Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Zio menarik tangan Zea ke bahu jalan, "Sebentar, jangan kabur!" ucapnya lalu berlari menuju motornya karena ia tadi sembarang memarkirkannya.
Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, Zea menunggu Zio sambil duduk asal tanpa alas. Ia berusaha untuk tidak lagi mengeluarkan air mata, tapi susah. Biasanya ia tak secengeng ini. Ini malah menangis, kepergok Zio pula. Sungguh nasib, pikirnya.
Zio yang mengendarai motornya mendekat dan menghentikan sepeda motornya itu di depan Zea lalu turun dan duduk di samping gadis itu.
Beberapa saat lamanya, Zio mendiamkan Zea yang terlihat jelas menahan tangisnya supaya tidak pecah. Memberikan ruang dan waktu untuk gadis itu mengendalikan perasaannya sendiri.
"Nyuruh turun dari mobil, tapi cuma diam aja, buat apa?" akhirnya Zea mengeluarkan suara.
Zio menoleh, "Lo mau gue peluk?" tanyanya datar.
Zea langsung menggeleng. Zio berdecak pelan,"Percuma kan gue ngomong kalau lo masih nangis? nggak akan sampai ke otak lo yang nggak seberapa isinya itu!" ucapnya.
"Ish, aku nggak sebodoh itu, ya?" Protes Zea. Dan memang kenyataannya gadis itu adalah gadis yang cerdas. Meski tak secerdas pria yang duduk di sampingnya tersebut.
Obrolan mereka kembali terjeda. Zio melirik Zea yang kembali termenung memikirkan sesuatu, "Mau cerita?" tanyanya dan Zea kembali menggelengkan kepalanya.
Zio mendengus, "Di apain sama abang?" tanyanya lagi.
"Nggak ada," sahut Zea singkat.
"Lo nggak usah bohong, hidung lo kembang kempis gitu, artinya lo bohong!" ucap Zio asal.
"Ini karena aku bernapas, bukan karena bohong!" cetus Zea.
"Itu artinya lo masih harus bersyukur karena masih bisa bernapas. Jangan sia-siakan napas lo buat nangis, jadi susah kan napasnya, sesak," ucap Zio.
Zea diam tak menanggapi lagi.
"Lo masih yakin mau nikah sama abang?" pertanyaan Zio membuat Zea menatapnya sebal, "Tentu saja," jawabnya.
"Nggak usah dipaksain kalau emang sekiranya nggak kuat, batalin aja," ujar Zio tanpa dosa.
Lagi-lagi Zea menatapnya tajam, pria ini kalau bicara suka seenak wudelnya, "Nggak ada yang maksa. Aku mencintai dia," sahut Zea.
Zio meremat tangannya mendengar penuturan perasaan Zea barusan," itu kan lo! Kalau abang? lo yakin dia juga cinta sama lo?" tanyanya.
"Kok kamu gitu tanyanya, yo? Ngeselin banget! Kalau nggak cinta, mana mungkin dia mau tunangan sama aku. Kami saling mencintai!" timpal Zea.
"Ya udah kalau lo segitu yakinnya, terus apa yang buat lo ragu buat raih kebahagian sama abang?" tanya Zio.
"Aku nggak pernah ragu. Sejak dulu aku sudah mengaguminya,. Menyukainya dan aku yakin dengan keputusanku," sahut Zea tegas dan mantap tanpa keraguan.
"Tapi lo selalu di buat kecewa sama dia. Lo nggak capek?" tanya Zio.
"Abang nggak pernah buat aku kecewa. Dia bukan kamu, yo!"
Zio hanya tersenyum sinis mendengarnya, "kalau memang yakin dengan pilihan kamu, ya udah, nikah aja. Tapi, kalau nggak yakin, jangan paksain diri, batal aja, mumpung belum terlaksana," kali ini Zio sungguh-sungguh saat bicara.
Zea terdiam sesaat. Matanya kembali berkaca-kaca," Nggak ada alasan buat aku nggak yakin. Memang kenapa harus nggak yakin?" ucapnya, saat itu juga air matanya kembali membasahi pipinya. Ia segera mengusap nya sebelum terlihat oleh Zio atau pria itu akan mengatakan hal yang lebih menusuk jantung lagi.
