Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Pagi itu rumah Reno masih sunyi. Reno sudah masuk kamar mandi, suara shower terdengar samar dari lantai atas.
Kenzo melirik sekitar, memastikan aman. Tanpa ragu, dia melangkah cepat menuju kamar Naya.
Klik.
Pintu dibuka.
Masuk.
Ditutup lagi.
Dikunci.
Naya masih terlelap di kasurnya, selimut menutup setengah tubuhnya. Nafasnya teratur, wajahnya damai.
Kenzo tersenyum kecil. Ia ikut merebahkan diri di sisi Naya, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
“Hemm…” Naya mengerang pelan.
Kayak wangi parfumnya… Kenzo? batin Naya samar.
Naya beringsut, matanya terbuka setengah. Begitu sadar ada seseorang di sampingnya, ia langsung duduk.
“Ngapain??” Naya melotot.
“Mau tidur lah sama lo,” jawab Kenzo santai, masih memeluk.
“Kenzo!” Naya menepuk dadanya pelan.
“Kalo Mommy ke sini gimana??”
Naya langsung berusaha mendorongnya.
“Keluar sekarang. Ayo cepet!”
“Gak bisa,” Kenzo malah merapat.
“Gue butuh pelukan dari elo.”
“Anjir, gila,” gumam Naya frustasi.
“Mommy pasti bangunin gue kalo pagi.”
“Peluk dulu,” Kenzo merentangkan tangannya.
“Gak mau. Cepet keluar,” Naya menolak, tapi suaranya sudah nggak setegas itu.
Kenzo nyengir.
“Padahal semalem sleep call.”
Sebelum Naya sempat membalas, Kenzo menariknya ke dalam pelukan. Hangat. Nyaman. Terlalu nyaman.
Lalu—
Kenzo mengecup bibir Naya singkat.
“Morning kiss,” katanya ringan.
Naya membeku.
Jantungnya langsung balapan.
“Kenzo—”
Kenzo bangkit, berjalan ke pintu, tangannya sudah di kunci.
Tiba-tiba—
Tok tok tok.
“Naya, kok pintunya dikunci?” suara Mommy terdengar jelas dari luar.
Naya panik. Mata langsung melotot ke arah Kenzo.
"Mati gue!!"
"Aduh gimana dong? Gara-gara lo!"
“Emm...Naya abis dari kamar mandi, Mommy!” jawab Naya cepat.
Di luar, hening beberapa detik.
“Cepetan siap. Jangan lama-lama di kamar,” kata Mommy akhirnya.
“Iya, Mommy,” jawab Naya lega.
Langkah kaki menjauh.
"Aduh jantung gue mau copot"
Naya langsung menoleh tajam ke Kenzo.
“Keluar. SekARANG.”
Kenzo tertawa kecil, membuka pintu perlahan.
“Oke, galak.”
Sebelum keluar, ia menoleh lagi.
“Abis wall climb nanti, jangan bilang lo gak nyari gue.”
“Pergi sana,” Naya mendengus.
Kenzo mengedipkan mata.
“See you, my princess.”
Pintu tertutup.
Naya jatuh terduduk di kasur, menarik selimut sampai dagu.
Gila… pagi-pagi udah bikin deg-degan aja, batinnya.
Dan hari itu… baru saja dimulai.
...----------------...
Area wall climb pagi itu sudah ramai. Tali, helm, dan dinding tinggi penuh pegangan warna-warni berdiri kokoh, bikin siapa pun yang baru pertama kali datang auto nelen ludah.
“Ayo, kita pemanasan dulu,” kata instruktur dengan suara tegas tapi santai.
“Berbaris ya, semua ikuti saya.”
Semua peserta membentuk barisan. Instruktur mulai memperagakan gerakan pemanasan—leher diputar, tangan direntangkan, kaki digerakkan satu per satu. Peserta lama maupun baru mengikuti.
Kenzo dan Reno terlihat santai, gerakannya rapi dan terbiasa. Berbeda jauh dengan Naya dan Citra yang masih kaku.
“Gue ngerasa kayak mau ujian hidup,” bisik Citra.
Naya nyengir tipis.
“Dindingnya tinggi banget.”
Setelah pemanasan selesai, instruktur memberi aba-aba.
“Yang sudah biasa, silakan mulai dulu.”
Reno dan Kenzo langsung maju. Harness terpasang, tali dicek, lalu keduanya mulai memanjat dengan cepat dan percaya diri.
Pegangan demi pegangan mereka lewati tanpa ragu.
“Oke, Reno… Kenzo… sip, bagus!” puji instruktur.
Dari bawah, Naya dan Citra menatap ke atas dengan mata membulat.
Citra menoleh ke Naya.
Terus kita gimana?
Ngeri banget manjat…
Naya menelan ludah.
Gue bahkan naik tangga aja suka gemeter.
Tak lama, Reno dan Kenzo turun kembali ke bawah. Keduanya melepas helm, tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, seorang perempuan datang. Rambutnya dikuncir tinggi, wajahnya cerah, auranya kelihatan… percaya diri.
“Eh!” Reno langsung nyengir.
Mereka saling tos. “Lama gak ketemu.”
Perempuan itu lalu menoleh ke Kenzo.
Tanpa canggung, mereka saling mendekat.
“Hi,”
“Hi.”
Cipika cipiki.
Citra dan Naya langsung saling tatap.
😶
😶
“Siapa tuh?” bisik Citra.
Naya menggeleng pelan, matanya masih tertuju ke arah Kenzo dan perempuan itu.
Kenzo tertawa kecil, kelihatan akrab.
