NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Bukti Kesucian yang Nyata

Rina mendongak perlahan, matanya yang sembab menatap Gus Azkar dengan tatapan penuh luka dan ketakutan.

"Demi Allah, Rina... Mas memilihmu bukan karena apa yang Mas lihat tadi. Mas memilihmu bahkan sebelum Mas tahu secantik apa wajahmu di balik cadar itu. Mas memilihmu karena keteguhanmu menjaga diri di pesantren, karena caramu menundukkan pandangan,"

ujar Gus Azkar dengan mata yang berkaca-kaca. "Jika dunia menghinamu, maka biarlah Mas yang menjadi tempatmu pulang. Kamu bukan sekadar tubuh bagi Mas, kamu adalah separuh napas Mas sekarang."

Rina masih terisak, namun getaran di tubuhnya mulai mereda. Kata-kata jujur dari Gus Azkar perlahan-lahan meruntuhkan tembok pertahanan traumanya. Di hadapannya, bukan laki-laki brengsek dari masa lalunya, melainkan seorang suami yang rela bersujud lama untuk mendoakan keselamatannya.

Luka batin Rina ternyata jauh lebih dalam dari yang dibayangkan Gus Azkar. Bayangan mantan kekasihnya itu seolah berdiri di sudut kamar, menertawakannya dengan suara yang menggema di kepala Rina.

"Kamu percaya dia mencintaimu? Kamu bodoh! Kamu itu sudah kotor!"

Rina mendongak, menatap Gus Azkar dengan tatapan hancur. "Aku... aku sudah nggak perawan!" teriaknya dengan suara parau. "Kenapa Mas mau menikah dengan wanita yang sudah tak suci? Kenapa Mas nggak cari santriwati lain yang lebih baik dari aku?"

Kalimat itu meluncur begitu saja karena Rina sudah terlanjur percaya pada doktrin jahat laki-laki di masa lalunya yang dulu pernah melecehkannya secara verbal dan memanipulasinya hingga Rina merasa dirinya sudah kehilangan segalanya.

Gus Azkar terdiam sejenak, bukan karena kecewa, tapi karena tidak tega melihat betapa hancurnya mental istrinya akibat ulah laki-laki di masa lalu. Dengan gerakan yang sangat protektif, Gus Azkar menarik tubuh Rina ke dalam pelukan hangatnya. Ia mendekap kepala Rina di dadanya, membiarkan istrinya mendengar detak jantungnya yang tenang.

"Kata siapa kamu sudah tidak perawan, Sayang?" tanya Gus Azkar dengan nada suara yang sangat lembut, hampir berbisik.

Rina sesenggukan di dada Gus Azkar. "Dia... dia bilang aku sudah kotor karena dia pernah..."

Gus Azkar melonggarkan pelukannya sedikit, lalu dengan lembut ia memutar tubuh Rina agar melihat ke arah sprei putih di bawah mereka. Ia menunjuk noda merah yang masih basah di sana—darah yang menjadi bukti perjuangan mereka beberapa saat lalu.

"Lihat itu, Rina," ujar Gus Azkar sambil menatap mata istrinya lekat-lekat. "Darah itu tidak berbohong. Itu adalah bukti bahwa kamu menjaga dirimu dengan sangat baik selama ini. Laki-laki di masa lalumu itu hanya ingin menghancurkan mentalmu dengan kata-kata bohong agar kamu merasa tidak berharga."

Rina terpaku melihat noda itu. Kesadarannya perlahan kembali. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa.

"Mas..." cicit Rina.

"Kamu suci, Rina. Sangat suci di mata Mas," lanjut Gus Azkar sambil menghapus air mata di pipi istrinya. "Jangan pernah lagi percaya pada ucapan setan yang ingin memisahkan kita. Mas adalah saksi hidup bahwa kamu memberikan yang pertama dan satu-satunya hanya untuk Mas malam ini."

Gus Azkar mengecup kening Rina dengan sangat lama. Ia berjanji dalam hati akan memburu siapa pun yang pernah menyakiti hati istrinya hingga seperti ini. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu itu menyentuh Rina lagi.

"Mulai sekarang, kalau suara itu muncul lagi di kepalamu, peluk Mas seerat mungkin. Biar Mas yang mengusir suara itu untukmu," bisik Gus Azkar.

Rina akhirnya luluh. Ia memeluk pinggang Gus Azkar dengan sangat erat, menumpahkan segala sisa kesedihannya. Malam itu, bukan hanya raga mereka yang menyatu, tapi luka di jiwa Rina mulai terjahit kembali oleh kasih sayang tulus dari suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!