NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbicara Panjang dan Manis

"Kalian jangan pernah gangguin Auretheil lagi. Kalau kalian masih nekat gangguin dia, aku yang bakalan turun tangan langsung dan ngehajar kalian!"

"Auretheil, jangan pernah merasa sendirian, aku selalu di sini kok, jadi kamu nggak perlu khawatir karena merasa sendirian lagi."

"Mereka nindas kamu lagi? Jangan khawatir ya, aku pastiin mereka bakalan kena getahnya kok. Tunggu di sini ya, bentar lagi aku balik kok!"

"Auretheil, pegang erat tangan aku. Kalau kamu lepas, nanti kamu bakalan jatuh, nyawa kamu taruhannya."

"Ayo semangat, kamu pasti bisa cantik dan kurus kok. Kamu hebat Auretheil, aku akan selalu ada di samping kamu."

"Hai, aku Shahinaz Zerrin Johara. Salam kenal ya, Naveen. Semoga kita bisa menjadi teman baik ke depannya."

"Auretheil suka sama Naveen? Mau aku bantu bilangin ke orangnya? Jangan takut menyatakan perasaan karena kamu merasa nggak sempurna, bagi aku kamu sempurna dan cantik apa adanya kok."

"Wahh, akhirnya kamu bisa memiliki tubuh ideal juga Auretheil. Selamat ya, akhirnya perjuangan kamu selama ini nggak sia-sia."

"Maaf Naveen, aku nggak punya perasaan sama kamu. Aku baru kehilangan orang tuaku, aku ingin fokus ke diri aku sendiri dulu."

"Hah? Aku jahat? Teman-teman, dimana letak jahatku sebenarnya? Aku nggak pernah ada niatan untuk berbuat buruk sama kalian!"

"Auretheil, kenapa semua orang jahat sama aku?

Padahal aku ngerasa nggak ngelakuin apapun sama mereka. Mereka mengataiku monster, apa aku terlihat jelek dan buruk rupa?"

......................

Shahinaz merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya, seakan-akan semua ingatan masa lalu berputar cepat dalam pikirannya, saling tumpang tindih tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas. Seiring dengan ingatan-ingatan itu, perasaan-perasaan yang dulu terpendam juga ikut menyeruak, membuat hatinya terasa penuh dengan berbagai emosi yang bercampur aduk.

Dia mencoba membuka mata, tapi pandangannya masih buram. Ruangan di sekelilingnya berwarna putih dan steril, dengan aroma antiseptik yang kuat tercium di udara. Perlahan, ia menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit. Ditambah perlahan-lahan dia mulai mengingat bagaimana botol kaca itu membentur kepalanya dengan keras.

"Dreven..." suara Shahinaz terdengar cukup lirih. Laki-laki itu menelungkupkan wajahnya di samping tubuhnya, sepertinya dia tertidur secara tidak sadar karena menunggunya bangun untuk waktu yang cukup lama.

Ada dejavu yang membuat Shahinaz menatap Dreven cukup lama. Di dunia sebelumnya, ada Venelattie yang selalu senantiasa berada di sampingnya. Lalu sekarang, Dreven, dia bahkan menunggunya tanpa pamrih. Padahal Shahinaz masih menganggap dia laki-laki asing yang tega-teganya mengganggu ketenangannya setiap hari.

Shahinaz tanpa sadar membelai rambut Dreven dengan hati-hati, berharap Dreven tidak terbangun dan tetap nyaman dengan tidurnya itu. Sayangnya, Dreven peka dengan suasana sekitar. Jadi dia segera terbangun, keduanya saling bertatap mata untuk waktu yang cukup lama.

"Finally, you wake up too. Is there something hurt?" suara lembut Dreven yang penuh kekhawatiran itu tiba-tiba membuat hatinya sesak secara bersamaan. Shahinaz mencoba mengalihkan pandangannya meski kepalanya masih berat untuk digerakkan, dia menangis, merasa terharu jika dia tidak sendirian di sini.

"Heyyy, kenapa menangis? Ada yang sakit?" tanya Dreven yang semakin khawatir dibuat Shahinaz. Meski Shahinaz memalingkan wajahnya, mendengar isakan kecilnya, Dreven tau jika Shahinaz sedang menangis.

Shahinaz menggelengkan kepalanya, mencoba menahan isakan yang semakin mendesak keluar dari tenggorokannya. Namun, perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya tak bisa lagi dibendung. Air mata terus mengalir meskipun dia berusaha keras menahannya. Hatinya terasa penuh dengan rasa syukur, kelegaan, dan juga kelelahan yang bercampur aduk.

