NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Baskara kembali menatap dinding. "Aku ingin semuanya benar-benar siap."

"Siap untuk apa?"

Pria itu diam sesaat. Lalu menjawab jujur. "Untuk kamu tinggal di sini." Kalimat cukup membuat langkah Vivi berhenti. Baskara melanjutkan. "Aku tidak mau kamu merasa sedang menumpang di rumah ini." Baskara menurunkan pandangannya. "Rumah ini sudah lama kosong secara tertentu." Baskara menunjuk kamar itu. "Aku hanya ingin ini jadi tempat yang baru. Untuk kita."

Vivi tersenyum, tanpa sadar pandangannya dan Baskara bertemu, ada yang berdetak lebih keras. Jantung Vivi tak seperti biasanya. Pernikahan ini, awalnya Vivi tak punya ekspektasi besar, ia hanya berharap bisa menjadi teman Baskara, kalau ternyata ada cinta, mungkin ini akan jadi bonus yang besar untuknya.

Malamnya, semua pekerjaan akhirnya selesai. Tukang sudah pulang. Rumah kembali tenang. Lampu kamar itu dinyalakan untuk pertama kalinya. Vivi berdiri di ambang pintu. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat hasilnya. Kamar itu bukan mewah berlebihan. Tidak berusaha menunjukkan status. Tidak berusaha mengalahkan masa lalu. Justru sebaliknya. Sangat sederhana. Tapi terasa sengaja dibuat untuk dua orang yang belum tahu bagaimana cara berbagi ruang.

Baskara berdiri di belakangnya. "Bagaimana?"

Vivi tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dalam. Menyentuh meja kecil di sisi ranjang. Menyentuh tirai. Lalu menatap jendela. "Ini bukan kamar kamu dulu."

Baskara mengangguk. "Bukan."

Vivi menoleh. "Dan bukan kamar tamu juga." Lalu Vivi tersenyum kecil. "Rasanya seperti kamar orang yang belum kenal tapi dipaksa tinggal serumah."

Baskara tertawa pelan. "Kurang lebih memang begitu."

Vivi duduk di tepi ranjang. Lalu menepuk sisi sebelahnya. "Berdiri di situ terus mau sampai kapan?"

Baskara ragu. Sebentar. Lalu akhirnya duduk. Jarak mereka tidak dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk membuat percakapan tetap terasa hati-hati.

Vivi menatap sekeliling lagi. "Kamu serius sekali."

"Bukankah kamu bilang kamu tidak suka setengah-setengah?"

Vivi menoleh. "Kapan aku bilang begitu?"

Baskara berpikir. "Entah."

Mereka sama-sama diam. Lalu Vivi menghela napas. "Baguslah. Kalau kamu setengah-setengah, aku mungkin sudah pergi dari rumah ini." Kata-kata itu menggantung.

Baskara menoleh. "Aku tidak ingin kamu pergi." Lagi-lagi tatapan mereka bertemu, getaran itu kembali terasa.

***

Malam itu, kamar baru itu resmi menjadi milik mereka berdua. Bukan sebagai pasangan sempurna. Bukan sebagai keluarga yang sudah utuh. Tetapi sebagai dua orang yang mulai belajar berdiri di ruang yang sama tanpa saling mengusir. Dan di luar kamar itu Lima anak Baskara masih belum tahu bahwa sesuatu di rumah mereka baru saja berubah lagi. Bukan karena konflik. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak lama, Ayah mereka berhenti membangun tembok. Dan mulai membangun ruang.

Sean berdiri cukup lama di depan pintu kamar baru itu. Lampu di dalamnya sudah redup. Tapi dari celah bawah pintu, masih ada cahaya hangat yang menyala. Tanda bahwa ayahnya dan Vivi masih di dalam. Masih berbicara. Atau mungkin hanya diam. Sean tidak mengetuk. Tidak masuk. Ia hanya berdiri. Tangannya menggenggam gagang pintu tangga, tetapi tidak jadi turun. Ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya sejak sore tadi. Telepon itu. Dari bibinya. Kakak dari almarhum ibunya.

“Sean, kamu harus cerita. Vivi itu seperti apa di rumah?” ini bukan pertanyaan pertama dari Bibi Helda, tapi pertanyaan serupa ini sudah diajukan sejak berita ayahnya akan menikah. Sean menjawab singkat. Seperti biasa. Namun bibinya diam sejenak sebelum berkata sesuatu yang membuat Sean tidak langsung menutup telepon. “Kalau dia sudah punya kamar dengan ayahmu… apakah itu artinya dia sudah mendapatkan ayah kalian?”

Sean tidak langsung menjawab. Karena pertanyaan itu tidak terdengar seperti pertanyaan biasa. Lebih seperti penilaian.Sekarang, pertanyaan itu kembali muncul di kepalanya. Di depan kamar itu. Sean mengernyit pelan. “Sudah mendapatkan ayah?” Kalimat itu terasa aneh di lidahnya. Seolah ayahnya adalah sesuatu yang bisa diambil. ia tidak tahu harus menjawab apa.

Dari dalam kamar, terdengar suara samar. Suara Vivi tertawa kecil. Sean mendengar itu. Dan sesuatu di dadanya ikut mengeras. Ia tidak masuk. Ia berbalik. Namun langkahnya berhenti lagi. Di kepalanya, muncul satu pertanyaan lain. Kalau Vivi “mendapatkan” ayah lalu mereka, Sean dan adik-adiknya, berarti apa? Anak anak yang harus direbut juga?

