NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pelajaran Hubungan Dewasa

Setelah insiden pria asing dari masa lalu itu, Esme mencoba menenangkan suasana dengan membiarkan AL lebih banyak bergaul dengan para pria dewasa di desa. Esme pikir, mungkin dengan melihat bagaimana pria normal berinteraksi, AL akan memiliki kepribadian yang lebih stabil. Namun, satu hal yang Esme lupakan: pria-pria di desa, terutama saat berkumpul di kedai kopi atau di bawah pohon apel setelah bekerja, tidak memiliki filter dalam berbicara.

Sore itu, AL duduk di atas bongkahan kayu besar, dikelilingi oleh Paman Silas dan beberapa pria dewasa lainnya. Mereka baru saja menyelesaikan pengangkutan hasil panen terakhir. Suasana sangat santai, asap rokok lintingan membumbung di udara, dan tawa pecah setiap kali ada lelucon dilemparkan.

"Jadi, Aleksander," ucap seorang pria bernama Bang Togar, yang dikenal sebagai tukang kayu yang paling blak-blakan di desa. "Kau sudah hampir sebulan bangun dari koma. Bagaimana rasanya kembali ke pelukan istri yang cantik seperti Esme? Pasti malam-malammu di bukit itu sangat panas, ya?"

AL memiringkan kepalanya, dahi yang bidang itu berkerut. "Panas? Tidak, Bang Togar. Rumah kami di bukit cukup dingin kalau malam. Makanya aku sering menyalakan perapian untuk Moa agar dia tidak kedinginan."

Tawa para pria itu pecah seketika. Paman Silas hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli.

"Bukan panas api perapian, Aleks! Maksudnya itu... hubungan ranjang!" Bang Togar menyikut lengan AL yang sekeras baja. "Kau tahu kan, kalian ini pengantin baru yang sempat tertunda karena kau sakit. Apa tidak ada perkembangan? Masa tidak ingin segera punya kehidupan baru yang merangkak di lantai?"

$

AL semakin bingung. Dia mencoba memproses setiap kata. "Merangkak di lantai? Maksudmu seperti Ocan? Aku tidak ingin Ocan bertambah banyak, dia sudah cukup menyebalkan satu saja."

"Bukan kucing, Aleks! Anak! Bayi!" seru pria lain sambil terpingkal-pingkal. "Apa kau tidak melakukan 'ritual' khusus di malam hari agar Esme bisa hamil? Kau kan punya tubuh yang sangat kuat, masa performamu kalah sama suara geramanmu?"

Para pria itu mulai melontarkan kata-kata vulgar lainnya yang tidak pernah AL dengar dari mulut Esme. Mereka bercerita tentang "olahraga malam", tentang "keringat cinta", dan hal-hal intim lainnya dengan bahasa yang sangat frontal. AL mendengarkan dengan seksama, otaknya yang cerdas merekam setiap istilah baru itu, meski hatinya merasa aneh. Di dunianya yang baru, "suami-istri" berarti makan bersama, memotong kayu, dan elusan di kepala sebelum tidur.

"Ritual malam..." gumam AL pelan. "Jadi, suami yang baik harus membuat istrinya merangkak... eh, bukan, membuat bayi merangkak?"

"Iya! Kau harus lebih agresif, Aleks! Jangan cuma diam seperti patung kalau di kamar!" Bang Togar memberikan nasihat sesat yang disambut sorakan setuju dari yang lain.

----

Sepanjang jalan pulang, AL berjalan dengan langkah yang sangat serius. Dia membawa kantong kayu bakarnya, namun pikirannya penuh dengan istilah-istilah ajaib tadi. Dia merasa sebagai kepala rumah tangga, dia telah gagal dalam satu tugas penting: Ritual Panas.

Di pondok, Esme baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya di depan cermin kecil. Dia memakai daster katun tipis berwarna putih yang sangat sederhana. Begitu mendengar pintu terbuka, Esme menoleh.

"Kau sudah pulang, Aleksander? Bagaimana kerjamu hari ini?" tanya Esme dengan nada ceria.

AL tidak langsung menjawab. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu berjalan mendekati Esme dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang biasanya ia gunakan saat hendak memburu babi hutan.

"Moa," panggil AL dengan suara yang sangat rendah dan berat.

Esme menegang. "I-iya? Ada apa? Kenapa wajahmu serius sekali?"

AL berhenti tepat di depan Esme, membuat wanita itu harus mendongak hingga lehernya terasa kaku. Kehadiran fisik AL yang dominan memenuhi seluruh ruang gerak Esme.

"Paman Silas dan Bang Togar bilang aku adalah suami yang tidak kompeten," ucap AL dengan ekspresi lugu namun suaranya terdengar sangat menuntut.

Esme mengerutkan kening. "Apa? Tidak kompeten bagaimana? Kau kan pekerja paling rajin di kebun!"

"Bukan soal apel," AL melangkah satu langkah lebih dekat hingga ujung sepatunya menyentuh kaki Esme. "Mereka bilang malam kita di bukit ini kurang panas. Mereka bilang kita butuh kehidupan baru yang merangkak di lantai. Moa... kenapa kau tidak pernah mengajakku melakukan ritual olahraga malam agar kau bisa punya bayi?"

"P-P-APA?!" Esme berteriak hingga suaranya melengking tinggi. Wajahnya yang tadi pucat karena dingin langsung berubah merah padam seperti tomat matang yang siap meledak.

Esme segera mundur hingga punggungnya menabrak meja rias. "S-siapa... siapa yang bicara seperti itu padamu?!"

