NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Matahari semakin tinggi, dan bel pergantian jam pelajaran baru saja berbunyi. Ayra menarik tangan Sinta dengan semangat yang tidak biasa. Ia beralasan ingin mengecek kebersihan setiap kelas sebagai bagian dari program kerja OSIS bidang lingkungan hidup, padahal di dalam otaknya, Ayra sudah menyusun strategi matang untuk membawa Sinta "berpapasan" dengan Bima.

"Ay, kenapa harus keliling sekarang sih? Kan bisa nanti pas jam istirahat kedua," keluh Sinta yang nafasnya sedikit tersengal mengikuti langkah cepat Ayra.

"Kebersihan itu nggak mengenal waktu, Sinta sayang. Sebagai Ambalan dan OSIS, kita harus gercep!" jawab Ayra asal. Matanya terus melirik ke arah papan kelas yang mereka lewati. Kelas 11 IPA 1, IPA 2, IPA 3... dan akhirnya, koridor kelas IPS mulai terlihat.

"Eh, tunggu, Ay! Itu kan deretan kelas IPS? Mau ngapain ke sana? Bukannya kelas kita udah beres?" Sinta mulai curiga. Ia berusaha mengerem langkahnya, namun Ayra tetap menariknya dengan kuat.

"Cuma lewat bentar, Sin. Mau liat apakah anak IPS 2 masih suka buang sampah sembarangan di loker atau enggak," kilah Ayra.

Rencana yang Menjadi Nyata

Saat mereka sampai tepat di depan pintu kelas 11 IPS 2 yang terbuka lebar, Ayra mendadak menghentikan langkahnya. Ia berpura-pura sedang membetulkan tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas.

"Aduh, bentar Sin. Tali sepatuku longgar," ucap Ayra sambil berjongkok.

Sinta berdiri kaku di sampingnya. Ia melirik ke dalam kelas dan benar saja, di pojok belakang, Bima sedang duduk di atas meja sambil tertawa bersama Alano dan anggota tim basket lainnya. Jantung Sinta mulai berdegup kencang. "Ay, ayo cepetan! Aku nggak enak berdiri di sini, diliatin anak-anak cowok."

"Bentar, Sin. Ini susah banget simpulnya," Ayra sengaja mengulur waktu. Ia melirik ke dalam kelas, melihat Alano yang menyadari keberadaan mereka. Alano memberikan kode dengan kedipan mata, seolah berkata, 'Sekarang waktunya!'

Ayra segera berdiri. Namun, alih-alih berbelok menjauh, ia justru memberikan dorongan pelan namun pasti pada punggung Sinta agar gadis itu melangkah masuk ke ambang pintu.

"Eh, Ay! Apa-apaan sih—"

Di saat yang bersamaan, Alano yang memang berniat keluar kelas untuk menemui Ayra, berjalan dengan langkah lebar menuju pintu. Ia tidak menyangka bahwa Ayra sedang melakukan aksi "dorong-dorongan" tepat di depan jalan keluar.

Bruk!

Ayra yang kehilangan keseimbangan setelah mendorong Sinta, malah terhuyung ke depan saat Alano muncul tiba-tiba dari balik daun pintu. Tubuh mungil Ayra menabrak dada bidang Alano dengan cukup keras.

"Aduhhh!" rintih Ayra.

Refleks seorang atlet basket memang luar biasa. Sebelum Ayra jatuh terjungkal ke belakang, tangan Alano sudah melingkar di pinggang Ayra, menahan beban tubuh gadis itu agar tetap tegak. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma parfum Alano yang bercampur dengan sedikit bau keringat maskulin langsung menyerbu indra penciuman Ayra.

"Waduh, Sekretaris OSIS kita kenapa agresif banget hari ini? Sampe mau nerobos pintu kelas gue segala," goda Alano dengan suara rendah, matanya menatap dalam ke mata Ayra yang membulat karena kaget.

"Lano! Lepasin! Malu diliatin orang!" bisik Ayra sambil mencoba melepaskan diri, meskipun wajahnya sudah memerah sempurna.

Situasi yang Canggung (dan Manis)

Sementara itu, Sinta yang tadi didorong Ayra, berdiri mematung hanya beberapa senti dari Bima yang juga hendak keluar kelas di belakang Alano. Bima menatap Sinta dengan bingung, memegang botol minumnya yang hampir saja tumpah karena kaget.

"Eh, Sinta? Lo mau nyari siapa? Nyari formulir lagi?" tanya Bima polos, tanpa menyadari drama yang baru saja terjadi.

Sinta hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. "E-enggak... itu... tadi Ayra... aduh..." Sinta tidak bisa merangkai kata-kata. Ia melirik ke arah Ayra yang masih dalam dekapan Alano, lalu kembali menatap Bima.

"Wah, ada tamu agung dari IPA nih!" teriak salah satu teman sekelas Alano dari dalam kelas. "No! Jangan dilepasin, itu aset negara!"

Ayra akhirnya berhasil melepaskan diri dari tangan Alano. Ia merapikan jas almamaternya dengan grogi, tangannya gemetar saat membetulkan bando birunya. "Enggak! Kita cuma... mau ngecek kebersihan loker! Iya, kebersihan loker!"

Alano tertawa lepas, ia menyandarkan bahunya di kosen pintu, menatap Ayra dengan gaya yang sangat santai. "Loker di sini bersih kok, Ay. Yang nggak bersih itu pikiran lo, kayaknya lo emang sengaja pengen nabrak gue ya biar bisa pelukan?"

"Gak usah geer ya, Kapten Basket!" Ayra menarik tangan Sinta yang masih bengong di depan Bima. "Ayo Sin, kita pergi! Ternyata kelas ini udaranya lagi nggak sehat!"

Ayra menarik Sinta pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kelas IPS 2 yang riuh dengan sorakan dan tawa godaan para siswa. Bima hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Alano terus melambaikan tangan ke arah Ayra yang sudah menjauh.

"Sumpah Ay, kamu gila ya!" seru Sinta setelah mereka sampai di koridor yang agak sepi. "Hampir aja aku pingsan di depan Bima! Terus tadi kamu... kamu sama Alano... aduh, romantis banget kayak di film-film!"

Ayra mengatur napasnya, pipinya masih terasa panas. "Itu kecelakaan, Sin! Aku kan niatnya dorong kamu biar ngobrol sama Bima, malah aku yang kena batunya!"

Ayra melirik punggung tangannya, seolah masih bisa merasakan kehangatan tangan Alano saat menahannya tadi. Meskipun ia kesal karena rencananya berantakan, ia tidak bisa memungkiri bahwa detak jantungnya saat bertabrakan dengan Alano tadi adalah debaran yang paling nyata yang pernah ia rasakan.

"Tapi berhasil kan?" tanya Ayra sambil tersenyum misterius. "Tadi Bima nanya kamu kan?"

"Nanya formulir, Ay! Bukan nanya kabar!" keluh Sinta.

"Sabar, Sin. Step by step. Yang penting hari ini satu sekolah makin tau kalau kelas IPS 2 itu wilayah kekuasaan kita," ucap Ayra kembali ke mode "bossy"-nya, meskipun ia tahu, hatinyalah yang sebenarnya sudah dikuasai penuh oleh penghuni kelas tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!