Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Liu Ming menatap Lin Xiao. "Apakah itu cukup, Lin Xiao? Jika kau membunuhnya sekarang, kau menjadi pembunuh. Jika kau membiarkan hukum bekerja, kau menjadi pahlawan."
Lin Xiao menatap Wang Tian yang terbaring lemah, napasnya senin-kamis, kultivasinya hancur akibat efek balik pil iblis. Pria itu sudah tamat. Membunuhnya sekarang hanya akan mengotori pedang.
Hukuman Liu Ming jauh lebih kejam daripada kematian. Mengambil harta dan status Keluarga Wang sama saja dengan membiarkan mereka dimangsa oleh musuh-musuh mereka yang lain.
Lin Xiao menyarungkan pedangnya. Aura naganya perlahan surut.
"Baik," kata Lin Xiao. "Aku menghormati wajah Tuan Kota."
Dia berbalik, berjalan menuju ayahnya yang terluka ringan di lengan.
"Ayah, ayo pulang. Pertunjukan sudah selesai."
Lin Hai menatap putranya dengan bangga, lalu menatap Wang Tian yang sedang diseret oleh pasukan kota dengan tatapan kasihan.
Hari ini, sejarah Kota Batu Hijau ditulis ulang.
Keluarga Wang runtuh. Dan nama Lin Xiao, Sang Kaisar Naga, terukir di langit sebagai legenda baru yang tak terkalahkan.
Namun, saat Lin Xiao berjalan menjauh, dia merasakan tatapan lain. Bukan dari Tuan Kota, bukan dari musuh.
Dia mendongak ke atap sebuah gedung tinggi di kejauhan.
Di sana, berdiri sosok berjubah putih dengan cadar. Seorang wanita. Auranya sangat samar, tapi Lin Xiao bisa merasakan... dia kuat. Sangat kuat. Jauh di atas Tuan Kota.
Wanita itu menatap Lin Xiao sejenak, lalu menghilang seperti asap.
"Hmm..." Lin Xiao menyipitkan mata. "Sekte luar? Atau... musuh dari masa lalu?"
Perjalanan di kota kecil ini mungkin sudah berakhir. Tapi dunia yang lebih besar baru saja mulai meliriknya.
Tiga hari telah berlalu sejak "Perang Alun-Alun".
Kota Batu Hijau yang biasanya tenang kini telah berubah wajah sepenuhnya. Spanduk-spanduk merah milik Keluarga Wang telah diturunkan, dirobek, dan dibakar. Kediaman megah Keluarga Wang yang dulu ditakuti kini kosong melompong, pintu gerbangnya disegel dengan kertas mantra milik Kantor Tuan Kota.
Harta benda mereka disita. 80% masuk ke kas kota, dan 20% diberikan kepada Keluarga Lin sebagai kompensasi. Wang Tian, sang mantan patriark yang sombong, ditemukan tewas di dalam sel penjara pada malam pertama penahanannya—dikabarkan bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri karena tidak sanggup menanggung malu dan rusaknya kultivasi.
Sementara itu, Keluarga Wang runtuh, Keluarga Lin naik ke puncak.
Tamu-tamu tak diundang terus berdatangan ke kediaman Keluarga Lin, membawa hadiah dan ucapan selamat yang menjilat. Namun, Lin Hai menolak mereka semua. Dia tahu, orang-orang ini adalah ular bermuka dua yang akan menggigitnya jika dia jatuh.
Di paviliun belakang yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk politik, Lin Xiao sedang duduk di depan tungku tembaga kecilnya—Tungku Sembilan Awan.
Wusss...
Api ungu menari-nari di bawah tungku. Aroma obat yang sangat harum, segar seperti hujan pertama di musim semi, memenuhi ruangan.
"Sedikit lagi," gumam Lin Xiao. Keringat membasahi dahinya.
Mengendalikan Api Roh Ungu membutuhkan konsentrasi mental yang luar biasa. Dia sedang tidak membuat pil biasa. Dia sedang memurnikan Pil Penembus Penghalang (Barrier Breaking Pill) tingkat rendah.
Bahan utamanya adalah Inti Monster Piton Sisik Besi (Tingkat 2 Puncak) yang dia simpan, dicampur dengan ratusan herbal dari gudang rampasan Keluarga Wang.
"Padatkan!"
Lin Xiao melakukan segel tangan cepat. Api ungu itu menyusut, membungkus cairan obat di dalam tungku dengan tekanan tinggi.
TING!
