"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: DINASTI DARAH
Hujan badai mengguyur Tokyo pada malam 27 Januari 2026, tepat satu tahun setelah tragedi di Villa Samudera. Di dalam penthouse pribadi Kenzo Matsuda yang tersembunyi di puncak Matsuda Tower, suasana sangat kontras dengan hiruk pikuk kota di bawahnya. Tidak ada lampu neon yang menyilaukan, hanya nyala api dari perapian yang memberikan semburat jingga pada dinding-dinding kaca.
Hana Sato duduk di kursi beludru, menatap Renji yang tertidur lelap di boks bayi peraknya. Hana tidak lagi mengenakan pakaian pelarian; ia mengenakan gaun sutra pemberian Kenzo. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tua, namun pikirannya melayang pada perubahan drastis yang terjadi dalam satu minggu terakhir.
Pintu geser terbuka tanpa suara. Kenzo masuk, tidak lagi dengan langkah seorang diktator yang memerintah, melainkan dengan kelembutan yang asing. Ia tidak mengenakan jas formalnya, hanya kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, menunjukkan sisi manusiawi yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Dia sudah tidur?" suara Kenzo rendah, sehalus beludru, hampir menyerupai bisikan seorang ayah yang penuh kasih.
Hana tidak menoleh. "Dia selalu tenang saat hujan. Mungkin suara badai mengingatkannya pada malam dia dilahirkan."
❤️❤️❤️
Kenzo berjalan mendekat, namun ia berhenti pada jarak yang menghormati ruang pribadi Hana. Ia membawa nampan berisi teh herbal hangat—sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pelayan, bukan oleh pria paling berkuasa di Asia.
"Aku membuatkan ini untukmu," kata Kenzo, meletakkan cangkir itu di meja samping Hana. "Kau kurang tidur sejak kita kembali ke sini. Aku tidak ingin kau jatuh sakit, Hana."
Hana menatap cangkir itu, lalu menatap tangan Kenzo. Bekas luka kecil di telapak tangan pria itu masih ada, sebuah tanda permanen dari serangan Renji. "Kenapa kau melakukan ini, Kenzo? Setelah semua yang kau lakukan... setelah kau merampas segalanya dariku, kenapa tiba-tiba kau bersikap seolah kita adalah keluarga normal?"
Kenzo menghela napas, sebuah suara yang sarat dengan kelelahan jiwa. Ia duduk di lantai di samping kursi Hana, sebuah posisi yang menunjukkan kerendahan hati yang ekstrem bagi seorang Matsuda.
"Karena aku menyadari satu hal yang tidak bisa dihitung oleh algoritma laboratoriumku," Kenzo menatap api perapian. "Aku memenangkan dunia, tapi aku kehilangan jiwaku saat aku melihatmu menangis di Hokkaido. Aku merindukan 'Hana' yang dulu—gadis yang hanya ingin dicintai. Dan aku sadar, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan pengampunan jika aku terus menjadi monster yang menciptakan luka itu."
❤️❤️❤️
Kenzo memberanikan diri meraih tangan Hana. Kali ini, Hana tidak menariknya. Tangan Kenzo terasa hangat, berbeda dengan kesan dingin yang selalu ia pancarkan.
"Hana," bisik Kenzo, matanya mencari mata Hana yang kosong. "Aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Aku tahu itu mustahil setelah apa yang kulakukan. Tapi izinkan aku menjadi pelindungmu. Bukan sebagai subjek eksperimen, bukan sebagai tawanan. Tapi sebagai pria yang berhutang seluruh hidupnya padamu."
Hana merasakan sesuatu yang membeku di dalam dadanya mulai retak. "Kau menodaiku, Kenzo. Kau membuatku melahirkan seorang anak dalam ketakutan."
"Aku tahu," suara Kenzo bergetar. "Setiap kali aku melihat Renji, aku melihat dosa-dosaku. Tapi aku juga melihat keajaiban yang tidak pantas kudapatkan. Aku ingin menebusnya. Aku ingin membangun dinasti ini bukan dengan paksaan, tapi dengan penebusan. Jika kau ingin membunuhku sekarang, aku akan memberikan belatinya padamu. Tapi jika kau ingin tetap di sini... aku akan memberikan dunia ini di bawah kakimu."
