Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Paman Herman
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Markas rahasia Queen, jam 3 pagi.
Setelah gereja tadi, Queen pulang dengan hati kacau. Ucapan Lucas soal janji kecil terus terngiang di kepala nya.
Dia masuk ke kamar nya dan melihat Marco sedang membersihkan pistolnya seperti biasa. Pria setia itu sudah menemani nya selama 15 tahun, kabur bersama nya, melindungi nya dengan nyawa.
"Marco," panggil Queen pelan. "Boleh aku tanya sesuatu? Soal malam itu." Ucap nya lagi.
Marco menoleh. "Malam kebakaran? Sudah aku bilang, Nona. Kita harus lupakan dan fokus balas dendam." Ucap Marco.
"Tidak," kata Queen sambil meletakkan flashdisk yang tadi dia kasih ke Lucas di meja. "Lucas bilang ada orang ketiga malam itu selain Elena. Dia bilang Elena cuma kasih info lorong. Tapi ada yang matikan kamera keamanan vila jam 11 malam. Siapa yang bisa matikan kamera itu, Marco? Cuma kau dan Ayah, sementara Elena waktu itu masih kecil, usia nya sama seperti ku masih 7 tahun. " Ujar Queen.
Wajah Marco seketika pucat. Queen melangkah mendekat. "Jawab aku, Marco. Apa kau yang matikan kamera itu?" Tanya Queen.
Hening panjang. Hanya suara jam dinding yang berdetak. Marco menunduk. Tangan nya yang biasa nya kuat memegang pistol, kini gemetar.
"Jadi kau sudah tahu," bisik Marco. Dunia Queen runtuh untuk kedua kali nya.
"AKU TAHU APA?!" teriak Queen. "KAU YANG BUNUH ORANG TUA KU, MARCO? SELAMA INI AKU PERCAYA SAMA KAU! KAU SATU-SATU NYA ORANG YANG AKU ANGGAP KELUARGA!" Teriak nya lagi.
Marco berlutut di depan Queen. Air mata nya jatuh. "Bukan aku yang bunuh mereka, Nona! Aku tidak pernah mau mereka mati! Tapi aku yang buka gerbang! Aku yang matikan kamera!" teriak Marco. Queen mundur selangkah. Kaki nya lemas.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Queen.
"Karena tuan Ricardo culik istri dan anak ku, Nona!" teriak Marco sambil menangis. "Malam itu, sebelum serangan, tuan Ricardo datang ke rumah ku. Dia bilang, kalau aku tidak buka gerbang dan matikan kamera, istri dan anakku akan mati di potong-potong di depan ku!" Lanjut Marco.
"Aku... aku tidak punya pilihan! Aku pikir tuan Ricardo cuma mau bicara! Aku pikir dia cuma mau negosiasi soal pelabuhan! Aku tidak tahu dia akan membunuh tuan Steven dan nyonya Amanda! Aku baru tahu setelah aku dengar tembakan dari lantai bawah!" Ucap nya lagi.
Queen terkejut. Jadi Elena bukan satu-satu nya pengkhianat. Marco, orang yang paling dia percayai, juga terlibat.
"Dan Elena," kata Marco sambil menghapus air mata nya. "Elena tidak bersalah sepenuh nya. Akulah yang kasih tahu Elena kalau lorong rahasia itu aman untuk di sembunyikan anak ku kalau terjadi apa-apa. Elena cuma mengulang omongan ku ke tuan Ricardo karena tuan Ricardo ancam ibu nya. Kita semua terjebak, Nona." Lanjut Marcom
Queen gemetar. Selama beberapa tahun dia membangun dendam, dia salah alamat. Dia pikir musuh nya cuma tuan Ricardo dan Elena. Ternyata orang yang paling setia di sisi nya juga berlumuran darah orang tua nya.
"Jadi selama ini, pelukan dan perlindungan mu... semua nya karena rasa bersalah?" tanya Queen dengan suara dingin, mata nya berkaca-kaca. Marco mengangguk pelan.
"Aku jaga kau beberapa tahun ini bukan karena perintah ayah mu, Nona. Tapi karena aku berutang nyawa pada keluarga mu. Aku rela mati untuk kau sekarang kalau itu bisa tebus dosa ku," kata Marco.
Queen mengangkat pistol nya. Pistol itu mengarah ke kepala Marco. Tangan Queen bergetar hebat. "Queen, jangan!" kata Marco. "Tembak aku kalau itu bisa bikin kau tenang!" Ucap nya lagim
Queen menutup mata. Bayangan ibu nya, ayah nya, dan Marco yang menggendong nya waktu kecil semua muncul bersamaan.
"DOR!"
Tembakan itu meledak di ruangan. Tapi bukan ke arah Marco. Queen menembak meja di samping Marco sampai hancur.
