Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: SANGKAR EMAS SANG MAFIA
Deru mesin helikopter pribadi klan Dirgantara perlahan menghilang, digantikan oleh suara deburan ombak yang menenangkan. Arkano tidak membawa Alana kembali ke mansion utama di tengah kota yang kini sedang panas karena pelarian Pak Hendrawan. Sebaliknya, ia membawa "serigala betinanya" ke sebuah pulau pribadi di gugusan Kepulauan Seribu—sebuah sangkar emas yang hanya diketahui oleh orang-orang kepercayaan Arkano.
Arkano turun lebih dulu, lalu berbalik dan merentangkan tangannya untuk membantu Alana. Namun, ia tidak hanya membantu; ia langsung mengangkat tubuh Alana dalam gendongan bridal style, mengabaikan protes kecil dari istrinya.
"Arkano, turunkan aku! Marco dan yang lainnya melihat!" bisik Alana dengan pipi yang mulai merona merah.
Arkano justru mempererat pelukannya, menatap mata Alana dengan intensitas yang bisa melelehkan baja. "Biarkan mereka melihat. Mereka perlu tahu bahwa wanita yang baru saja mengacak-acak dermaga semalam adalah wanita yang paling aku puja di dunia ini. Kau adalah pahlawanku, Alana. Dan pahlawan berhak mendapatkan pelayanan istimewa."
Marco yang berjalan di belakang mereka hanya berdehem kecil, mencoba mengalihkan pandangan, sementara pengawal lainnya tampak terpukau. Mereka belum pernah melihat sisi "bucin" sang singa Dirgantara yang sedahsyat ini.
Villa di pulau itu sangat mewah, dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke laut lepas. Begitu sampai di kamar utama, Arkano menurunkan Alana dengan sangat lembut di atas ranjang king-size bersprei sutra. Ia tidak langsung pergi, melainkan berlutut di depan Alana dan mulai melepaskan sepatu bot taktis yang masih dikenakan istrinya.
"Kau terlalu banyak bergerak semalam. Kakimu lecet," gumam Arkano dengan nada yang terdengar seperti omelan namun penuh kasih sayang. Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka kecil di kaki Alana dengan gerakan yang sangat telaten.
Alana menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. "Arkano, kenapa kau melakukan semua ini? Aku hampir saja menghancurkan rencana penyamaran yang dikelola kepolisian selama bertahun-tahun. Aku sekarang adalah musuh publik bagi unit Hendrawan."
Arkano mendongak, jemarinya mengusap pergelangan kaki Alana. "Karena kau menyelamatkanku, Alana. Kau memilihku daripada sistem yang mengkhianatimu. Bagiku, itu lebih berharga daripada seluruh wilayah kekuasaanku. Jika seluruh dunia menganggapmu musuh, maka aku akan menjadi benteng yang akan menghancurkan dunia itu untukmu."
Sentuhan Arkano naik ke lutut Alana, lalu ia berdiri dan mengurung Alana dengan kedua tangannya. Aura dominannya menyelimuti ruangan. "Tapi jangan pikir kau bisa lolos begitu saja. Karena kau sudah menunjukkan kemampuan aslimu, aku tidak akan pernah membiarkanmu berada lebih dari satu meter dariku tanpa pengawasanku. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berkeliaran sendiri."
Alana tersenyum miring, keberaniannya sebagai mantan agen tetap ada. Ia melingkarkan lengannya di leher Arkano, menarik pria itu lebih dekat. "Jadi, ini adalah bentuk posesif baru, Tuan Dirgantara?"
"Ini adalah bentuk pemujaan, Nyonya Dirgantara," jawab Arkano sebelum membenamkan bibirnya di bibir Alana, sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dengan janji kesetiaan yang gelap.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam menciptakan gradasi warna jingga dan ungu di langit, Alana duduk di balkon sambil menikmati angin laut. Namun, ketenangan itu terusik saat Marco datang membawa sebuah tablet komputer dengan wajah serius. Arkano yang sedang menuangkan wine segera mendekat.
