NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KAU MILIKKU

Mobil mewah itu akhirnya melambat, membelok masuk ke sebuah jalanan privat yang diapit oleh pepohonan tinggi yang seolah menelan cahaya bulan. Di ujung jalan, sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi dengan ukiran lambang keluarga Volkov terbuka secara otomatis. Begitu mobil melewati gerbang, Alana terpaku melihat pemandangan di depannya.

Sebuah mansion bergaya Gotik Modern berdiri megah di tengah kesunyian. Bangunan itu begitu luas, didominasi warna gelap dan kaca-kaca besar yang memantulkan kegelapan malam. Alana merasa seperti semut yang sedang memasuki sarang raksasa.

Pintu mobil dibuka dari luar oleh seorang pria berseragam. Alana melangkah keluar dengan tungkai yang lemas. Di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati kokoh, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi—hampir terlalu kaku untuk menjadi nyata.

"Selamat datang, Nona Alana. Nama saya Arthur, kepala pelayan di mansion ini," ucap pria itu dengan suara tanpa nada, diikuti bungkukan badan yang sempurna.

Alana hanya bisa menatapnya dengan bingung. "A-Arthur... di mana saya?"

"Anda berada di kediaman Tuan Dante Volkov. Mari, ikuti saya. Tuan tidak suka menunggu lama, dan beliau sudah menanti kehadiran Anda di ruang kerjanya."

Alana berjalan mengekor di belakang Arthur, melewati lorong-lorong panjang dengan lantai marmer yang mengkilap hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di sana. Di sepanjang dinding, tergantung lukisan-lukisan abstrak yang tampak kelam, dan di setiap sudut, ia bisa melihat kamera pengawas yang lampunya berkedip merah—seperti mata predator yang terus mengintai gerak-geriknya.

Mansion ini terlalu sunyi. Tak ada suara tawa, tak ada suara televisi, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema secara ritmis. Tempat ini indah, namun terasa mati. Sebuah istana tanpa matahari.

Arthur berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna hitam legam. Ia mengetuk pelan tiga kali.

"Masuk," suara berat dan serak itu terdengar dari dalam.

Arthur membukakan pintu untuk Alana, namun ia sendiri tidak ikut masuk. "Silakan, Nona. Tuan ada di dalam."

Dengan tangan gemetar, Alana melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dengan rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kayu besar yang tertata rapi, Dante Volkov duduk dengan tenang. Ia telah melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan otot lengan yang kuat dan tato yang mengintip dari balik pergelangan tangannya.

Dante tidak menoleh. Ia sibuk menuangkan cairan berwarna ambar ke dalam gelas kristal.

"Duduk," perintahnya singkat.

Alana berjalan perlahan dan duduk di kursi beludru di depan meja Dante. Ia meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba menahan getaran di tubuhnya.

Dante meletakkan gelasnya, lalu mengangkat pandangannya. Mata biru es itu kini menatap Alana lebih dalam daripada saat di gudang tadi. Ada kilat kepuasan di sana saat melihat Alana yang tampak begitu rapuh di tengah kemewahan ruangannya.

"Kau sudah selesai menangisi pamanmu yang tidak berguna itu?" tanya Dante sinis.

Alana tersentak. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan amarah yang tiba-tiba muncul di tengah rasa takutnya. "Kenapa Anda melakukan ini? Anda punya uang, Anda punya kekuasaan... kenapa Anda harus mengambil saya?"

Dante bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di samping Alana. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alana hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.

"Karena uang terlalu membosankan, Alana," bisik Dante dengan suara yang rendah dan berbahaya. "Dan kekuasaan hanya terasa nyata jika aku bisa mematahkan sesuatu yang tidak bersalah. Kau adalah mawar putih yang tumbuh di tempat sampah pamanmu. Aku hanya memindahkanmu ke pot yang lebih pantas."

Dante mengulurkan tangan, ujung jarinya menyusuri garis rahang Alana, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya. "Di sini, kau punya segalanya. Pakaian mahal, makanan terbaik, dan perlindungan dariku. Tapi kau harus ingat satu hal..."

Dante mencengkeram dagu Alana sedikit lebih kuat, membuat Alana terkesiap.

"Kau adalah milikku. Setiap napasmu, setiap tetes air matamu, dan setiap inci tubuhmu adalah propertiku. Jika kau berani berpikir untuk pergi, atau jika kau membiarkan pria lain menatapmu lebih dari tiga detik... aku tidak akan ragu untuk menghancurkan apa pun yang kau cintai. Mengerti?"

Alana tidak bisa bernapas. Ia merasa tercekik oleh aura dominasi Dante yang begitu kuat. Ia ingin berteriak, ingin menolak, tapi ia tahu ia tidak punya kekuatan.

"Mengerti?" Dante mengulangi dengan penekanan yang lebih tajam.

"M-mengerti, Tuan," bisik Alana lirih.

Dante tersenyum puas. Ia melepaskan cengkeramannya dan kembali menegakkan tubuh. "Bagus. Arthur akan mengantarmu ke kamarmu. Istirahatlah. Besok, hidupmu yang baru dimulai."