"Heyyy, what's wrong?" tanya Dreven yang kini sepenuhnya terjaga, merasa hatinya mencelos melihat Shahinaz menangis.

Shahinaz terdiam sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih tersendat-sendat karena tangisannya. Dia menutup mata, mencoba menenangkan diri. Tetapi emosi yang dia rasakan terlalu kuat, terlalu membingungkan untuk bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Aku... aku nggak tahu, Dreven," suara Shahinaz terdengar lemah, nyaris berbisik. "Semuanya terasa begitu berat. Terlalu banyak yang terjadi... terlalu cepat."

"Maksudnya?" tanya Dreven dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Andai ketiga sahabatnya tau dia bisa berbicara lembut, apa mereka tidak langsung syok di tempat.

"Aku... Aku pikir, aku sendirian. Disaat aku frustasi karena merasa nggak punya siapa-siapa di sini, ternyata masih ada orang yang mengulurkan tangannya tanpa pikir panjang." itu yang membuat Shahinaz terharu. Venelattie sudah tidak ada disisinya, tapi ternyata dia masih punya duplikat lain setelah Venelattie tidak bisa digapai. "Aku juga berpikir, aku akan mati, kehabisan darah, dan akhirnya menyusul Papah Mamah yang udah lebih dulu berada di atas sana.

Dreven terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Shahinaz. Ada kepedihan dalam kata-kata itu, kepedihan yang membuat hatinya terasa berat. Dia jadi tidak bisa membayangkan betapa beratnya beban yang Shahinaz rasakan selama ini.

"Shahinaz," kata Dreven pelan, suaranya penuh dengan empati, "Aku nggak akan bilang aku bisa mengerti sepenuhnya perasaan kamu, karena aku tau rasa sakit seperti itu nggak mudah untuk dipahami. Tapi yang aku tau pasti, kamu nggak sendirian sekarang. Kamu punya aku, dan aku akan selalu ada untuk kamu, apa pun yang terjadi."

Shahinaz menatap Dreven dengan mata yang masih basah, merasakan kehangatan dari kata-katanya. Dia pernah mendengar kata-kata ini dari Dreven sebelumnya. Namun baru kali ini Shahinaz merasa percaya.

"Terimakasih, karena kamu udah menjawab panggilan dan menyelematkan nyawaku. Jujur, saat itu harapanku cuma satu, dan itu hanya kamu." lanjut Shahinaz sambil tersenyum tipis.

Dreven membelai jari jemari Shahinaz dengan lembut, dia mengangguk pelan sebagai jawaban, "Nggak masalah. Selagi kamu tetap menjadi milik aku dan nggak mengingkari janji lagi, aku pastikan hidup kamu akan tetap aman."

Shahinaz menganggukkan kepalanya, "Maaf, karena aku mengingkari janji, mengecewakan, dan menjadi terluka seperti ini."

"Asal jangan diulangi, aku nggak masalah." balas Dreven sambil tersenyum tipis, dan itu sukses membuat Shahinaz menegang di tempat.

Shahinaz merasa hatinya berdebar semakin kencang. Ada sesuatu yang tidak nyaman dalam cara Dreven menatapnya. Senyum tipis yang seharusnya menenangkan justru membuatnya merasa seperti terperangkap. Baru kali ini dia melihat ekspresi lain dari wajah Dreven.

"Kenapa jadi ngelamun?" tanya Dreven bingung.

"Ehhh, nggak apa-apa. Kamu kalau mau kembali ke sekolah, aku nggak masalah kok, aku udah terbiasa sendiri." kata Shahinaz gelagapan, sambil mencari alasan agar Dreven tidak curiga.

"Mulai sekarang, biasakan untuk nggak terbiasa sendiri lagi. Udah ada aku yang siap sedia berada di sisimu," kata Dreven memberi pengertian. "Lagian untuk apa pergi ke sekolah jam segini? Sebentar lagi juga pulang."

Tok... Tok...

Mendengar ada ketukan pintu dari luar, Dreven segera membalikkan wajahnya dan memastikan siapa yang datang. Lalu setelah tau yang datang ketiga sahabatnya, Dreven kembali menatap Shahinaz lagi dan merasa ketiganya tidak penting.

"Loh cewek lo udah sadar ternyata," kata Kaendra yang memulai pembicaraan, "Padahal gue mau ngediskusiin sesuatu hal penting sama lo."

"Nanti aja, sekarang bukan waktu yang tepat." katanya dengan nada tegas, meskipun tetap tenang.

Kaendra mengangguk, dia juga tahu jika sekarang bukan waktu yang tepat. Arsenio, yang bertugas membawa buah tangan, memilih untuk meletakkan barang bawaannya di atas meja samping Dreven. Dia menatap Shahinaz dengan penuh rasa ingin tau, apalagi mereka sebelumnya belum pernah saling sapa.

