Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komunikasi Lewat Do'a
Meskipun Alice kini tinggal di lingkungan pesantren untuk memperdalam agamanya, Zavier tetap teguh pada prinsipnya. Ia adalah cerminan dari kedisiplinan Gus Zayn yang paling ekstrem.
Di pesantren, Zavier dan Alice menjadi dua kutub yang seolah tak pernah bersentuhan, menciptakan ketegangan sunyi yang justru membuat seisi pesantren ikut berdebar.
Di area pendidikan, Zavier benar-benar menjaga jarak. Saat Alice berjalan menuju kelas bahasa Inggris untuk membantu Abigail mengajar, Zavier yang sedang memimpin barisan santri putra akan segera mengalihkan pandangannya ke arah kitab di tangannya atau menunduk menatap lantai koridor.
Tidak ada kata "Hai", tidak ada senyuman, bahkan tidak ada anggukan kepala. Zavier seolah menganggap Alice tidak ada di sana, meski aroma parfum lembut Alice yang khas, perpaduan vanila New York dan melati, sempat menyapa indra penciumannya.
Alice memahami aturan main Zavier. Ia tidak lagi mengejar-ngejar Zavier seperti saat mereka berusia 11 tahun. Sekarang, Alice menunjukkan kelasnya sebagai wanita terhormat. Ia sering terlihat di barisan terdepan jamaah putri, khusyuk dalam tilawahnya.
Pernah suatu ketika, mereka berpapasan di selasar menuju masjid saat adzan maghrib berkumandang. Langkah mereka sempat sejajar dalam jarak tiga meter. Alice sempat melirik lewat sudut matanya, berharap ada satu patah kata dari Zavier.
Namun, Zavier tetap diam seribu bahasa, bibirnya terus bergerak merapalkan dzikir, langkahnya tegas tanpa menoleh sedikit pun.
Diamnya Zavier bukan berarti ia tidak peduli. Diamnya Zavier adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ia tidak ingin mencemari proses hijrah Alice dengan godaan-godaan yang tidak pada tempatnya.
Zavier sering berdiri di balkon lantai dua ndalem setelah shalat tahajud, memandangi lampu asrama putri yang masih menyala, tempat Alice tinggal. Di sana, ia berbisik pada langit: "Ya Allah, jika dia memang jawaban dari doa-doaku di masa kecil, jagalah hatinya sebagaimana ia menjaga hijabnya. Jangan biarkan aku menyentuhnya lewat kata-kata sebelum aku sanggup menghalalkannya."
Keteguhan Zavier yang dingin ini sering kali membuat Mas Zayn geleng-geleng kepala. Suatu malam di ruang kerja, Zayn memperhatikan putranya yang sedang fokus belajar namun sesekali melirik ke arah taman tempat Alice biasa duduk menghafal kosakata.
"Zavier," panggil Zayn dengan nada menggoda. "Menjaga pandangan itu wajib, tapi bersikap seperti orang asing pada calon pendamping itu namanya menyiksa diri."
Zavier menutup kitabnya dengan tenang. "Mas Daddy dulu bilang, pria sejati hanya tunduk pada wanita yang menyentuh hatinya karena Allah. Aku tidak ingin bicara dengannya sekarang, Yah. Aku ingin bicara dengan ayahnya dan dengan Allah terlebih dahulu."
Zayn tersenyum miring, menepuk bahu putranya. "Kamu lebih hebat dari Ayah dulu, Jagoan. Ayah dulu masih sering menggoda Ibumu lewat tatapan mata. Kamu benar-benar Gus yang sesungguhnya."
.
.
Kehebohan di Pesantren Al-Azhar bermula dari sebuah kecerobohan yang sangat tidak terduga dari seorang Zavier yang perfeksionis.
Zavier menyelipkan sebuah surat singkat di dalam kitab Fathul Qarib yang akan dikembalikan ke perpustakaan, namun kitab tersebut justru salah ambil oleh seorang santri junior sebelum sampai ke tangan Alice.
Surat itu tidak berisi kata-kata puitis yang murahan, melainkan tulisan tangan Zavier yang tegas:
"Untuk Alice. Aku telah memohon kepada Pemilik Hati agar menjagamu dalam ketaatan. Tunggu aku di gerbang kelulusan, karena setelah itu, tujuanku bukan lagi New York atau universitas manapun, melainkan restu dari Daddymu. - Zavier A. Hernandez"
Dalam hitungan jam, isi surat itu tersebar lewat bisik-bisik di kantin hingga ke asrama. Para santriwati seolah patah hati berjamaah, sementara para santri putra heboh bukan main. "Gus Zavier yang dinginnya seperti es di kutub utara ternyata bisa menulis surat seromantis ini?" menjadi topik utama.
Kabar ini sampai ke telinga pengurus pesantren, bahkan hingga ke meja Gus Zayn. Zavier dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Di sana sudah ada Abigail yang menahan senyum dan Gus Zayn yang duduk dengan wajah serius namun matanya berkilat geli.
"Zavier," panggil Zayn dengan nada berat. "Sejak kapan perpustakaan pesantren berubah jadi kantor pos cinta?"
Zavier menunduk, telinganya memerah. Sisi bad boy yang selama ini terpendam dalam wibawanya muncul sedikit. "Maaf, Mas Daddy. Itu murni kesalahan teknis. Saya hanya ingin dia tahu bahwa penantiannya selama enam tahun tidak sia-sia."
Di sisi lain, Alice yang akhirnya menerima surat itu (setelah dikembalikan oleh pengurus asrama dengan penuh godaan) hanya bisa terdiam di pojok perpustakaan. Ia tidak tertawa, ia tidak berteriak kegirangan. Ia justru menangis sujud syukur. Selama ini ia merasa diabaikan oleh Zavier karena sifat dinginnya, namun surat itu membuktikan bahwa Zavier menjaganya lewat jarak.
Keesokan harinya, saat mereka tidak sengaja berpapasan di jalan utama pesantren, suasana mendadak sunyi. Ratusan pasang mata santri memperhatikan mereka dari kejauhan.
Zavier tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Namun, tepat saat ia melewati Alice, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Berhenti menangis. Surat itu benar, dan aku tidak pernah menarik kata-kataku," desis Zavier dengan suara bariton yang hanya bisa didengar Alice.
Alice hanya menunduk dalam, bibirnya tersenyum dibalik kerudungnya. "Aku tidak menangis, Zavy. Aku hanya sedang bersyukur karena Allah memberiku pria sekaku kamu."
Melihat pesantren yang mulai berisik, Mas Zayn akhirnya memberikan pengumuman saat pengajian malam.
"Mengenai berita yang beredar tentang putra saya, Zavier," suara Zayn menggema di pengeras suara masjid. "Jangan ada lagi yang bergunjing. Zavier telah menunjukkan caranya mencintai dengan terhormat. Dia tidak mengajak maksiat, dia mengajak menuju akad. Siapapun yang mencoba mengganggu fokus belajar Alice atau Zavier, akan berhadapan langsung dengan saya."
Seketika, satu pesantren bungkam. Wibawa Zayn menghentikan semua gosip, namun di saat yang sama, ia memberikan "lampu hijau" yang sangat besar bagi hubungan anaknya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