Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Gelap. Itu yang pertama kali Kayla rasakan. Gelap pekat, dingin, dan sunyi, berbeda dari panas membara yang sebelumnya membungkus tubuhnya.
Jeritan yang tadi memekakkan telinga perlahan memudar, digantikan oleh bunyi lain yang asing, teratur, dan menekan.
Bip… bip… bip…
Kayla merasa seperti terjebak di antara dua dunia. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah ditindih batu besar. Matanya ingin terbuka, tetapi kelopak itu seperti dilem dengan timah cair.
“Jangan tinggalkan aku,” bisik suara lirih terdengar di kejauhan.
Bukan suara ayahnya. Bukan suara ibunya. Bukan pula suara adik-adiknya.
Suara itu terdengar asing, tetapi penuh kepedihan. Api yang tadi mengelilinginya perlahan surut. Tanah membara di bawah kakinya berubah menjadi dingin, lalu perlahan menghilang. Sosok-sosok berdarah yang mengelilinginya memudar seperti asap tertiup angin.
Tubuh Kayla terasa ditarik ke atas, cepat, kuat, dan tak tertahankan.
“Detaknya turun!”
“Tekanan darah pasien belum stabil!”
Suara-suara tergesa terdengar di ruang operasi. Lampu putih yang sangat terang menusuk mata Kayla meski kelopak matanya masih tertutup rapat. Dokter dan perawat bergerak cepat di sekelilingnya.
“Siapkan alat kejut!”
Di luar ruang operasi, Ashabi berdiri membeku. Tangannya terkepal, wajahnya pucat pasi.
Tiga anak kecil itu duduk berpelukan di bangku panjang rumah sakit. Nayla menangis tanpa suara, hanya bahunya yang naik turun. Fattan menatap lantai dengan mata kosong. Fattah menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.
Di dalam ruang operasi, Kayla merasa tubuhnya tersentak keras, seperti ditarik kembali paksa ke dunia nyata. Dadanya terangkat tiba-tiba, napasnya tersengal. Matanya terbuka. Putih semua. Cahaya lampu membuatnya meringis. Kepalanya berdenyut hebat, rasa sakit menjalar dari pelipis hingga tengkuk.
“Pasien sadar!” seru seorang perawat.
Kayla mencoba menggerakkan tangannya, tetapi terasa lemah. Jarum infus tertancap di nadinya, selang oksigen terpasang di hidungnya. Napasnya terputus-putus. Namun, lebih dari rasa sakit fisik itu yang paling menyiksa adalah ingatannya.
Api yang membakar. Suara jeritan orang-orang.
Ayah kandungnya, ibunya, ayah tirinya, juga adik-adiknya dalam keadaan berdarah-darah. Air mata langsung mengalir dari sudut mata Kayla tanpa bisa ia tahan.
Dokter mendekat, memeriksa pupil matanya. “Nona Kayla, Anda aman sekarang. Anda di rumah sakit. Coba bernapas pelan-pelan.”
Kayla ingin berbicara, tetapi suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa kering seperti terbakar. Yang keluar hanya desahan tertahan. Beberapa menit kemudian, ia dipindahkan ke ruang ICU untuk pemulihan intensif.
Di ruang tunggu, pintu operasi akhirnya terbuka. Dokter keluar dengan ekspresi yang sedikit lebih tenang.
Ashabi langsung berdiri. “Dokter, bagaimana?”
Dokter mengangguk pelan. “Operasi berhasil. Pasien sudah sadar, tetapi kondisinya masih lemah. Kami akan memantau 24 jam ke depan.”
Nayla langsung menangis lega, berlari kecil ke arah Ashabi tanpa sadar. “Kak Kayla hidup, kan, Om?”
Ashabi berlutut di hadapannya, menatap matanya yang basah. “Iya. Kakakmu kuat.”
Namun, di balik kata-kata itu, rasa bersalah masih menggerogoti hatinya.
Beberapa jam kemudian....
Kayla terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambutnya tergerai tak beraturan di bantal.
Mata Kayla menatap langit-langit kamar, kosong, seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali.
Ingatan tentang tempat mengerikan itu terus berputar di kepalanya.
Api. Darah. Ayahnya yang menangis darah. Ibunya yang kecewa. Adik-adiknya yang terluka.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Fattan, Fattah, dan Nayla masuk dengan langkah ragu-ragu, ditemani seorang perawat.
Kayla menoleh perlahan. Saat matanya bertemu dengan wajah ketiga adiknya, dadanya terasa diremas kuat-kuat.
Fattan melangkah lebih dulu, matanya merah. “Kak Kayla.” Suara itu bergetar.
Kayla mencoba tersenyum, meski air matanya justru jatuh. “F-Fattan ....”
Nayla berlari kecil mendekat dan langsung memeluk pinggang Kayla dengan hati-hati agar tidak menyentuh luka-lukanya.
“Kakak jangan mati! Jangan tinggalin Nayla,” isak gadis kecil itu tersedu.
Bayangan api dan jeritan kembali terlintas di benaknya. Tiba-tiba, napasnya memburu. Dadanya naik turun tak teratur. Tangannya mencengkeram seprai dengan kuat.
“Jangan. Jangan lihat aku,” gumam Kayla pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Ketiga anak itu saling berpandangan, bingung.
Kayla menutup wajahnya dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir deras.
Di benaknya, ia kembali melihat wajah ayahnya yang berkata: “Sekarang kamu kotor, Kayla.”
Rasa malu, bersalah, dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Tubuh Kayla bergetar. Tangannya yang lemah terangkat, mengusap rambut Nayla perlahan.
“Kakak tidak akan meninggalkan kalian,” bisik Kayla lirih, meski hatinya sendiri penuh ketakutan.
Fattah berdiri di samping ranjang, menatap Kayla dengan campuran lega dan cemas. “Kakak, kenapa bisa kecelakaan?”
Kayla terdiam sejenak. “Kakak kurang hati-hati saat menyetir.”
Pada saat itu, Ashabi berdiri di ambang pintu. Ia melihat Kayla menangis, melihat ketiga anak kecil itu di sekelilingnya dan hatinya terasa hancur.
Dengan suara pelan, ia berkata, “Kayla, maafkan aku.”
Kayla menoleh perlahan. Mata mereka bertemu.
Di tatapan Kayla, bukan hanya ada air mata, tetapi juga luka batin yang sangat dalam.
Malam itu, ketika ketiga adiknya sudah tertidur di sofa kecil di samping ranjangnya, Kayla terjaga sendirian. Lampu kamar diredupkan. Ia menatap langit-langit dengan mata kosong. Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya.
“Aku masih hidup, tapi kenapa rasanya seperti sudah mati?” Air matanya mengalir tanpa suara.
Bayangan api, jeritan, dan wajah keluarganya kembali membayangi. Di tengah ketakutan itu, satu pikiran menyakitkan muncul, tetapi jelas.
Kayla harus hidup. Bukan untuk dirinya sendiri.
Tetapi untuk Fattan, Fattah, dan Nayla. Meski ia merasa kotor. Meski ia merasa berdosa. Meski ia takut suatu hari benar-benar terjatuh ke tempat mengerikan itu lagi.
Kayla menutup matanya, menggigit bibirnya, menahan tangis yang ingin pecah. “Ya Allah, jangan ambil aku dulu. Aku masih harus menjaga mereka.”
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya