NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Badai di Balik Pintu Kamar

Bab 14: Badai di Balik Pintu Kamar

Pagi itu, udara di dalam rumah besar keluarga Wijaya terasa sangat berat, seolah-olah oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh kabut kecurigaan yang tebal. Anindya baru saja selesai menyikat lantai koridor lantai dua ketika ia melihat Nyonya Lastri berdiri diam di depan kamar Satria.

Wanita itu tidak bergerak, tangannya bersedekap, dan matanya menatap tajam ke arah pintu kayu jati yang tertutup rapat.

Anindya menunduk, mencoba mengecilkan tubuhnya agar tidak terlihat, lalu perlahan menyeret embernya menjauh. Namun, suara Nyonya Lastri menghentikannya.

"Anindya, berhenti di situ," suara itu dingin, setajam pisau bedah.

Anindya membeku. "Iya, Bu?"

"Bawa ember itu ke bawah. Setelah itu, aku ingin kau membersihkan gudang belakang. Jangan keluar dari sana sampai aku memanggilmu. Mengerti?"

"Baik, Bu." Anindya merasa ada yang tidak beres. Perintah itu terdengar seperti pengasingan.

Begitu Anindya menghilang di balik tangga, Nyonya Lastri langsung masuk ke kamar putranya. Satria sudah berangkat sekolah sejak sejam yang lalu, meninggalkan kamarnya dalam keadaan sedikit berantakan. Nyonya Lastri tidak memanggil Mbok Sum. Ia ingin mencari sendiri bukti yang mengusik pikirannya semalaman.

Ia mulai menggeledah meja belajar Satria. Ia membuka laci demi laci, membolak-balik buku tulis, hingga matanya tertuju pada sebuah kotak sampah kecil di bawah meja. Di sana, ia menemukan sobekan kertas—sisa dari latihan soal semalam. Ia menyatukan sobekan itu di atas meja.

Meskipun tulisannya mencoba dibuat mirip dengan tulisan Satria, Nyonya Lastri tahu bedanya. Ada ketelitian dan kerapian yang tidak mungkin dimiliki oleh putranya yang ceroboh. Ia juga menemukan sebuah penghapus berbentuk jeruk yang seharusnya menjadi bagian dari set alat tulis mahal yang ia belikan untuk Satria.

"Jadi benar... mereka bersengkokol," desis Nyonya Lastri. Wajahnya memerah karena merasa dikhianati oleh putranya sendiri dan dihina oleh seorang pelayan kecil.

Sementara itu, di gudang belakang yang pengap, Anindya duduk di atas tumpukan karung beras. Perasaannya tidak tenang. Ia meraba saku kebayanya, memastikan pulpen pemberian Pak Guru masih ada di sana. Tiba-tiba, pintu gudang terbuka dengan kasar.

Nyonya Lastri berdiri di sana, namun ia tidak sendiri. Ia membawa beberapa pengawal rumah dan Mbok Sum yang tampak menangis tersedu-sedu di belakangnya.

"Seret dia ke kamarnya!" Perintah Nyonya Lastri tanpa ampun.

Anindya ditarik paksa. Kakinya yang mungil terseret di atas lantai kerikil hingga lecet. Ia dibawa menuju kamar sempitnya di bawah tangga. Di sana, Nyonya Lastri sudah menunggu dengan kemarahan yang meluap-luap.

"Geledah tempat ini! Cari benda apa pun yang tidak seharusnya ada di sini!"

Anindya berteriak histeris, "Jangan, Bu! Tolong jangan!"

Para pengawal itu melempar kasur tipis Anindya ke lantai. Mereka membongkar tumpukan baju kusamnya. Dan akhirnya, salah satu pengawal menemukan lubang kecil di dinding kayu itu. Dengan tangan kasarnya, ia merogoh ke dalam dan menarik keluar sebuah plastik hitam.

Sret! Plastik itu disobek.

Buku matematika biru yang sudah lecek, majalah-majalah bekas yang robek, dan kotak alat tulis pemberian Satria jatuh berserakan di lantai tanah.

Nyonya Lastri memungut buku biru itu. Ia membolak-baliknya dengan jijik. "Jadi ini yang kau lakukan di belakangku? Mencuri ilmu? Mencuri barang-barang putraku? Kau pikir dengan belajar seperti ini kau bisa menjadi nyonya di rumah ini, hah?"

"Tidak, Bu... Nin cuma mau belajar... Nin tidak bermaksud apa-apa..." tangis Anindya pecah. Ia berlutut di kaki Nyonya Lastri, mencoba meraih ujung dasternya, namun ditendang menjauh.

