiao Lizhi.
Jiao Lizhi buru-buru menghabiskan suapan terakhir tepat didepan Mentri ritus, sehingga Mentri ritus ingin rasanya menangis.
Lalu, Jiao Lizhi membalikkan kepalanya kembali, dan membereskan remahan makanan di sekitar mulutnya dengan lengannya. Jiao Wenqing yang melihat tingkah anak nya dari awal hingga akhir merasa penuh kesakitan. Tapi, ia tidak melakukan apapun untuk Jiao Lizhi.
Di Kediaman Selir Cun, Selir Cun berlutut dengan tubuh gemetar. Rambutnya kusut, wajahnya pucat pasi. Ia meraih ujung jubah naga Kaisar dengan tangan gemetar, seolah itulah satu-satunya penyelamatnya.
“Yang Mulia… ampuni hamba…” Suaranya bergetar, penuh tangis.
“Hamba… hamba sedang mengandung.”
Kalimat itu jatuh seperti petir. Kaisar tertegun.
Untuk sesaat, waktu seakan berhenti.
Tatapan Kaisar yang semula dipenuhi amarah berubah menjadi lebih marah. Napasnya tertahan, rahangnya mengeras. Ia menatap perempuan di kakinya yang baru pertama kali melihat wajahnya.
Meskipun tak ada rasa terhadap selir ini, tapi selir nya juga merupakan wajah kerajaan. Beraninya ia mencoreng wajahnya dengan aibnya.
“Seret dia,” ucapnya dingin. “Masukkan ke Istana Dingin.”
Selir Cun menjerit, memohon, namun suaranya tak lagi berarti apa-apa.
“Setelah ia melahirkan,” lanjut Kaisar, suaranya datar namun kejam, “hukuman lanjutan akan ditetapkan.”
Peristiwa di kediaman Selir Cun, tentu saja semua orang tau meskipun tidak berada ditempat kejadian, karna mereka mendengar suara hati Jiao Lizhi.
“Hah? Hamil? Lalu langsung dijatuhi hukuman Istana Dingin?”
Para pejabat saling melirik, bingung, ragu, gelisah.
Pejabat dalam hati, “ Apakah Yang Mulia berniat memaafkannya setelah melahirkan? Tapi… itu jelas bukan darah naga.”
Pertanyaan menggantung di benak semua orang.
Tak ada yang berani mengucapkannya.
[Tuan rumah, Kaisar kembali.]
Secepat kilat, para pejabat, termasuk Jiao Lizhi, merapikan jubah, membenahi posisi, lalu bersujud rapi.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar dan kaisar kembali ke tempat singgasananya.
“Salam untuk Yang Mulia.”
Kaisar berdiri di singgasananya, wajahnya gelap, aura amarah masih belum sepenuhnya surut.
Jiao Lizhi menatap Kaisar diam-diam, “Yang mulia tidak akan melampiaskan amarah nya pada kita bukan? Kami tidak menjadikan nay pria yang diselingkuhi oleh selir nya, jadi kenapa yang mulia terlihat wajah nya merah dan ingin memakan kami hidup hidup?”
Para pejabat dalam hati, “SETUJU. SETUJU SEKALI.”
Tak satu pun berani mengangkat kepala.
Kepala Kasim berdiri di sisi Kaisar, dalam hati penuh dengan kebingungan dan tanda tanya besar, “Bagaimana Yang Mulia bisa tahu selirnya berselingkuh? dan tepat memergoki mereka? Dan kenapa wajahnya semakin merah.”