"Bang Togar. Dia bilang aku harus lebih agresif. Dia nanya apakah performaku sehebat ototku," AL menjawab dengan kejujuran yang mematikan. "Dia bilang suami yang baik harus membuat istrinya berkeringat cinta. Moa, apakah kau mau berkeringat cinta bersamaku sekarang? Aku punya banyak tenaga, aku bisa melakukannya sampai pagi kalau itu syarat menjadi suami hebat."

Esme merasa otaknya seolah berhenti berputar. Dia ingin menghilang dari muka bumi sekarang juga. Dia ngebatin dengan teriakan histeris, "BANG TOGAR SIALAN! AKAN KUSEMPROT KEBUNNYA PAKAI RACUN RUMPAT PALING KERAS! BAGAIMANA BISA DIA MENGAJARKAN HAL SEPERTI ITU PADA PREDATOR POLOS INI?!"

Esme mencoba menarik napas panjang, tangannya gemetar hebat. Dia melihat AL yang sedang menunggu jawabannya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang sangat murni. Tidak ada nafsu di mata kuning itu, hanya keinginan jujur untuk menjadi "suami yang baik" sesuai standar pria-pria di desa.

"A-Aleksander... dengar," Esme mencoba menstabilkan suaranya, meski ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. "Bang Togar itu... dia itu suka bercanda! Dia orang gila! Jangan dengarkan dia!"

"Tapi Paman Silas juga tertawa dan mengangguk. Paman Silas tidak gila," bantah AL dengan logika yang sangat tajam. "Moa, apakah kau malu padaku? Apakah karena aku mantan pasien koma jadi aku tidak boleh menyentuhmu seperti yang mereka ceritakan? Mereka bilang ada bagian tubuh yang harus disatukan agar bayi bisa muncul. Bagian yang mana, Moa? Aku akan mempelajarinya sekarang juga."(Author said_ berhenti jangan lanjyut... Malu ih😭🫵)

"HENTIKAN! JANGAN LANJUTKAN KALIMAT ITU!" Esme menutup mulut AL dengan kedua tangannya. Kulit telapak tangannya merasakan hembusan napas hangat dari hidung AL.

Mata mereka bertemu. AL menatap Esme dengan tatapan yang seolah menuntut kebenaran. Esme merasa benar-benar mati kutu. Dia adalah ilmuwan biologi, dia tahu persis bagaimana proses reproduksi terjadi, tapi menjelaskan hal itu kepada subjek eksperimen yang mengira dia adalah suaminya adalah misi bunuh diri secara mental.

"Dengar, Aleksander De Januer," Esme bicara dengan nada selembut mungkin, meski jantungnya berdegup seperti drum perang. "Ritual itu... itu dilakukan hanya jika kita sudah sangat, sangat, sangat siap. Dan sekarang kita belum siap! Kita masih harus menabung kertas ajaib yang banyak, rumah ini masih kecil, dan... dan Ocan belum setuju punya adik bayi!"

AL melirik Ocan yang sedang duduk di atas lemari sambil memperhatikan mereka dengan tatapan sinis. "Ocan selalu tidak setuju dengan apa pun yang aku lakukan. Kenapa hidup kita harus diatur oleh kucing oranye itu?"

"Pokoknya begitu! Itu aturannya!" Esme melepaskan tangannya dari mulut AL dan segera berbalik, berpura-pura sibuk merapikan botol-botol kimia di atas meja untuk menutupi wajahnya yang masih terasa terbakar. "Dan jangan pernah tanyakan itu lagi pada pria desa! Itu rahasia rumah tangga kita! Paham?"

AL menghela napas, ia tampak sedikit kecewa. "Jadi aku belum bisa punya bayi merangkak?"

"Belum! Belum boleh!"

AL berjalan mendekati Esme lagi, kali ini dia tidak menuntut, tapi dia meletakkan tangannya di pundak Esme yang kecil. "Baiklah. Kalau itu maumu, aku akan menunggu. Tapi Bang Togar bilang, setidaknya seorang suami harus mencium istrinya jika sudah pulang kerja. Apakah itu juga dilarang karena Ocan belum setuju?"

Esme terdiam. Pertanyaan ini lebih "aman" tapi justru lebih berbahaya bagi pertahanan hatinya. Dia menoleh perlahan, melihat AL yang sedang menunduk, wajah gagahnya terlihat sangat tulus.

"Cium... itu boleh?" tanya AL lagi, suaranya sangat lembut, membuat bulu kuduk Esme meremang bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang disebut orang-orang sebagai butterfly in the stomach.

Esme menelan ludah. "C-cium di dahi saja! Itu... itu tanda penghormatan!"

AL tersenyum kecil. Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Esme. Esme secara otomatis memejamkan mata, merasakan napas AL yang hangat di kulitnya. Dan kemudian, sebuah kecupan lembut mendarat di dahinya. Lama, hangat, dan terasa sangat protektif.

"Terima kasih, Moa. Aku merasa menjadi suami hebat sekarang," bisik AL tepat di telinga Esme.

Setelah itu, AL berjalan menuju perapian untuk menambah kayu bakar dengan siulan kecil, seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat. Sementara itu, Esme tetap berdiri mematung di tempatnya, memegang dahinya yang masih terasa hangat.

"Aku benar-benar gila," gumam Esme pada diri sendiri. "Aku baru saja mengajari seorang mesin pembunuh biologis cara mencium dahi, sementara dia mengira aku istrinya. Jika suatu saat dia tahu semuanya hanya bohong... tamatlah riwayatku. Tapi kenapa... kenapa aku malah merasa senang?"

Esme menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran gila itu. Dia menatap AL yang sedang bercanda dengan Ocan di depan perapian. Dinamika rumah tangga bohong-bohongan ini semakin lama semakin terasa nyata, menjebak Esme dalam labirin perasaan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara keluarnya.

Satu hal yang pasti, mulai besok, Esme akan melarang AL berkumpul dengan Bang Togar selamanya.

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!