Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABY TRIPLE
Cinta? Calix tidak lagi menampik perasaan itu. Dania bukan sekadar obsesi; wanita itu adalah separuh jiwanya yang hilang. Kepergian Dania telah menghancurkan dinding pertahanan yang Calix bangun bertahun-tahun, namun juga meninggalkan luka yang membuatnya menjadi monster.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar rawat terbuka. Mang Asep masuk dengan wajah berseri-seri. "Maaf Tuan Muda Rafael, mobil sudah siap di lobi."
"Oh, Mang Asep! Tolong bawakan tas besar ini ke bagasi ya, Mang," perintah Rafael sopan.
"Baik, Tuan Muda." Mang Asep segera mengangkat tas berat itu. Meski ia hanya seorang supir, Dania dan Rafael selalu memperlakukannya dengan hormat, sebuah kemanusiaan yang jarang ditemukan di kalangan orang kaya.
Mereka pun melangkah keluar. Ketiga bayi itu ditempatkan di sebuah stroller khusus pesanan Dania. Rafael dengan bangga mendorong kereta bayi itu, sementara Dania berjalan di sampingnya. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia, meskipun ada satu kepingan yang hilang: sang ayah.
Di Negara A, suasana di gedung Batrix Group sangat mencekam. Calix Matthew Batrix duduk di kegelapan ruang kerjanya, hanya ditemani cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar. Di tangannya, ia memegang selembar foto Dania yang sudah mulai lusuh karena terlalu sering disentuh.
Cinta? Calix tidak lagi menampik perasaan itu. Dania bukan sekadar obsesi; wanita itu adalah separuh jiwanya yang hilang. Kepergian Dania telah menghancurkan dinding pertahanan yang Calix bangun bertahun-tahun, namun juga meninggalkan luka yang membuatnya menjadi monster.
Kini, Calix dikenal sebagai "Iblis Berdarah Dingin". Ia tidak lagi memiliki toleransi. Kesalahan sekecil apa pun di perusahaannya bisa berujung pemecatan atau hal yang lebih buruk.
Flashback: Satu Minggu Lalu
Waktu menunjukkan pukul 21:00, namun Calix masih berkutat dengan dokumen. Wajahnya tirus, matanya cekung, dan ia tampak mengabaikan kesehatannya sendiri.
"Tuan, saya mohon, pulanglah. Jika Nyonya tahu Anda seperti ini, beliau akan sedih," bujuk Samuel. Ia terpaksa berbohong menggunakan nama Dania agar tuannya mau bergerak.
Mendengar nama "Nyonya", Calix akhirnya berdiri. Mereka berangkat menuju sebuah Bar eksklusif untuk sedikit melepas penat. Di ruang VVIP yang sunyi, seorang pelayan wanita masuk dengan pakaian sangat minim. Ia mencoba menggoda Calix, bahkan dengan berani menjatuhkan diri di pangkuan sang CEO.
"APA YANG KAU LAKUKAN, JAL*NG!" bentak Calix. Ia menghempaskan wanita itu hingga terbentur dinding.
Emosi Calix yang tak stabil meledak. Ia muak dengan wanita-wanita yang mencoba menggantikan posisi Dania. Tanpa ragu, ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
DOR!
Satu peluru tepat bersarang di kepala pelayan itu. "Pergilah ke neraka," desis Calix dingin. "Samuel, bereskan sampahnya."
Kembali ke masa kini, Calix masih memeluk bingkai foto Dania. "Sayang... di mana kau? Aku hampir gila merindukanmu."
Samuel yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menghela napas panjang. Kondisi Calix semakin memprihatinkan. Ia gila kerja, sering melewatkan waktu makan, dan hanya hidup untuk mencari Dania.
"Nyonya, cepatlah kembali. Tuan akan benar-benar hancur tanpa Anda," batin Samuel sedih.
Meski Dania tidak pernah menginjakkan kaki di Batrix Group, namanya sudah menjadi hukum yang tak tertulis. Di seluruh gedung, mulai dari resepsionis hingga tim keamanan, semua orang wajib mengenal wajah Dania dari foto yang diberikan Samuel. Seluruh anak buah di organisasi Black Dragon juga diinstruksikan untuk memanggil Dania dengan sebutan "Nyonya".
