NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Ternyata sama Saja

“Aku tahu dia ada di rumah, pasti ada Wulan juga, kan? Oh ya! Anakku mau ke kantor atau tidak, itu bukan urusanmu! Tahu?”

“Tapi, Ma, aku—“  

“Diam!”

Ucapan Shafira terputus oleh perkataan ibu mertuanya. Ia gugup sekaligus serba salah, karena merasa terhimpit oleh beban berat yang terpaksa dipikulnya. Namun, di lain sisi ia ingin sekali mengadu dan menghindari semuanya itu.  

Dahulu, ia pikir ibu mertuanya akan menyayanginya karena mendukung permintaan sang ibu, untuk menikah dengan Erick saat di rumah sakit. Ternyata, semuanya di luar dugaannya. Ibu mertuanya tidak kalah judesnya dengan Wulan dan juga suaminya.

“Memangnya kamu kenapa? Oh iya, aku kasih tahu kalau Erick dan Wulan mau nikah secepatnya!”

“Apa, Ma? Nikah? Jadi, Mas Erick mau nikah lagi?”

“Ya! Aku mau menikahkan anakku dengan Wulan!”

“Aku ini istrinya, Ma! Kami baru saja nikah, kenapa Mas Erick harus nikah lagi sama Wulan?”

“Shafira! Apa kamu lupa kalau laki-laki itu boleh punya istri dua? Hah!”

“Tapi, Ma! Aku cuma mengingatkan saja, poligami memang boleh untuk seorang laki-laki, tapi itu harus adil! Bagaimana mau adil, kal—“

“Tutup mulutmu! Itu urusan Erick, kamu pikir anakku bodoh dan tidak tahu hal seperti itu?”

Setelah berkata demikian, Mirna—wanita paruh baya itu, pun berlalu menuju pintu rumah anaknya yang sudah terbuka, dan langsung duduk di ruang tamu. Ia menduga kalau Wulan dan Erick sedang istirahat di kamarnya.  

Sekilas tadi begitu masuk, ia sempat mendengar suara tawa manja Wulan dari kamar anaknya. Menandakan bahwa ucapan Shafira benar, kalau dua orang itu ada di dalam.  Mereka tengah, atau sudah melakukan sesuatu yang menyenangkan di dalamnya, dan ia pun ikut senang karenanya.  

Mirna yakin kalau apa yang dilakukan Erick dan Wulan, sudah menyakiti Shafira. Oleh karena itu, ia memilih pergi ke luar rumah dengan alasan membersihkan halamannya.

Sekitar hampir satu jam kemudian, Mirna merasa lapar, ia memanggil Sgafira yang sedari tadi berada di luar. Menantunya itu sedang  memasukkan sampah ke tempatnya, dengan wajah lelah dan tubuh yang berkeringat. Ibu mertua telah memintanya, untuk memasak makanan yang enak dan bisa dinikmati oleh dirinya, sang anak dan calon menantunya.

Menerima perintah seperti itu Shafira memejamkan mata sejenak, lalu menarik nafas panjang. Untung saja pekerjaannya membersihkan halaman sudah selesai.  

Ia akan masuk ke dapur dengan berharap kalau suaminya dan wanita laknat itu, sudah menghentikan aktivitas bejat mereka. Dengan begitu, ia tidak perlu lagi mendengar suara-suara menjijikkan yang bisa didengar telinganya, ketika ia masuk ke dalam rumah itu nanti.

Benar saja, saat Shafira baru sampai di dapur, ia melihat sepasang kekasih itu menuruni tangga, dari sudut matanya. Shafira berjalan sambil tersenyum pada Mirna.

Sepertinya mereka mengabaikan kesopanan, dengan masih memakai pakaian tidur mereka.

Sungguh tidak tahu malu, batin Shafira. Sekarang sudah siang, tapi mereka masih menganggap semua orang tidak mempunyai perasaan. Bahkan, matahari nyaris terbenam kembali, tapi mereka menganggap sekarang masih pagi.

“Mama?” tanya Erick begitu sampai di lantai dasar dan ia melihat wanita itu duduk di sofa ruang tamu.  

Awalnya pria itu merasa khawatir kalau mamanya akan marah, ketika ia bersama dengan Wulan, padahal Shafira ada di dalam rumahnya. Namun, begitu ia melihat wanita itu tersenyum kepadanya dan juga Wulan, ia pun merasa puas. Ternyata, mamanya juga mendukung hubungannya dengan sang kekasih, dan ada Shafira di antara mereka.

“Tante, apa kabar?” tanya Wulan ramah sambil memeluk Mirna dengan hangat. Ia tahu kalau selama ini wanita itu, selalu mendukungnya untuk menjadi kekasih Erick.  

