NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 11

Toga sudah dipesan, undangan wisuda sudah di tangan, namun ketegangan Sasya hari ini melampaui momen saat ia berhadapan dengan Bu Sarah di ruang sidang. Hari ini adalah hari "sinkronisasi data" yang sesungguhnya. Pak Alkan benar-benar menepati janjinya. Satu minggu setelah yudisium, sebuah iring-iringan mobil sederhana berhenti di depan rumah minimalis milik keluarga Pak Baskoro.

"Sya, lo jangan gemeteran gitu. Lo cantik banget pakai tunik itu, sumpah," bisik Putri yang bela-belain datang dari kosan untuk jadi "asisten pribadi" dadakan.

"Put, masalahnya yang datang bukan cuma Pak Alkan. Ibunya juga ikut. Lo tahu kan gosipnya? Ibunya Pak Alkan itu mantan kepala sekolah yang disiplinnya ngalahin tentara," Sasya meremas ujung jilbabnya.

"Tenang. Lo udah lulus sidang skripsi dengan nilai A. Masa sidang calon mertua lo kalah?"

Di ruang tamu, suasana terasa sangat formal. Pak Baskoro duduk dengan gagah, sementara di hadapannya duduk Alkan yang terlihat sangat tampan dengan kemeja batik bermotif elegan. Di samping Alkan, duduk seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai emas dan tatapan yang sangat tajam: Ibu Aminah, ibu kandung Alkan.

"Jadi," Ibu Aminah membuka pembicaraan setelah sesi perkenalan basa-basi, "ini yang namanya Sasya? Mahasiswi yang sering diceritakan Alkan?"

Sasya menunduk sopan, memberikan senyum terbaiknya. "Iya, Bu. Saya Sasya."

Ibu Aminah menyesap teh melati buatan Sasya, lalu meletakkan cangkirnya tanpa suara. "Alkan bilang kamu pintar di bidang komputer. Tapi bagi saya, wanita itu bukan cuma soal pintar di depan layar. Bagaimana dengan urusan domestik? Bagaimana dengan pemahaman agamamu? Karena Alkan ini aset keluarga kami, saya tidak ingin dia bersanding dengan orang yang hanya sibuk dengan dunianya sendiri."

Sasya merasakan atmosfer ruangan mendadak menjadi low temperature. Pak Alkan tampak hendak bicara, tapi Ibu Aminah mengangkat tangan, memberi isyarat agar putranya diam.

"Izin menjawab, Bu Aminah," Sasya menarik napas panjang, mencoba menggunakan logika yang tenang. "Bagi saya, teknologi itu hanya alat. Tapi pondasi hidup saya tetap nilai-nilai yang Ayah ajarkan. Saya belajar IT bukan untuk jauh dari rumah, tapi agar bisa bekerja secara fleksibel sehingga nantinya tetap bisa memprioritaskan keluarga tanpa kehilangan aktualisasi diri. Soal agama... saya masih fakir ilmu, tapi saya siap menjadi murid yang baik di bawah bimbingan Pak Alkan."

Pak Baskoro tersenyum bangga. Alkan menatap Sasya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan kagum.

"Oya?" Ibu Aminah menyipitkan mata. "Kalau begitu, saya ingin dengar pendapatmu. Di zaman sekarang, banyak anak muda yang kehilangan adab karena merasa lebih pintar dari orang tuanya gara-gara internet. Bagaimana kamu menjaga itu?"

Sasya teringat satu hal yang pernah ia baca di jurnal etika digital dan ia padukan dengan dalil yang ia hafal. "Adab itu seperti sistem operasi, Bu. Sedangkan ilmu adalah aplikasinya. Sehebat apa pun aplikasinya, kalau sistem operasinya rusak, aplikasinya nggak akan bisa jalan. Internet memberi saya informasi, tapi Ayah dan guru-guru saya yang memberi saya nilai. Informasi bisa di-search di Google, tapi keberkahan hidup cuma bisa dicari lewat rida orang tua."

Tatapan mata Ibu Aminah sedikit melunak. Ia menoleh ke arah Alkan. "Alkan, kamu nggak salah pilih. Dia memang 'cepat' otaknya, tapi 'lambat' egonya."

Alkan menghela napas lega. "Alhamdulillah, Bu."

Setelah pembicaraan berat selesai dan kedua keluarga mulai asyik mengobrol soal rencana tanggal pernikahan, Alkan dan Sasya diberi izin untuk mengobrol sejenak di teras rumah, tentu dengan pengawasan Putri dan adik sepupu Alkan dari kejauhan.

"Saya tadi hampir jantungan, Pak," ujar Sasya sambil menatap langit sore.

"Jangan panggil 'Pak' lagi kalau di luar kampus, Sasya. Panggil nama saja. Atau... mas," jawab Alkan dengan nada yang jauh lebih santai.

Sasya tersipu. "Mas Alkan. Kedengarannya aneh di telinga saya."

"Akan terbiasa seiring berjalannya waktu. Update kebiasaan itu butuh proses, kan?" Alkan terkekeh pelan. Ia menyodorkan sebuah kotak kecil—kali ini benar-benar kotak perhiasan, bukan bekal atau flashdisk.

"Ini apa, Mas?"

"Sebuah kunci akses. Isinya mahar yang kamu minta di email kemarin: Sebuah perpustakaan digital untuk anak-anak yatim atas namamu. Dan ini... pengikatnya." Alkan membuka kotak yang berisi cincin perak sederhana namun sangat elegan.

Sasya terpaku. "Mas... saya nggak minta mahar semahal itu."

"Itu investasi akhirat kita, Sasya. Logika saya bilang, harta akan habis, tapi ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir. Dan saya ingin memulai perjalanan kita dengan sesuatu yang everlasting."

Sasya menatap cincin itu, lalu menatap Alkan. "Mas, makasih ya. Makasih sudah sabar bimbing skripsi saya, dan sekarang sabar bimbing hidup saya."

"Sama-sama. Tapi ingat satu hal," Alkan memasang wajah serius yang dibuat-buat. "Meskipun nanti kita sudah menikah, kalau kamu mau lanjut S2 dan saya pengujinya, saya tetap akan kasih revisi kalau tulisan kamu berantakan."

Sasya tertawa renyah. "Dasar dosen killer! Nggak bisa ya berhenti jadi dosen bentar aja?"

"Nggak bisa. Karena tugas dosen itu membimbing sampai tujuan. Dan tujuan saya sekarang adalah... sampai ke Surga sama kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!