NovelToon NovelToon
Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Tamat / Fantasi Timur
Popularitas:10.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Nnot Senssei

"Aku akan berusaha melawan badai yang akan menerpaku kapanpun itu. Aku siap menerima serangan badai yang besar sekalipun. Aku tidak takut kepada besarnya badai, aku tidak gentar terhadap ganasnya badai. Aku juga tidak akan menyerah walau badai itu terus menggulungku. Aku akan berusaha berdiri di atas badai itu. Aku akan menghadapi badai itu. Aku akan melawan badai itu. Aku akan menari diatas badai itu pula. Hingga pada akhirnya, badai itu bisa menyatu dengan diriku. Aku adalah badai dan badai adalah aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Fisik II

Mentari pagi sudah menunjukkan sinarnya. Burung-burung mulai bernyanyi di hutan dengan riang gembira. Gemercik air terjun di sungai dekat hutan menambah suasana semakin tenang dan damai.

Tepat pada saat itu, Shin Shui membuka kedua matanya. Dia baru menyelesaikan meditasinya. Dia bermeditasi semalam suntuk, sedangkan gurunya masih tertidur.

Shin Shui tidak tahu semuanya tentang kejadian yang sudah dia alami saat meditasi. Yang jelas dia merasakan kenyamanan hingga dia memasuki ruangan hampa yang serba putih.

Dia tidak tahu di mana tempat itu, di sana tidak ada siapa-siapa, yang ada hanyalah dia sendiri dan ketenangan. Di sana pun dirinya duduk bersila seperti yang dilakukan di dunia nyata.

Dia merasa sangat tenang, seperti baru kali ini dia mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Semakin lama semakin tenang, semakin terasa pula ada energi yang terus diserap oleh tubuhnya.

Energi itu terus masuk kedalam tubuh Shin Shui, seolah energi itu tidak ada habisnya. Selama semalaman itu Shin Shui terus menyerap energi yang dihasilkan oleh buah-buahan yang dia makan.

Lao Yi bangun dari tidurnya, melihat Shin Shui sedang berdiam diri menikmati mentari pagi, dia langsung menghampiri muridnya tersebut. Lao Yi berjalan mendekati muridnya yang terlihat sedang duduk diatas bebatuan sungai.

Merasa ada yang mendekatinya, Shin Shui langsung menengok ke belakang.

"Guru sudah bangun?" tanya Shin Shui kepada Lao Yi.

"Sudah, kau sedang apa disini Shui'er? Apakah kau tidak takut dimakan siluman?" Lao Yi berusaha menakuti muridnya itu.

"Aku sedang menikmati mentari pagi guru, aku menemukan kedamaian disini. Tidak, kan ada guru yang akan melindungiku dari siluman ... hehehe," jawab Shin Shui.

"Haish ... Kau ini. Biasakan jangan selalu mengandalkan orang lain Shui'er. Meskipun aku akan melindungimu, tapi aku juga tak akan selalu ada di sisimu," Lao Yi mengingatkan Shin Shui supaya tidak selalu bergantung kepada orang lain.

"Shuier, kemarilah duduk dekat guru," kata Lao Yi.

"Baik guru," lalu Shin Shui mendekat kepada gurunya, Lao Yi.

"Semalam kau bermeditasi sampai kapan?" tanya Lao Yi.

"Sampai pagi, murid mengikuti perintah guru," jawabnya.

"Bagus Shui'er. Bagaimana, kau mau latihan lagi dan meneruskan menjadi muridku atau berhenti sampai disini setelah kau mengetahui betapa kerasnya aku melatihmu?" tanya Lao Yi

"Aku akan terus berlatih dan tetap menjadi murid yang berbakti kepada guru. Aku yakin apa yang guru ajarkan kepadaku adalah yang terbaik buatku," jawab Shin Shui dengan rasa hormat kepada Lao Yi.

"Itu baru muridku,” Lao Yi tersenyum bangga, “tenang saja Shui'er, nanti jika sudah saatnya guru akan memberitahumu tujuan dari semua ini. Sekarang bersiap-siaplah! Kau akan memulai latihan seperti kemarin," perintah gurunya, Lao Yi kepada Shin Shui.

Setelah mendapatkan perintah dari gurunya, Shin Shui langsung segera bersiap untuk memulai latihan.

"Baik guru. Murid akan segera melakukan latihan kembali," jawab Shin Shui.

Dia mulai berlari kembali untuk mengelilingi Hutan Kematian, Shin Shui berlari lebih cepat daripada kemarin. Sekarang dia merasa tubuhnya menjadi lebih sehat dan kuat daripada sebelumnya.

Tak terasa, matahari sudah berada tepat di atas kepalanya. Dia baru menyelesaikan latihan pertama. Karena tubuhnya merasa semakin kuat, Shin Shui jarang berhenti jika bukan untuk mengatur nafas dengan tenang barang 10 atau 20 tarikan nafas. Setelah itu, dia akan kembali berlari sekuat tenaga.

