“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Pertanyaan di Kepala Sang CEO
Malam di unit apartemenku Kuningan selalu menghadirkan keheningan yang pekat. Duduk sendiri di hadapan meja kerja dengan pencahayaan lampu meja yang temaram, aku menatap layar laptop yang menampilkan draf laporan akhir proyek K-Sambal Fusion. Di luar sana, rintik hujan masih berkejaran menghantam kaca jendela, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyianku.
Sering kali, di tengah malam yang sunyi ini, pikiran dan batinku melayang jauh menerawang ke masa lalu hingga realitas hidup yang sedang kujalani.
Entah sudah berapa kali aku mengumpulkan harapan yang hancur, lalu menyusunnya kembali dengan tangan yang gemetar.
Kalimat itu berkelebat di dalam benakku, membuat dadaku terasa sesak. Di kehidupan yang sekali ini, ternyata aku lebih sering belajar menerima kekalahan daripada merayakan kemenangan. Dari kisah masa laluku bersama Juan yang penuh pengkhianatan, hingga benturan prinsip yang kuambil saat menghadapi ego besar Dimas di Seoul. Rasanya hidupku dipenuhi oleh lembar-lembar ujian yang menguji seberapa kuat aku bertahan tanpa harus kehilangan jati diri.
Aku menghela napas panjang, merapatkan kardigan rajut di tubuhku. Aku memilih menjaga harga diriku mati-matian, bukan karena aku merasa menjadi perempuan yang paling sempurna atau tanpa cela. Tetapi karena aku tahu dengan pasti kehormatan seorang perempuan terlalu berharga untuk ditukar dengan perhatian yang sementara, atau rasa aman semu yang dibeli dengan menggadaikan prinsip.
Jika memang Allah sudah menuliskan namaku di hati seseorang, pria itu pasti akan datang dengan cara yang baik, cara yang memuliakan, bukan cara yang memaksakan kehendak.
Namun, jika takdir berkata lain, semoga Allah senantiasa menjaga hatiku agar tetap ikhlas. Semoga Ia membiarkanku tetap percaya bahwa rencana-Nya selalu jauh lebih indah dari apa pun yang kuinginkan dalam doa-doamu yang sunyi.
*
*
Di tempat yang berbeda, di dalam ruang kerja pribadinya di lantai paling atas gedung Arjowibowo Group yang bermandikan cahaya lampu kota Jakarta, Dimas berdiri mematung di depan dinding kaca besar. Pria itu baru saja melonggarkan ikatan leher jasnya, melemparkan pena ke atas meja kerja yang dipenuhi berkas-berkas evaluasi perusahaan.
Luapan emosi di dalam dadanya sejak kejadian di Seoul hingga hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari apa yang dirasakan oleh Maizara. Merasa bahwa itulah dinamika hubungan modern, mengira bahwa di dunia orang dewasa tidak ada kata munafik dan semuanya berjalan secara realistis.
Namun, realitas menamparnya telak. Cara pandangnya yang terbiasa terbiasa mengendalikan segala hal ternyata tidak berlaku untuk hati seorang Maizara Paramita.
Semakin bertambah usia dan dewasa, Dimas mulai mengerti bahwa hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan yang tak terduga. Dan mau tidak mau, dia harus berhenti terkejut akan sikap manusia yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia pikirkan dalam rancangan logisnya.
Dimas menyapukan telapak tangannya ke wajahnya yang tampak lelah. Pria jangkung itu berjalan pelan menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mendudukkan diri dengan bahu merosot jatuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, CEO Arjowibowo Group yang terkenal tegas, tak terkalahkan, dan selalu memegang kendali penuh itu dilanda keraguan yang amat dalam.
Dimas terdiam sejenak, memandangi cangkir kopi dingin di depannya. Apa menikah nanti benar-benar akan membawaku pada kebahagiaan? Di dalam ikatan suci itu, apa benar aku bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik untuk istriku kelak?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di dalam kepalanya, menghantam pertahanan egonya tanpa ampun.
Sebagai seorang pria dewasa, Dimas sadar dirinya juga hanyalah manusia biasa. Lelaki biasa yang kerap bergulat dengan pikirannya sendiri. Apakah Maizara benar-benar wanita yang tepat untuk diajak mengarungi sisa hidup bersama? Ataukah justru diriku sendiri yang tidak pantas, dan ketakutan terbesarku adalah menjadi sosok pria yang justru selalu mendatangkan kengerian serta ketakutan bagi wanita yang kucintai?
Ketakutan terbesar seorang Dimas Arjowibowo bukanlah kehilangan kekayaan atau runtuhnya perusahaan, melainkan kenyataan bahwa egonya sendiri telah menghancurkan satu-satunya hati perempuan tulus yang sudi singgah di hidupnya.
Keesokan paginya, kesibukan di kantor pusat Arjowibowo Group kembali berputar dengan ritme cepat. Tenggat waktu peluncuran K-Sambal Fusion tinggal menghitung minggu.
Aku melangkah mantap memasuki area lantai kantor kreatif, membawa map berisi hasil uji coba akhir kemasan produk. Di koridor utama, aku berpapasan dengan Vino yang sedang memegang tablet.
"Pagi, Mei!" sapa Vino ramah dengan senyuman khasnya. "Wah, auranya pagi ini terlihat lebih segar. Siap untuk rapat final presentasi strategi pemasaran jam sepuluh nanti?"
Aku tersenyum tipis, mengangguk menyambut sapaannya. "Pagi, Mas Vino. Insya Allah siap. Semua materi kampanye digital sudah direvisi sesuai masukan kemarin."
