NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

🍂🍂🍂🍂🍂

Sinar fajar merekah di ufuk timur, membiaskan garis-garis cahaya keemasan menembus kisi-kisi jendela kayu rumah joglo milik Bagas. Di atas tempat tidur ukir yang megah, pemuda tegap itu perlahan membuka kelopak matanya. Bagas menarik napas panjang, meresapi rasa hangat yang merayap di sepanjang pembuluh darahnya—sebuah jejak kenikmatan sakral dari peraduan gaib di Altar Utama Sendang Manten bersama Nyai Ratu yang masih menyisa utuh.

Namun, ketika pandangan mata Bagas menyapu sekeliling kamar utama, dunia yang dilihatnya tak lagi sama.

Efek usapan darah sakral Nyai Ratu yang menanamkan Mata Batin Indra Ular di keningnya bekerja secara mutlak. Di keempat sudut kamarnya, Bagas tidak lagi melihat dinding kayu jati yang kosong, melainkan siluet-siluet tinggi besar berpendar hijau keemasan. Puluhan sosok siluman ular penjaga berzirah emas dengan membawa tombak panjang berdiri siaga. Begitu Bagas menegakkan posisinya di tepi ranjang, sosok-sosok gaib itu seketika merundukkan kepala dan membungkuk penuh rasa hormat.

“Sugeng enjang, Pangeran Sendang Manten...” bisik suara-suara gaib di dalam kepala Bagas, bersahut-sahutan bagaikan desisan angin malam yang patuh.

Bagas tersenyum tipis, membelai dada kirinya tempat Rajah Pusaka Sisik Emas berada. "Kalian telah menjaga rumah ini dan Ibuku dengan sangat baik. Kembalilah bersiap di sudut bayangan."

Dengan sekali gestur halus dari jemari tangan Bagas, puluhan prajurit ghaib itu seketika memudar, menyatu kembali dengan bayangan dinding tanpa meninggalkan jejak. Bagas bangkit berdiri, mengenakan beskap mewahnya, lalu melangkah ke selasar luar. Ketika ia memandangi hamparan sawah dan kebun jatinya yang luas, penglihatannya memperlihatkan jutaan helai benang energi keemasan yang menyuburkan tanah miliknya. Di bawah tanah sawahnya, ribuan ular ghaib kecil merayap gembira menjaga akar-akar tanaman dari hama dan kejahatan.

**

Bulan demi bulan berganti begitu cepat, mengukuhkan takdir keagungan Bagas. Kekayaan dan kepemimpinan pemuda itu di dunia nyata kian melesat tanpa tanding. Hasil panen dari belasan hektar sawahnya melimpah hingga tiga kali lipat dibanding lahan warga biasa, memborong pasar-pasar besar di ibu kota kabupaten.

Bagas kini bukan sekadar orang kaya baru, melainkan tokoh paling terpandang, disegani, dan menjadi pengayom bagi ribuan warga di kawasan perbukitan Lemah Wungu. Kedermawanannya yang tanpa henti serta wibawa agung yang terpancar dari aura pangeran gaibnya membuat warga desa tak segan menyapa dan membungkuk hormat setiap kali dokar mewahnya melintas di jalanan desa.

Sebaliknya, kontras yang teramat kelam dan berbalik seratus delapan puluh derajat melanda kediaman Pak Kades.

Suasana di kediaman kepala desa yang dulu megah kini bagaikan rumah duka yang mencekam. Bau amis nanah, busuk daging lelah, dan aroma dupa murah menyengat di setiap sudut ruangan. Sudah hampir empat bulan lamanya sejak malam petaka itu, penyakit aneh yang menyerang Sekar tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, justru kian menggerogoti jiwanya.

Di dalam kamar utama, Pak Kades dan Ibu Kades duduk terkulai di kursi kayu. Wajah Pak Kades yang dulu garang dan berwibawa kini tampak kusam, tirus, dan dipenuhi garis-garis keriput penuaan akibat kelelahan batin yang teramat sangat. Ibu Kades tak berhenti meneteskan air mata seraya memegangi tasbih di tangannya.

Di atas tempat tidur, Sekar terbaring lemas bagaikan mayat hidup. Seluruh kulit mulusnya kini penuh dengan borok bernanah dan sisik-sisik tebal berwarna biru kehitaman yang mengeras. Suara rintihan samar terus keluar dari bibirnya yang pecah-pecah.

