Naila Maharani, menikah selama 3 tahun hanya di jadikan pembantu gratisan di rumah nya sendiri.
Setiap tahun sang suami membawa seluruh keluarga nya berlibur ke pulau Bali saat tahun baru. Sedangkan Naila, dia tidak pernah di ajak.
Pada tahun ke tiga, Naila menyadari bahwa dia hanya di manfaat kan oleh suami nya dan juga keluarga nya.
Naila menjual rumah nya sendiri, agar mereka tidak bisa lagi pulang ke sana. Tidak hanya itu, Naila pun menyiapkan banyak kejutan untuk mereka semua.
Kejutan demi kejutan yang di berikan oleh Naila pada akhir nya membuat keluarga sombong itu hancur, ikuti kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Rivan kembali ke rumah orang tua nya sambil membawa kantong berisi nasi bungkus untuk 5 orang, mereka semua yang sudah kelaparan makan dengan lahap nya.
"Rivan, kau harus melakukan sesuatu agar Naila muncul dan menyerahkan uang itu pada kita. Jangan biarkan dia lolos begitu saja, dia sudah menjual rumah kita, enak saja dia menikmati uang nya sendiri!" Bu Rima berkata pada anak nya.
"Van, bagai mana kau bisa seceroboh ini. Kenapa kau biarkan surat rumah itu berada di tangan Naila?" Pak Jamal juga ikut menyela.
Rivan hanya terdiam, memang rumah itu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dia mengenal Naila. Orang tua Naila membeli rumah itu saat Naila masih menempuh pendidikan di sebuah universitas, mereka tidak ingin Naila tinggal di kontrakan, itu lah sebab nya pak Doni memutus kan untuk membeli rumah itu untuk Naila.
"Kita harus melakukan sesuatu, agar Naila muncul di hadapan kita!" Yuni juga ikut berkata.
"Aku akan telepon Naila sekarang juga, aku akan paksa dia datang menemui kita!" Rivan berkata dengan geram.
Rivan lalu mengeluarkan ponsel nya, dia menelepon Naila. Dering pertama panggilan nya langsung di jawab oleh Naila, seperti nya memang Naila menunggu Rivan menelepon nya.
"Hallo, ada apa lagi mas?" Tanya Naila dengan ketus dari seberang sana.
"Naila, cepat datang kemari. Atau aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat mu menyesal!" Rivan mengancam Naila.
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, Mas. Aku tidak perduli, toh aku tidak sudi lagi menjadi babu gratisan keluarga mu!" Jawab Naila dengan berani.
"Naila, karena kau sudah berani menjual rumah itu. Kau harus bertanggung jawab terhadap keluarga ku, cepat katakan di mana kau selarang!" Bentak Rivan dengan kasar.
"Untuk apa kau harus memberi tahu kalian semua, aku ada di mana. Aku ingin hidup aman dan damai, tanpa kehadiran keluarga toxic seperti kalian!" Balas Naila dari seberang sana.
"Naila cepat kembalikan uang dari hasil penjualan rumah itu, kau tidak bisa menguasai nya sendiri!" Bentak Rivan lagi.
"Untuk apa aku harus memberi tahu kan pada Kalian? Toh itu rumah ku sendiri, terserah aku aku mau jual atau mau aku apakan itu, bukan urusan kalian!" Naila berkata dengan ketus.
"Dasar istri durhaka, menantu kurang ajar. Cepat kembalikan rumah kami, atau aku akan menuntut mu!" Bu Rima mengancam Naila setelah dia merebut ponsel itu dari tangan Rivan.
Mendengar ucaoan bu Rima barusan, Naila langsung tertawa terbahak - bahak. Bu Rima semakin geram karena Naila kini sudah berani menertawakan diri nya.
"Naila, kau benar - benar tidak tahu malu. Selama ini kami lah yang memberi mu makan, memberi mu tempat tinggal yang layak. Tapi saat kami tidak ada di rumah, berani nya kau menjual rumah kami, cepat kembalikan rumah kami!" Bentak Yuni pula.
"Terserah apa yang mau kalian katakan, aku tidak perduli. Kalian semua yang tidak tahu malu, selama ini kalian menguasai rumah ku dan menjadikan aku pembantu di rumah ku sendiri. Aku diam saja, tapi kini aku tidak akan membiarkan kalian menguasai rumah ku lagi!" Balas Naila.
"Dasar wanita miskin dan tidak tahu diri, itu rumah kami, bukan rumah mu. Cepat kembalikan rumah kami, atau kau akan tahu akibat nya!" Kembali Bu Rima mengancam Naila.