Suara berdenting yang jernih terdengar dari dalam tungku. Tutup tungku terbuka, dan sebutir pil berwarna hitam mengkilap dengan satu garis emas melayang keluar.
"Pil Tingkat Bumi (Earth Grade) Kualitas Rendah," nilai Lin Xiao sambil menangkap pil itu. "Masih jauh dari standar Supreme Alchemist, tapi dengan tubuh dan kultivasi saat ini, ini sudah batas maksimalnya."
Dia menyimpan pil itu ke dalam botol giok, lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
Di halaman, Lin Hai sedang berlatih pedang. Gerakannya lambat namun bertenaga. Namun, setiap kali dia mencoba mengerahkan tenaga penuh, dia akan memegangi dada kirinya dan batuk pelan. Luka lama.
"Ayah," panggil Lin Xiao.
Lin Hai berhenti, tersenyum lebar melihat putranya. "Xiao'er! Kau sudah selesai 'bertapa'? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik," Lin Xiao berjalan mendekat. Dia melihat wajah ayahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua dalam beberapa hari terakhir. Mengelola klan pasca-perang sangat menguras tenaga. "Ayah, kultivasimu macet di Tingkat 9 Puncak selama lima tahun karena cedera lama di meridian jantung, bukan?"
Lin Hai terkejut, lalu tersenyum pahit. "Kau bisa melihatnya? Ya, dulu Ayah terlalu nekat saat muda. Tabib bilang aku tidak akan pernah bisa membentuk Inti Emas (Golden Core). Itu takdir."
"Takdir itu untuk orang lemah, Ayah," Lin Xiao menyodorkan botol giok tadi. "Makan ini. Malam ini juga."
"Ini...?" Lin Hai membuka tutup botol. Aroma obat yang kuat langsung membuat aliran Qi-nya bergolak lancar. Matanya membelalak. "Pil Penembus Penghalang?! Dan ada garis emas... ini Tingkat Bumi?! Dari mana kau mendapatkannya? Ini harganya ratusan ribu emas!"
"Aku membuatnya," jawab Lin Xiao santai.
Rahang Lin Hai jatuh. Dia menatap putranya seolah melihat hantu. "Kau... seorang Alkemis? Kapan? Bagaimana?"
"Ceritanya panjang, Ayah. Anggap saja aku mendapat warisan di dalam hutan," Lin Xiao tidak ingin menjelaskan tentang reinkarnasi. "Yang penting sekarang, Ayah harus kuat. Keluarga Lin sekarang menjadi penguasa tunggal. Banyak serigala dari kota lain yang akan mengincar posisi kita. Kita butuh seorang ahli Ranah Inti Emas untuk menjaga benteng."
Lin Hai menggenggam botol itu dengan tangan gemetar. Dia merasakan ketulusan putranya. Rasa haru membuncah di dadanya.
"Baik! Jika putraku bisa menciptakan keajaiban, Ayahnya tidak boleh kalah!" mata Lin Hai kembali membara. "Ayah akan melakukan meditasi tertutup malam ini!"
Lin Xiao mengangguk. Dengan ini, satu beban pikirannya hilang. Jika ayahnya berhasil mencapai Inti Emas, Keluarga Lin akan aman setidaknya selama sepuluh tahun ke depan.
"Ngomong-ngomong, Xiao'er," Lin Hai teringat sesuatu. "Tuan Kota mengirim pesan. Besok siang, utusan dari Tiga Sekte Besar akan tiba di alun-alun kota untuk Seleksi Murid Tahunan."
Mata Lin Xiao berkilat. Ini dia.
Kota Batu Hijau terlalu kecil. Sumber dayanya terbatas. Untuk memulihkan kekuatan penuhnya sebagai Kaisar Naga dan membalas dendam pada pengkhianat di Alam Kayangan, dia harus pergi ke dunia yang lebih luas. Dan Sekte adalah batu loncatan terbaik.
"Siapa saja yang datang?" tanya Lin Xiao.
"Seperti biasa. Sekte Awan Putih (White Cloud Sect), Lembah Pedang Besi (Iron Sword Valley), dan... tahun ini ada rumor bahwa Istana Bunga Es (Ice Flower Palace) juga akan mengirim utusan karena mendengar bakat Su Mei."
"Sekte Awan Putih..." Lin Xiao mengingat nama itu. Itu adalah sekte yang mendominasi wilayah provinsi ini. Tapi di ingatannya yang lalu, itu hanyalah sekte kelas tiga di benua ini.
"Aku akan hadir," kata Lin Xiao.