Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Akan Kubiarkan
Reaksi Grace di luar prediksi. Wanita itu malah tertawa keras di bilik lain sekarang. Bukan di dapur, melainkan di ruangan kedap suara.
Dia baru saja mengajukan nominal lebih dari sebelumnya, 50 miliar.
Jumlah uang yang fantastis, bukan? Bagaimana pebisnis seperti Norman tidak akan berpikir dua atau tiga kali untuk mengeluarkan uang sebanyak itu.
"Kenapa kau tertawa?!" Norman kembali bertanya dengan nada suara setengah membentak.
Grace perlahan menghentikan tawa. Kali ini tatapannya tampak sangat tajam, hingga siapa pun yang memperhatikannya akan bergidik ngeri.
"Dengar, jika kau tidak memberikan aku uang 50 miliar, video ini benar-benar akan kusebar."
Sontak, balasan Grace membuat Norman berdecak kesal.
"Ck, bukannya tadi kau bilang 7 miliar? Kenapa sekarang jadi berkali-kali lipat kau minta, hah? Dengar kau, aku akan menemukanmu! Setelah aku temukan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, camkan itu!" kata Norman dengan nada meninggi.
Bukannya merasa takut, Grace malah menyeringai lalu berkata dengan nada pelan, "Lusa aku akan mengirimkan tempat untuk kau mengantar uang itu. Ingat, 50 miliar. Jika tidak, video mesum kau ini akan kusebar. Oh ya, bukan hanya ke media sosial saja. Ke media massa juga videomu akan kuperlihatkan."
Belum sempat Norman membalas, Grace segera menutup panggilan.
Dalam sepersekian detik, senyuman Grace langsung menghilang. Wanita itu menatap layar ponselnya dengan tatapan datar sekarang.
Grace tiba-tiba mendongak ke atas langit-langit ruangan. Sedikit penasaran dengan tanggapan Norman di atas sana. Namun, dia tak bisa mendengar apa yang terjadi. Sebab, hampir seluruh ruangan di rumah George kedap suara.
"Sedang apa dia? Aku yakin sekali dia sedang membanting ponselnya ke lantai," gumam Grace.
Benar dugaan Grace. Di atas sana, Norman melakukan apa yang dia katakan.
Grace seketika mengedikkan bahu lalu keluar dari ruangan dan pergi ke arah dapur. Dia mengambil botol dingin di kulkas, kemudian melangkah cepat menuju meja makan.
Setelah itu, dia duduk dan mulai meneguk air putih dengan pelan dan tenang, seolah tak ada masalah yang menghampirinya. Padahal, permasalahan yang dia hadapi sekarang membuat Grace terguncang. Selesai minum, Grace mendadak melamun, tengah memikirkan langkah apa lagi yang harus dia lakukan selanjutnya.
Kurang lebih 30 menit dia tenggelam dalam pikirannya, sampai akhirnya Grace ketiduran di meja makan. Begitu pula dengan Norman yang akhirnya tertidur di ranjang. Lelaki itu tampak sangat kelelahan menunggu Grace yang tak kunjung muncul.
Pukul lima pagi, Grace terbangun karena alarm ponselnya. Dia terkejut saat mendapati tubuhnya dibalut selimut putih.
"Pasti Mama ..." gumam Grace sambil tersenyum kecil.
Setidaknya, ada seseorang yang menyayangi.
Sekitar pukul enam pagi, Grace pun segera bersiap-siap. Kini dia sudah berada di ruang tengah dengan koper yang dia bawa turun tadi.
"Kau yakin tidak mau menunggu suamimu bangun? Kasihan dia, biar kita sarapan bersama-sama nanti." Emma seketika menghampiri dengan celemek terlilit di pinggang.
Grace tersenyum tipis. Norman memang belum bangun. Dia sengaja tak membangunkan pria itu, biarlah. Terlebih, tadi ketika di kamar dia tak sengaja melihat layar ponsel Norman menampilkan pesan menjijikkan dari Mona.
"Norman, sebelum rapat kita main di sofa ya, kita sudah lama tidak bermain di situ."
