NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Harga Diri 11.

Koridor SMA Nusantara jam istirahat pertama selalu bising, tapi bagi Firdaus, suasananya terasa seperti distorsi suara yang memekakkan telinga. Efek begadang dan hantaman asam lambung membuat langkah kakinya terasa mengambang. Dia berjalan memeluk beberapa map laporan OSIS, mencoba menegakkan bahu demi mempertahankan sisa-sisa wibawa yang dia punya.

Namun, pertahanannya nyaris runtuh saat netranya menangkap sosok itu di depan mading.

Elsa.

Gadis itu sedang tertawa kecil bersama beberapa teman sekelasnya.

Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak mengikuti gerakan kepalanya.

Sederhana. Tapi entah sejak kapan, tawa yang dulu selalu ditujukan untuknya itu kini terasa seperti kemewahan yang mustahil Firdaus gapai lagi.

Firdaus memperlambat langkahnya. Dadanya berdenyut ngilu.

Gue kangen lo, Sa. Setengah mati.

Baru saja Firdaus berniat mengumpulkan keberanian untuk mendekat—sekadar menyapa atau memastikan apakah Elsa sudah makan—keadaan koridor mendadak riuh.

Langkah-langkah kaki yang asing terdengar dari arah lobi utama, memicu bisik-bisik dari para siswa yang berlalu-lalang.

"Eh, itu bukannya Vanya? Anak SMA Garuda?"

"Ngapain dia ke sini? Nyari Kak Firdaus lagi?"

"Wah, bakal ada perang dunia ketiga nih. Siap-siap pawangnya ngamuk."

Firdaus menoleh. Jantungnya mencelos.

Di ujung koridor, Vanya berjalan dengan langkah percaya diri.

Seragam SMA Garuda yang ketat, rambut bergelombang yang digerai indah, dan aroma parfum vanila yang menyengat langsung mendominasi atmosfer.

Vanya adalah masa lalu Firdaus—atau lebih tepatnya, cewek yang dulu sengaja Firdaus manfaatkan untuk membuat Elsa cemburu dan merasa tidak pantas bersanding dengannya.

"Firdaus!" Vanya melambaikan tangan begitu melihat siluet cowok itu. Senyumnya merekah lebar tanpa dosa.

Firdaus membeku. Di sudut matanya, dia bisa melihat teman-teman Elsa langsung menegang. Mereka semua tahu seberapa gilanya Elsa dulu kalau ada cewek lain yang mendekati Firdaus.

Elsa yang dulu akan langsung pasang badan, menatap sinis, atau bahkan melabrak Vanya habis-habisan demi menandai wilayahnya.

Vanya berjalan mendekat, tumit sepatunya mengetuk lantai koridor dengan ritme yang konstan.

Begitu jarak mereka mengikis, Vanya tanpa ragu menggelayuti lengan kanan Firdaus. "Kok telepon aku nggak diangkat sih semalaman? Aku ke sini mau ngajakin kamu makan siang bareng di kafe depan. Kebetulan sekolah aku lagi pulang cepat karena rapat guru."

Firdaus tidak merespons. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak kaku. Fokusnya bukan pada Vanya yang bergelayut manja di lengannya, melainkan pada Elsa yang jaraknya hanya terpaut lima meter dari tempatnya berdiri.

Secara refleks, Firdaus menarik lengannya dari kungkungan Vanya. Kasar dan instan. "Vanya, lepas. Ini di sekolah gue."

Vanya cemberut, mengerucutkan bibirnya manja. "Dih, biasanya juga kamu santai aja. Kenapa sih? Takut dibilang nggak tegas sama anggota OSIS kamu?"

Firdaus tidak mendengarkan. Matanya terkunci pada Elsa yang kini mulai berjalan ke arah mereka. Langkah Elsa santai, tidak terburu-buru.

Suasana koridor mendadak hening seketika. Semua orang menahan napas, mengira drama remaja tingkat tinggi akan segera meledak di tempat.

Teman-teman OSIS Firdaus yang baru keluar dari ruang komite bahkan ikut berhenti, menonton dari kejauhan.

Firdaus meremas map di tangannya hingga kertas di dalamnya kusut. Keringat dingin menetes di tengkuknya. Dia bersiap untuk yang terburuk.

Jika Elsa memaki Vanya, atau jika Elsa memaki dirinya di depan umum, Firdaus rela. Dia pantas mendapatkannya. Dia egois, dia brengsek, dan dia ingin Elsa meluapkan semua kemarahannya agar rasa bersalah di dadanya sedikit berkurang.

