NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijodohkan?

Galang baru saja tiba di rumah saat Rania dan Karina sedang bersiap-siap pergi. Di tangannya, ia menenteng helm full face.

"Tante mau ke mana?" tanyanya, alisnya terangkat curiga.

"Mau nongkrong, ada urusan. Kenapa? Nggak usah kepo deh. Tante tuh udah dewasa, tahu! Mau cari pacar juga bebas." balas Rania songong, menahan tawa.

"Dih." cibir Galang sambil memutar mata. "Tapi jangan pulang malam-malam. Soalnya nanti tengah malam kayaknya Mama sampai. Temenin Galang jemput di Bandara."

"Maksudnya?" Rania mengernyitkan dahi.

"Iya, Mama balik ke Indo. Tiba-tiba nge-chat minta dijemput di bandara nanti malam." Galang mengangkat bahu acuh tak acuh.

Klungting.

Baru saja Rania hendak menjawab, ponselnya bergetar. Pesan dari kakak laki-lakinya masuk.

Tristan: Ra, suruh Galang jemput Mas di bandara dua jam lagi.

Aryo: Mas sama Mbak otw Jakarta, Ra. Kamu mau dibawain apa?

Rania melotot membaca pesan-pesan itu. "Emang ada acara?" tanyanya bingung sambil melirik Galang.

"Kenapa emang?" Galang mencoba mengintip layar ponsel Rania dengan penasaran, begitu juga Karina.

"Loh, Pakde Aryo sama Om Tristan juga mau balik?" Galang terkejut. "Ada acara apa, sih?"

"Malah balik nanya. Tante ga tahu, Galang!" Dengus Rania, mulai panik.

"Jangan-jangan tante mau dijodohin, makanya semua balik?" tebak Galang sambil menutup mulut pura-pura syok.

Rania membelalak, "Jangan ngawur, ya kamu!" tegurnya galak.

"Eh, tapi bisa aja, kan? Mama pulang, Pakde sama Om juga. Aneh banget. Nggak ada angin, nggak ada hujan." gumam Galang mulai serius.

Rania hanya bisa mendesah. Kalau benar mau dijodohin, dia harus siap-siap cari alasan buat kabur.

"Kar, ayo bantuin gue packing." seru Rania sambil menarik tangan Karina buru-buru.

"Packing?" ulang Karina sambil mengerutkan dahi.

"Gue harus kabur. Nggak mau dijodohin. Takut!" kata Rania cepat, tanpa pikir panjang.

"Kan belum tentu, Tan?" Galang mengekori mereka sambil menahan tawa.

"Nggak." Rania menggeleng cepat. "Mereka pulang dadakan banget kayak tahu bulat digoreng mendadak. Nggak bilang apa-apa pula. Pasti mereka capek dengerin gue ngeluh pengin nikah terus, makanya mau jodohin gue. Untung otak kamu encer, Lang." gerutunya, mengomel pada pemikirannya sendiri.

"Bukannya bagus kalau dijodohin? Kan Tante sendiri yang ngebet nikah?" celetuk Galang, melirik iseng.

"Ngebet nikah juga bukan berarti harus dijodohin, Lang. Mana ada chemistry-nya? Ntar gimana kalau nggak ada chemistry pas malam pertama?" balas Rania dramatis.

Karina menggelengkan kepala malas. "Ra, lu tuh jauh banget mikirnya. Belum dijodohin aja udah ribut soal malam pertama."

"Eh, pokoknya gue nggak mau dijodohin! Help me, Kar!" seru Rania sambil mulai mengaduk-aduk lemari, melemparkan pakaian sembarangan ke atas ranjang.

"Ya ampun, Ra! Lu mau kabur beneran?" tanya Karina sambil mengumpulkan baju yang berserakan.

"Ini demi keselamatan hidup gue, Kar! Please, bantuin gue packing." pinta Rania setengah panik.

"Tan, nggak usah alay." ujar Galang sambil memutar bola matanya. "Kalaupun dijodohin, tinggal nolak, kan bisa. Kayak biasanya tante tantrum aja. Mereka mana bisa galak sama tante. Tante tantrum dikit aja, mereka pasti luluh." Galang mengucapkannya dengan nada yakin karena dia tahu betul betapa manjanya Rania sebagai si bungsu di keluarganya.

"Noh, bener tuh yang dibilang Galang." Karina mengangguk setuju.

Rania berhenti panik, menatap mereka dengan wajah penuh harapan. "Jadi nanti gue tantrum aja? Nolak gitu?"

Karina dan Galang serempak mengangguk.

"Kalau dipaksa?" tanya Rania dengan suara waswas.

"Nggak mungkin!" jawab Galang dan Karina kompak.

"Mas Aryo tuh tegas banget, tapi..." gumam Rania, ragu.

"Tapi Om Tristan kan selalu jadi garda depan Tante. Nanti pasti belain Tante. Mamaku juga. Tiga lawan satu pasti kalah Pakde Aryo." ucap Galang, serius tapi dengan senyum menghibur.

