Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Kejutan Di Lantai Atas
Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil Limousine hitam dengan kaca tahan peluru berhenti tepat di depan gedung pencakar langit berlantai lima puluh di kawasan bisnis utama ibu kota. Gedung megah berarsitektur modern itu merupakan markas pusat dari Blackwood Corp—perusahaan konsolidasi raksasa yang menjadi topeng legal jaringan mafia Gabriel.
Aira melangkah keluar dari mobil dalam balutan setelan blazer krem yang anggun dan simpel. Di sampingnya, Gabriel tampil sangat tampan dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kustom nan mewah.
Pria itu memegang erat jemari Aira, membimbing istrinya melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.
"Selamat pagi, Tuan Blackwood! Selamat pagi, Nyonya!"
Seluruh jajaran staf, pimpinan divisi, hingga petugas keamanan yang berbaris di lobi langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat saat Gabriel dan Aira melintas. Pemandangan itu begitu formal dan megah, membuat Aira agak canggung namun tetap melemparkan senyum ramah.
Felix, sang tangan kanan yang mengenakan jas rapi dengan kacamata minusnya, sudah berdiri menunggu di depan lift pribadi. Wajah Felix tampak sedikit lelah—efek begadang membersihkan pakaian taktis berdarah Gabriel tadi pagi atas perintah sang ketua mafia.
"Semua persiapan di lantai teratas sudah selesai seratus persen, Tuan," lapor Felix tegas sambil menunduk hormat kepada Aira.
"Bagus," jawab Gabriel singkat. Aura dingin sang ketua mafia mendadak terpancar, namun begitu ia menoleh pada Aira, wajahnya langsung mengukir senyuman manis nan manja. "Yuk, Sayang! Aku mau tunjukkan tempat barumu!"
Mereka bertiga naik menggunakan lift kecepatan tinggi menuju lantai lima puluh. Pintu lift terbuka, menyajikan pemandangan ruang kerja eksekutif yang sangat luas dengan dinding kaca transparan yang memperlihatkan lanskap seluruh kota dari ketinggian.
Namun, yang membuat mata Aira membelalak bukan hanya keindahan pemandangan kota, melainkan tata ruang di dalam kantor raksasa tersebut.
Di sebelah meja kerja utama milik Gabriel yang terbuat dari kayu mahoni langka, terdapat sebuah meja kerja baru berukuran sedikit lebih kecil namun didesain sangat cantik dengan warna rose gold dan putih gading. Di atas meja itu sudah terpajang laptop edisi khusus, vas bunga mawar segar, serta papan nama berbahan akrilik mengkilap yang tertulis:
AIRA ANINDITA BLACKWOOD
Chief Executive Advisor & Permaisuri Blackwood Corp
"Gabriel... ini..." Aira menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatap meja kerja barunya dengan binar keharuan.
Gabriel berjalan mendekat dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Aira dan meletakkan dagunya di bahu sang istri.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu duduk di rumah sendirian menunggu aku pulang," bisik Gabriel lembut dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Kantor ini milik kita berdua. Kamu bisa membantuku mengawasi bisnis legal perusahaan, dan kamu bisa berada di sisiku setiap saat."
Aira membalikkan badannya, menatap mata cokelat gelap Gabriel yang memancarkan ketulusan luar biasa. Pria yang ditakuti seluruh dunia bawah tanah ini baru saja membangunkan sebuah 'ruang aman' khusus agar istrinya bisa selalu merasa dekat dengannya.
"Terima kasih, Gabriel..." bisik Aira tulus. Ia berjinjit dan mendaratkan ciuman manis di pipi suaminya.
Pipi Gabriel seketika memerah lokal. Pria tegap berotot itu mendadak tersenyum lebar dengan cengiran konyolnya, memeluk Aira makin erat sambil bergoyang-goyang kecil di tengah ruangan.
"Aplikasi ciuman diterima! Pokoknya setiap jam harus ada bonus ciuman ya, Sayang!" rengek Gabriel manja.
Felix yang berdiri di dekat pintu lift hanya bisa mengelak pandangan, menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan sang ketua mafia yang mendadak hilang wibawa di depan istrinya.
Namun, suasana manis itu kembali terganggu ketika saluran telepon internal di meja Felix berdering nyaring.
Felix mengangkat gagang telepon, mendengarkan laporan beberapa detik, lalu raut wajahnya berubah sangat serius. Ia melangkah mendekati Gabriel.
"Tuan," bisik Felix pelan namun tegas. "Tuan Besar Sebastian—ayah Anda—baru saja mendarat di bandara dengan jet pribadinya. Beliau sedang menuju ke gedung ini sekarang juga untuk menemui Nyonya Aira."
Senyum konyol di wajah Gabriel seketika lenyap tanpa sisa. Rahangnya mengetat keras, sepasang matanya kembali memancarkan ketajaman aura Dark Lord yang membeku.