NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 sisi lain sang naga

Di tempat latihan yang luas di halaman belakang kediaman Vanguard, denting pedang bergema tanpa henti di bawah terik matahari. Altres berdiri di tengah lingkaran para kesatria dengan kemeja latihan yang sedikit basah oleh keringat, pedang kayu di tangannya bergerak ringan seolah tak memiliki bobot. Ia adalah kesatria yang kuat sekaligus seorang sword master, dan setiap ayunannya membuktikan hal itu dengan sangat jelas. Seorang kesatria menerjang dari kiri, tetapi Altres hanya memutar pergelangan tangan dan menangkis serangan itu, lalu menyapu kaki lawannya hingga jatuh terguling di tanah. Dua kesatria lain maju bersamaan, dan hasilnya tidak berbeda. Satu per satu mereka tersungkur dengan napas terengah dan pedang kayu yang terlepas dari genggaman, sementara debu tipis beterbangan di sekeliling kaki mereka, dan Altres masih berdiri tegak dengan wajah datar, seakan tidak ada seorang pun di tempat itu yang sepadan dengan dirinya.

Tak lama kemudian seorang pria berpakaian rapi menghampirinya dengan langkah tenang. Reynan, ajudan setia Altres, membungkuk sedikit sambil menyodorkan handuk bersih. "Tuan, sebaiknya Anda beristirahat dulu. Anda sudah berlatih sejak pagi, dan sebentar lagi makan siang Anda akan siap." Altres menerima handuk itu dan mengusap leher serta keningnya, lalu menoleh pada para kesatria yang masih terbaring atau berlutut kelelahan. "Cukup untuk hari ini," ucapnya singkat dengan suara berat. "Beristirahatlah, dan minum air yang banyak." Terdengar embusan napas lega bersahutan di seluruh lapangan, dan beberapa kesatria bahkan langsung merebahkan diri di atas rumput sambil terkekeh lemas. Altres duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang sambil meregangkan bahunya yang pegal, menyandarkan pedang di sisinya, dan bertanya tanpa menoleh, "Bagaimana wilayah perbatasan? Apakah para monster kembali menyerang?"

"Semuanya masih terkendali, Tuan," jawab Reynan sambil berdiri tegap di sampingnya. "Kemampuan para kesatria di sana cukup untuk mengatasi mereka." Namun ia terdiam sejenak, dan kerutan tipis muncul di dahinya. "Tapi saya lebih mengkhawatirkan pandangan orang-orang, terutama setelah mereka tahu siapa istri Anda. Duchess Vanguard adalah seekor naga, dan rakyat Brune pasti sangat resah dengan kenyataan itu."

Altres menyandarkan punggung ke batang pohon, dan sudut bibirnya hanya bergerak sedikit, sama sekali tanpa kekhawatiran. "Biarkan mereka bicara sesuka hati. Selama mereka hanya bicara, aku tidak akan menghentikan mereka. Mulut orang tidak akan membuat Brune runtuh." Sorot mata birunya mendadak mengeras, dan nada suaranya merendah menjadi lebih dingin. "Tapi kalau ada yang bersekongkol untuk menghancurkan perdamaian antara ras naga dan manusia, aku sendiri yang akan turun tangan. Siapa pun yang berdiri di balik perlawanan itu." Reynan menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa tuannya tidak sedang bercanda. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan terus mengawasi perkembangannya dan segera melapor jika ada tanda-tanda yang mencurigakan." Altres hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Angin siang berembus pelan menggoyang dedaunan, dan untuk sesaat suasana terasa tenang. Belum sempat percakapan itu berlanjut, seorang pelayan berlari kecil menghampiri dengan wajah panik dan napas tersengal. Ia membungkuk berkali-kali sebelum berani bicara, dan suaranya bergetar saat akhirnya terdengar. "Maaf, Tuan. Makan siang Anda akan sedikit terlambat. Para koki sibuk sejak pagi membuatkan makanan untuk Duchess." Alis Altres bertaut, dan ia mendengus pendek. Pasti istrinya itu banyak maunya sampai membuat seisi dapur kewalahan. "Dia minta apa saja sampai dapur kewalahan?" Pelayan itu menggeleng cepat sambil meremas ujung bajunya. "Bukan begitu, Tuan. Duchess sudah menghabiskan persediaan makanan untuk satu minggu."

Untuk beberapa saat Altres hanya menatap pelayan itu tanpa berkedip, tidak yakin apakah ia salah dengar. "Persediaan satu minggu," ulangnya pelan, nyaris seperti bisikan. "Hanya dalam satu pagi?" Pelayan itu mengangguk dengan wajah pucat, seakan dirinya sendiri masih belum percaya pada apa yang ia saksikan di dapur tadi. Altres bangkit dari bangku dengan rahang mengeras, mengambil jubahnya tanpa berkata apa-apa lagi, dan melangkah cepat menuju bagian dalam kediaman dengan Reynan yang mengikuti di belakangnya. Langkah sepatunya menggema di lorong, dan semakin dekat ke kamar Veronica, semakin banyak pelayan yang ia lihat berlalu-lalang membawa nampan dan piring kosong. Wajah mereka letih, dan sebagian bahkan berlari kecil dengan peluh menetes di pelipis. Dari kejauhan terdengar suara panci beradu dan teriakan kepala koki yang meminta tambahan bahan, membuat Altres semakin tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di rumahnya sendiri.