“Baik, dong, Sayang! Gimana kamu sendiri? Baik juga, kan?”

Saat berbicara, mereka sudah saling melepaskan pelukan, kemudian duduk secara berdampingan. Sedangkan Erik, duduk di hadapan mereka berdua dengan meja kaca sebagai pembatasnya.

“Iya, Tante! Aku masih selalu seperti ini, sesuai dengan keinginan Tante untuk membahagiakan putra kesayangan Tante yang manja ini!”

“Kamu ini bisa aja, kamu tahu anak-anak tante itu manja! Cuma kamu yang bisa menaklukkannya bener, kan?”

“Iya, Tente! Dari semalaman, tapi dia nggak pernah puas!”

Erick mendengus kecil saat mendengar ucapan Wulan. Pada kenyataannya, gadis itulah yang selalu merayu dan mencumbu, kemudian memaksanya untuk melakukan lagi dan lagi. Justru Wulan yang tidak pernah puas. Saat melakukannya, entah kenapa Erick selalu teringat dengan tubuh wanita lain, yang ia rasakan begitu lembut dan berbeda.  

Tiba-tiba Erick merasakan hal aneh, ia begitu mendambakan Shafira untuk mendominasi ketika melakukannya. Berbeda dengan ketiga dia bersama Wulan, wanita itulah yang mendominasi dirinya.

“Nah, makanya! Tadi Tante sudah nyuruh Shafira buat masak makanan yang enak buat kita!” kata Mirna sambil menumpuk satu kakinya di atas kaki yang lain dan menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melirik ke area dapur.

Memang mereka tidak bisa melihat aktivitas Shafira dari sana. Namun, dari aroma masakan yang tercium, semua tahu bahwa Shafira sedang memasak sesuatu untuk mereka.

Betapa menyenangkan yang hidup seperti ini, begitulah yang ada di dalam pikiran Wulan dan Mirna. Mereka bisa makan enak, hidup tenang, tidak harus capek-capek membersihkan rumah, tapi tidak harus membayar sepeser pun. Ternyata, memiliki seorang istri seperti Shafira, bisa lebih irit daripada menggaji seorang asisten rumah tangga.

“Tante ... memang Mama yang baik sekali!” puji Wulan membuat Mirna melambung karenanya. Inilah yang ia sukai dari Wulan, calon menantunya itu tahu menempatkan diri dan bagaimana cara menguji.

“Oh iya, Erick! Gimana pernikahan kamu sama Wulan, lakukan saja secepatnya sesuai rencana!”

“Beneran, Ma? Aku beneran boleh nikah sama Wulan, padahal, kan Mama sama Papa udah nikahin Aku sama Shafira?”

Inilah yang awalnya dipikirkan oleh Erick, niatnya untuk pindah ke rumah pribadinya agar ia bisa bebas menyiksa Shafira. Namun, di luar dugaan ternyata Mamanya mendukung pernikahannya dengan Wulan.

“Oh, itu memang keinginan Papamu yang maunya membatalkan pernikahan kalian, tapi aku sebenarnya sudah mengurus semuanya termasuk memesan pakaian dan juga hotel untuk resepsinya!”

“Jadi, begitu? Kalau mau melakukan sesuai rencana, berarti itu minggu depan, Ma!”

“Makanya, Mama ke sini untuk memastikannya! Apalagi, undangan juga sudah disebar! Jadi, kalian harus mempersiapkan diri!”

“Oh Tante! Memang Mama terbaik!” kata Wulan sambil kembali memeluk Mirna.

“Iya, iya ... mulai sekarang, kamu jangan panggil tante lagi, tapi panggil Mama, ya?”

Wulan tersenyum puas, sedangkan di dapur, Shafira menyelesaikan masakannya dengan berurai air mata. Sebentar-sebentar ia menyusut pipinya yang basah, semua orang yang ada di ruang tamu itu, sengaja. Mereka membicarakan perihal pernikahan suaminya, dengan keras agar ia bisa mendengarnya.

Perasaannya sakit tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, seandainya lukanya bisa terlihat, mungkin darahnya sudah mengalir ke mana-mana. Hanya saja, luka hati itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi rasa sakitnya menghujam ke dalam jiwa.

“Baiklah, Tante. Kalau begitu, aku harus pulang dulu dan bilang semuanya sama Mamaku!” Wulan berkata sambil pindah duduk di sisi Erick dan memeluknya, “Sayang, Kamu pasti senang juga kan? Soalnya, pernikahan kita akhirnya bisa dilangsungkan!”

“Iya, lakukan saja dan jangan pikirkan Shafira, dia bukan penghalang yang berat untuk hubungan kekeluargaan kita!” kata Mirna.

“Tapi, Ma! Bagaimana dengan Papa?”

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!