Langsung mendidih darah Grace. Dia pun memilih mandi dan melakukan aktivitas di dalam kamar dengan pelan, tanpa menimbulkan kegaduhan yang bisa saja membuat Norman terbangun.
Di sinilah ia sekarang, sudah rapi dan tampil menawan pagi ini.
"Aku ada urusan di butik, Ma. Norman pasti mengerti. Aku sudah mengirimnya pesan, aku akan sibuk hari ini di butik. Sudah, aku berangkat dulu, ya," kata Grace sambil mengecup singkat pipi kanan dan kiri Emma. Setelah itu, dia berjalan cepat menuju ruang depan.
Emma tak bisa menahan putrinya. Dia hanya bisa memandang kepergian Grace dengan wajah cemberut. Emma melirik George sekilas, yang sejak tadi duduk di sofa sambil sesekali melirik ke arah mereka tadi.
Kurang lebih lima belas menit, taksi yang ditumpangi Grace telah tiba di butik miliknya.
House Of Grace. Tempat menjual dan menyewakan gaun pernikahan. Perlengkapan yang berhubungan dengan pernikahan semuanya lengkap di sini dan menjadi salah satu butik terkenal di California.
Begitu pintu dibuka, Carmen langsung menyapa Grace dengan sangat antusias.
"Pagi, Bu. Saya sudah mendapatkan seseorang yang bisa membantu permasalahan Ibu," kata Carmen.
Jika berada di butik, Carmen dan Grace bersikap seperti karyawan dan atasan.
"Bagus, kirim nomornya padaku." Sebelum sampai di sini, Grace meminta Carmen untuk mencari seseorang yang handal dan dapat dipercaya sebagai informan.
Carmen mengangguk semangat. Dengan cepat mengotak-atik ponsel lalu menatap Grace.
"Sudah saya kirim."
Grace tersenyum. "Good, lanjutkan bekerja."
Carmen mengangguk lalu mulai memberi perintah pada karyawan untuk merapikan pakaian-pakaian sebelum toko dibuka.
Selagi Carmen dan beberapa karyawan sibuk dengan tugasnya, Grace langsung memanggil nomor yang dikirim Carmen barusan.
"Halo," kata Grace sambil mencari tempat teraman untuk berbicara.
"Iya, ada yang bisa saya bantu, Nona?" Seseorang dengan suara wanita langsung memberi tanggapan.
"Ya, bisakah kita bertemu saja langsung?" Grace melirik ke kanan dan ke kiri, seolah memastikan tak ada yang menguping pembicaraan.
"Oke, aku punya waktu nanti sore. Jam satu aku akan memberitahu tempat pertemuan kita."
"Baik."
Panggilan dimatikan.
Grace tiba-tiba berseru, "Carmen, kemari."
Dengan sigap, Carmen melangkah ke arah Grace.
"Aku ada urusan di luar, bekerjalah dengan baik."
Carmen menganggapi dengan mengangguk cepat. "Siap!"
Tepat pukul setengah delapan, Norman dan Mona telah sampai di Sierra Sunworks. Saat keluar dari lift, mereka berjalan berdampingan selayaknya sekretaris dan atasan pada umumnya. Beberapa karyawan di perusahaan tak mengetahui hubungan terlarang mereka.
Mona tiba-tiba memberikan bahasa isyarat kepada Norman dengan menggoyangkan ponsel.
Kening Norman langsung berkerut samar-samar. Namun, dalam hitungan detik, ia mulai paham. Lelaki itu segera mengambil ponsel dari saku jas dan membaca pesan dari Mona.
"Norman, aku tidak sabar menghabiskan waktu berduaan denganmu. Sepertinya semesta berpihak pada kita ya, hingga membuat Grace sibuk hari ini. Ingat, sebelum rapat kita main di sofa!"
Norman tak membalas pesan, hanya mengalihkan pandangan ke samping sambil melempar senyum tipis.
Mona pun membalas dengan senyuman. Senyuman yang tak memudar sedari tadi. Namun, saat membuka pintu ruangan Norman, senyuman Mona mendadak menghilang.
"Selamat pagi, suamiku, akhirnya kau datang juga!" sahut Grace sambil tersenyum sumringah.
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