Ia mengepalkan tangan kecilnya.Tidak. Ia tidak akan kalah lagi. Tidak seperti pagi tadi. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Sean akhirnya turun pelan. Langkahnya tidak berisik. Tapi pikirannya tidak tenang. Di ruang bawah, Saka masih bermain. Yuan membaca buku. Ella memeluk boneka. Lili tidur di sofa kecil. Rumah terlihat damai. Tapi Sean tahu damai di rumah ini sekarang sedang berubah bentuk. Dan perubahan itu ada di lantai atas. Di kamar baru itu. Di antara ayahnya dan Vivi.

Untuk pertama kalinya Sean tidak memikirkan cara menjatuhkan Vivi. Ia memikirkan satu hal yang jauh lebih sulit. Kalau Vivi mengaku bukan datang untuk merebut ayah lalu kenapa rasanya ia justru semakin sering berada di tengah keluarga ini? Dan kenap itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia hentikan lagi?

Sean berhenti di tangga. Suara langkah kakinya yang tadi pelan kini benar-benar terhenti. Di kepalanya, suara Bibi Helda kembali terputar jelas, seolah baru saja diucapkan di telinganya. “Vivi itu pasti berbohong. Dia ingin merebut semuanya dari ibu kalian. Sekarang ayah kalian sudah didapatkannya, sebentar lagi adik-adikmu lalu kamu.”

Sean menggenggam pegangan tangga lebih kuat. Terlalu kuat untuk ukuran anak sepuluh tahun. Rahangnya mengeras. Matanya menatap lantai bawah, tapi fokusnya tidak ada di sana. Ada di dalam kepalanya sendiri. “Sebentar lagi adik-adikmu lalu kamu.” Kalimat itu paling menempel. Seperti duri kecil yang tidak terlihat, tapi terasa setiap kali ia bernapas.

Sean menoleh sekilas ke ruang keluarga. Yuan masih membaca. Saka sudah mulai tertidur di karpet.Ella memeluk boneka sambil setengah mengantuk. Lili bahkan tidak sadar apa-apa. Mereka terlihat aman. Dan itu justru membuat Sean semakin tidak nyaman.

Di lantai atas, pintu kamar baru itu masih tertutup. Tidak ada suara besar. Tidak ada tanda-tanda kekacauan. Hanya keheningan yang terlalu rapi. Sean tahu ayahnya ada di dalam sana. Bersama Vivi. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat pikirannya semakin penuh. Ia melangkah turun satu anak tangga. Lalu berhenti lagi. Bibirnya bergerak pelan, hampir tanpa suara. “Bibi Helda…” Nama itu ia ucapkan seperti mencari pegangan. Karena sampai sekarang, itu satu-satunya orang dewasa yang memberi jawaban tegas. Yang tidak membiarkan semuanya jadi abu-abu.

Sean menarik napas. Namun semakin ia berpikir, semakin ia merasa sesak.Kalau Vivi memang berbohong Kenapa Lili tertawa saat bersamanya? Kenapa Ella tidak menangis seperti dulu terus-menerus? Kenapa Saka tidak dihukum setiap kali berbuat kacau, tapi justru diminta membereskan? Kenapa Yuan, yang paling pintar di antara mereka tidak menemukan “kesalahan” yang jelas?

1
Yenti Sasmira
sangat bagus 👍👍👍
Danny Muliawati
dokter Sinta gmn dg sumpah dokter nya menzolimi) ini pasien ... dendam pribadi ini mah ... smga segera terungkap
Danny Muliawati
rasain kamu yah baskara jd laki2 kok ga tegas
Nurhartiningsih
seperti nya Vivi dibohongi..knp dr Sinta jahat???
Nandamutiarahati Mutiara
soala
Nurhartiningsih
enak banget jadi baskara...menikahi wanita hanya utk jadi pengasuh anak2nya
Haryanti10
ya bilang dong SM ibumu,Vivi jg ga ngarep JD istrimu ko,kepedean bngt JD laki
aNDiaNa
Kisah apik! Dengan tema yg berbeda dari yg lain, hidup gak cuma ttg perselingkuhan dan poligami 😅. Penyampaian yg bagus dan sarat pembelajaran, semoga lebih banyak yg baca!
Selamat dan semangat tuk Autor 🫶🏼
👍👍👍
Rita Tani
aduh ini cerita apa sich kok jd banyak banget bawangnya
April Yani Koto
sungguhbuat saya banjak belajar dari isi cerita ini , dan membuat saya menangis bekali kali
Julia thaleb
sepertinya Lily bakal punya adek ne
Julia thaleb
Thor..
hujan lagi
Julia thaleb
Thor .
mataku hujan terus ne
Issya Anissya
siapa yaang naro bawang disini 😭
Wisnu Mahendra
kenapa baru hamil sekarang dok? ya iyalah, nikahnya juga baru...mask hamilnya sudah bertahun tahun yg lalu? 😄😄😄
Imas Masitoh
ko ada ya dokter Kya gtu.klau negatif kasih karma aja athor dokter Sinta itu
evana gusani
baru mampir
Agung Khan
👍
Tyas Wahyoe
aku jadi inget adegan film "The Sound of Music"🤭🤭
Her Lina
bibi dan nenek punya hak apa selagi masih punya ayah...emosi liatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!