NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan

Arini terdiam cukup lama. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara tatapannya kosong menembus pintu kamar tidurnya. Keputusan untuk menjual rumah itu bukan perkara mudah. Di sana tersimpan begitu banyak kenangan—tawa, tangis, harapan, bahkan mimpi yang pernah ia bangun bersama Galang.

Melihat sahabatnya kembali larut dalam keraguan, Hani menghela napas pelan. "Gimana, Rin? Kamu setuju gak kalau rumah itu dijual? Kamu masih ragu ya?"

Arini menggigit bibir bawahnya. Wajahnya dipenuhi kebimbangan. "Iya, aku ragu, Han. Gimana ya?" lirihnya.

Hani menggeser duduknya hingga lebih dekat. Tatapannya lurus menatap Arini, seolah ingin menyadarkannya dari rasa iba yang selama ini hanya merugikan dirinya sendiri.

"Kamu rela, kamar kamu dipakai tidur oleh pelakor itu dan suamimu? Dipakai mesra-mesraan, honeymoon juga. Kamu rela?" "

Kalimat itu menghantam tepat ke hati Arini. Seketika bayangan tentang kamar yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat muncul di benaknya. Kamar yang ia tata sendiri. Tirai yang ia pilih dengan penuh pertimbangan. Sprei yang rutin ia ganti setiap akhir pekan. Bahkan lemari pakaian yang ia beli dari hasil kerja kerasnya berbulan-bulan.

Kini... semua itu kemungkinan besar sedang dinikmati perempuan yang telah merebut suaminya. Hati Arini terasa seperti diremas.

"Kalau aku sih ogah," lanjut Hani tanpa ragu. "Kita yang kerja keras beli rumah itu, eh malah suami pengkhianat sama pelakor yang menikmatinya. Enak banget hidup mereka."

Arini menundukkan kepala. Dadanya sesak.

Ia teringat bagaimana dulu dirinya rela berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit sudah gelap. Lembur hampir setiap hari. Menahan keinginan membeli barang-barang yang sebenarnya ia suka demi menambah tabungan. Semua pengorbanan itu dilakukan agar mereka bisa memiliki rumah yang layak.

Rumah yang dulu ia anggap sebagai simbol perjuangan hidupnya, kini dinikmati oleh orang yang justru menghancurkan hidupnya, juga menjadi saksi pengkhianatan yang paling menyakitkan.

"Aku juga gak rela, Han," ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan emosi.

"Nah, itu." Hani langsung menepuk pelan punggung tangan Arini. "Terus nunggu apa lagi? Biarkan mereka merasakan gimana rasanya terusir dari rumah. Biar mereka tahu kalau hidup nyaman yang mereka nikmati itu dibangun dari kerja keras orang lain, bukan hasil usaha mereka sendiri."

Arini mengangkat wajahnya perlahan. Hani melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, tetapi tetap tegas.

"Selama ini kamu terlalu baik, Rin. Terlalu sering mengalah sampai orang-orang menganggap kamu lemah. Padahal kamu cuma gak suka ribut."

Arini mengembuskan napas panjang. Benar. Selama ini ia memilih diam agar masalah tidak semakin besar. Ia memilih mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Namun, semua pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan.

"Pokoknya," kata Hani sambil menggenggam tangan sahabatnya erat, "kamu jangan mau dimanfaatkan terus. Kamu harus melawan. Bukan karena dendam, tapi karena kamu berhak mendapatkan keadilan atas semua yang sudah kamu perjuangkan."

Ucapan itu membuat hati Arini perlahan menghangat.

Kiniz sejak semua kekacauan ini terjadi, ia merasa ada seseorang yang benar-benar berada di sisinya tanpa syarat. Seseorang yang mengingatkannya bahwa mempertahankan hak bukanlah sebuah kesalahan.

Arini mengangguk pelan. Kali ini tatapannya tidak lagi seragu sebelumnya.

"Iya, Han."

Meski suaranya masih lirih, terselip ketegasan yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Barangkali sudah saatnya ia berhenti menjadi perempuan yang hanya menerima luka. Sudah waktunya ia memperjuangkan haknya sendiri dan membiarkan mereka yang telah mengkhianatinya merasakan akibat dari perbuatan mereka.

Hani mengernyitkan dahi. Ada satu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya. "Rin, Mas Galang sudah tahu belum kalau kamu menggugat cerai?"

Arini mengangguk pelan. "Sudah, Han. Tadi malah dia ke sini, menanyakan hal itu."

Mata Hani langsung membulat. "Terus, tanggapannya gimana?"

"Dia meminta aku untuk membatalkan gugatan perceraian itu."

"Seriusan?"

Arini mengulas senyum tipis yang lebih mirip sebuah ironi daripada kebahagiaan. "Serius lah."

"Alasannya apa?"

