NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

“Ibu, apakah efisiensi pembangunan selalu harus mengorbankan ruang bermain anak-anak?”

Alisha menghentikan gerakan jarum jahitnya di atas kain katun biru. Ia menoleh ke arah bangku kayu kecil di sudut ruangan yang temaram. Di sana, Arka duduk tegak dengan sebuah buku ensiklopedia terbuka di pangkuannya. Bocah laki-laki berusia lima tahun itu tidak sedang merengek atau bermain mobil-mobilan. Ia bertanya dengan nada datar yang sangat dewasa dan tenang.

“Dari mana kau belajar kata efisiensi, Arka?” Alisha menghampiri putranya dengan dahi berkerut.

“Aku membaca brosur yang ditempel orang-orang berseragam kuning di pagar sekolah pagi tadi,” jawab Arka. Ia menutup bukunya dengan suara debuman pelan. “Mereka bilang taman kanak-kanak kami tidak produktif secara ekonomi bagi masa depan pesisir.”

Alisha terdiam sejenak sambil mengusap dahi Arka yang tertutup poni hitam legam. Jantungnya berdenyut nyeri setiap kali melihat fitur wajah anaknya yang kian hari kian jelas. Arka adalah replika sempurna dari Damian Sagara yang ia tinggalkan di Jakarta enam tahun lalu. Garis rahang yang tegas dan cara bicara yang terlalu lugas itu bukan berasal darinya. Arka mewarisi keangkuhan intelektual ayahnya tanpa pernah bertemu pria itu sekali pun.

“Dunia orang dewasa terkadang terlalu sibuk menghitung angka, Sayang,” ujar Alisha lembut.

“Tapi angka tidak bisa membangun kenangan, Ibu,” balas Arka dingin. 

“Itu tidak logis.”

Alisha menarik nafas panjang mendengar kata itu. Logika adalah bahasa utama Arka sejak ia bisa menyusun kalimat lengkap. Bocah ini tidak pernah tertarik pada kartun atau pahlawan super. Ia lebih suka menyusun strategi dalam permainan catur atau mempertanyakan mekanisme mesin jahit tua milik ibunya. Ia adalah seorang Sagara dalam versi yang lebih mungil dan murni.

“Ibu akan pergi ke balai kota siang ini,” kata Alisha sambil merapikan pakaian kerjanya yang sederhana.

“Warga akan berdiskusi dengan perwakilan perusahaan itu agar sekolahmu tetap berdiri.”

“Aku ingin ikut,” tuntut Arka sambil turun dari kursinya. Ia merapikan kemeja kotak-kotaknya sendiri tanpa bantuan. 

“Aku ingin melihat siapa yang menganggap sekolahku tidak produktif.”

Alisha tidak bisa menolak permintaan itu. Ia tahu sifat keras kepala Arka adalah warisan genetik yang sangat kuat. Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan berpasir menuju pusat kota kecil di Pesisir X. Udara laut yang biasanya segar kini terasa sesak oleh kecemasan yang menggantung. 

Beberapa alat berat sudah terparkir di pinggir jalan raya utama. Logo cakrawala emas Sagara Group terpampang mencolok di setiap sisi badan alat konstruksi raksasa itu.

Balai kota sudah dipenuhi massa yang riuh dan panas. Nelayan, pedagang pasar, dan para guru berkumpul dengan raut wajah penuh kekhawatiran. 

Alisha berdiri di garis depan sebagai koordinator warga setempat. Pengalaman bertahan hidup di kota ini selama enam tahun telah menempanya menjadi wanita yang vokal dan berani.

“Kita tidak boleh membiarkan mereka menggusur tanpa adanya relokasi yang layak!” seru seorang nelayan tua di sampingnya.

“Mereka hanya peduli pada akses pelabuhan internasional!” timpal warga yang lain dengan suara tinggi.

Alisha mengangkat tangannya untuk menenangkan kerumunan yang mulai tidak terkendali. “Kita akan bicara dengan kepala dingin. Kita tuntut mereka menunjukkan izin analisis dampak lingkungan terlebih dahulu sebelum menyentuh pagar sekolah.”

