NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Keesokan harinya, Kamis sore, Dimas masuk ke ruang Adrian dengan wajah yang sudah dipersiapkan untuk ditolak. Ia membawa catatan singkat dan satu lembar cetakan dari grup karyawan yang tidak seharusnya sampai ke meja direktur, tetapi tetap sampai karena orang yang meneruskannya takut lebih besar daripada orang yang menulisnya.

Adrian menutup laptop. “Langsung.”

“Saya punya usulan,” kata Dimas setelah pintu tertutup. Ia tidak duduk. “Rumor penyusup sedang digeser menjadi ‘ada orang dalam yang tidak jelas’. Pagi ini versinya sudah berubah dua kali. Yang pertama, tamu tanpa undangan. Yang kedua, perempuan di lantai dua puluh delapan yang badge-nya bukan badge karyawan. Kalau kita biarkan, Aruna akan terus menekan. Helena kemarin sudah bilang penahanan bukan selesai. Satu cara untuk menutupnya relatif cepat adalah narasi bahwa perempuan yang masuk itu bukan penyusup, melainkan orang yang dekat dengan Anda.”

Adrian menatapnya dari balik meja. “Pacar?”

“Sandiwara. Sementara. Cukup untuk membuat rumor spionase terlihat berlebihan.” Dimas meletakkan cetakan itu, teksnya sengaja ia lipat agar nama-nama pengirim tidak menjadi urusan baru. “Foto di lobi, kehadiran di satu dua acara, jawaban standar kalau ditanya. Tidak perlu cerita masa kecil. Tidak perlu makan malam yang diumumkan. Lalu reda setelah closing atau setelah isu reda. Seperti membayar parkir supaya mobil tidak diderek, bukan seperti membeli mobil.”

Adrian memandang cetakan yang belum sepenuhnya terbuka. “Siapa yang meneruskan ini ke meja Anda?”

“Bukan saya sebut namanya di sini,” jawab Dimas. “Orang itu bukan sumber fakta. Orang itu hanya takut grupnya dibaca orang luar. Isinya tetap gosip. Tidak ada jam masuk. Tidak ada nomor badge. Tidak ada bukti Alina membuka data room hari ini. Data room memang tidak dibuka. Yang mereka lihat cuma perempuan yang makan sendirian di kantin lantai dua puluh enam dengan badge yang tulisannya terlalu kecil.”

“Alina tidak akan setuju.”

“Saya tahu. Tapi saya tetap harus mengusulkan sebelum Gita atau Vanya yang membentuk narasinya sendiri. Kalau media lebih dulu menulis ‘penyusup di data room Mahendra’, kita kehilangan kendali. Vanya sudah menawarkan bantuan menenangkan pasar. Bantuan itu tidak gratis. Gita sudah sekali hampir punya sudut. Kali ini dia tidak perlu sudut dari dalam. Cukup grup yang bocor ke orang yang tepat.”

Adrian diam beberapa detik. Formulir badge masih ada di map yang sama sejak kemarin. Ia tidak membukanya. “Yusuf sudah memperingatkan soal pasar.”

“Sebab itu saya bawa ke Anda dulu, bukan ke Alina, dan bukan ke wartawan. Kalau Anda bilang tidak, usulan ini mati di ruangan. Kalau Anda bilang dengarkan dulu, kita panggil dia dengan saksi. Saya tidak mau jadi orang yang mengatur hidup orang lain lewat grup karyawan.”

Adrian menekan nomor Yusuf sebelum menjawab Dimas. Panggilan itu singkat. Ia tidak menyebut kata pacar. Ia hanya bertanya apakah klarifikasi resmi kepada satu wartawan, tanpa nama konsultan, cukup untuk menahan tulisan.

“Cukup untuk menahan sehari, kalau wartawannya memang belum punya bukti,” jawab Yusuf. “Tidak cukup untuk menahan pasar kalau yang beredar adalah cerita orang di dalam gedung. Dan jangan Anda isi kekosongan itu dengan status pribadi yang belum pernah ada. Kalau nanti ada, harus dipisahkan dari transaksi. Hari ini status itu tidak ada. Saya tidak akan membuatkan kalimat untuk sesuatu yang belum disetujui orangnya.”

Adrian menutup telepon. Ia menatap pintu. “Panggil dia.”

Alina tidak ada di ruangan itu. Ia masih di ruang baca lantai tiga puluh, mencocokkan keterangan “dalam peninjauan internal” dengan salinan yang Dimas kunci semalam. Pekerjaan itu hampir selesai ketika Sari masuk dan meminta layar dimatikan.

“Mbak menunggu di ruang sebelah lima belas menit,” kata Sari. “Pak Adrian turun. Folder ditutup. Saya yang pegang kuncinya.”

“Agendanya?”

“Saya tidak diberi tahu. Badge tetap dipakai.”

Alina melepas tangan dari mouse. “Kalau ini soal batas akses, bacakan di sini. Jangan saya panggil seperti orang yang sudah melanggar.”

“Bukan pelanggaran,” kata Sari. “Saya hanya diminta mengantar.”

Ia menunggu di ruang kecil di samping, tanpa jendela, dengan salinan aturan akses di pangkuan. Dari celah pintu ia mendengar lift, lalu langkah dua orang. Adrian dan Dimas masuk ke ruang baca lebih dulu. Monitor tetap mati. Kerai diturunkan. Dimas membuka buku catatan pada halaman kosong. Baru setelah itu Sari mengetuk dan membawa Alina masuk.

