NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Segel Merah

Tiga hari setelah penandatanganan kontrak, lantai 50 Sky Tower telah berubah menjadi markas komando yang sibuk. Angeline bergerak cepat. Ia telah merekrut sepuluh staf pemasaran terbaik yang pernah bekerja dengannya mereka yang dulu ikut dipecat dari Severe Group karena loyal padanya.

Suasana kantor baru itu penuh semangat. Angeline sedang memimpin rapat strategi peluncuran produk baru Orion Group ketika pintu kaca ruang rapat diketuk dengan keras.

Bukan ketukan sopan, melainkan gedoran yang menuntut perhatian.

Resepsionis kantor berlari masuk dengan wajah pucat. "Nyonya Angeline... ada... ada petugas dari Dinas Pengawas Tata Kota dan Kejaksaan di depan. Mereka membawa polisi."

Belum sempat Angeline menjawab, rombongan petugas berseragam cokelat dan beberapa polisi bersenjata laras panjang merangsek masuk ke area kantor.

Suasana riuh seketika hening. Para staf yang sedang bekerja mematung ketakutan.

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah berminyak melangkah maju. Di saku kemejanya, tertulis nama Baskara – Kepala Dinas Pengawas. Ia memegang sebuah map merah.

"Siapa penanggung jawab di sini?" bentak Baskara dengan arogansi pejabat yang biasa disuap.

Angeline berdiri, menekan rasa takutnya. Ia merapikan blazernya dan berjalan menghampiri.

"Saya Angeline Severe, Direktur Divisi Pemasaran Orion Group. Ada masalah apa ini, Pak? Kami baru beroperasi tiga hari."

Baskara menatap Angeline dengan tatapan merendahkan, lalu melempar map merah itu ke meja resepsionis.

"Kantor ini disegel mulai detik ini," umumkan Baskara lantang, memastikan semua orang mendengar. "Kami menerima laporan bahwa Orion Group melakukan pelanggaran izin zonasi komersial dan dicurigai sebagai tempat pencucian uang sindikat asing."

"Apa?!" Angeline terbelalak. "Itu fitnah! Izin kami lengkap. Mr. Leon sendiri yang mengurusnya langsung ke kementerian!"

"Jangan membantah petugas!" bentak Baskara. "Kami punya surat perintah penyitaan aset. Semua komputer, dokumen, dan server akan kami bawa. Karyawan dilarang menyentuh apa pun dan harus meninggalkan gedung sekarang juga!"

Angeline panik. "Tapi Pak, kalau kalian menyita server kami, data klien akan hilang! Kami punya tenggat waktu peluncuran minggu depan!"

Baskara menyeringai licik. "Itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah menegakkan hukum... atau setidaknya, hukum yang dipesan oleh seseorang."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan suara pelan, hanya agar Angeline mendengarnya. Hukum yang dipesan. Angeline langsung teringat ancaman Victor Han.

"Pak Baskara, tolonglah..." Angeline mencoba bernegosiasi, suaranya mulai bergetar. "Beri kami waktu untuk klarifikasi. Jangan segel kantor ini."

"Terlambat. Pasang garis polisi!" perintah Baskara pada anak buahnya.

Para polisi mulai membentangkan pita kuning POLICE LINE di sekeliling meja kerja. Staf Angeline mulai menangis, merasa karir baru mereka sudah tamat sebelum dimulai. Angeline merasa lututnya lemas. Ia baru saja mendapatkan harapan, dan sekarang harapan itu diremukkan lagi oleh kekuasaan kotor.

Di sudut ruangan, Jay yang sedang menyamar sebagai "staf umum" (sedang memasang galon air minum) menghela napas panjang.

Ia meletakkan galon itu pelan-pelan. Ia membersihkan tangannya, lalu berjalan santai mendekati kerumunan.

"Permisi," suara Jay tenang, membelah ketegangan.

Semua mata tertuju padanya.

"Siapa kau? Sopir?" tanya Baskara sinis melihat pakaian Jay yang sederhana.

"Hanya staf biasa," jawab Jay. Ia berdiri di samping Angeline, memberikan gestur menenangkan pada istrinya. "Pak Baskara, saya rasa ada kesalahpahaman administrasi di sini. Sebelum Bapak menyegel tempat ini, mungkin Bapak mau melihat ini dulu?"

Jay menyodorkan ponsel bututnya ke hadapan wajah Baskara.

Baskara tertawa mengejek. "Kau mau menyogokku? Simpan uang recehmu, Miskin."

"Bukan uang. Foto," kata Jay datar.

Baskara mendengus, tapi matanya melirik ke layar ponsel Jay karena penasaran.

Detik berikutnya, warna darah di wajah Baskara lenyap seketika. Matanya melotot, keringat dingin sebesar biji jagung langsung muncul di pelipisnya.

