NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana ke Bali

Kamar Kos Ferdy, Pukul 07.30, Senin Pagi

Matahari pagi menyapu sisa-sisa lelah dari akhir pekan di Puncak. Ferdy bangun dengan tubuh pegal namun hati ringan. Dia segera membongkar tasnya, mengeluarkan baju kotor, dan mengambil dua bungkusan kecil: satu plastik berisi stroberi segar yang dibeli di Puncak, dan satu bungkus daun pisang berisi dodol tape khas Cianjur yang dibelinya di rest area.

Dia berjalan ke ruang tamu kecil di depan rumah kos, di mana Ibu Kos biasanya duduk sambil menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.

"Bu, pagi," sapa Ferdy, menyodorkan bungkusan. "Ini oleh-oleh dari Puncak. Stroberi sama dodol. Maaf cuma dikit."

Ibu Kos terkejut, lalu wajahnya mekar menjadi senyum yang sangat hangat. "Wah, terima kasih banyak, Nak Ferdy. Nggak perlu beli-beli gitu sih."

"Harus dong, Bu. Selama ini sering dapet nasi berkat juga," jawab Ferdy tulus.

Ibu Kos menerima bungkusan itu, matanya berkaca-kaca. "Anak baik. Ibu senang loe lulus skripsi. Ditunggu kabar wisudanya ya. Nanti Ibu bikin nasi tumpeng kecil-kecilan."

"Wah, jangan repot-repot, Bu," protes Ferdy, malu.

"Sudah, urusan Ibu. Sekarang, cepat mandi, pasti banyak kerjaan kan?" usir Ibu Kos dengan lembut.

Ferdy mengangguk, kembali ke kamarnya. Tindakan kecil itu memberinya kepuasan yang dalam. Dia mulai memahami bahwa kebahagiaan seringkali datang dari memberi, bukan hanya menerima.

---

Coffeeshop "Kopi Tetangga", Pukul 10.00

Tim Project PAMOR sedang meeting dengan intensitas berbeda. Dulu, sebelum sidang, mereka sengaja membatasi job agar fokus.

Sekarang, dengan skripsi selesai dan hanya menunggu wisuda, mereka membuka keran lebar-lebar. Tiga laptop terbuka, menampilkan spreadsheet, moodboard, dan kalender yang dipenuhi warna-warna jadwal.

"Oke, timeline kita pekan ini: editing foto heritage building untuk klien majalah harus kelar Kamis. Shooting produk fashion untuk brand lokal Sabtu. Dan kita masih harus prepare buat pameran kecil di event budaya bulan depan," papar Andika, jarinya menunjuk ke layar.

"Gue udah nego rate sama klien fashion, naik 20% dari biasanya. Soalnya konsepnya lebih kompleks," tambah Roni, bangga.

Ferdy mengangguk, matanya memindai detail. "Untuk editing heritage, gue usul kita kasih tone sepia yang subtle, biar feel 'masa lalu'-nya kuat tapi nggak norak. Untuk fashion, kita main kontras tinggi, warna tajam. Biar beda."

"Setuju. Fer, lo yang handle arah artistiknya. Gue urusan teknis lighting dan warna akhir," kata Andika.

"Mantap. Gue yang urusin komunikasi sama klien dan cari lokasi buat shooting fashion," sahut Roni.

Kerja tim mereka semakin solid, efisien, dan percaya diri. Kesuksesan pameran pertama dan testimoni klien yang puas mulai menarik lebih banyak job. Uang mulai mengalir lebih konsisten. Ferdy bahkan sudah membuka rekening terpisah khusus untuk tabungan bisnis.

Di tengah meeting, chat dari Kirana masuk di grup, menanyakan progress untuk pameran budaya. Dia tetap profesional, tidak membawa-bawa urusan pribadi. Ferdy membalas dengan sopan dan langsung.

Roni meliriknya.

"Dia masih baik-baik aja ya? Setelah Puncak?"

Ferdy menghela napas.

"Iya. Tetap profesional. Kita harus hargai itu."

"Respect," komentar Andika singkat.

---

Kamar Kos Ferdy, Pukul 20.45, Dua Minggu Kemudian

Malam itu, Ferdy duduk di depan laptopnya yang sekarang sudah ditemani oleh monitor kedua bekas yang ia beli dari hasil job terakhir.

Spreadsheet keuangannya terbuka, kolom "Tabungan" menunjukkan angka yang membuatnya tersenyum puas. Bukan jumlah yang fantastis, tapi cukup untuk memberinya rasa aman dan membiayai rencananya.

Dia membuka tab baru, mencari "paket wisata Bali hemat", "homestay Ubud", "rental motor Bali". Matanya berbinar. Ini bukan sekadar liburan. Ini adalah sebuah misi.

"Dasima," panggilnya, menoleh ke arah kamar yang kosong.

Wangi melati langsung muncul, lebih kuat dari biasanya, seolah penasaran.

"Gue ada rencana. Habis wisuda nanti, sebelum gue mulai kerja tetap atau lanjutin project-project besar… gue mau pulang ke Banyuwangi dulu, ketemu keluarga. Trus… gue mau ke Bali. Sendirian."

Dia berhenti, menunggu reaksi. Udara di sekitar terasa lebih "mendengarkan".

"Gue… gue pengen lebih deket sama lo. Di sini, di Jakarta, semuanya terlalu berisik. Terlalu banyak distraksi. Project, temen, Kirana… semuanya bikin gue nggak bisa fokus ngerasain kehadiran lo sepenuhnya."

Suaranya pelan, jujur. "Gue denger Bali itu… tempat yang bagus buat nyari ketenangan, buat olah spiritual. Mungkin di sana… gue bisa lebih peka. Bisa… belajar komunikasi yang lebih jelas sama lo. Bisa… mengingat apa yang harus gue ingat."

Rencana itu telah ia pendam sejak ia melihat foto Dasima di kamera. Ia perlu jawaban. Ia perlu memahami ikatan mereka. Dan ia merasa, ia tidak akan mendapatkannya di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

"Bali…" sebuah "bisikan" perasaan yang penuh kerinduan muncul di hatinya.

"Aku pernah mendengar namanya. Pulau para dewa. Tempat di mana dunia terlihat lebih tipis."

"Lo setuju?" tanya Ferdy.

"Jika itu yang kau inginkan, Raden. Aku akan ikut. Ke mana pun." Jawabannya diiringi dengan gelombang perasaan hangat yang membungkusnya, seperti sebuah pelukan persetujuan.

"Tapi… ada satu hal," kata Ferdy, raut wajahnya menjadi serius.

"Gue pengen lo muncul lagi. Kayak di foto itu. Gue pengen bisa lihat lo, ngobrol sama lo… bukan cuma ngerasain. Di Bali, dengan energi tempatnya… mungkin lo bisa?"

Keheningan panjang. Dasima tampak berpikir.

"Itu… berisiko. Membutuhkan banyak energi. Dan hukum alam…"

"Gue tau. Tapi gue mau coba. Gue nggak mau hubungan kita cuma kayak gini selamanya. Gue mau tau siapa lo. Gue mau lo bisa… jadi bagian dari dunia gue, meski cuma sesaat."

Permintaan itu penuh dengan kerinduan yang mendalam. Dasima bisa merasakannya. Lima abad menunggu, dan kini Raden-nya meminta untuk melihatnya, untuk mendekat. Bagaimana mungkin ia menolak?

"Aku… akan berusaha. Di Bali. Tapi janji padaku, Raden. Jika itu terlalu berisiko untukmu, jika kau merasa terganggu atau ketakutan… hentikan. Keselamatanmu yang utama."

"Janji," sahut Ferdy cepat. Hatinya berdebar-debar penuh harap.

Dia kemudian kembali ke laptop, mulai merencanakan dengan lebih detail. Ia mencari homestay di Ubud yang dekat dengan pura dan alam, tempat yang tenang.

Ia menandai tempat-tempat seperti Pura Besakih, Tirta Empul, dan Gunung Agung. Ia juga mencari informasi tentang guru spiritual atau tempat meditasi yang terbuka untuk umum.

Ini bukan lagi sekadar liburan fotografi. Ini adalah sebuah ziarah pribadi. Sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban tentang dirinya sendiri, tentang Dasima, dan tentang cinta yang telah menyeberangi waktu.

Dan sementara itu, persiapan wisuda berjalan lancar. Surat panggilan wisuda sudah diterima. Toga sudah dipesan. Keluarganya di Banyuwangi sudah dihubungi dan bersiap datang. Teman-teman akan hadir. Kirana juga akan datang—tentu saja, sebagai teman dan rekan kerja.

Hidup Ferdy seperti kereta yang melaju di dua jalur paralel: satu jalur dunia nyata yang penuh dengan pencapaian, persahabatan, dan masa depan yang cerah. Satu jalur lagi, dunia tak kasatmata yang penuh dengan misteri, janji masa lalu, dan cinta yang abadi.

Dan tak lama lagi, di Pulau Dewa, kedua jalur itu mungkin akan bertemu, berpotongan, dan akhirnya mengungkapkan kebenaran yang telah tertunda selama lima abad. Ferdy siap. Dengan kamera, hati yang penuh pertanyaan, dan dukungan seorang penunggu yang setia, ia akan menuju Bali, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk akhirnya… pulang kepada dirinya yang sebenarnya.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!