"Gue Arsenio, sahabatnya Dreven. Salam kenal ya, kayaknya kita belum pernah kenalan sebelumnya." kata Arsenio dengan senyuman ramahnya.

"Vincent." kata Vincent singkat, entah apa maksud dari laki-laki itu.

Shahinaz menatap Dreven, mencari persetujuan apakah dia harus menjawab, atau abaikan saja kedatangan mereka. Namun melihat kode Dreven yang menganggukkan kepalanya, Shahinaz akhirnya membuka suaranya juga.

"Shahinaz." kata Shahinaz singkat juga seperti perkenalan Vincent sebelumnya.

Setelah memperkenalkan dirinya dengan singkat, Shahinaz merasakan suasana yang sedikit canggung. Ditambah, di kehidupan sebelumnya, dia belum pernah akrab dengan laki-laki seumurannya. Namun, Arsenio sepertinya tampak tidak terganggu dan tetap tersenyum ramah. Beda dengan Vincent dan Kaendra yang langsung memilih duduk di sofa, seolah mereka baru saja melakukan perjalanan panjang.

"Senang akhirnya bisa kenalan sama lo Shahinaz," kata Arsenio dengan nada ringan, mencoba mencairkan suasana. "Gue dari minggu kemarin udah penasaran, pas tau ternyata Dreven udah punya cewek. Padahal sebelum ini gue ngiranya si Dreven ini homo, nempel sama Vincent terus soalnya."

Dreven menatap Arsenio tajam. Sedangkan Shahinaz yang tidak tau harus menjawab apa, memilih untuk menganggukkan kepalanya. Beda halnya dengan Vincent yang langsung melemparkan bantal sofa kepada manusia cerewet itu dan tepat sasaran.

Mulutnya memang benar-benar ingin dijahit oleh dirinya!

"Gue serius, tau. Lo berdua selalu kayak perangko sama amplop, makanya gue ngiranya kalian homo." lanjut Arsenio yang tidak menyerah dan masih mencoba menggodai, meski kali ini sambil mengusap kepala yang terkena lemparan bantal dari Vincent.

Vincent hanya mendengus, "Out dari sini, atau mati sekarang juga?"

Arsenio langsung kicep, dia mengunci mulutnya rapat-rapat dan memilih untuk diam saja. Beda dengan Dreven yang sudah membuka buah tangan yang dibawa oleh mereka. Dia menemukan berbagai macam buah yang sepertinya baru dibeli ketika perjalanan ke sini.

"Mau apel?" tanya Dreven pada Shahinaz yang di jawab anggukan oleh gadis itu. Dreven menurut, berniat mengupas dan memotong kecil-kecil agar mempermudah gadisnya untuk makan.

Dreven dengan cekatan mulai mengupas apel, tangannya bergerak dengan tenang dan terampil.

Shahinaz memperhatikan setiap gerakannya, merasa sedikit tidak menyangka dengan kehangatan yang Dreven berikan. Setelah selesai memotong apel menjadi beberapa bagian kecil, Dreven menyodorkan piring berisi potongan apel itu kepada Shahinaz.

"Makan pelan-pelan ya, atau mau disuapin?" tanya Dreven lembut.

"Terimakasih, aku bisa sendiri." jawab Shahinaz sambil meraih salah satu potongan apel dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Rasa manis dan segar dari buah itu sedikit membantu menenangkan pikirannya yang masih kacau. Dia menatap Dreven yang tampak serius memperhatikannya, lalu tersenyum tipis lagi ketika tatapan mata mereka bertemu.

"Dreven, kayaknya ada yang perlu kita omongin sekarang juga deh. Berhubung kita nggak banyak waktu, mungkin kita juga harus langsung mendiskusikannya di depan Shahinaz juga." kata Kaendra yang akhirnya angkat bicara.

Shahinaz menatap Kaendra dengan raut wajah penasaran. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Kaendra dan kedua sahabat Dreven lainnya. Sedangkan Dreven menatap Kaendra dengan alis yang sedikit terangkat, seolah-olah memberi kode untuk melanjutkan ucapannya.

"Ini soal kepala lo yang terluka Sha, lo tau siapa pelakunya kan? Rooftop sekolah kita nggak ada akses CCTV, jadi kita belum menindaklanjuti siapa pelaku yang seharusnya kita tangkap dan diadili." ungkap Kaendra melanjutkan.

"Nggak ada CCTV?" tanya Dreven memastikan pendengarannya. Padahal dia ingat dengan jelas soal anggaran setiap tahun yang diberikan kepada Kepala Sekolah, ada list CCTV rooftop yang ditulis di sana.

