Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Milikku: Deklarasi yang Tidak Sengaja"
Long Wei menghela napas panjang. Di sampingnya, Yang Chi sudah tidur mendengkur halus, sama sekali tidak terganggu oleh suara ketukan pintu. Tangannya yang terikat pada Long Wei sesekali bergerak, menarik-narik tali sutra itu setiap kali Yang Chi berganti posisi tidur.
Tok tok tok!
"Kaisar... Baginda... Ini Mei Lan," suara manja dan merayu itu terdengar lagi dari balik pintu.
Mei Lan adalah selir Long Wei yang paling ambisius dan manja. Di dalam novel buatan Yang Chi, Mei Lan digambarkan sebagai sosok yang sangat cemburuan dan selalu berusaha mendapatkan perhatian Kaisar dengan berbagai cara.
Long Wei melirik Yang Chi yang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Jika Mei Lan masuk dan melihat ini, skandal akan meledak di seluruh istana selir. Namun, sebelum Long Wei sempat menjawab, pintu kamar yang ternyata tidak terkunci rapat itu didorong pelan.
"Baginda, hamba membawakan sup jahe hangat untuk..."
Mei Lan mematung di ambang pintu. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di atas ranjang. Kaisar yang ia puja sedang berbaring, dan di sampingnya ada seorang wanita yang memakai jubah putih kebesaran milik Kaisar.
"B-Baginda? Siapa... siapa wanita ini?!" pekik Mei Lan, suaranya naik satu oktav karena syok.
Long Wei segera duduk tegak, yang otomatis membuat tangan Yang Chi ikut tertarik ke atas. Yang Chi yang sedang bermimpi makan ayam goreng pun terbangun dengan kaget.
"Hah? Ayamnya mana? Oh... ada apa?" gumam Yang Chi sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian sutra berwarna merah muda sedang menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Mei Lan menunjuk ke arah tangan mereka yang terikat tali merah. "Tali itu! Kenapa tangan Baginda terikat dengan wanita pembunuh ini?! Baginda, apa Anda sudah gila?!"
Yang Chi yang jiwanya belum kumpul 100% malah tersenyum bodoh. "Halo, Kakak Cantik. Tali ini? Ini tren baru di tahun 2026, namanya gelang couple anti-jauh," ceplos Yang Chi asal-asalan.
Long Wei memijat pelipisnya, merasa kepalanya ingin pecah. "Mei Lan, keluar sekarang. Ini adalah urusan interogasi negara!"
"Interogasi macam apa yang dilakukan di atas ranjang sambil berpegangan tangan?!" jerit Mei Lan histeris. Ia melangkah maju, hendak menjambak rambut Yang Chi.
Yang Chi yang panik langsung bersembunyi di balik punggung Long Wei. "Tuan Kaisar, tolong! Singa betinanya ngamuk!"
Mei Lan yang sudah terbakar api cemburu melesat maju dengan tangan yang sudah siap mencakar. "Xiao Xi Huwan! Berani-beraninya kau menggoda kaisarku! Sini, akan kujambak rambutmu sampai botak!"
Yang Chi, yang jiwanya memang bukan Xiao Xi yang asli, langsung merasa nyalinya ciut. Ia kembali menggunakan jurus "akting gila" andalannya. Ia mulai menangis histeris sambil memeluk leher Long Wei dengan kencang hingga sang kaisar hampir tersedak.
"Waaaaa! Tolong! Ada penjahat berwajah menor mau membunuhku!" teriak Yang Chi histeris. Ia sengaja memperparah keadaan dengan bersandar manja di dada Long Wei. "Sayang... suruh wanita galak itu pergi dari sini! Aku takut!"
Mata Mei Lan hampir keluar dari kelopaknya mendengar kata 'Sayang' keluar dari mulut musuh bebuyutan kekaisaran. "Dasar kau wanita gila! Kenapa kau memanggil Kaisar dengan sebutan 'Sayang'?! Lancang sekali!"
"Mei Lan, cukup!" bentak Long Wei dengan suara yang menggelegar hingga seluruh ruangan bergetar. Ia mendorong tangan Mei Lan yang hendak menyentuh Yang Chi.
"Keluar kau! Jangan berani-berani menyentuh milikku!" tegas Long Wei. Kata "milikku" itu keluar begitu saja dari mulutnya, membuat Yang Chi sendiri sempat tertegun (tapi tetap lanjut nangis).
Mei Lan terhuyung mundur, matanya berkaca-kaca. "Kaisar... aku ini selirmu! Aku yang selalu melayani Anda dengan setia, kenapa Anda lebih membela wanita pembunuh dan gila ini?!"
Long Wei menatap Mei Lan dengan tatapan yang sangat dingin, sedingin es di puncak gunung. "Kau hanya seorang selir, Mei Lan. Kedudukanmu tidak ada apa-apanya dibanding mendiang istriku, dan saat ini, Xiao Xi adalah tanggung jawab pribadiku. Keluar sekarang sebelum aku menurunkan statusmu menjadi pelayan rendahan!"
Mei Lan menutup mulutnya karena syok. Ia tidak pernah melihat Long Wei semarah ini demi seorang wanita, apalagi wanita itu adalah orang yang seharusnya dihukum mati. Dengan perasaan hancur dan dendam yang membara, Mei Lan berlari keluar kamar sambil menangis.
Setelah pintu tertutup keras, Yang Chi langsung berhenti menangis. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Long Wei dengan wajah polos.
"Wah, Om... eh, Tuan... tadi keren banget! 'Milikku' ya? Hmm, aku nggak tahu kalau Tuan jago akting juga," goda Yang Chi sambil cengengesan.
Long Wei membuang muka, telinganya terlihat memerah karena malu. "Diamlah! Aku hanya mengatakan itu agar dia cepat pergi. Jangan besar kepala, kau tetap tawananku."
Yang Chi tertawa kecil. "Iya, iya, Tawananku. Tapi sekarang... Sayang mau lanjut tidur atau mau interogasi lagi?"
"Jangan panggil aku dengan kata menjijikkan itu lagi!" geram Long Wei sambil kembali berbaring dan menarik selimut, meski tangannya masih terikat erat dengan tangan Yang Chi