Kenzo mencium punggung tangan Hana dengan lembut—sebuah ciuman yang tidak mengandung nafsu, melainkan rasa hormat yang mendalam dan penyesalan yang tulus.
❤️❤️❤️
Di sudut ruangan yang gelap, Rena Sato berdiri mengamati. Ia seperti hantu yang menjaga koridor malam. Ia melihat bagaimana Kenzo memperlakukan putrinya. Sebagai seorang Aishi, Rena tahu bahwa kelembutan bisa menjadi senjata yang lebih mematikan daripada belati. Namun, ia juga melihat kejujuran di mata Kenzo yang biasanya dingin.
Rena melangkah keluar dari kegelapan. "Kelembutan adalah topeng yang mahal, Kenzo-kun. Berapa lama kau bisa mempertahankannya sebelum insting penguasa-mu kembali?"
Kenzo berdiri, namun tetap memegang tangan Hana. "Selama Hana membutuhkannya, Rena. Aku sudah menghancurkan cermin kesempurnaanku. Yang tersisa hanyalah pria yang ingin memastikan bahwa warisan ini tidak akan terluka lagi."
Rena menatap Renji di dalam boks bayi. "Anak ini akan tumbuh dengan sangat cepat. Dia akan membutuhkan ayah yang kuat, bukan ayah yang lemah karena rasa bersalah."
"Dia akan memiliki ayah yang bijaksana," jawab Kenzo tegas namun tetap lembut. "Dan ibu yang bebas memilih jalannya sendiri."
❤️❤️❤️
Hana berdiri, mensejajarkan dirinya dengan Kenzo. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang baru—tatapan yang tidak lagi penuh ketakutan, melainkan kekuatan yang tenang.
"Jika aku memilih untuk tinggal," suara Hana menggema di ruangan itu. "Kau harus berjanji satu hal, Kenzo. Renji tidak akan pernah tahu cara kau mendapatkanku. Dia harus tumbuh dengan percaya bahwa dia lahir dari cinta, bukan dari tragedi."
Kenzo mengangguk pelan. "Itu akan menjadi rahasia yang kubawa sampai ke liang lahat. Aku akan membangun narasi itu dengan seluruh kekuatanku. Matsuda Corp akan menjadi perisainya, dan aku akan menjadi pelayannya."
Malam itu, di bawah guyuran hujan Tokyo, sebuah pakta baru terbentuk. Bukan lagi pengejaran antara predator dan mangsa, melainkan sebuah aliansi gelap yang dibalut kelembutan. Kenzo Matsuda telah bertransformasi; ia melepaskan mahkota kesempurnaannya demi sebuah sentuhan kemanusiaan yang rapuh.
❤️❤️❤️
Menjelang subuh, badai mereda. Kenzo membimbing Hana menuju balkon yang menghadap ke arah kota yang mulai terbangun. Ia menyelimuti bahu Hana dengan jaket kasmirnya, berdiri di belakangnya tanpa menyentuh, seolah-olah Hana adalah porselen yang sangat berharga.
"Lihatlah, Hana," Kenzo menunjuk ke arah cakrawala. "Itu adalah kerajaanmu. Mulai hari ini, setiap keputusan Saikou Corp adalah keputusanmu. Aku hanyalah tangan yang menjalankan perintahmu."
Hana menoleh sedikit, melihat profil wajah Kenzo yang diterangi cahaya fajar. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia tidak merasakan dorongan untuk membunuh pria itu. Ada rasa lelah yang sama di antara mereka, sebuah ikatan yang lahir dari luka yang sama.
"Dinasti Darah," gumam Hana.
"Bukan," koreksi Kenzo dengan senyum sedih yang elegan. "Ini adalah Dinasti Penebusan. Dan aku akan menghabiskan sisa napas duniaku untuk memastikan kau tidak akan pernah merasa terluka lagi."
Di dalam boks bayi, Renji membuka matanya. Ia tidak menangis. Ia hanya melihat ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan yang sangat tenang, seolah ia memahami bahwa dunia baru telah lahir dari abu kehancuran orang tuanya.
BERSAMBUNG...