"Baguslah," puji Vino hangat. "Omong-omong, nanti siang selepas rapat, kalau kamu tidak sibuk, mau ikut aku mencoba kedai kopi baru di seberang gedung? Katanya cold brew mereka enak."
Sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjawab ajakan Vino, suara derak langkah kaki yang tegas terdengar dari arah belakang kami.
"Jadwal Nona Maizara hari ini sudah penuh dengan agenda evaluasi proyek bersama saya, Pak Arvino."
Suara berat, dingin, dan sarat akan kepemilikan yang kuat itu bergema tajam di sepanjang koridor.
Aku dan Vino menoleh secara bersamaan. Dimas Arjowibowo sudah berdiri beberapa langkah di belakang kami. Setelan jas navy yang melekat sempurna di tubuh tegapnya membuat sosoknya tampak begitu dominan dan berwibawa. Mata hitam pekatnya menatap tajam ke arah Vino, lalu beralih menatapku dengan pendar emosi yang tertahan rapi.
Vino terkekeh pelan, mengangkat kedua tangannya menyerah secara berseloroh. "Wah, ampun, Bos! Galak amat pagi-pagi. Aku kan cuma mengajak staf ahli terbaikmu ngobrol sebentar."
"Silakan kembali ke ruang kerja Anda, Arvino. Rapat pleno akan segera dimulai dalam lima menit," balas Dimas datar tanpa mengendurkan ketegangan di rahangnya.
Vino melirikku sekilas, memberikan senyuman penuh dukungan lewat isyarat mata, lalu menepuk bahuku pelan sebelum melangkah pergi meninggalkan kami berdua di koridor.
Kini, hanya ada aku dan Dimas di lorong yang mulai lengang itu. Aroma parfum woody-citrus miliknya mengepung udaraku, menghadirkan debar yang tak mampu kuingkari.
Aku menarik napas pendek, menegakkan bahuku, dan memasang raut wajah profesional sedingin es.
"Kalau tidak ada hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan, Mas Dimas, saya harus bersiap di ruang rapat," ucapku formal, berniat melangkah melewatinya.
Namun, sebelum langkahku sempat melewatinya, lengan tegap Dimas terangkat pelan, menghalangi jalanku tanpa menyentuh kulitku sedikit pun.
"Mei... tunggu sebentar," panggil Dimas parau. Suaranya tidak lagi sedingin tadi; ada getar kelelahan dan kerinduan yang amat dalam di balik nada rendahnya.
Aku menghentikan langkahku, menatap lurus ke depan tanpa balas menatap manik matanya. "Ada apa lagi, Mas?"
Dimas menghela napas berat. Pria jangkung itu menatapku dengan tatapan yang menyiratkan pergulatan batin hebat yang semalaman mencabik-cabiknya.
"Semalam... saya berpikir panjang," ucap Dimas memulai, suaranya terdengar begitu rapuh untuk ukuran seorang CEO Arjowibowo. "Tentang kita. Tentang apa yang terjadi di Seoul... dan tentang ketakutan terbesar saya."
Kata-katanya berhasil menahan gerakanku. Aku menoleh pelan, menatap manik mata hitamnya yang kini memantulkan bayangan diriku dengan begitu lekat.
"Ketakutan terbesar Mas Dimas?" tanyaku dingin namun terselip rasa ingin tahu.
"Ya," jawab Dimas pelan, matanya menatapku lurus-lurus tanpa keraguan. "Selama ini saya hidup dengan keyakinan bahwa semua hal bisa saya atur, bisa saya kuasai, dan bisa saya menangkan. Tapi sejak mengenalmu, Mei... saya baru sadar bahwa ketakutan terbesar saya bukanlah kehilangan segalanya di dunia ini. Ketakutan terbesar saya adalah menjadi pria yang salah, pria yang gagal melindungimu, pria yang justru membuatmu merasa tidak dihargai, dan pria yang kehilanganmu karena kebodohan egonya sendiri."
Degup jantungku berdesir hebat mendengar kejujuran yang akhirnya keluar dari bibir pria itu. Kalimat-kalimat itu seolah menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sunyi yang selama ini berkecamuk di dalam kepalanya.
Namun, luka di hatiku tidak serta-merta sembuh hanya karena sebuah pengakuan. Aku tetap berdiri tegap, menjaga benteng prinsipku agar tidak runtuh oleh kata-kata manis.
"Menjadi pemimpin yang baik itu bukan tentang siapa yang paling berkuasa di dalam sebuah hubungan, Mas Dimas," balasku tenang dengan nada suara yang bergetar tipis. "Tapi tentang bagaimana dua orang belajar saling mendengarkan, saling merendahkan ego, dan saling menghargai batas diri masing-masing tanpa ada rasa takut."
Dimas terhenyak mendengarnya. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, mencerna setiap patah kata yang kuucapkan.
"Saya tahu, Mei... saya tahu saya banyak salah," bisik Dimas tulus, matanya tampak berkaca-kaca tipis. "Dan saya tidak minta kamu langsung memaafkan saya hari ini. Tapi izinkan saya membuktikan... bahwa saya bisa menjadi pria yang pantas untuk berdiri di sampingmu. Pria yang kamu cari dalam doamu."
Aku menatap mata hitamnya cukup lama, membaca kesungguhan yang perlahan meruntuhkan lapisan es kesombongan yang dulu selalu membelenggunya. Aku tidak memberikan jawaban iya atau tidak. Aku hanya mengangguk pelan, lalu melangkah melewatinya menuju ruang rapat.
Di dalam riuhnya persiapan proyek yang berjalan di hadapan kami, lembaran baru babak kehidupan ini perlahan-lahan mulai terbuka bukan lagi tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang dua hati yang sedang belajar merajut tulus di atas reruntuhan ego yang telah mereka hancurkan sendiri.