"Kau itu sampah, Anindya! Sampah tidak pantas memegang buku!" Nyonya Lastri melemparkan buku biru itu ke arah Mbok Sum. "Sum! Bawa semua kertas ini ke halaman belakang. Bakar sampai jadi abu!"

"Nyonya... tolong, ini cuma buku bekas..." Mbok Sum memohon sambil terisak.

"LAKUKAN SEKARANG ATAU KAU KUPECAT!"

Anindya meraung. Ia mencoba mengejar Mbok Sum, namun ia ditahan oleh pengawal. Dari jendela kecil kamarnya, ia bisa melihat api mulai menyala di tempat pembakaran sampah. Ia melihat halaman-halaman buku yang ia tulis dengan penuh air mata dan kerja keras semalaman, kini terbang menjadi abu hitam yang tertiup angin.

Setiap lembar yang terbakar terasa seperti bagian dari jiwanya yang ikut hangus. Semua angka yang ia hafal, semua rumus yang ia cintai, kini musnah dalam hitungan menit.

Nyonya Lastri mendekati Anindya, menjambak rambutnya agar gadis itu menatap matanya. "Dengar baik-baik, Anak Haram. Jika aku melihatmu menyentuh buku lagi, atau jika kau berani membantu Satria lagi, aku tidak akan hanya membakar bukumu. Aku akan memastikan bapakmu di desa membusuk di penjara karena hutang-hutangnya yang tidak lunas itu. Paham?"

Anindya hanya bisa terisak, tubuhnya lemas tak bertulang. Harapannya hancur total.

"Dan untuk hukumanmu hari ini... kau tidak boleh tidur di dalam. Tidurlah di gudang alat bersama tikus-tikus. Kamar ini akan kukunci!"

Nyonya Lastri keluar, meninggalkan Anindya yang hancur berkeping-keping. Sore itu, saat Satria pulang sekolah, ia melihat sisa-sisa abu di halaman belakang. Ia melihat sebuah sampul buku biru yang belum habis terbakar, terbang tertiup angin ke arah kakinya.

Satria mengambil sampul itu. Hatinya berdenyut perih. Ia tahu ia pengecut karena tidak bisa membela Anindya. Ia masuk ke dalam rumah dan mendapati suasana sunyi senyap. Ia melihat kamar bawah tangga yang terbuka dan kosong melompong.

Malam itu, Anindya meringkuk di gudang alat yang dingin. Tidak ada selimut, tidak ada boneka kain—karena boneka itu pun ikut dibakar oleh Nyonya Lastri. Ia memeluk dirinya sendiri, gemetar karena kedinginan dan kesedihan yang tak tertahankan.

Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah tangan terjulur dari celah pintu gudang yang tidak terkunci rapat.

"Ini..." bisik sebuah suara. Itu suara Satria.

Anindya mendongak dengan mata sembab. Satria memberikan sebuah senter kecil dan selembar kertas yang berisi tulisan tangan yang sangat rapi.

"Ibu membakar bukumu, tapi dia tidak bisa membakar apa yang sudah kau hafal di kepalamu," bisik Satria dengan suara bergetar. "Aku menyelamatkan satu buku catatan lamaku. Aku menyembunyikannya di dalam tas sekolahku. Besok, aku akan membawanya untukmu."

Anindya tidak menjawab. Ia hanya menerima senter itu.

"Anindya... Maafkan aku," ucap Satria sebelum ia berlari pergi karena takut ketahuan ibunya.

Di dalam gudang yang gelap, Anindya menyalakan senter kecil itu. Cahayanya menyinari dinding gudang yang penuh laba-laba. Ia mengambil sebuah batu kecil yang tajam di lantai semen. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai menggoreskan sesuatu di dinding gudang yang gelap itu.

1 + 1 \= 2 2 + 2 \= 4

Air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena lemah. Ia menyadari satu hal: Nyonya Lastri bisa membakar kertasnya, bisa merampas kamarnya, dan bisa menyiksa raganya. Tapi selama otaknya masih bekerja, ilmu itu akan tetap miliknya.

"Kau tidak akan bisa membunuhku, Nyonya," bisik Anindya pada kegelapan.

Malam itu, Anindya belajar tanpa buku. Ia belajar dari ingatan, belajar dari rasa sakit, dan belajar dari kebencian yang mulai mengkristal menjadi kekuatan. Badai ini tidak menghancurkannya, badai ini justru menempa jiwanya menjadi sekeras baja. Fase anak-anak Anindya telah berakhir malam ini dengan cara yang paling menyakitkan, dan fase perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!