"Untuk sekarang, aku tidak akan bunuh kau, Marco," kata Queen dengan suara serak. "Karena kalau aku bunuh kau, aku tidak akan pernah tahu siapa dalang sebenarnya di balik Ricardo." Ucap Queen.
"Maksud Nona?" Tanya Marco. Queen menatap Marco tajam.
" Tuan Ricardo tidak mungkin bisa masuk ke vila kalau tidak ada orang dalam level Dewan yang kasih kode gerbang utama. Kode itu tidak ada di tangan Elena atau kau. Kode itu cuma ada di tangan satu orang. Paman ku. Tuan Herman Adijaya. Saudara kandung Ayah." Jawab Queen.
Marco terkejut. "Tu..tuan Her.herman? Paman mu yang selalu baik itu? Yang merawat mu dari kecil??" Ucap Marco.
Queen mengangguk. " Heh,,baik??" Ucap Queen terkekeh. "Aku baru sadar tadi di gereja. Lucas bilang ayah nya berubah jadi paranoid 2 tahun terakhir. Karena dia takut sama Herman. Herman yang sebenarnya mau ambil alih semua wilayah Alessandro. Tuan Ricardo cuma alat nya. Herman yang kasih perintah bunuh kakak kandung nya sendiri demi takhta dan harta peninggalan mendiang kakek..." Lanjut Queen.
Queen memasukkan pistol nya kembali ke sarung nya. "Jadi mulai sekarang, target kita bukan cuma tuan Ricardo. Tapi tuan Herman Adijaya. Paman baik yang selama ini pura-pura menangis di makam orang tua ku." Lanjut Queen.
Marco menunduk. "Aku akan bantu kau habisi dia, Nona. Dengan nyawa ku." Ucap Marco.
Queen berjalan ke jendela, menatap kota yang gelap."Dendam ku jadi berlipat ganda malam ini, Marco. Dendam ke Ricardo, ke Herman, dan ke diri ku sendiri karena sudah buta selama ini." Ucap Queen.
"Dan soal kau... kau masih punya utang nyawa pada ku. Bayar itu dengan membantu ku duduk di takhta dunia bawah. Itu hukuman mu." Lanjut Queen.
Kediaman tuan Herman Adijaya, malam minggu saat ini sedang ada makan malam keluarga. Meja makan panjang itu dipenuhi anggur mahal, lilin, dan senyum palsu.
Queen datang dengan gaun hitam elegan. Rambut nya di gerai, senyum nya manis. Tidak ada yang tahu di dalam tas kecil nya ada pistol kecil berlapis peredam dan sebuah flashdisk berisi bukti.
Di ujung meja, tuan Herman berdiri menyambut nya dengan pelukan hangat namun palsu.
"Nona kecil ku sudah besar sekarang. Sama cantik nya seperti ibu mu dulu," kata tuan Herman sambil mencium pipi Queen. Suara nya lembut, mata nya teduh.
Queen tersenyum. "Terima kasih, Paman. Sudah hampir 15 tahun Paman yang jaga dan rawat aku. Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana." Ucap Queen.
"Kau ini keluarga. Darah Alessandro tidak akan pernah ku biarkan jatuh," kata Tuan Herman.
Marco yang berdiri di belakang Queen sebagai bodyguard mengepalkan tangan nya di balik punggung. Dia tahu rahasia itu. Kalau Tuan Herman tahu Marco sudah mengaku, malam ini mereka semua bisa mati.
Makan malam berjalan. Tuan Herman bercerita soal bisnis pelabuhan, soal tuan Ricardo yang kata nya sudah gila dan tidak bisa di hubungi 2 minggu terakhir.
" Tuan Ricardo itu bodoh, Queen. Dia pikir dia bisa ambil alih bisnis keluarga kita. Padahal dia cuma anjing gila," kata tuan Herman sambil memotong steak.
Queen menatap tuan Herman tajam. Anjing gila? Atau kau yang melepas anjing itu?
Lucas, yang ternyata juga di undang tuan Herman, duduk di seberang Queen. Lucas menatap Queen dengan tatapan bertanya: _Apakah kau baik-baik saja?_
Queen menggeleng pelan. Dia tidak boleh menunjukkan apa-apa sekarang.
Setelah makan malam, tuan Herman mengajak Queen ke ruang kerja nya. Ruang kerja yang dulu adalah ruang kerja ayah nya, tuan Steven Allesandro.
"Queen, Paman mau tunjukkan sesuatu," kata tuan Herman sambil membuka brankas rahasia di balik lukisan. Di dalam nya ada sebuah kotak beludru hitam.
Tuan Herman membuka kotak nya. Di dalam nya ada sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang sama persis dengan yang di pakai ibu Queen malam itu dia mati. Darah Queen berdesir.
DEG///
********
Happy Reading Guys. 🤗🥰