Saat Alana berbalik untuk pergi dengan hati yang hancur, ia tidak menyadari bahwa Dante terus menatap punggungnya dengan tatapan lapar—tatapan seorang predator yang akhirnya menemukan mangsa yang paling ia dambakan sepanjang hidupnya.

***

Malam semakin larut. Setelah pertemuan yang mendebarkan di ruang kerja Dante, Alana diantar oleh Arhtur menuju sebuah kamar tidur tamu yang megah. Kamar itu jauh lebih besar dari flat kecilnya, dengan ranjang berukuran king-size yang tertata rapi, sprei satin, dan tumpukan bantal empuk. Sebuah kamar mandi pribadi yang luas terhubung langsung ke dalamnya, lengkap dengan bathtub marmer dan berbagai sabun beraroma mewah.

Meskipun pikirannya masih dipenuhi ketakutan dan rasa sakit hati, tubuh Alana sudah mencapai batasnya. Kelelahan yang menumpuk setelah hari yang panjang dan penuh drama itu membuat kelopak matanya terasa sangat berat. Begitu kepalanya menyentuh bantal empuk, Alana langsung jatuh ke alam mimpi. Tidurnya pulas, seolah ia bisa menemukan sedikit kedamaian di tengah kemewahan asing ini. Mungkin juga, ini adalah caranya melarikan diri dari kenyataan pahit yang baru saja menimpanya.

Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi.

Sekitar tengah malam, pintu kamar Alana terbuka perlahan, tanpa suara. Sosok tinggi tegap Dante Volkov muncul dari balik kegelapan lorong. Pria itu berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam menelusuri setiap sudut ruangan, lalu berhenti pada Alana yang terlelap pulas di ranjang.

Cahaya rembulan yang masuk dari jendela kamar menerpa wajah Alana, membuat kulitnya terlihat semakin pucat dan murni. Rambut panjangnya terurai di atas bantal, bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya terdengar begitu teratur. Ia benar-benar tidur seperti bayi, tampak begitu rapuh dan tidak berdaya.

Senyum smirk tipis tersungging di bibir Dante. Ia melangkah masuk, mendekati ranjang Alana dengan langkah seringan kucing liar. Matanya terpaku pada lêhêr jêñjåñg Alana yang terekspos. Kµlï† mulus itu seolah memanggil, membangkitkan insting posesif dalam diri Dante.

Dante membungkuk, wajahnya mendekat ke lêhêr Alana. Aroma lembut sabun dan aroma alami tubuh gadis itu menusuk indra penciumannya, membuat hå§rå† terlarang bergejolak. Tanpa ragu, bibirnya yang dingin menyentuh kµlï† hangat Alana. Sebuah hï§åþåñ kuat ia berikan, meninggalkan ßêr¢åk mêråh keunguan di sana. Tidak hanya satu, Dante menggeser sedikit bibirnya, dan meninggalkan jejak kedua, lalu ketiga, di tempat yang berbeda namun berdekatan. Tanda-tanda kepemilikan yang jelas.

Alana sedikit menggeliat dalam tidurnya, namun tidak terbangun. Ia hanya bergumam pelan, membuat Dante semakin terobsesi. Pria itu menatap hasil karyanya di lêhêr Alana dengan kepuasan.

Saat Dante hendak menegakkan tubuh, matanya kembali tertuju pada ßïßïr mungil Alana yang sedikit terbuka karena tidur. Bibir yang terlihat begitu plumpy dan mêñggðÐå, seolah mengundangnya untuk mencicipi. Sebuah tarikan kuat yang tak tertahankan mendorongnya.

Dante menunduk lagi. Bibirnya yang dingin dan tipis mêñɏêñ†µh bibir Alana yang hangat dan lembut. Awalnya hanya §êñ†µhåñ, namun rasa manis yang ia rasakan membuat kendalinya hilang. Dante mulai mêñghï§åþ ßïßïr bawah Alana rakus, mêlµmå†ñɏå perlahan, merasakan setiap lekuknya.

Alana melenguh pelan dalam tidurnya, sebuah suara kecil yang justru memicu Dante untuk semakin memperdalam ¢ïµmåññɏå. Pria itu mêñ¢ï¢ïþï bibir gadis itu seolah sedang meminum air di padang gurun. Hå§rå† tak terbendung menyelimutinya.

Çïµmåñ itu berlangsung beberapa saat, terasa begitu panjang dan ïñ†êñ§ di tengah keheningan malam. Ketika Dante akhirnya melepaskan ¢ïµmåññɏå, ia melihat ßïßïr mungil Alana kini sedikit bengkak dan memerah. Sebuah pemandangan yang membuat senyum smirk Dante melebar. Ia mengusap ßïßïr Alana yang basah dengan ibu jarinya, lalu membisikkan sebuah kalimat, nyaris tak terdengar.

"Kau milikku, Alana."

Dante menegakkan tubuhnya, melirik Alana sekali lagi yang kini kembali terlelap pulas. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Alana sendirian, tanpa gadis itu menyadari bahwa sang predator dingin baru saja meninggalkan jejak-jejak kêþêmïlïkåñ di †µßµhñɏå, bahkan sebelum matahari terbit di tempat asing ini.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
Mia Camelia
dunia gelap dante😂
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!