Alina melihat cetakan yang terlipat, melihat wajah Dimas, dan tidak duduk.

“Ada usulan,” kata Adrian. Kalimatnya pendek, tanpa embel-embel. “Dimas mengusulkan sandiwara pasangan untuk meredam rumor penyusup yang sudah sampai ke Aruna. Saya tidak menyukai ide ini. Tapi saya juga tidak menyukai deal yang goyang karena rumor yang salah arah.”

Alina tertawa sekali, pendek, tanpa humor. “Tidak.”

“Dengarkan dulu.”

“Saya sudah mendengar.” Ia tetap berdiri. “Saya menolak. Saya masuk ke sini sebagai konsultan dengan kontrak yang jelas, bukan sebagai properti yang bisa dipasang di samping Anda untuk menenangkan investor. Kalau rumor perlu ditutup, tutup dengan data dan klarifikasi resmi. Bukan dengan saya berpura-pura memegang tangan Anda di depan kamera.”

Dimas mengangkat telunjuk, lalu menurunkannya karena bukan gilirannya untuk membujuk. “Klarifikasi resmi yang berbunyi apa, Mbak? ‘Bukan penyusup’ tanpa menjelaskan siapa, hanya mengundang pertanyaan kedua. Helena tidak akan berhenti di pertanyaan pertama.”

“Itu soal Anda menyusun kalimat,” kata Alina. “Bukan soal saya meminjamkan wajah. Perjanjian yang saya tandatangani Senin tidak memuat peran serta. Yusuf yang mengatakan saya bukan pihak dalam transaksi. Jangan buat saya menjadi pihak dalam gosip.”

Ia menunjuk cetakan yang terlipat. “Buka. Saya ingin tahu kalimat yang membuat Anda merasa saya harus dipasangkan.”

Dimas membuka lipatan itu seperlunya. Tidak ada nama belakang. Tidak ada foto. Hanya dua baris yang sudah ia sebut: tamu tanpa undangan, dan perempuan berbadge yang bukan karyawan. Alina membaca tanpa mengambil kertas dari tangan Dimas.

“Di situ tidak tertulis bahwa saya milik siapa pun,” katanya. “Yang tertulis hanya bahwa orang tidak sabar. Ketidaksabaran bukan kontrak baru. Kalau komunikasi internal tidak mampu mengatakan ‘konsultan dengan akses terbatas’, itu kelemahan kalimat Anda, bukan kekosongan di samping direktur.”

Adrian meletakkan pena yang tidak ia pakai. “Saya tidak akan menyuruh Anda. Saya juga tidak akan berpura-pura opsi ini tidak pernah diucapkan. Sekarang Anda sudah mendengar. Jawabannya saya catat sebagai tidak.”

Adrian tidak memotong. Ia membiarkan kalimat itu selesai. Ketika ruangan kembali sunyi, ia mengangguk. “Baik. Usulan ditolak untuk saat ini. Kita cari cara lain.”

“Untuk saat ini,” ulang Alina. “Saya dengar batasnya. Kalau besok kalimat yang sama kembali tanpa fakta baru, jawaban saya tidak akan menjadi lebih panjang.”

“Tidak hari ini.”

Dimas menghela napas pelan dan melipat cetakan itu menjadi dua, lalu empat, sampai tidak bisa dibaca dari jauh. “Saya catat: ditolak. Bukan ditunda diam-diam. Kalau ada yang menanyakan di dalam tim, jawabannya belum ada narasi pribadi.”

“Begitu,” kata Adrian.

Alina mengeluarkan salinan aturan akses dari mapnya, bukan untuk diubah, hanya untuk diletakkan di atas meja sejenak. “Badge ini mengatakan konsultan eksternal. Biarkan badge itu yang berbicara kalau ada yang bertanya di koridor. Saya tidak menambah kalimat.”

Ia mengambil kertas itu kembali. Tidak ada yang meminta maaf. Tidak ada yang mencoba meraih siku siapa pun untuk mencoba apakah sentuhan kecil bisa terasa wajar. Alina keluar lebih dulu tanpa menunggu diantar. Sari, yang berdiri di luar, hanya bergeser agar pintu tidak menabrak.

Di koridor Alina merasa lega karena menolak. Lega itu tidak lama. Di dekat lift ia mendengar dua karyawan menurunkan suara ketika melihat badge-nya. Salah satu sempat tersenyum seperti orang yang sudah punya judul, lalu mengurungkan senyum itu ketika Alina menatap balik. Penolakan di ruangan tidak menutup mulut di luar ruangan. Usulan itu bisa kembali dalam bentuk yang lebih mendesak ketika tekanan dari luar meningkat. Hari ini ia masih bisa bilang tidak. Ia tidak berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak itu akan selalu cukup.

Lift turun. Ia melepas badge sebelum lobi utama dan menyimpannya di dompet. Di luar, ia tidak mencari taksi dulu. Ia berdiri di bawah kanopi sampai napasnya biasa lagi, lalu baru mengangkat tangan. Tidak ada pesan yang ia kirim ke Adrian. Tidak ada juga yang ia kirim ke Mei. Penolakan ini masih milik ruangan tadi, dan ia tidak mau mengubahnya menjadi cerita sebelum ada orang yang memaksa cerita itu hidup.

Di dalam ruangan Adrian menatap Dimas.

“Siapkan opsi cadangan,” katanya. “Kalau Gita bergerak lebih cepat dari yang kita kira, kita mungkin tidak punya banyak pilihan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!