Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan Livia dan Ambisi Elena
Axel masih saja mengekor di belakang Livia. Sejak Kakek Dom mengutarakan keinginan untuk bertemu dengan keluarganya, Livia mendadak murung. Ada sesuatu yang berkecamuk di pikirannya, namun ia enggan bersuara. Baginya, tidak ada gunanya berbagi cerita dengan seorang mantan.
"Liv, kau terlihat sedang tidak baik-baik saja," tegur Axel.
Livia tetap bergeming dalam diamnya. Axel yang merasa khawatir pun terus bicara, "Dunia itu penuh tipu daya dan sulit ditebak, ya?"
Mendengar itu barulah Livia menoleh. Ia heran mengapa Axel tiba-tiba bicara soal filosofi dunia. "Iya, memang. Sama seperti kau dan juga kakekmu."
"Kau betul sekali, Liv. Aku pun tidak menyangka, di balik sikap baik Kakek dan perlakuannya yang pilih kasih terhadapmu dibanding aku cucu kandungnya, ternyata hanya untuk menutupi kebusukan. Sungguh tidak bisa ditebak. Aku yakin orang tuaku pun tidak tahu, karena mereka sering memprotes perlakuan spesial Kakek padamu."
"Sudahlah. Kau sudah janji, kan, akan menerima hukuman dariku dengan menjalani kehidupan dengan benar?" potong Livia dingin.
Axel mengangguk pasti. "Iya, Liv. Hanya saja aku ingin mengingatkanmu karena tak ada salahnya saling mengingatkan, bahwa apa yang terlihat baik di depan bisa jadi menyimpan kebusukan di belakang. Aku adalah contoh orang bodoh yang pernah tertipu. Kau pun tertipu oleh Kakek. Aku harap kau tidak bertemu lagi dengan penipu lain yang berkedok menspesialkan atau melindungi. Ada kalanya kita harus berdiri di kaki sendiri, meskipun kita lemah."
Ucapan Axel seolah menjadi peringatan keras bagi Livia terhadap sosok Morenzo. Axel khawatir pria berkuasa itu memiliki maksud terselubung di balik keputusannya menikahi Livia.
Livia terdiam. Tak bisa dipungkiri, kata-kata Axel menyulut keraguan yang lebih besar terhadap Morenzo. Setiap hari ia memang meragu, tapi kini rasa itu berlipat ganda. Keinginannya untuk pergi dari mansion mewah itu pun semakin memuncak.
Tapi apa daya? Melarikan diri dari jangkauan Morenzo terasa mustahil. Ia merindukan orang tuanya, yang selama ini hanya bisa ia hubungi lewat telepon. Livia merasa hidupnya tak lebih dari sekadar boneka pembalasan, entah untuk dendam apa.
Livia melangkah meninggalkan Axel tanpa kata-kata lagi. Energinya untuk berdebat telah habis tersedot oleh kenyataan pahit tentang Kakek Dom. Ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk di kursi belakang yang terasa dingin.
"Lajukan mobilnya ke alamat orang tuaku saja," ucap Livia lirih kepada sopir dan pengawal di depannya. Itu bukan seperti perintah, tapi permintaan kecil dari seorang anak yang rindu rumah. Awalnya Livia memang ingin pulang ke Mansion, tapi setelah mendengar perkataan Axel, rasanya ia enggan untuk kesana.
Tidak ada jawaban dan sang pengawal.
Mobil mulai bergerak, tapi setir tidak berputar ke arah pemukiman orang tuanya. Kendaraan besar itu justru meluncur tenang menyusuri aspal menuju jalur privat yang hanya berujung pada satu tempat, yaitu Mansion Morenzo.
Livia menatap punggung kaku pengawalnya dengan helaan nafas pasrah. Sebanyak apapun ia meminta arah tujuan yang diinginkan, saat ini hanya terdengar angin lalu
...***...
Elena kini berpijak di lantai pusat perbelanjaan mewah. Semenjak berhenti berhubungan dengan Axel, hidupnya telah berubah drastis. Ia tinggal di kontrakan sederhana yang jauh dari kemewahan dan hanya sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan.
Tanpa dukungan finansial dari Axel, Elena harus rajin bangun pagi. Bukan untuk pergi ke kantor, tapi untuk bersiap ke salon, mempercantik diri, lalu bergegas menuju mal demi sumber uang barunya. Elena sedang berjuang, sebuah usaha keras untuk bertahan hidup di tengah gemerlap dunia.
Targetnya kali ini adalah Theo, pria yang kini menjabat sebagai pemilik Killian Group yang baru. Awalnya Elena tidak tahu latar belakang Theo, namun seiring berjalannya hubungan mereka, Elena jadi tahu hal itu. Fakta tersebut membuat Elena makin gencar memberikan servis terbaik dalam segala hal.
Theo bukanlah pria paruh baya yang botak atau tambun. Ia memiliki tubuh atletis dan wajah yang cukup tampan untuk dipamerkan di pesta-pesta bergengsi. Alasan itulah yang membuat Elena begitu mudah berpaling dari Axel.
"Honey!" panggil Elena saat melihat Theo.
"El, maaf ya sudah membuatmu menunggu lama. Aku harus memastikan istriku pergi arisan terlebih dahulu," ujar Theo tanpa beban.
Ya, Elena sadar posisi dirinya hanya sebagai wanita simpanan. Namun itu bukan masalah baginya.
"Tak apa sayang, aku selalu setia menunggu. Menunggu di sini sampai kering pun aku sanggup asalkan bisa bertemu denganmu. Yang aku tidak sanggup justru menahan rindu padamu," balas Elena seraya mengecup pipi Theo.
Elena kini jauh lebih agresif dibanding saat bersama Axel. Ia paham betul karakter Theo, tipe pria yang haus belaian. Berbeda dengan Axel, di mana ia harus berakting menjadi teman yang penuh pengertian yang ujung-ujungnya hanya memberi rasa malu di acara ulang tahun Killian Group tempo hari. Baginya, rasa malu itu sementara, karena kini ia berhasil mendapatkan sang pemilik baru.
"Kamu mau beli apa, El? Uangku masih menumpuk banyak untukmu," tawar Theo jumawa.
Elena tersipu manja. "Theo sayang, jangan begitu dong. Aku bukan wanita materialistis yang hanya mau uangmu saja. Tapi... apakah boleh aku membeli tas limited edition terbaru? Hanya ada sepuluh orang di dunia yang memilikinya," ucapnya sambil menyengir kuda.
Theo tertawa lalu mencuil dagu Elena. "Boleh. Tokonya pun sanggup aku beli, asalkan..." Theo menatap tubuh Elena dari atas ke bawah dengan tatapan genit.
Elena mencubit manja lengan Theo. Ia paham apa yang diinginkan pria itu tanpa perlu diucapkan. Tanpa pikir panjang, Elena siap beraksi. Baginya, tubuhnya adalah aset untuk menghasilkan uang.
Di balik senyum manisnya, Elena telah menyusun rencana licik. Ia berniat menjebak Theo dengan menahan panggul Theo saat mencapai puncak permainan mereka agar peluang kehamilan lebih besar.
Elena bahkan berencana merekam kegiatan panas mereka secara diam-diam untuk nantinya dikirimkan kepada istri Theo sebagai senjata penghancur.
Sebelum memulai permainan panas mereka, kali ini Elena akan meminta Theo untuk tidak bermain dalam kegelapan. Ia ingin lampu tetap menyala agar rekaman rahasianya terlihat jelas.
Elena tersenyum sangat lebar memikirkannya.
Bersambung.
mau nunggu hasil nya aja experimen livia