NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Slice of Life / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter²¹ — Sesuatu Yang Berbahaya Sedang Mendekat.

“Ini, Teh… ada laki-laki nyari Teteh.” Alya menahan senyum nakal. “Badannya tinggi, wajahnya ganteng. Ini kekasih Teteh, ya?”

Mata Malvin langsung melotot. Namun ia memilih diam, seakan sedang menahan sesuatu agar tidak meledak.

Tak lama kemudian, Lastri muncul di samping Alya. Ia masih mengenakan mukena. Wajahnya berseri, senyumnya lebar saat melihat keberadaan Malvin. Dia seperti seseorang yang baru saja mendapat kabar baik.

“Pak… kok nggak bilang kalau kembali ke sini?” tanyanya lembut.

“I-itu…”

“Oh... jadi ini bukan pacar Teteh, ya?” potong Alya cepat.

“Aku pacarnya!” Malvin menyahut spontan.

Alya mengerjap, lalu mendengus kecil. “Pacar? Tapi kok Teh Lastri manggilnya ‘Pak’? Aneh banget…”

“Iya tuh,” Kalvin ikut menimpali dari belakang. “Harusnya manggilnya ‘Abang sayang’.”

Wajah Malvin membeku, ternyata adik laki-lakinya pun ada disana. Matanya makin membesar saat melihat Kalvin mengenakan koko putih dan sarung sederhana. Penampilan yang… sungguh di luar bayangannya.

Lastri masih berdiri di ambang pintu, mukena putihnya jatuh rapi sampai mata kaki. Wajahnya merah merona, karena dua “mahasiswa magang” itu seperti tidak punya rem sama sekali saat bicara dan terkesan menggodanya.

Alya menahan tawa, sementara Kalvin tampak menikmati ekspresi Malvin yang mulai mengeras.

“Teh, ngobrol saja. Kami masuk dulu,” ujar Alya sigap.

Ia langsung menarik tangan Kalvin masuk ke dalam rumah, terlihat seperti memberi ruang. Namun kenyataannya, mereka hanya mundur beberapa langkah, lalu berhenti di balik pintu. Keduanya memasang telinga dengan bersemangat untuk menguping.

Lastri mempersilakan Malvin duduk di kursi teras. Setelah mereka sama-sama duduk, Lastri menatapnya. Matanya jernih, tenang… dan entah kenapa, membuat Malvin merasa seolah sedang ditelanjangi oleh ketulusan.

“Pak… kok nggak bilang kalau kembali ke sini?” tanyanya sekali lagi.

Malvin menelan ludah. Ada rindu yang mengendap di dadanya, terlalu lama disimpan. Ia menghela napas pelan. “Aku cuma ingin cepat-cepat ketemu kamu, niatnya mau kasih kejutan. Dan… aku terlalu merindukanmu.“

Tapi justru aku yang akhirnya mendapat kejutan, dari kedua adikku sendiri.

Di balik pintu, Kalvin langsung membelalak, ia sampai menutup mulutnya sendiri. Alya pun nyaris tersedak, matanya melebar. Keduanya menguping dengan jantung ikut berdebar—seakan yang sedang ditembak bukan Lastri, melainkan mereka.

Lastri menarik nafas dalam-dalam untuk menyiapkan diri.

“Maaf kalau aku datang mendadak,” lanjutnya, suara Malvin lebih rendah kali ini. “Aku cuma… takut kalau aku menunda lagi, aku bakal kehilangan kesempatan buat ngomong langsung.”

Malvin lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat, ia tidak melewati batas tapi cukup untuk membuat Lastri bisa merasakan keseriusan ucapannya.

“Pak Malvin…” Lastri menatap Malvin berusaha tampak tenang, tapi jemarinya mencengkeram ujung mukena.

“Jawabanmu waktu video call semalam… masih berlaku, kan?” suaranya menurun, lebih pelan. “Kamu masih menerima perasaanku… kan?”

Lastri belum menjawab.

Malvin menatap Lastri dalam-dalam. “Aku ingin mengatakan lagi secara langsung padamu. Lastri… aku mencintaimu.”

Lastri menatap Malvin, matanya bergetar. “Aku… aku juga…” Lastri seperti kehilangan suara. “Aku juga punya perasaan yang sama, Pak.”

Malvin tersenyum sumringah. “Jangan panggil aku ‘Pak’ lagi. Panggil aku apa saja terserah kamu, tapi jangan yang formal.”

Wajah Lastri makin memerah.

Di dalam Kalvin berbisik ke Alya, “Gila… beneran.”

Alya menutup mulutnya lagi. “Ini kayak sinetron, Bang.”

Malvin menatap Lastri, suaranya turun. “Jadi... mulai malam ini, kita resmi jadi sepasang kekasih.”

Lastri terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Iya, Bang.”

Malvin menghembuskan napas panjang, seolah baru bisa bernapas setelah berbulan-bulan. Ia tersenyum, jelas senang—seolah panggilan baru dari Lastri itu diam-diam menjadi hadiah kecil untuknya.

Di dalam rumah di belakang pintu, Alya menepuk dada sendiri. “Aku ikut deg-degan tadi nunggu jawaban Teh Lastri...”

Kalvin menelan ludah. “Gue juga.”

Malvin akhirnya menoleh, seolah baru sadar ada dua pasang mata yang mengintip. Ia memasang ekspresi datar, profesional. Lalu menatap Kalvin dan Alya.

“Kalian berdua…” Malvin mengangguk singkat, seperti menyapa orang yang baru dikenalnya. “Siapa?”