Altres berhenti di ambang pintu kamar yang terbuka lebar, dan pemandangan di dalam membuatnya terpaku, sebelah tangannya masih menggantung di gagang pintu. Meja panjang itu penuh dengan piring-piring yang ditumpuk tinggi, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih mengepulkan uap. Di tengah kekacauan itu Veronica duduk dengan rambut merah yang sedikit berantakan, menyuap potongan daging demi potongan daging tanpa jeda, pipinya menggembung seperti tupai yang menimbun makanan. Altres menghembuskan napas panjang sambil memejamkan mata sesaat, dan bahunya sedikit turun, seperti seseorang yang tidak mengerti bagaimana harus menanggapi apa yang ia lihat. Sementara itu Veronica tidak menyadari kehadirannya sama sekali, bahkan tidak mengangkat kepala saat Reynan di belakang Altres terbatuk pelan menahan kekagetan, terlalu sibuk menikmati hidangan yang menurutnya luar biasa enak.

"Apa kau sudah lama tidak makan?" tanya Altres akhirnya sambil menyilangkan lengan di dada. "Sampai harus menghabiskan sebanyak ini?" Veronica menoleh dengan mulut penuh dan sebelah pipi menggembung, mengunyah cepat, lalu menelan sebelum menjawab dengan nada seolah pertanyaan itu sangat bodoh. "Aku ini naga. Ukuran tubuhku yang sebenarnya lebih dari setengah rumah besarmu ini. Tentu saja aku perlu makan banyak, dengan tubuh sebesar itu." Ia kembali meraih sepotong daging dan menggigitnya tanpa menunggu tanggapan, minyak sedikit menetes di sudut bibirnya yang ia usap dengan punggung tangan, seakan percakapan itu tidak penting sama sekali.

Altres akhirnya menarik kursi di seberang meja dan duduk dengan gerakan berat, memandangi tumpukan piring dengan mata menyipit. Ia sama sekali tidak terkejut lagi, hanya pasrah, dan salah satu alisnya berkedut ketika sebuah piring kosong kembali ditumpuk di sisi meja. "Sepertinya aku akan jatuh miskin," gumamnya datar sambil memijat pangkal hidung. "Makanmu cukup untuk menghidupi satu kota." Veronica mengangkat bahu tanpa menghentikan kunyahannya, dan matanya berbinar saat menjawab dengan nada polos yang sama sekali tidak dibuat-buat. "Aku tidak peduli. Aku suka sekali makanan di sini. Rasanya aneh tapi enak, dan aku mau lagi." Ia bahkan menyodorkan garpu yang kosong ke arah pelayan di dekat pintu, memberi isyarat agar piring berikutnya segera datang. Reynan yang berdiri di dekat pintu tampak menahan senyum, tetapi segera memasang wajah serius ketika tuannya melirik tajam. Altres memijat keningnya lebih keras, bertanya-tanya dalam hati apakah wanita itu akan makan sebanyak ini setiap hari, dan seberapa lama kas keluarga Vanguard sanggup bertahan.

Namun di sela rasa jengkel itu, ada sesuatu yang membuatnya mengernyit. Makhluk di hadapannya sama sekali tidak terlihat seperti naga yang selama ini ia buru dan ia bunuh. Tidak ada kobaran amarah, tidak ada tatapan haus darah. Yang ia lihat justru seseorang yang menikmati makanan dengan wajah berseri dan mata berbinar polos, seperti anak kecil yang bahagia karena diberi hadiah. Tanpa sadar tatapannya bertahan lebih lama dari seharusnya, dan ia sendiri tidak mengerti mengapa pemandangan itu terasa begitu janggal, dan Veronica yang merasa diawasi berhenti mengunyah. Ia menatap Altres dengan alis terangkat dan pipi yang masih menggembung. "Ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

Altres tersentak kecil, seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak semestinya, dan langsung memalingkan wajah ke arah jendela, berdeham untuk menyembunyikan kecanggungannya. "Tidak ada apa-apa." Ia bangkit dari kursi dan merapikan jubahnya dengan gerakan cepat. "Aku akan keluar sebentar untuk melihat kota. Sekalian makan di luar, karena sepertinya para pelayan tidak akan sempat menyiapkan makananku." Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban, jubahnya berkibar di belakang punggungnya, sementara Veronica hanya mengangkat bahu dan kembali menyuap makanannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!