Dania adalah ratu di kerajaan yang tidak pernah ia kunjungi. Dan di belahan dunia lain, sang ratu baru saja memulai hidup barunya dengan tiga pangeran dan putri yang membawa nama sang raja: Batrix.
🤍__________Calix & Dania___________🤍
Oek! Oek! Oek!
Suara lengkingan itu memecah keheningan malam. Dania tersentak, kelopak matanya terbuka paksa. Rasa kantuk yang luar biasa masih menggelayuti pundaknya—maklum, ia baru saja terlelap lima belas menit yang lalu setelah berjuang menidurkan Arka.
Dania menoleh ke arah boks bayi. "Bukan Arka," gumamnya serak. Ternyata putri kecilnya, Azura, yang kini sedang menangis kencang dengan wajah memerah.
Cepat-cepat Dania menggendong Azura. Ia tidak ingin tangisan si bungsu membangunkan dua abangnya yang baru saja terlelap. Arka tadi baru saja tidur setelah drama ganti popok karena pup, sementara Arfa, putra pertamanya, memang yang paling tenang di antara ketiganya.
"Cup, cup, cup... Putri cantiknya Mommy kenapa, sayang? Hem?" Dania menimang-nimang Azura dalam pelukannya, berjalan pelan mondar-mandir di kamar yang remang.
"Kenapa, Sayang? Zura pup, ya?" Dania mengecek popoknya, tapi ternyata kering. "Oh, ternyata nggak pup. Pengen nen, ya?" Dania mengelus pipi halus putrinya yang mulai tenang terkena sentuhan jemarinya.
"Iya, iya, ayo kita nen dulu."
Dania duduk di sofa sudut kamar, membuka kancing piyamanya, dan memberikan nutrisi untuk Azura. Bayi mungil itu langsung menghisap dengan rakus.
"Ssttt... pelan-pelan, Cantik. Nggak ada yang bakal rebut, kok," bisik Dania sambil meringis sedikit saat merasa hisapan Azura terlalu kuat. Ia mengelus dahi putrinya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus.
Setelah merasa cukup lama, Dania mencoba memindahkan posisi Azura ke sisi satunya agar seimbang. Namun, baru saja dilepas, Azura kembali protes.
Oek! Oek!
"Eh, iya, iya... ini sayang, ganti yang satunya lagi ya." Dania tersenyum tipis. Di antara ketiga bayi kembar itu, Azura memang yang paling kuat menyusu.
Sambil memandangi wajah damai putrinya, hati Dania tiba-tiba berdenyut nyeri. Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. "Zura, tumbuhlah jadi gadis yang baik dan tangguh, ya. Dunia ini keras, Nak. Tapi Mommy yakin, Zura dan abang-abang bakal jadi anak yang hebat."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Kalau nanti kalian sudah dewasa dan merasa dunia nggak adil, pulanglah ke pelukan Mommy. Jangan pernah merasa sendirian, sayang. Mommy selalu ada."
Pikiran Dania melayang pada sosok pria yang seharusnya ada di sampingnya saat ini. "Zura harus tahu, kalian punya Daddy, Nak. Suatu saat nanti, kalian pasti akan bertemu dia."
Setelah Azura benar-benar terlelap, Dania meletakkannya kembali ke boks dengan sangat hati-hati, menyelimutinya, dan memberikan empeng agar tidurnya lebih nyenyak.
Penyelamat di Pagi Buta.
Dania baru saja akan memejamkan mata saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Tubuhnya remuk. Ini hari kelima mereka di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Mengurus tiga bayi baru lahir sendirian adalah perjuangan yang tak terbayangkan.
Namun, baru saja ia bermimpi indah, suara koor tangisan kembali pecah. Kali ini bukan satu, tapi ketiganya!
Dania mendengar suara itu seperti dalam mimpi. Ia terlalu lelah untuk benar-benar sadar. Di saat itulah, Rafael, adiknya, lewat di depan kamar karena haus ingin mengambil minum. Langkahnya terhenti mendengar tangisan keponakan-keponakannya yang bersahutan.
NTAR KELUAR DRAMA PENYESALAN DAN MAAF DENGAN AIR MATA BUAYA NYA..CKK