Arini terdiam sejenak, mengingat kembali percakapan yang baru saja terjadi di ruang meeting kantornya. Tak sekali pun Galang mengucapkan kata maaf. Tak ada penyesalan atas luka yang telah ia sebabkan. Lelaki itu justru lebih banyak berbicara tentang rumah tangga yang harus dipertahankan, dan tersirat semuanya demi kenyamanan hidup, agar tak akan hilang. Karena jika bercerai, semuanya pasti gak akan mereka dapatkan kembali.

"Dari yang aku tangkap," ucap Arini perlahan, "dia takut kehilangan kenyamanan hidup."

Hani mendengus kesal. "Gila... jadi bukan karena dia menyesal?"

Arini menggeleng mantap. "Bukan sama sekali."

Hatinya kembali terasa nyeri saat mengingat tatapan Galang tadi. Lelaki itu memang memintanya membatalkan gugatan, tetapi bukan karena cinta. Bukan karena menyadari kesalahannya. Yang dikhawatirkan Galang hanyalah apa yang akan ia kehilangan jika Arini benar-benar pergi.

Rumah yang nyaman. Kehidupan yang selama ini ditopang oleh kerja keras Arini. Statusnya sebagai suami yang masih memiliki istri pertama. Semuanya terdengar begitu egois.

Hani mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Untuk itulah, kamu jangan kelihatan lemah, Rin. Kamu harus kuat!"

Arini menatap sahabatnya. "Karena bisa jadi yang akan mencoba menggagalkan rencana perceraianmu itu bukan cuma Galang."

"Maksud kamu?"

"Bisa saja nanti ibu dan ayah mertuamu ikut turun tangan. Belum lagi adik iparmu yang selama ini cuma jadi benalu. Mereka pasti gak mau kehilangan orang yang selama ini banyak membantu keluarga mereka."

Ucapan Hani bukan tanpa alasan. Selama mengenal Arini, ia tahu betul bagaimana perempuan itu selalu menjadi tempat bergantung keluarga Galang. Mulai dari membantu kebutuhan rumah tangga, memenuhi permintaan mertuanya, hingga ikut menanggung berbagai keperluan adik iparnya. Selama Arini masih menjadi istri Galang, semua itu mengalir begitu saja.

Kalau perceraian benar-benar terjadi, bukan hanya Galang yang kehilangan kenyamanan. Seluruh keluarganya pun akan ikut merasakan dampaknya.

Arini mengangguk pelan. "Ya... bisa jadi seperti itu."

Entah mengapa, ia merasa Hani benar. Selama ini yang dipertahankan keluarga Galang mungkin bukan dirinya sebagai menantu, melainkan semua kemudahan yang ia berikan. Dan jika benar mereka nanti datang membujuk, menangis, bahkan menyalahkannya demi membatalkan perceraian, Arini harus menyiapkan hatinya sejak sekarang.

Ia tak boleh lagi goyah hanya karena rasa tidak enak. Kali ini, ia ingin memilih dirinya sendiri.

Hani meraih tangan Arini, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan kepada sahabat yang sejak tadi berusaha tegar itu.

"Rin, Mas Omar dapat tugas luar selama sebulan. Selama itu, izinkan aku menemanimu di sini. Aku nggak akan membiarkan kamu didzalimi sama mereka."

Arini sontak menoleh. Matanya membulat, antara terkejut dan terharu. "Seriusan, Han? Memangnya Mas Omar membolehkannya?"

Hani mengangguk mantap. "Insyaallah boleh. Sebelum berangkat, Mas Omar memang sudah tahu kalau kondisi kamu lagi seperti ini. Tadinya selama dia tugas luar aku berencana tinggal di panti. Sekalian membantu Bu Khadijah mengurus adik-adik di sana. Tapi sekarang aku berubah pikiran."

"Karena aku?" "Iya. Menurutku, saat ini kamu lebih butuh ditemani. Panti masih banyak pengurus yang bisa membantu Bu Khadijah. Tapi kamu..." Hani tersenyum lembut. "Kamu nggak boleh menghadapi semua ini sendirian."

Mendengar itu, tenggorokan Arini mendadak tercekat. Sejak semua kekacauan dalam rumah tangganya terjadi, baru kali ini ia benar-benar merasakan ada seseorang yang rela mengubah rencananya hanya demi memastikan dirinya baik-baik saja.

"Duh, makasih ya, Han." Senyum tipis menghiasi wajahnya yang sejak tadi muram. "Kamu memang sahabatku yang paling baik."

Hani terkekeh pelan sambil menggeleng. "Kita bukan cuma sahabatan, Rin." Arini menatapnya.

"Kita ini saudara. Memang nggak lahir dari ibu yang sama, tapi kita dibesarkan di tempat yang sama. Kita makan dari dapur yang sama, belajar saling berbagi sejak kecil, dan tumbuh bersama di Panti Asuhan Al Amanah. Jadi buatku, kamu itu keluarga."

