Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin di Antara Dua Abbey
Setelah penyusupan nekat itu, Zayden pulang dengan perasaan yang campur aduk. Namun, sesampainya di Apartemen, Ia dikejutkan dengan kehadiran sosok pria yang duduk di ruang Utama dengan segelas wiski di tangannya.
Ardiansyah Abbey, Ayah kandungnya yang lebih sering muncul di berita ekonomi daripada di hadapan anaknya sendiri.
Suasana ruang itu terasa sangat kaku. Zayden berdiri di ambang pintu, masih dengan coretan arang yang tersisa di pipinya dan jaket kulit yang berbau debu jalanan.
"Duduk, Zayden," suara ayahnya berat, berwibawa, namun terasa kosong.
Zayden duduk di kursi kulit di seberang ayahnya. Ia tidak menunjukkan rasa takut, ia hanya menunjukkan kebosanan yang mendalam. "Tumben Ayah di Sini. Siska dan Chyntia lagi belanja sampai ke luar angkasa?"
Ardiansyah mengabaikan sindiran itu. Ia menatap Zayden dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Papa dengar kamu mulai membuat masalah dengan keluarga Pratama. Kamu tahu siapa mereka? Mereka mitra bisnis penting. Dan kamu... malah mengejar-ngejar putri mereka seperti pengemis jalanan."
Zayden menyeringai sinis. "Gue nggak ngejar mitra bisnis Ayah. Gue sayang sama Amy. Sesuatu yang kayaknya Ayah udah lupa artinya sejak Ibu meninggal."
Rahang ayahnya mengeras.
"Cukup bicara soal itu. Papa mau tanya, apa rencana kamu kedepannya? Apa kamu akan terus-terusan jadi Panglima di aspal? Apa kamu hanya tahu cara tawuran, memukul orang, dan merusak nama baik keluarga ini sampai kamu tua nanti?"
Zayden terdiam sejenak. Ia teringat wajah Amy saat ia menawarkan kawin lari yang konyol tadi. Ia menyadari satu hal, untuk melindungi bunga secantik Amy, ia tidak bisa hanya menjadi pagar kawat berduri. Ia harus menjadi benteng yang kokoh.
"Tawuran itu cuma cara gue bertahan di lingkungan yang Ayah telantarkan," ucap Zayden, suaranya kini tenang namun tajam. "Tapi kalau Ayah tanya rencana kedepan, gue udah punya."
Zayden memajukan duduknya. "Gue bakal ambil alih bengkel kecil di pinggiran kota itu dan gue jadiin pusat modifikasi mesin legal. Gue udah punya koneksi vendor, dan gue punya tim yang loyalnya melebihi karyawan kantor Ayah. Gue juga bakal ambil jurusan Teknik Mesin di universitas terbaik, bukan karena Ayah suruh, tapi karena gue butuh gelar itu buat bungkam mulut papanya Amy."
Ardiansyah sedikit terangkat alisnya. Ia tidak menyangka anak berandal nya sudah berpikir sejauh itu.
"Gue mau buktiin kalau anak yang Ayah anggep sampah ini bisa dapet apa yang dia mau dengan caranya sendiri," lanjut Zayden. "Gue nggak butuh warisan Ayah. Gue cuma butuh Ayah berhenti ikut campur dan jangan biarin Siska atau Chyntia ganggu Amy. Kalau itu terjadi... Ayah bakal tau kenapa seantero sekolah manggil gue Panglima."
Ardiansyah menatap anaknya cukup lama. Di balik sikap kerasnya, ia melihat bayangan dirinya sendiri yang keras kepala saat masih muda.
"Keluarga Pratama tidak akan pernah menerima mekanik, Zayden. Sekalipun kamu punya gelar sarjana," ujar ayahnya dingin.
"Makanya gue nggak mau jadi sekadar mekanik," balas Zayden puitis.
"Gue bakal jadi pemilik industri yang mereka butuhkan. Gue bakal bikin mereka nggak punya pilihan selain bilang 'Zayden, tolong jagain anak saya.'"
Zayden berdiri, hendak keluar dari ruangan. Namun, langkahnya terhenti saat ayahnya berkata pelan, "Bersihkan wajahmu. Kamu terlihat seperti maling jemuran dengan arang itu."
Zayden menyentuh pipinya, lalu tersenyum tipis. "Ini bukan arang, Yah. Ini adalah tanda perjuangan seorang ninja cinta."
Zayden keluar dari ruangan itu dengan langkah mantap. Dan Ternyata Di luar, Siska dan Chyntia menatapnya dengan benci, tapi Zayden hanya melewati mereka sambil bersiul kencang. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Amy.
Zayden: "Amy, gue baru aja tawuran sama bokap gue, pake kata-kata. Tenang aja, gue menang angka. Gue udah punya rencana buat masa depan kita. Lo cuma perlu belajar yang rajin, biar nanti kalau gue udah jadi bos besar, sekretaris gue tetep lo."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 🥰😍