Setelah beristirahat sejenak, Shin Shui langsung mengangkat batu sebesar meja tersebut. Berat satu batunya sekitar 100 kilogram. Bagaimana pun caranya, dia tetap tidak bisa mengangkat batu itu. Jangankan untuk mengangkat, bergeser satu jengkal pun tidak. Batu itu tetap diam tak bergeming pada tempatnya.

Melihat hal itu, Lao Yi mendekati Shin Shui, "kenapa Shui'er?" tanya Lao Yi.

"Emmm ... maaf guru, aku benar-benar tidak bisa mengangkat batu ini. Rasanya mustahil," keluh Shin Shui kepada gurunya.

Lao Yi lalu memegang batu itu dengan telunjuknya, lalu dia menyuruh Shin Shui untuk kembali mengangkatnya.

"Tenangkan pikiranmu, tenangkan jiwamu, rasakan ada kekuatan dalam dirimu. Sekarang, angkat batu itu dan segera lakukan latihan!" Lao Yi menyuruh Shin Shui untuk memulai kembali latihannya.

"Baik guru," dia lalu mengangkat batu itu. Berhasil, walaupun masih terasa lumayan berat, tapi dia yakin akan mampu melewati latihan ini.

Matahari sudah terlihat akan menghilang dan digantikan dengan sang Dewi Malam. Shin Shui sudah selesai melakukan latihan kedua. Sekarang dia segera melakukan latihan ketiga, dia akan memukuli pohon besar yang dimaksud gurunya. Pohon itu besarnya sekitar dua lingkaran orang dewasa, batang pohonnya bahkan sudah menghitam. Sepertinya kulit pohon itu saja sangat keras.

Meski ia tak yakin melakukannya, namun apa boleh buat. Ini semua untuk dirinya sendiri. Dia mulai memukuli pohon itu dengan sekuat tenaga. Dia terus memukulinya tanpa henti hingga kepalan tangannya berdarah.

Setelah selesai dengan latihan ketiganya, Shin Shui langsung ke tempat gurunya. Badanya terasa remuk, jantungnya berdetak kencang karena nafasnya tak beraturan.

"Akhirnya aku bisa menyelesaikan ujian neraka ini," gumam Shin Shui. Dia merasa senang karena tidak harus mengelilingi hutan yang sangat luas ini.

Shin Shui lalu berjalan kepada gurunya untuk melaporkan bahwa dia sudah menyelsaikan semua latihan yang diberikan padanya.

"Guru, aku sudah menyelesaikan semua latihan yang guru berikan padaku," ucap Shin Shui melaporkan hasil latihan yang telah selesai.

"Bagus Shui'er," Lao Yi menyuruh Shin Shui untuk mendekat kepadanya, "ulurkan tanganmu! Biar guru obat luka tanganmu akibat latihan tadi."

1
Mbah Haryo
starnya cukup ok...coba kita pantow doeleo gan. .
𝒮🍄⃞⃟Mѕυzу​​​᭄
hwaiting
Arif Arta
Luar biasa
Juni Ardi
gak jelas.. mc e
putra jaya
Luar biasa
Rino Wengi
katanya pendekar Dewa bisa terbang kok masih melompat lompat pohon...
Rino Wengi
pendekar taik... harus dibantu terus biar menang
Rino Wengi
lemah
Rino Wengi
MC nya lemah.. pendekar Dewa cap KADAL
Rino Wengi
aliran hitam pendekar tingkat dewa 30 orang, kekaisaran 45 ..? kok belum cukup harusnya lebih kuat kekaisaran dong secara hitung hitungan..
Budi Priyanto
/Determined/
Nurbertus Eko PN
kapan MC meningkatkan kekuatannya..
hari hujianto
Luar biasa
Abdul Rahman
lanjuuuuuut
Ivan Sumampouw
Thor,,,, akhiri aja cerita ini,,, betul2 jelek 🖕🖕🖕
Ivan Sumampouw
pertarungan tingkatan dewa TDK didengar oleh org2 sekte,,, kejadian yg jaraknya kiloan meter bisa didengar 🤣🤣🤣🤣
semoga utk cerita2 lain penulis bisa insaf 🤣🤣🤣
Ivan Sumampouw
kenapa gak mati aja,,, lama mikir Thor,, kan sdh ada di sarang sekte sendiri,, sdh terjadi pertempuran tapi tdk ada yg tau 🤣🤣🤣
kasian Thor membuat cerita seperti ini 🤣🤣🤣
Eda Eda
👍
Ivan Sumampouw
sangat jelek,,, baru pangerannya sdh kewalahan apalagi rajanya 🤣🤣🤣
katanya belajar dan mencontoh Kho Ping Ho,,,, jaaaaauuuuhhh thor
Ivan Sumampouw
Thor betul2 jelek,,, berarti semua pengikut pangeran ilmunya setara dgn pimpinannya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!