Tiba-tiba datang deretan mobil hitam, mobil mewah yang tidak akan mampu dimiliki oleh orang pesisir, dengan keanggunan yang mengintimidasi. Logo Sagara Group di badan mobil itu berkilau tajam terkena pantulan cahaya matahari siang.

“Mereka datang,” bisik seorang guru taman kanak-kanak di belakang Alisha dengan nada gemetar.

Alisha merasakan telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat. Ia merangkul bahu Arka yang berdiri tegak di samping kakinya. Arka sama sekali tidak tampak takut atau terkejut. Bocah itu justru menyipitkan mata dan mengamati objek terbang itu dengan rasa ingin tahu yang sangat dalam.

Mobil berhenti, pintunya terbuka terbuka dengan perlahan. Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan hitam turun terlebih dahulu untuk mengamankan area. Tak lama kemudian seorang pria melangkah keluar dari kabin mewah tersebut. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi yang terlihat sangat kontras dengan lingkungan pesisir yang bersahaja.

Pria itu mengenakan kacamata hitam pekat yang menyembunyikan tatapannya. Ia berjalan dengan langkah panjang yang sangat berwibawa dan penuh kuasa. Setiap langkahnya seolah menyatakan bahwa ia adalah pemilik sah atas tanah yang sedang ia pijak. Ia tidak melihat ke arah warga yang sedang berteriak protes. Ia justru sibuk mendengarkan laporan dari asisten pribadinya.

Alisha merasa dunianya seolah berhenti berputar di titik itu. Enam tahun ia bersembunyi dengan penuh ketakutan. Enam tahun ia mengganti identitas dan memutus semua jembatan menuju masa lalunya di Jakarta. Namun kini pria itu berdiri hanya berjarak beberapa puluh meter darinya dengan aura yang jauh lebih tajam.

Damian Sagara telah menemukannya tanpa perlu mencari.

Damian melepaskan kacamata hitamnya saat tiba di depan teras anak tangga balai kota. Wajahnya tampak lebih matang dan keras dari ingatan terakhir Alisha. Tidak ada lagi sisa kelelahan yang Alisha lihat di bar lima tahun lalu. Yang tersisa hanyalah sosok predator bisnis yang siap melahap apa pun yang menghalangi jalannya.

“Selamat siang semuanya.” Suara Damian terdengar berat dan menggema melalui sistem pengeras suara. 

“Saya Damian Sagara. Saya datang untuk memastikan proyek strategis ini berjalan sesuai dengan garis waktu yang telah ditentukan.”

“Garis waktu siapa? Milik Anda atau milik kehidupan kami di sini?” Alisha berteriak dari tengah kerumunan dengan keberanian yang dipaksakan.

Damian mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang lantang itu. Ia terdiam sejenak dan menyipitkan mata ke arah massa. Alisha tidak mundur atau menunduk. Ia berdiri dengan punggung tegak meski jantungnya berdegup seperti genderang perang di dalam rongga dadanya.

“Siapa yang sedang bicara di sana?” tanya Damian dengan nada dingin yang menusuk.

Alisha melangkah maju ke depan garis pembatas warga. Ia memegang tangan Arka dengan sangat erat seolah ingin menyembunyikan kehadiran anaknya. Arka mendongak menatap ibunya dengan bingung. Kemudian bocah itu beralih menatap pria di depan mereka dengan sorot mata yang identik. Arka menyilangkan lengan di dadanya sendiri. Ia mengamati Damian dengan cara yang sama persis seperti sang CEO sedang menilai lawan bicaranya.

“Saya Alisha, perwakilan warga Pesisir X,” ujar Alisha dengan suara yang bergetar namun tetap tegas.

Damian menatap Alisha dengan sangat intens hingga suasana di balai kota mendadak hening. Ada kilatan pengenalan yang muncul di manik mata pria itu secara sekilas. Damian terdiam cukup lama hingga asisten di sampingnya harus berbisik untuk mengingatkan agenda berikutnya. Namun Damian mengabaikan asistennya sepenuhnya. Fokusnya terkunci mati pada wanita di depannya.

“Alisha?” Damian menyebut nama itu seolah sedang memanggil sebuah kenangan yang terkubur dalam.

