Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Nicholas tidak pernah percaya pada hal-hal manis seperti takdir atau cinta pada pandangan pertama. Baginya, dunia ini adalah tempat yang keras di mana kau harus memukul lebih dulu sebelum dipukul. Namun, ingatannya tentang seorang gadis dengan seragam putih-biru dua tahun lalu adalah satu-satunya pengecualian yang ia simpan rapat di laci terdalam otaknya.
Dua tahun lalu, Nicholas adalah mahasiswa baru jurusan Teknik yang merasa dunia ada di genggamannya. Ia baru saja membeli motor besar pertamanya dari hasil keringat sendiri. Sialnya, malam itu sebuah mobil SUV hitam menghantam bagian samping motornya di sebuah jalanan yang cukup sepi. Nick terpental, motornya hancur di aspal, dan si pelaku melarikan diri begitu saja.
Nick menyeret tubuhnya ke halte bus terdekat dengan napas memburu. Kakinya berdarah, goresan di tulang keringnya terasa panas dan berdenyut hebat. Ia merasa payah, terduduk sendirian di kegelapan halte sambil merutuki nasibnya.
Lalu, dia datang.
Seorang gadis remaja bertubuh mungil dengan tas sekolah yang tampak terlalu besar untuknya. Nicholas ingat betul bagaimana gadis itu awalnya ragu, namun saat melihat darah di kaki Nick, wajahnya berubah panik namun sigap.
"Kak? Kakak nggak apa-apa? Ya ampun, ini harus ke rumah sakit!"
Suara itu. Nicholas mendongak dan melihat sepasang mata bulat yang jernih, penuh dengan kekhawatiran yang tulus. Padahal mereka tidak saling kenal. Gadis itu tidak takut melihat Nick yang berantakan dengan jaket denim robek dan wajah penuh amarah.
Gadis itu, yang Nick tahu kemudian bernama Amara Lathifa, berdiri di tengah jalan sambil melambai-lambaikan tangannya dengan nekat untuk menghentikan mobil yang lewat. Ia memohon pada seorang pengemudi mobil untuk membawa Nick ke IGD terdekat. Di sepanjang jalan, gadis itu terus mengajak Nick bicara, berusaha agar Nick tidak kehilangan kesadaran karena syok.
"Tahan ya, Kak. Sebentar lagi sampai. Jangan tidur dulu!"
Nick hanya bisa menatap wajah gadis itu dari samping. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Amara terlihat seperti malaikat kecil yang tersesat di antara kerasnya aspal Jakarta. Amara menunggunya di depan ruang IGD sampai dokter selesai menjahit lukanya. Begitu Nick dinyatakan aman, gadis itu hanya tersenyum manis, mengangguk sopan, lalu pamit pulang karena hari sudah terlalu malam.
Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan nomor telepon, bahkan tanpa tahu siapa nama pria yang baru saja ia selamatkan.
Sejak hari itu, Nicholas terobsesi. Ia mencari tahu siapa gadis itu. Dan betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa Amara adalah adik kandung dari Ryan, teman satu jurusannya di Teknik.
Dua tahun Nicholas menunggu. Ia menunggu Amara tumbuh dewasa, menunggu gadis itu sampai di tahun terakhir SMA-nya. Ia sengaja mendekati Ryan, menjadi sahabat yang paling bisa diandalkan, hanya agar ia punya alasan sah untuk masuk ke dalam rumah itu.
Kemarin, saat ia melihat Amara menabraknya di depan pintu, jantung Nick berdegup kencang yang hampir membuatnya hilang kendali. Tapi ia harus tetap terlihat dingin. Ia harus menjadi Nicholas si "Red Flag" agar Amara tidak curiga.
"Lo terlalu polos, Ifa. Lo lupa sama gue, tapi gue nggak akan pernah lupa gimana cara lo megang tangan gue waktu di mobil menuju RS dua tahun lalu," gumam Nick dalam hati sambil memperhatikan Amara dari kejauhan di area ekspo sekolah.
Nick melihat bagaimana Amara tertawa bersama Daffa. Rasa panas membakar dadanya. Ia benci melihat ada orang lain yang mendapatkan senyum tulus dari gadis itu. Senyum yang seharusnya hanya menjadi miliknya sebagai "imbalan" karena telah diselamatkan dua tahun lalu.
"Gue nggak akan jujur sekarang," batin Nick sambil menyalakan rokok di belakang stand. "Kalau gue jujur sekarang, lo bakal ngerasa punya utang budi atau lo bakal anggap gue aneh. Gue mau lo jatuh cinta sama gue yang sekarang, bukan karena memori lama itu."
Nick tahu cara bermainnya. Ia harus terlihat berbahaya agar Amara selalu waspada padanya. Karena bagi Nick, perhatian dalam bentuk rasa benci atau kesal jauh lebih baik daripada tidak dianggap sama sekali.
Saat melihat Daffa berani memasang badan untuk Amara, Nick nyaris kehilangan kesabarannya. Ia ingin sekali berteriak bahwa dia sudah mengincar gadis ini jauh sebelum Daffa tahu cara memakai dasi SMA yang benar.
"Gue cuma nggak suka milik gue diganggu sama orang lain," ucap Nick dengan nada yang sangat tenang, meski di dalam kepalanya ia sedang membayangkan cara menjauhkan Daffa sejauh mungkin dari radar Amara.
Nick memperhatikan Amara yang ditarik menjauh oleh Daffa. Gadis itu tampak ketakutan, tapi juga tampak penasaran. Itu yang Nick inginkan.
"Nick, lo serius sama adeknya Ryan?" Arga, teman kuliahnya, menepuk bahu Nick, membuyarkan lamunannya. "Ryan bisa ngamuk kalau tahu lo macem-macemin adeknya. Lo tahu sendiri reputasi lo gimana."
Nick menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. "Gue nggak macem-macemin dia, Ga. Gue cuma lagi menjemput apa yang seharusnya jadi punya gue dari dua tahun lalu."
Arga mengernyit bingung. "Maksud lo?"
"Nggak usah banyak tanya. Urus aja tuh stand lo yang sepi," sahut Nick ketus.
Nick kembali duduk, tapi matanya tetap terpaku pada gerbang sekolah. Ia sedang menunggu jam pulang. Ia sudah menyiapkan mental untuk kembali berhadapan dengan kemarahan Amara saat ia memaksanya pulang nanti sore. Baginya, melihat wajah kesal Amara adalah hiburan terbaik.
"Lo panggil gue red flag, Ifa? Oke. Gue bakal jadi red flag paling terang di hidup lo, sampai lo nggak bisa liat warna lain selain gue," bisik Nick pelan sambil menyeringai tipis.
Ia tidak akan membiarkan Amara pergi lagi. Tidak seperti dua tahun lalu di depan pintu IGD. Kali ini, Nicholas yang akan memegang kendali. Dan dia akan melakukan segala cara, sebusuk apa pun itu, agar Amara Lathifa tetap berada di bawah jangkauannya.