Sayangnya, Zio melihatnya. Pria hanya tersenyum getir tanpa berucap apa-apa.
Zea memang yakin dengan keputusannya. Ia yakin, semua ini hanya masalah waktu dan komunikasi saja. Setelah ia dan Nathan nanti menikah, pasti semuanya akan jauh lebih baik lagi. Pria itu berjanji akan menetap di Jakarta saat mereka sudah menikah nanti.
Hanya saja, memang Zea kadang sebagai perempuan ia juga ingin di manja langsung oleh pasangannya. Ia terkadang merasakan kehampaan dalam hubungan tersebut. Kadang ia merasa cintanya dan Nathan seperti hidup tapi tak ada nyawanya. Seperti saat ini ia sedang merasakannya.
"Ya udah kalau yakin, nggak usah nangis lagi. Sakit mataku lihat kamu nangis!" ucap Zio kemudian.
Zea mendengus,"Nggak ada yang nyuruh kamu buat nyamperin aku tadi. Kamu yang cari penyakit buat matamu sendiri berarti," ucapnya.
"Ck, perempuan. Lagi sedih aja masih bisa ngomong pedas mulutnya," cibir Zio. Ia berdiri dan hendak melenggang pergi.
"Abang ingkar lagi, yo. Dia bilang mau pulang lebih awal biar bisa menyiapkan pernikahan kami bersama. Tapi, tadi dia bilang nggak bisa. Mungkin dia akan datang saat hari pernikahan kami nanti," akhirnya mau membuka suara juga soal kegundahan hatinya. Hal itu mmebuat Zio kembali duduk di sampingnya dengan gaya sok ogah-ogahan.
"Aku tahu, dia sangat sibuk. Tapi, untuk hari paling penting buat kami pun, apa dia tidak bisa meluangkan waktunya sedikit saja. Apa dia nggak pernah, merindukan aku seperti aku merindukannya," air matanya kembali jatuh. Entahlah, Zea merasa kalau hari ini dia sedang sangat sensitif sekali perasaannya.
Zio seperti kehilangan kata-kata, ia tak tahu bagaimana cara, menghibur calon iparnya tersebut sekarang karena hatinya sendiri kini sedang tidak baik-baik saja semenjak semalam ia mendapat kabar dari bundanya kalau pernikahan Nathan dan Zea akan di lakukan tiga bulan lagi.
"Nangis lagi... Apa waktu Tuhan bagiin air mata, lo kebanyakan dapatnya? udah hapus air mata lo dan ikut gue! lo makin jelek kalau nangis!" Zio berdiri dan mengusap-usap belakang celananya supaya jika ada debu yang menempel hilang. Ia mengulurkan tangannya pada Zea.
Zea mencebik, "cantik gini di bilang jelek. emang mau kemana sih?"
"Iku aja, nggak usah banyak tanya. Lo butuh penyegaran pikiran, kan?" sahut Zio tanpa menoleh. Ia berjalan di depan Zea yang mengekor di belakangnya.
"Apa terlihat banget? Apa terlihat semenyedihkan itu?"
"baguslah kalau sadar," jawab Zio enteng.
"Kunci mobil!" Zio meminta kunci mobilnya Zea. Gadis itu memberikannya, "Gue yang nyetir!" imbuhnya saat membukakan pintu mobil untuk Zea.
"Terus motor kamu?" tanya Zea. Zio menatap motornya sesaat, "Gampang!" ucapnya.
Mobil milik Zea itu melaju menuju ke sebuah cafe yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Lebih tepatnya di pinggiran kota Jakarta.
Zio memarkirkan mobilnya Zea di halaman cafe lalu mengajak Zea turun. Para pelayan cafe menatap ke arah luar dimana mereka melihat Zio turun dari sebuah mobil mewah bersama seorang cewek.
Mereka yang mengenal Zio menjadi lebih penasaran saat Zio mengajak Zea masuk, "Siapa, yo? cewek, lo?" tanya seorang Barista di cafe tersebut saat Zio mendekat kearahnya. Zea yang memang sedang badmood hanya mengekori Zio.
"Bukan, Dia pembenci gue," jawab Zio enteng.
Zea yang mendengarnya langsung mendelik, laki-laki ini memang selalu saja menemukan kata-kata yang membuatnya kesal.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa