Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Suara mesin electrocardiogram yang berdetak pelan mengisi keheningan malam di ruang rawat VIP Rumah Sakit umum Daerah Di sudut ruangan, sebuah lampu tidur berpendar lembut, memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi sebagian kecil ruangan rawat inap RSUD tersebut.
Anisa duduk tegak di kursi plastik di samping tempat tidur. Matanya tampak lelah, namun ia sama sekali tidak berniat memejamkan mata. Di dalam gendongan kainnya, bayi mungil mereka anak pertama yang baru saja lahir ke dunia di tengah badai cobaan bergerak pelan, mengeluarkan suara kecil yang membuat hati Anisa bergetar dan sedih yang tiada kira.
"Tidur ya, sayang... Ayah sedang berjuang untuk sembuh," bisik Anisa lembut sambil mengecup kening bayi merah yang beberapa hari lalu ia lahirkan
Pintu kamar mendadak berderit pelan. Seorang perawat masuk dengan membawa nampan berisi selang infus tambahan untuk menggantikan infus Burhan yang sedikit lagi habis.
"Ibu Anisa, belum tidur?" tanya perawat itu dengan suara setengah berbisik agar tidak mengganggu pasien
"Belum, suster. Saya masih menunggu detak jantung suami saya stabil," jawab Anisa lirih seraya tersenyum tipis.
Perawat itu mendekat, memeriksa monitor infus, lalu menatap Anisa dengan tatapan penuh simpati. "Ibu harus jaga kesehatan juga. Kalau Ibu ikut sakit, siapa yang akan mengurus bayi ini dan mendampingi Pak Burhan?"
"Saya kuat, Sus. Sungguh," ucap Anisa meyakinkan.
"Baiklah. Kalau butuh apa-apa, tekan tombol darurat ya, Bu. Permisi," ujar perawat itu sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Anisa kembali fokus pada suami tercintanya. Burhan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah pria itu tampak pucat, dengan beberapa lilitan perban di bagian kepala dan tangan akibat kecelakaan tragis yang menimpa Burhan. Beban hidup yang menumpuk, mulai dari masalah merawat Burhan dan Anak yang ia lahirkan serta Ekonomi yang akan datang harus dipikirkan dengan matang- matang oleh Anisa
Anisa meraba tangan Burhan yang bebas dari jarum infus. Kulit itu terasa dingin. Ia menggenggamnya erat-erat, menyalurkan kehangatan semampu yang ia bisa.
"Mas... semoga cepat sembuh" rintih Anisa pelan, air mata bening akhirnya lolos menetes membasahi pipinya. "Anak kita sudah memberi semangat untuk kesembuhan Ayah nya" ucap Anisa pelan. Dia sangat tampan, mirip sekali denganmu. Jangan biarkan kami berjuang berdua saja , harus berjuang kita bertiga " ucap Anisah dengan nada pelan dekat telinga burhan
Anisa menghela napas panjang, mencoba menepis segala ketakutan dan pikiran buruk yang berkecamuk di kepalanya. Malam terasa begitu panjang dan dingin, namun tekad Anisa untuk tetap setia di sisi suaminya tidak pernah goyah sedikit pun.
Cahaya matahari pagi mulai merangsek masuk melalui celah-celah tirai jendela rumah sakit, membawa kehangatan yang perlahan mengusir hawa dingin malam. Burhan menggerak-gerakkan matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, dan tenggorokannya begitu kering.
Begitu Burhan bangun dari tempat tidur seutuhnya, pandangan Burhan menyapu seisi ruangan putih itu. Matanya kemudian menangkap sesosok wanita yang duduk terkulai di kursi di sebelah pembaringannya.
Itu Anisa.
Istrinya tampak tertidur dalam posisi duduk yang tidak nyaman. Kepala Anisa terkulai ke samping, bersandar pada tepi ranjang rumah sakit. Wajah wanita itu tampak begitu lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya yang membuktikan bahwa ia tidak tidur semalaman. Di dalam gendongannya, sang bayi tertidur pulas dengan dada yang naik-turun secara teratur.
Hati Burhan mendadak dihantam rasa sedih dan bersalah yang teramat sangat. Pemandangan itu membuat dadanya sesak.
Ya Allah... wanita sebaik ini aku sia-siakan dulu, batin Burhan merutuki kebodohannya di masa lalu.
Ia teringat bagaimana dulu ia hampir terpikat oleh kilau harta duniawi dan wanita lain, hampir mengabaikan kesetiaan Anisa yang senantiasa menemaninya dari nol. Dan kini, di saat dirinya jatuh tertimpa musibah besar yang menimpa keluarganya Anisa-lah satu-satunya benteng pertahanan yang tetap berdiri kokoh di sisinya, tanpa menuntut apa pun selain kesembuhannya.
Burhan mencoba menggerakkan tangannya yang terasa kaku untuk menyentuh rambut Anisa, namun gerakan kecil itu justru menimbulkan gesekan pada selimut.
Anisa yang memiliki tingkat siaga tinggi langsung terbangun seketika. Matanya terbuka lebar, dan dalam hitungan detik kepalanya terangkat tegak.
"Mas? Mas Burhan sudah bangun?" ucap Anisa panik bercampur lega, suaranya terdengar serak.
Burhan menatap tajam mata istrinya, sementara air mata hangat perlahan menetes dari sudut matanya membasahi bantal.
"Anisa... kamu..." suara Burhan tercekat di tenggorokan, begitu parau dan lemah. "Kamu tidak tidur di sofa... Kamu duduk di kursi itu semalaman?"
Anisa menggeleng pelan, lalu tersenyum teduh di tengah lelahnya. Ia merapikan selimut Burhan dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap mendekap sang bayi dengan erat.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Yang penting Mas sudah sadar," kata Anisa lembut. "Kenapa menangis, Mas? Ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?"
Burhan menggeleng pelan, lalu dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraih tangan Anisa dan menggenggamnya erat-erat di atas dadanya.
"Maafkan aku, Anisa..." bisik Burhan terbata-bata, isak tangisnya tak lagi bisa ia bendung. "Maafkan semua kesalahan dan kebodohanku di masa lalu. Aku hampir kehilanganmu... aku hampir kehilangan segalanya."
Anisa tertegun sejenak, lalu ia ikut menitikkan air mata. Ia tahu persis beban psikologis apa yang sedang dipikul suaminya saat ini.
"Jangan bicara seperti itu, Mas," balas Anisa dengan nada penuh ketulusan, mengusap punggung tangan Burhan dengan ibu jarinya. "Kita sudah melewati banyak hal bersama. Masa lalu biarlah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu dan masa depan anak kita."
Burhan menatap wajah bayi mereka yang tertidur lelap, lalu kembali menatap manik mata istrinya yang penuh dengan keikhlasan tanpa batas.
"Terima kasih, Anisa... Terima kasih karena kamu tidak pernah melepaskan tanganku, bahkan saat dunia meninggalkanku," ucap Burhan penuh penyesalan sekaligus rasa syukur yang teramat dalam.
Anisa membalas genggaman tangan itu dengan senyuman terhangat yang ia miliki. Di ruangan rawat inap yang sederhana itu, fajar baru tidak hanya menyinari hari yang baru, tetapi juga menyatukan kembali hati mereka dalam ikatan cinta yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.