"Tuan, ada pergerakan dari sisa-sisa klan Silver Fang. Dante memang sudah kita lumpuhkan, tapi saudaranya, Leo, baru saja mendarat dari luar negeri. Dia membawa tentara bayaran untuk membalas dendam atas gudang yang kita bakar," lapor Marco.
Arkano meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. Matanya berkilat penuh amarah. "Leo? Dia pikir dia bisa menantangku di kandangku sendiri?"
"Ada yang lebih buruk, Tuan," Marco menggeser layar tabletnya. "Kami melacak sinyal komunikasi terakhir dari markas Hendrawan sebelum dia melarikan diri. Dia sempat mengirimkan data rahasia tentang titik buta radar di pulau ini kepada Leo. Mereka bekerja sama."
Alana bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras. "Hendrawan benar-benar tidak menyerah. Dia menggunakan klan rival untuk melakukan pekerjaan kotornya karena dia tidak bisa menggunakan jalur resmi kepolisian lagi."
Arkano menatap Alana, lalu beralih ke Marco. "Perketat semua lini pertahanan. Aktifkan sistem ranjau air di sekitar dermaga pulau. Dan Marco... siapkan ruang persenjataan di villa ini. Aku ingin Alana mendapatkan senjata terbaiknya lagi."
Arkano berbalik arah Alana, membelai rambutnya dengan gerakan protektif. "Maafkan aku, Sayang. Sepertinya liburan tenang kita harus tertunda. Tapi jangan takut, kali ini kita tidak akan hanya bertahan. Kita akan memancing mereka masuk ke dalam jebakan kita."
Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan laut. Tiba-tiba, ia merasakan pelukan hangat dari belakang. Arkano menyandarkan dagunya di bahu Alana.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Arkano lirih.
"Aku memikirkan bagaimana Hendrawan bisa begitu haus akan kekuasaan hingga mengorbankan anak buahnya sendiri," jawab Alana pelan. "Dan aku berpikir... apakah aku benar-benar pantas berada di sini, di sampingmu, sementara aku membawa begitu banyak bahaya ke hidupmu?"
Arkano membalikkan tubuh Alana agar menghadapnya. Di bawah cahaya lampu temaram, wajah Arkano tampak sangat tulus. "Bahaya adalah napasku, Alana. Sebelum kau datang, hidupku hanyalah tentang perang yang hampa. Tapi sekarang, perang ini memiliki tujuan. Perang ini untuk melindungimu. Kau bukan membawa bahaya, kau membawa alasan bagiku untuk tetap hidup."
Arkano mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan pintar yang telah dimodifikasi. "Ini bukan jam tangan biasa. Ini memiliki pelacak GPS yang tidak bisa dilacak oleh satelit kepolisian, dan ada tombol darurat yang terhubung langsung ke ponselku dan Marco. Pakai ini. Janjilah padaku, Alana... kau tidak akan pernah menghadapinya sendirian lagi."
Alana mengangguk, membiarkan Arkano memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangannya. "Aku janji, Arkano."
"Bagus," Arkano mencium kening Alana dengan sangat lama. "Sekarang, istirahatlah. Besok, kita akan menunjukkan pada Leo dan Hendrawan bahwa bermain dengan klan Dirgantara adalah kesalahan terakhir dalam hidup mereka."
Saat Alana merebahkan diri di pelukan Arkano malam itu, ia merasa sebuah kedamaian yang aneh. Ia berada di pelukan seorang mafia, di tengah kepungan musuh dan pengkhianatan kepolisian, namun ia merasa lebih aman daripada saat ia berada di markas besar polisi. Ia tahu, esok hari darah akan kembali tumpah, tapi selama ada Arkano di sampingnya, ia siap menghadapi neraka sekalipun.
Tanpa mereka sadari, di kejauhan, beberapa perahu cepat tanpa lampu mulai mendekati koordinat pulau. Leo dan timnya sudah mulai bergerak, membawa dendam yang membara dan haus akan darah sang permaisuri mafia.
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
makasih ya udah dukung karya ku😊