"Pak... bagaimana ini, Pak?" tangis Ibu Kades pecah terisak-isak, memegang lengan suaminya. "Dokter dari kota sudah kita datangkan, tabib ternama dari luar daerah sudah belasan orang dipanggil, bahkan orang pintar dan dukun-dukun sakti yang katanya serba bisa... semuanya menyerah! Tidak ada satu pun yang sanggup menyembuhkan Sekar!"

Pak Kades mengepalkan tangannya di atas meja hingga gemetar, matanya merah menahan amarah dan frustrasi yang tak tertahankan.

"Semuanya penipu! Dukun-dukun tak berguna itu cuma menguras uang perhiasan kita lalu lari ketakutan begitu melihat borok Sekar!" serapah Pak Kades dengan suara parau yang bergetar.

"Lalu kita harus bagaimana lagi, Pak?!" cecar Ibu Kades panik. "Anak tunggal kita ini bisa mati membusuk kalau dibiarkan! Harta kita sudah terkuras puluhan juta hanya untuk membayar obat dan bisikan pendoa, tapi hasilnya nihil! Apa Bapak mau melihat Sekar meninggal mengenaskan seperti ini?!"

Pak Kades mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ingatannya melayang kembali pada malam maut di pondok Mbah Suro di Desa Randu Kuning—melihat dukun sakti itu lumpuh membusuk dengan dada hancur digulung bisa gaib penguasa hutan. Kata-kata terakhir Mbah Suro terus bergema bagai teror abadi di telinganya: Kekuatan itu terlalu agung... Bukan untuk manusia...

"Ini bukan penyakit sembarangan, Bu..." bisik Pak Kades dengan suara tercekat di tenggorokan. "Ini adalah hukuman bisa dari penguasa gaib Hutan Keramat... Mbah Suro saja lumpuh membusuk gara-gara mencoba mengusik zona keramat itu."

"Gusti... Lalu tidak ada harapan sama sekali untuk anak kita?!" ratap Ibu Kades histeris.

Pak Kades mengepalkan dadanya yang sesak. Hatinya hancur melihat putri kesayangannya yang dulu berparas cantik bak bunga desa, kini tak ubahnya wujud monster bersisik yang mengerikan. Seluruh gengsi, martabat, dan keangkuhan sebagai Kepala Desa yang selama ini diagungkan runtuh tak berbekas, berganti dengan keputusasaan yang teramat dalam.

Tiba-tiba, bayangan tentang Bagas berkelebat di benak Pak Kades.

Pak Kades mengingat betul bagaimana ribuan ular dari Hutan Keramat waktu itu mengepung rumah joglo Bagas namun secara ajaib tunduk, merunduk, dan pergi hanya dengan satu lambaian tangan dari pemuda itu. Ia juga teringat bahwa rumah Bagas adalah satu-satunya tempat di desa ini yang memancarkan aura kedamaian dan kebal dari segala macam teror gaib.

"Ada satu jalan lagi, Bu..." tutur Pak Kades pelan, matanya menatap pintu kamar dengan binar kepasrahan yang pasrah.

Ibu Kades mengusap air matanya, menatap suaminya dengan penuh tanya. "Jalan apa, Pak? Siapa lagi yang bisa menolong kita?!"

"Bagas..." desis Pak Kades parau. "Anak Mbok Sumi itu... Bagas."

Ibu Kades tersentak kaku. "Den Bagas?! Tapi Pak... dulu kita kan sering meremehkan dia saat dia masih miskin? Sekar juga baru saja mengutuk dan mencoba mempelet dia! Apa Bagas mau membantu kita?!"

Pak Kades memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa malu yang membakar dadanya.

"Mau tidak mau, aku harus merendahkan diriku di hadapannya," aku Pak Kades dengan napas berat. "Bagas adalah satu-satunya orang di wilayah ini yang memiliki hubungan dan pengaruh kuat dengan kekuatan alam di perbukitan itu. Jika Bagas mau memaafkan Sekar dan memberikan ramuan atau doa penawar dari kebun keramatnya... mungkin... hanya mungkin Sekar bisa selamat dari maut."

Pak Kades berdiri dari kursinya, merapikan baju beskapnya yang agak lusuh. Pria berkuasa yang dulu ditakuti seluruh warga desa itu kini melangkah gontai menuju pintu keluar dengan kepala tertunduk lesu.

"Bapak mau ke mana sekarang, Pak?!" panggil suaminya dari dalam kamar.

"Aku mau pergi ke rumah joglo Bagas," jawab Pak Kades tanpa menoleh. "Aku akan berlutut dan memohon di hadapannya demi keselamatan nyawa anak kita."

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!