Ucapan sederhana itu membuat mata Arini berkaca-kaca. Sejak kecil mereka memang selalu bersama. Mereka saling menguatkan saat rindu keluarga, saling menyemangati ketika hidup terasa berat, hingga akhirnya dipertemukan dengan jalan hidup masing-masing. Ikatan itu tak pernah pudar, bahkan setelah keduanya memiliki kehidupan sendiri.

"Iya," bisik Arini dengan suara bergetar. "Makasih ya, Han."

"Ya sama-sama." Hani mengusap punggung tangan Arini pelan.

"Kalau aku nggak bersamamu, aku khawatir mereka bisa memaksamu kembali ke rumah itu."

Arini langsung menggeleng. "Apa? Kalau itu nggak mungkin lah."

"Jangan terlalu yakin."

"Aku juga punya hati, Han." Tatapan Arini berubah lebih tegas. "Aku sudah cukup lama bertahan. Sudah cukup banyak yang aku maafkan. Tapi setelah semua yang mereka lakukan... rasanya nggak mungkin aku kembali ke rumah itu, seolah nggak pernah terjadi apa-apa."

Hani mengangguk pelan. Mendengar kalimat itu, ia sedikit merasa lega.

Setidaknya, Arini sudah mulai memiliki keberanian untuk mempertahankan keputusan yang diambilnya. Kini, yang harus ia lakukan hanyalah memastikan sahabatnya itu tidak menghadapi tekanan dari keluarga Galang seorang diri.

Apa pun yang akan terjadi nanti, Hani sudah bertekad akan berdiri di sisi Arini. Menjadi saksi bahwa perempuan baik itu tidak lagi berjuang sendirian menghadapi orang-orang yang selama ini hanya tahu memanfaatkan kebaikannya.

_________________________________

Hai Readers, makasih ya, novel ini terpilih menjadi 20 bab terbaik. Support terus, biar terpilih kembali menjadi 40 bab terbaik juga. Jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih banyak Readers setiaku. 🥰🥰🥰 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Mundri Astuti
sundel bolong pada
sutiasih kasih
mokondo kau galang....🙄
Anonim
bjir
Anonim
kecil amat, pasti PNS daerah ya
Arin
Keluarga amburadul gak karuan.
Arin
🤣🤣🤣🤣 ternyata wanita pilihan Galang mau juga berbagi dengan bapaknya
Heni Setiyaningsih
cerita nya bagus Thor, cuma aku kurang suka sama karakter nya Arini
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍
falea sezi
🤣🤣 masih cinta ya makanya g laporin MC nya lemah menye menye thor😒 bikin Badas donk g bacot doank🤭
Heni Setiyaningsih
good job Hani,,cobaArini berani seperti Hani. Thor jadikan Arini seperti Hani biar gk di injak-injak klrg suami nya
Arin
Mantape Hani..... memang orang seperti ibunya Galang harus dibungkam harus dilawan biar gak sombong terus. Biar lihat siapa tuh Arini sebenarnya
Lee Mba Young
Hrse Hani jng Bantu arini. biar dihadapi arini sendiri itu kl berani 🤣. wanita goblok ae lo pantes di injak injak mertua.
di perintah sarapan lngsung sendiko dawuh.
untung Ada Hani.
lain kali jng di bantuin biar arini sendiri. ngadepi mertua zalim saja gk berani.
pantes di selingkuh I Dan di injak injak krn selalu sendiko dawuh. 😄.
Ma Em
untung Arini ditemani Hani kalau tdk pasti Arini akan mau diajak pulang sama mertua dan ipar nya karena Arini bkn baik dan selalu mengalah karena si Arini emang bodoh mau saja dimanfaatkan sama si Galang dan keluarganya yg benalu .
Heni Setiyaningsih: jdi gemes sendiri /Frown//Frown/
total 2 replies
Arin
Untung ada Hana yang suka rela mau membantu Arini untuk menghadapi keluarga benalu si Galang
Heni Setiyaningsih
novel ini alur ceritanya lambat ya Thor, dah sampai bab 31 gk ada tindakan yang tegas dr Arini. Jadikan Arini sosok yg tegas,tdk menye" danjgn mau di tindas💪
Arin
Betul itu idenya Hani..... Jual rumahmu. Malah kalau bisa jual sama orang yang punya kuasa atau orang yang punya bekingan. Jadi pas mau ambil rumah yang sudah di beli, mereka akan mengerahkan anak buahnya buat ambil tuh rumah.
Neneng Yensiana
buat apa Arini banyak yg lebih baik buat Galang dan ibunya TDK berkutik sebar video dan foto pernikahannya SM mayang
Heni Setiyaningsih
terimakasih udah double up
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Arin
Dasar benalu-benalu.... gak pingin kehilangan kenyamanan pingin mempertahankan Arini. Untuk kebutuhan biologis yang diandelin si Mayang..... dasar laki-laki serakah.
Ma Em
Bu Sumarni dan Galang tdk mau bercerai dgn Arini bkn karena Galang msh cinta dgn Arini tapi hdp Bu Sumarni dan Galang takut hdp nya susah karena tdk ada dukungan materi dari Arini .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!