“Nama saya tidak penting bagi Anda, Tuan Sagara,” jawab Alisha cepat untuk memutus kontak mata. “Yang penting adalah masa depan pendidikan anak-anak kami. Anda tidak bisa menghancurkan satu-satunya sekolah di sini demi keuntungan pelabuhan.”

Damian hendak memberikan argumen teknis namun matanya kemudian jatuh pada sosok bocah di samping Alisha. Ia membeku seketika. Arka sedang menatapnya balik dengan keberanian yang tidak lazim untuk anak seusianya. Damian merasa seperti sedang melihat pantulan dirinya sendiri di masa kecil yang tiba-tiba muncul dari masa lalu.

Bocah itu memiliki sorot mata coklat yang serupa. Struktur wajah yang sama kuatnya. Bahkan cara berdiri yang sangat dominan itu pun adalah cermin darinya.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Damian dengan suara yang mendadak melunak namun mengandung getaran penasaran yang sangat kuat.

Arka tidak langsung menjawab pertanyaan pria asing itu. Ia menatap Damian dari ujung sepatu hingga ujung rambut dengan cara yang sangat analitis. 

“Namaku Arka. Dan aku bukan sekadar Nak. Aku adalah salah satu pemilik masa depan sekolah yang ingin Anda gusur.”

Beberapa warga di belakang tertawa bangga mendengar jawaban cerdas dan berani dari Arka. Namun Damian tidak tertawa sedikit pun. Ia merasa sebuah hantaman emosional yang luar biasa hebat memukul dadanya tanpa ampun. Ia kembali menatap Alisha dengan tatapan yang sangat menuntut.

“Alisha, jelaskan padaku siapa anak ini,” tuntut Damian dengan nada bicara yang mulai berubah menjadi perintah.

Alisha segera menarik Arka ke belakang punggungnya agar tidak terlihat lagi. Ia segera berbalik arah tanpa menunggu diskusi lebih lanjut. 

“Diskusi ini sudah selesai jika Anda hanya tertarik pada masalah pribadi. Ayo, Arka, kita pulang sekarang.”

“Tunggu! Aku memerintahkanmu untuk berhenti!” teriak Damian dengan suara yang menggelegar di halaman balai kota.

Alisha tidak memedulikan perintah itu sama sekali. Ia membelah kerumunan warga dan berjalan secepat mungkin menuju gang sempit di samping balai kota. Ia harus segera pergi dari sana. 

Rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama enam tahun kini berada di titik nadir kehancuran.

Damian berdiri di teras balai kota dengan tubuh yang kaku. Ia terpaku melihat punggung wanita itu yang menjauh dengan terburu-buru. Ingatannya tentang malam penuh badai di Jakarta lima tahun lalu kembali berputar seperti film yang diputar paksa. Ia ingat setiap inci wajah wanita yang pergi meninggalkannya sebelum fajar menyingsing itu.

“Pak Damian, jadwal pertemuan dengan otoritas pelabuhan sudah sangat mendesak,” tegur asistennya dengan sangat hati-hati.

Damian tidak menoleh ke arah asistennya. Matanya masih menatap ke arah gang tempat Alisha menghilang. “Batalkan semua rencana pembangunan untuk hari ini. Hubungi tim investigasi internal kita sekarang juga.”

“Ada masalah serius dengan lahan ini, Pak?” tanya asistennya bingung.

Damian kembali memakai kacamata hitamnya dengan gerakan yang kaku. Tangannya mengepal sangat kuat di samping tubuhnya. 

“Masalah yang sangat besar. Aku baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh proyek pelabuhan ini.”

Di kejauhan Alisha terus berlari sambil menahan tangisnya yang hampir pecah. Ia tahu bahwa badai yang sesungguhnya kini baru saja dimulai. Jejak Sagara yang selama ini ia coba hapus dengan cucuran keringat kini telah menemukan jalan pulangnya sendiri.

“Ibu, kenapa tangan Ibu gemetar sekali?” tanya Arka pelan sambil menatap ibunya dengan cemas.

“Hanya karena angin laut yang terlalu kencang, Arka. Hanya karena angin laut,” bohong Alisha sambil terus mempercepat langkahnya menjauh dari jangkauan Damian Sagara.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!