"Iya nggak ada. Mentok ada CCTV di sekitaran tangga mau ke rooftop doang, gue juga bingung nggak tau kenapa." balas Kaendra berikutnya.

Apa ada korupsi di sekolah itu? Jika iya, Dreven tidak akan tinggal diam untuk ke depannya. Dreven kembali menatap Shahinaz penasaran, dia ingin tau jawaban apa yang akan diberikan oleh Shahinaz untuk masalah ini.

"Soal kepala yang terluka ini ya?" Shahinaz melamun dan menerawang jauh. Meski bukan hasil dari kesengajaan seseorang, Shahinaz tau jika amarah Auretheil saat itu memang mengarah kepadanya, mungkin karma dari Tuhan karena menguping pembicaraan penting seseorang.

Tapi efek samping kepalanya yang terluka sekarang, Shahinaz akhirnya diberi sebagian ingatan yang belum diberi oleh pemilik tubuh sebelumnya. Sekarang ingatannya sempurna, tinggal bagaimana caranya memikirkan agar ingatan-ingatan itu tidak tumpang tindih dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya saja.

Karena jujur, ingatan dari kehidupan sebelumnya juga sudah mulai buram. Dia hanya mengingat momen-momen penting yang memang selalu dia ingat saja, sisanya dia sudah pasrah tidak ingat apa-apa lagi!

"Harus banget ya, kasih tau siapa pelakunya?" tanya Shahinaz sambil memiringkan kepalanya. Bagi Dreven, Shahinaz cukup menggemaskan sekarang. Namun setelah tersadar jika Shahinaz memiliki gangguan memori yang cukup riskan, apa ini salah satu efeknya juga?

"Kamu nggak ingat apa yang udah terjadi sama kamu?" tanya Dreven menatap Shahinaz dengan cemas, mencoba mencari kepastian dalam tatapan matanya.

Shahinaz terdiam sejenak, mencoba mengatur pikirannya yang sebenarnya masih amburadul. Dalam benaknya, ada konflik yang saling bertubrukan satu sama lain. Dia tau siapa pelakunya, namun dia juga ragu untuk mengungkapkannya. Masih ada rasa simpati yang tertinggal di hatinya, terutama karena dia memahami alasan di balik tindakan Auretheil, meskipun tindakan itu salah.

Dan yang paling penting, ini adalah pertarungan antara dia dan Auretheil saja. Dia tidak akan melibatkan siapapun, termasuk Dreven yang katanya akan selalu berada di dalam kubunya!

"Aku... Ingat... Tapi..." balas Shahinaz dengan jeda yang cukup lama disetiap katanya. Apa perlu dia mengatakan kebenarannya?

Karena posisi Shahinaz sedang duduk dan menikmati apel yang tadi dipotong-potong oleh Dreven, alhasil laki-laki itu langsung membawa Shahinaz ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Pasti Shahinaz sedang bingung dengan ingatannya sendiri bukan?

"Kalau pusing, jangan terlalu dipikirin ya, fokus sama kesehatan kamu aja. Masalah pelaku yang udah berani nyakitin kamu, aku jamin dia nggak bakal berani sembunyi dalam waktu yang cukup lama." balas Dreven dengan suara lembutnya, "Aku pasti bakalan cari cara buat nyembuhin semua sakit yang kamu derita saat ini. Nggak peduli banyaknya kekuranganmu, aku tetap berjanji akan selalu ada di sisi kamu."

Kaendra, Arsenio, dan Vincent, hanya bisa melongo di tempat. Baru kali ini mereka mendengar Dreven bisa berbicara panjang dan manis seperti itu. Lebih syoknya lagi, Dreven bahkan bisa memperlakukan orang lain dengan cara yang selembut itu? Mereka tak salah lihat bukan?

"Hah? Maksudnya?" tanya Shahinaz dengan wajah keheranan.

"Nggak usah dipikirin, anggap aja pertanyaan mereka cuma angin lalu." kata Dreven sambil melepas pelukan mereka pelan-pelan, "Istirahat dulu ya, biar aku aja yang ngomong sama mereka."

Shahinaz sebenarnya bingung kenapa Dreven tiba-tiba berbicara panjang lebar dan berperilaku berlebihan kepadanya. Kekurangan apa yang Dreven maksud tadi? Apa dia telah melewatkan sesuatu yang cukup penting?

Entahlah, Shahinaz jadi bertambah pusing. Dia memilih untuk memejamkan matanya, dan tidak ingin memikirkan ucapan Dreven lebih dalam lagi!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!