Di layar itu, terpampang sebuah foto: Baskara sedang duduk di sebuah ruang karaoke VVIP, memangku dua wanita muda sambil menerima koper berisi tumpukan uang tunai dari seorang bandar narkoba lokal yang terkenal.

Foto itu diambil dengan angle yang sangat jelas. Resolusi tinggi. Tidak bisa disangkal.

Jay menggeser layar ke foto berikutnya: Bukti transfer rekening luar negeri atas nama istri simpanan Baskara.

Jay mendekatkan wajahnya ke telinga Baskara.

"Pak Baskara," bisik Jay, suaranya sangat pelan namun terdengar seperti vonis mati. "Foto ini diambil dua hari yang lalu. Jika dalam waktu satu menit Bapak tidak menarik pasukan Bapak dari sini, foto ini akan muncul di meja Jaksa Agung, di halaman depan koran nasional, dan... di grup chat istri Bapak."

Tubuh Baskara gemetar hebat. Kakinya goyah. Ia menatap Jay dengan horor. Bagaimana mungkin seorang staf rendahan punya data intelijen seakurat ini?! Bahkan polisi pun tidak tahu tempat persembunyian itu!

"Si... siapa kau sebenarnya?" tanya Baskara gagap, suaranya mencicit.

"Rakyat jelata yang peduli hukum," jawab Jay sambil tersenyum ramah senyum yang bagi Baskara terlihat seperti seringai iblis. "Jadi? Lanjut segel atau balik kanan?"

Baskara menelan ludah. Karirnya, keluarganya, hidupnya... ada di ujung jari Jay.

Baskara berbalik menghadap anak buahnya.

"BATALKAN!" teriak Baskara histeris, suaranya pecah.

Para polisi dan petugas dinas bingung. "Siap, Pak? Tapi perintah penyitaan..."

"SAYA BILANG BATALKAN! BODOH!" amuk Baskara, melampiaskan ketakutannya. "Ada kesalahan data! Ini... ini bukan kantor yang dimaksud! Kita salah alamat! Bereskan pita kuning itu! Minta maaf pada Nyonya Angeline! CEPAT!"

Para petugas buru-buru menggulung kembali garis polisi dengan bingung.

Baskara berbalik pada Angeline, membungkuk dalam-dalam dengan wajah pucat pasi. "Ma... maafkan kelancangan kami, Nyonya Angeline. A-ada kesalahan sistem di pusat. Kantor Anda bersih. Izin Anda sempurna. Silakan lanjutkan bekerja. Permisi!"

Tanpa menunggu jawaban, Baskara lari terbirit-birit keluar dari kantor itu seolah dikejar setan, diikuti oleh rombongannya yang kebingungan.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, kantor itu kembali sunyi.

Angeline berdiri mematung, mulutnya sedikit terbuka. Ia menatap pintu, lalu menatap Jay.

"Jay..." Angeline bingung. "Apa yang kau perlihatkan padanya? Kenapa dia ketakutan setengah mati?"

Jay memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia mengambil gelas air mineral, lalu memberikannya pada Angeline yang masih syok.

"Oh, itu," Jay tertawa renyah. "Aku cuma kasih lihat foto dia waktu makan di warung langgananku tapi lupa bayar. Dia malu kalau disebarkan."

"Jay! Aku serius!" protes Angeline, memukul lengan suaminya pelan.

"Oke, oke," Jay mengangkat tangan menyerah. "Aku cuma tunjukkan berita kalau atasan dia baru saja ditangkap pagi ini. Aku bilang, 'Pak, jangan sampai Bapak ikut terseret, lebih baik cek dulu datanya'. Dia jadi takut sendiri. Kau tahu kan pejabat mentalnya bagaimana."

Alibi itu terdengar cukup masuk akal bagi Angeline yang memang buta soal politik birokrasi. Ia menghela napas lega, lalu memeluk Jay singkat.

"Terima kasih, Jay. Kau selalu punya cara aneh untuk menyelesaikan masalah. Aku tadi benar-benar takut."

"Selama aku di sini, tidak ada yang perlu kau takutkan," kata Jay lembut.

Di balik punggung Angeline, Jay menatap pintu keluar dengan sorot mata dingin.

Baskara hanya pion kecil. Pesan peringatan sudah dikirim balik ke pengirimnya. Victor Han pasti akan segera menyadari bahwa serangan hukumnya pun mental.

Jay merogoh saku, mengirim pesan singkat ke Leon.

[Zero: Pejabat Tata Kota sudah dibereskan. Sekarang, kita yang menyerang balik. Hancurkan saham perusahaan Victor di bursa saham sore ini. Buat dia sibuk sampai tidak sempat berpikir untuk mengganggu istriku lagi.]

Di seberang kota, di layar komputer Leon, grafik saham perusahaan-perusahaan milik Victor Han mulai bergerak turun secara tidak wajar.

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!