"Sebelum mengakui rumah itu sebagai rumah mu, tanyakan pada putra mu. Apakah putra mu mampu membeli rumah sendiri? Tidak kan!" Tanya Naila dari seberang sana.
"Naila, jangan berharap kau bisa sembunyi dari ku. Kemana pun kau pergi, aku pasti bisa menemukan mu!" Ucap Rivan dengan kesal.
Klik.
Naila memutus kan sambungan telepon secara sepihak, seperti nya dia tidak ingin berdebat terlalu lama dengan Rivan dan keluara nya.
"Ma,,,, Ma,, hu hu hu!" Tiba - tiba Aira yang sedang tertidur di atas tempat tidur kotor itu pun terbangun dan menangis.
Yuni langsung membawa anak nya itu ke dalam gendongan nya, sesekali tangan nya mengipas tubuh Aira yang kepanasan. Kebetulan saat ini cuaca nya sedang panas sekali, mungkin Aira tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Lihat lah Rivan, Aira tidak bisa tidur di tempat ini. Tempat nya terlalu kotor dan sempit, lalukan sesuatu Van, agar kita semua bisa pergi dari tempat ini!" Yuni merengek pada adik nya.
Rivan tidak bisa melakukan apapun, malam ini mau tidak mau dia dan keluarga nya harus tidur di rumah lama mereka. Mereka semua hanya bisa berharap, agar hujan tidak turun malam ini. Karena jika hujan turun, mereka semua akan kehujanan malam ini. Semua bagian dari rumah ini sudah mulai rapuh, termasuk atap nya yang sudah banyak bolong di mana pun.
Malam ini Naila menikmati ketenangan nya, dia bisa tidur di tempat tidur yang nyaman. Dengan menggunakan pendingin ruangan di tengah panas nya cuaca di kota ini, Naila kini mulai menikmati hidup nya sendiri.
"Maafkan aku mas, jika saja kau dan keluarga mu tidak keterlaluan pada ku. Mungkin saja aku masih mau mempertahankan rumah tangga ini bersama mu, tapi maaf mas liburan kalian kali ini telah membuka mata ku. Aku tahu seperti apa kalian yang sebenar nya, kini silahkan kau urus semua keluarga mu. Aku tidak akan pernah mau di jadikan babi gratisan oleh kalian!" Guman Naila sambil menyeruput coklat panas nya.
Dulu selama masih tinggal bersama Rivan dan suami nya, Naila tidak pernah lagi menikmati coklat panas sebelum tidur. Karena bu Rima selalu mengatakan dia boros jika dia membeli sesuatu. Naila tidak pernah di izin kan menikmati makanan kesukaan nya, dia harus memasak sesuai dengan lidah keluarga suami nya.
"Aku akan lihat, apa yang akan mas Rivan dan keluarga nya besok!" Guman Naila.
Tiba - tiba ponsel Naila berdering, dan dia melihat ayah nya yang menelepon diri nya.
"Hallo ayah,,!" Sapa Naila.
"Hallo nak, tadi Rivan menelepon ayah. Dan dia menanyakan keberadaan mu, nak!" Pak Doni memberi tahu putri nya.
"Lalu, apa ayah mengatakan tempat tinggal ku pada nya?" Tanya Naila.
"Tidak nak, untuk apa kami mengatakan nya. Kamu hati - hati nak, ayah takut Rivan akan melakukan hal buruk pada mu!" Pak Doni terdengar mencemaskan putri bungsu nya.
"Terika kasih, ayah sudah melindungi ku. Jika mas Rivan dan keluarga nya kembali menelepon ayah, maka ayah tidak perlu menjawab nya!" Naila mengingatkan pak Doni.
"Baik nak, kamu jaga diri baik - baik. Jangan lupa kabari kami, jika kau butuh sesuatu!" Pak Doni berkata pada Naila.
"Baik yah, Naila akan ingat selalu pesan ayah!" Jawab Naila.
Pak Doni pun memutus kan panggilan telepon dengan putri nya, sebagai seorang ayah jelas dia mengkhawatirkan keadaan putri nya.
nyebelin banget
bisa2nya nduh orng smbrangn,pdhl dia sndri yg slingkuh....jd laki2 kere aja sok2an miara slingkuhan....😫😫😫
next double up ya atau crazy up gitu Thor 😄😄
msa udh d ftnah dn d bkin malu d dpn bnyak orng,tp msih diem aja....tar lma2 kluarga benalu mkin gila....