'Ayo, Sa. Labrak gue. Marahin cewek ini di depan gue. Tunjukin kalau lo masih punya rasa peduli, meskipun itu cuma rasa benci,' jerit Firdaus dalam hati.

Elsa semakin dekat. Langkahnya konstan.

Vanya yang menyadari kehadiran Elsa langsung mengubah gestur tubuhnya. Dia sengaja bergeser lebih rapat ke sisi Firdaus, menantang Elsa dengan dagu yang terangkat angkuh.

Vanya sudah siap menyemburkan kata-kata pedas yang biasa mereka pertukarkan.

Satu langkah. Dua langkah.

Tepat di depan Firdaus dan Vanya, Elsa menghentikan langkahnya.

Firdaus menahan napas. Matanya yang bengkak dan lelah menatap lekat-lekat manik mata Elsa, mencari kilat amarah, cemburu, atau luka yang biasanya tersorot jelas di sana.

Namun, nihil.

Mata Elsa benar-benar bersih. Tidak ada badai, tidak ada api. Kosong. Seperti menatap dua orang asing yang kebetulan berpapasan di halte bus.

Bukannya memaki atau melempar pandangan tajam, sudut bibir Elsa perlahan terangkat. Sebuah senyuman manis mengembang di wajah cantiknya. Senyuman yang begitu ramah, begitu tulus, dan... begitu asing bagi Firdaus.

Elsa menggeser tubuhnya sedikit ke samping kanan, memberi ruang yang sangat luas di koridor yang sebenarnya tidak terlalu sempit itu.

"Oh, sori, Kak. Jalannya agak ketutup ya?" ucap Elsa, suaranya terdengar begitu renyah tanpa beban sama sekali. Dia menatap Vanya, lalu beralih menatap Firdaus sekilas, seolah Firdaus hanyalah dekorasi dinding koridor.

"Silakan lewat, Vanya. Nggak usah sungkan. Anggap aja sekolah sendiri," lanjut Elsa ramah, lengkap dengan anggukan sopan yang biasa diberikan siswa kepada tamu sekolah.

Deg.

Dada Firdaus seperti dihantam godam tak kasat mata. Rasa sakitnya menjalar dari jantung hingga membuat seluruh tubuhnya lemas.

Biasanya, Elsa akan berdiri di depannya, berkacak pinggang, dengan mata berkaca-kaca menuntut penjelasan mengapa Vanya ada di sana.

Biasanya, Elsa akan berteriak egois hanya untuk memastikan Firdaus tetap menjadi miliknya.

Tapi sekarang? Elsa justru membukakan jalan. Sambil tersenyum ramah.

Itu bukan senyuman kemenangan atau senyuman sinis untuk membalas dendam. Firdaus tahu persis bedanya. Itu adalah senyuman dari seseorang yang benar-benar sudah selesai.

Seseorang yang sudah melepas seluruh bebannya dan tidak lagi peduli apakah Firdaus hidup, mati, atau pergi dengan perempuan lain.

"Yuk, Guys, ke kantin. Keburu bel masuk," kata Elsa kepada teman-temannya, tanpa sekali pun menengok lagi ke belakang.

Gadis itu berjalan melewati Firdaus begitu saja. Embusan angin dari pergerakan tubuh Elsa membawa aroma sampo stroberi yang sangat familier di indra penciuman Firdaus.

Aroma yang dulu selalu menemaninya saat Elsa duduk di jok belakang motornya, berceloteh tentang hal-hal tidak penting yang selalu Firdaus abaikan.

Kini, aroma itu menjauh. Bersama dengan eksistensi Elsa yang benar-benar telah menguap dari hidupnya.

"Lho? Dia kenapa?" Vanya mengedipkan matanya bingung, menatap punggung Elsa yang kian menjauh di ujung koridor. "Kok nggak marah? Biasanya kayak kesetanan kalau lihat aku dekat kamu?"

Firdaus tidak menjawab. Map di tangannya terlepas, jatuh berserakan di atas lantai koridor. Lembaran-lembaran kertas laporan OSIS itu berhamburan, persis seperti hancurnya seluruh ego dan harapan yang dia bangun semalaman.

Dia mematung di tengah koridor yang perlahan kembali ramai oleh bisikan orang-orang. Kali ini, bisikan itu bukan lagi tentang ketakutan akan labrakan Elsa, melainkan rasa kasihan yang telanjang tertuju pada sang ketua OSIS.

Semua orang tahu, dan Firdaus jauh lebih tahu: Elsa tidak sedang mengalah. Elsa hanya sedang membuang sampah yang sudah tidak ada harganya lagi.

......................

...****************...

Tbc,

1
Clara
Damn kata”nya elsa nyelekit mampus lu daus
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!