Rania menghela napas, sedikit lega. "Iya juga sih. Oke, kalau mereka beneran mau ngejodohin gue, gue bakal tantrum!"

Karina mengangguk penuh semangat. "Gitu dong! Udah, sekarang kita cari makan dulu. Biar otak lu encer buat ngadepin keluarga lu."

Rania tersenyum kecil. "Oke, oke. Makan dulu. Kamu mau ikut nggak? "

"Ikutlah" kata Galang cepat, langsung mengikuti Rania dan Karina keluar rumah.

...****************...

"Daddy mau ke mana?" tanya Zidan saat melihat Arkan terburu-buru menuju pintu. Dia baru saja tiba di rumah, masih berkeringat setelah bermain basket.

"Daddy ada urusan sebentar. Kenzie belum makan, kalian makan bareng nanti, ya." jawab Arkan sambil merapikan kerah jasnya. Wajahnya tampak serius dan terburu-buru.

Zidan hanya mengangguk. Sudah biasa baginya melihat Arkan sibuk dengan urusannya. Tanpa banyak pikir, dia masuk ke dalam rumah dan menemukan Kenzie sedang menonton televisi sendirian di ruang keluarga.

"Cil...." panggil Zidan sambil mendekati adiknya. Kenzie menoleh dan tersenyum tipis.

"Daddy pergi. Katanya ada urusan." ucap Kenzie polos.

"Oh, oke. Kamu udah makan?" tanya Zidan sambil duduk di sebelah adiknya.

"Belum. Mbok baru nyiapin makannya. Abang mandi dulu sana." sahut Kenzie dengan nada memerintah.

Bukannya pergi mandi, Zidan malah menjatuhkan diri ke karpet besar dan rebahan santai. "Tenang banget, nggak ada Oma Rosa."

"Beneran Oma Rosa nggak tinggal sama kita?" tanya Kenzie memastikan dengan wajah polosnya.

"Iya. Sama si Wati itu juga udah masuk penjara." jawab Zidan dengan nada puas.

"Mbak Wati nggak jadi sus Kenzie lagi?" Kenzie tampak bingung. Wajar saja, dia masih terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya apa yang terjadi di antara orang dewasa.

"Nggak. Penjahat kayak dia tempatnya bukan di sini tapi di penjara. Nanti Daddy pasti cariin sus baru yang lebih baik dari Mbak Wati itu." balas Zidan dengan nada yakin.

Kenzie terdiam sejenak, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Lalu, tiba-tiba dia berseru, "Kalau Tante Rania aja gimana? Tante Rania kan nggak kerja. Banyak waktunya."

Zidan langsung menoleh menatap adiknya, mencoba menahan tawa. "Cil, yang bener aja. Memang dia nggak kerja kantoran, tapi dia punya usaha sendiri. Mana mau dia jadi pengasuh, kecuali..." Zidan menggantungkan kalimatnya, sengaja membuat Kenzie penasaran.

"Kecuali apa bang?" tanya Kenzie cepat dengan mata berbinar.

Zidan tersenyum iseng. "Kecuali Daddy jadikan Tante Rania mommy kita."

Kenzie terdiam, mencerna ucapan kakaknya. Matanya membulat, lalu dengan polosnya dia bertanya, "Emang bisa gitu, Bang?"

"Bisa aja kalau Daddy mau usaha. Tinggal dikejar, dirayu, terus dilamar. Selesai, deh." jawab Zidan dengan nada santai seolah masalah mencari ibu baru semudah menembak bola ke dalam ring.

"Kalau gitu, Kenzie mau bilang sama Daddy." gumam Kenzie penuh semangat.

Zidan mendengus geli. "Tapi, Cil, Tante Rania kan belum tentu mau sama Daddy."

"Tapi Tante Rania baik. Dia pasti mau asal Daddy minta baik-baik." balas Kenzie dengan yakin.

Zidan menghela napas. "Kalau segampang itu, semua orang bisa nikah sama siapa aja. Masalahnya, Daddy itu nggak paham cara bikin cewek suka."

Kenzie mengernyit bingung. "Maksudnya, Bang?"

"Maksudnya, Daddy itu... kaku banget. Harusnya dia belajar buat lebih perhatian sama cewek."

Kenzie terdiam sesaat, lalu mendadak tersenyum lebar. "Kenzie tahu! Kalau gitu, Kenzie bantuin Daddy biar Tante Rania suka."

"Hah? Bantuin gimana?" Zidan menatap adiknya dengan dahi berkerut.

"Ya... Kenzie yang bilang ke Tante Rania kalau Daddy itu baik. Terus Kenzie ajak Tante Rania main terus biar deket sama Daddy." ucap Kenzie dengan penuh keyakinan.

Zidan menghela napas panjang. "Terserah, deh. Kalau nanti nggak berhasil, jangan kecewa, ya."

"Nggak apa-apa! Kenzie mau coba dulu." sahut Kenzie dengan senyum lebarnya.

Zidan hanya bisa menggelengkan kepala melihat semangat adiknya itu.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!