Instruktur menyapa perempuan itu, jelas mereka sudah saling kenal lama.
Perempuan itu lalu melirik ke arah Naya dan Citra sebentar… sekilas, tapi cukup terasa.
Naya menarik napas pelan.
'Oke… ini siapa lagi?'
Dan entah kenapa, dinding wall climb itu terasa makin tinggi dari sebelumnya.
Kenzo menoleh ke arah Naya dan Citra.
“Eh, sini,” katanya santai.
“Kenalin, ini Arumi.”
Perempuan itu langsung melangkah maju dengan senyum lebar.
“Haii,” katanya ceria. “Aku Arumi.”
“Ini Naya,” Kenzo menunjuk ke sampingnya.
“Terus yang itu Citra.”
“Nice to meet you,” Arumi mengangguk ramah, tapi entah kenapa matanya lebih sering balik lagi ke Kenzo.
“Iya, sama-sama,” jawab Citra sopan.
Naya cuma mengangguk tipis. “Hai.”
Belum sempat suasana cair, Arumi sudah mendekat ke Kenzo lagi.
Ia mencondongkan badan, berbisik sesuatu di telinga Kenzo.
Kenzo ketawa.
“Lo masih aja,” katanya sambil geleng-geleng.
Arumi ikut ketawa, tangannya reflek
menggenggam pergelangan tangan Kenzo.
“Kan seru.”
Kenzo nggak langsung melepas. Mereka masih ketawa kecil, bisik-bisik lagi, akrab banget.
Dari samping, Naya melihat semuanya tanpa berkedip.
Ada rasa aneh di dada.
Panas.
Kesel.
Campur aduk.
Citra melirik Naya dari ujung mata. Lama-lama.
“Nay?” bisiknya.
“Kenapa?” Naya jawab cepat, terlalu cepat.
Citra nyengir kecil.
“Gak apa-apa?”
“Gak,” jawab Naya singkat.
Citra mendekat dikit.
“Cemburu nihh.”
Naya langsung menoleh.
“Emang dia sape gue.”
Citra mengangkat alis.
“Alahh. Kemarin aja lu belain dia abis-abisan.”
Naya terdiam.
Matanya masih ke arah Kenzo—yang sekarang masih ketawa bareng Arumi, tangan mereka belum juga lepas.
Nyesel deh gue, batin Naya.
Nyesel kenapa rasanya kayak gini.
Ia menunduk, pura-pura merapikan harness.
Padahal hatinya lagi ribut sendiri.
Sementara itu, Kenzo akhirnya melirik ke arah Naya.
Dan senyumnya…
Pelan-pelan menghilang.
“Selanjutnya yang belum pernah, silakan maju,” kata instruktur.
Citra langsung nengok Naya.
“Yuk, Nay…”
Naya narik napas panjang.
“Iya.”
Kenzo yang lagi minum langsung noleh.
“Naya?”
“Kenapa?” jawab Naya ketus.
“Lo yakin? Ini pertama—”
“Yakin,” potong Naya.
“Gak usah ribet.”
Kenzo mengernyit, tapi ikut mendekat.
“Oke, gue di bawah. Fokus ke pegangan—”
“Kenzo,” Naya nengok tajam.
“Gue bisa denger instruktur. Santai aja.”
Citra pelan-pelan mundur, ngerasa aura Naya lagi bahaya.
Naya mulai manjat.
Tangannya gemetar dikit, tapi dia maksa naik.
“Nay, kaki kanan lo—”
Kenzo refleks ngomong.
“Kenzo!”
Naya nengok ke bawah, nadanya naik.
“Gue bilang santai!”
Instruktur melirik.
“Tenang, fokus ya.”
Kenzo langsung angkat tangan.
“Sorry, Coach.”
Tapi matanya gak lepas dari Naya.
Beberapa pegangan dilewatin, Naya mulai ngos-ngosan.
Tangannya sempat meleset dikit.
Kenzo refleks maju selangkah.
“Naya!”
“APA SIH?!”
Naya teriak dari atas.
“Gue belum jatoh!”
“Gue cuma—”
“Gak usah sok jaga gue!”
Suara Naya bergetar antara marah dan panik.
“Lo ribut mulu dari tadi!”
Area jadi agak sunyi.
Arumi melirik, Citra nahan napas.
Kenzo diem.
Rahangnya mengeras, tapi suaranya ditahan rendah.
“Gue khawatir,” katanya.
“Cuma itu.”
Naya berhenti manjat.
Beberapa detik.
“Ya gue juga lagi usaha,” balasnya tajam.
“Jangan bikin gue tambah kesel.”
Kenzo mengangguk pelan.
“Oke. Gue diem.”
Dan beneran—
Kenzo mundur setengah langkah, tapi matanya tetep ngikutin setiap gerakan Naya.
Saat Naya akhirnya turun, napasnya berat.
Begitu kakinya nyentuh matras—
Kenzo langsung maju.
“Lo gapapa?”
“Gapapa,” jawab Naya cepat.
“Tuh kan, aman.”
Kenzo menahan diri buat gak megang.
“Oke.”
Naya buka helm, wajahnya merah—entah capek atau emosi.
Dia lewat Kenzo tanpa nengok.
“Makasi gak perlu,” katanya dingin.
Kenzo berdiri di situ, tangan mengepal pelan.
Citra nyamperin.
“Bro… dia lagi sensi.”
Kenzo cuma mengangguk.
“I know.”
Matanya ngikutin punggung Naya yang menjauh.
Pelan dia gumam, hampir gak kedengeran.
“Gue cuma gak mau kenapa-kenapa sama lo.”
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...