Keduanya membeku. Sudah terlanjur ketahuan mengintip, akhirnya mereka pun keluar juga. Berpura-pura santai meski wajah mereka jelas gugup.

Kalvin cepat mengatur wajah. “K-kami, mahasiswa magang yang numpang tinggal disini.“

Malvin menatap tajam.

Kalvin menelan ludah.

Dan Malvin, akhirnya memilih ikut bersandiwara. Karena ia juga belum ingin Lastri tahu siapa mereka sebenarnya.

“Mau masuk ke dalam?“ Lastri mempersilakan Malvin masuk, namun ditolak secara halus.

“Aku nggak akan lama, aku cuma ingin ketemu kamu sebentar saja. Besok… kita ketemu lagi.”

Lastri mengangguk.

Malvin akhirnya menatap Kalvin lagi. “Kamu masih mau tetap tinggal di sini?” tanyanya.

Kalvin mengangguk ragu. “Iya… cuma sementara.”

Malvin langsung menghela nafas, wajahnya berubah serius.

“Lastri,” ucap Malvin pelan, menoleh pada wanita itu. “Aku nggak nyaman kalau ada laki-laki lain menginap di rumah kamu.”

Lastri terkejut. “Tapi… dia kan mahasiswa magang, Bang. Dia dan Alya nggak punya tempat lain.”

Malvin menggeleng. “Ini tidak pantas, kamu perempuan. Kamu bilang di pesan, orang tuamu sedang ke desa sebelah. Berarti, kamu tinggal sendiri sekarang. Nanti kamu… jadi bahan omongan orang lagi.”

Lastri terdiam, ia tentu saja paham tapi juga tidak tega.

“Kalau kamu butuh tempat, kebetulan aku juga punya rumah sewaan di desa ini,” ujar Malvin pada Kalvin, tetap menjaga ekspresi seolah mereka baru bertemu. “Kamu bisa ikut aku malam ini.”

Kalvin refleks hendak menolak, ia benar-benar sudah terlanjur betah tinggal bersama Lastri.

Alya langsung menatapnya tajam kakak laki-laki keduanya itu, ia memberi kode—jangan ngelawan.

Kalvin akhirnya mengangguk.

“Tapi…” Lastri menatap Alya. “Alya gimana?”

Malvin menoleh ke Alya. “Dia perempuan, tentu saja boleh tetap di sini.”

Lastri menatap Alya.

Alya cepat-cepat mengangguk. “Aku mau tinggal sama Teteh!”

Lastri menghela napas. “Baiklah, kalau begitu… Kalvin ikut Pak Malvin. Alya tinggal di sini.”

Beberapa menit kemudian, Malvin dan Kalvin melangkah menuju mobil. Lastri ikut berjalan di belakang, mengantar sampai depan. Di sampingnya, Alya berdiri sambil melambaikan tangan—manisnya dibuat-buat, tapi jelas sengaja.

“Bang Malvin hati-hati ya!” seru Alya.

Malvin melirik Alya tajam.

Alya nyengir.

Lastri menatap Malvin, suaranya pelan. “Bang… terima kasih sudah datang.”

Malvin menatap Lastri cukup lama, seolah ingin memastikan wajah itu benar-benar tersimpan baik di kepalanya. Lalu ia mengangguk pelan, menahan banyak hal yang ingin ia ucapkan. Sesaat kemudian, mobilnya melaju meninggalkan rumah itu.

Namun tanpa Lastri sadari, sesuatu yang berbahaya sedang bergerak mendekat ke arahnya.

1
Shee_👚
g usah takut lastri, orang bener pasti menang. karena ada bang malvin dan Allah g tidur
Shee_👚
mampus g tuh, makan deh tuh keserakahan. berani berbuat berani bertanggung jawab
Shee_👚
takut banget ke tahuan belang nya😏
Shee_👚
lastri dah bisa melawan sekarang, dia dah mulai berfikir terbuka dan melawan musuh dengan cara yang musuh ajarkan
Nie
mantap,keren Lastri..kamu memang perempuan hebat yg pantas mendampingi Malvin
anita
sinta biar di nikahi denis
Tiara Bella
mantap akhirnya ngaku dan langsung ditangkap polisi.....
Tiara Bella
viralin aja Lastri pak hadi biar kapok dia
Fia Ayu
Up lagi kak re,,,, 😁
Rere💫: Eh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
tambah ga sabar aja aku nunggu kelanjutannya Thor semangat ya nulis 💪🙏
vj'z tri
ow ow ow tanggung jawab Thor cerita nya seruuuu up nya double double hayoooo 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Kelen si bapake
Evi Lusiana
lah anak manja msuk desa,justru kau tk sebanding dgn wanita setangguh lastri
Astrid valleria.s.
woww makin seru ya thor...semangat thor..sambil ngopi dulu☕️
panjul man09
lastri tidak boleh tinggal terpisah dgn malvin ,bisa culik sama orang pak hadi dan surya
panjul man09
sejauh ini , ceritanya sangat menarik apalagi di awal2 , ringan tdk banyak konflik. tata bahasanya lumayan , harus sesuai kehidupan di desa ..
panjul man09
thor , suruh pulang kekota itu si fahira , terlalu banyak pemeran bikin pusing saja
juwita
kades sm angota DPR sm" bejat saling menutupi kebohongan mrk.
Tiara Bella
ceritanya bagus aku suka....
Tiara Bella
langsung tangkap aja tuh Hadi sama aja sm Surya kelakuannya....11 12....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!