Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyy Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat Senja di Kota Jakarta
Di sudut pangkalan stasiun, Shevi sedang merapikan lembaran uang lima puluh ribu rupiah pemberian Pak Bambang sebagai tips atas jasa cuci motornya pagi tadi. Namun, perhatiannya seketika teralih saat mendengar percakapan tegang antara Pak Bambang dan wanita muda berambut pendek yang berdiri di sampingnya.
Wanita muda itu tampak memijat pelipisnya yang tegang. Kemeja kerjanya yang rapi tidak bisa menutupi kecemasan yang membayang di wajahnya. Banjir semalam tidak hanya merendam pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan puluhan armada kurir kantor cabang tempatnya bekerja.
"Mbak Gita, beneran tidak mau ikut searah bareng saya naik motor? Angkutan umum ke arah kantor cabang pasti macet parah apalagi habis banjir," tawar Pak Bambang menatap rekan kerjanya itu.
Gita menggelengkan kepala perlahan. Desah napas berat keluar dari bibirnya. "Terima kasih penawarannya, Pak Bambang. Tapi saya tidak bisa. Saya masih nunggu ojek online, walau dari tadi aplikasinya terus-menerus mencari pengemudi tanpa hasil. Motor operasional kantor yang ada di penitipan stasiun juga katanya mogok semua terendam air banjir sejak subuh tadi."
Gita berkali-kali melirik jam tangan peraknya. Waktu yang makin menipis membuat gestur tubuhnya tampak kian gelisah.
Melihat kesulitan yang dihadapi wanita tersebut, dorongan kemanusiaan di dalam dada Shevi kembali membimbing langkahnya. Di kota sekeras Jakarta, seorang wanita pekerja keras yang sedang mengejar tenggat waktu pasti berada di bawah tekanan besar. Shevi merapikan kain lap kanebonya, lalu melangkah mendekat dengan sikap yang sopan.
"Permisi, Mbak. Maaf kalau saya menyela," ucap Shevi dengan suara rendah dan ramah.
Gita menoleh. Alisnya bertaut sedikit saat mendapati seorang pemuda berkaus oblong lusuh dengan bercak air sabun berdiri di depannya.
Namun, sorot mata Shevi yang lurus dan terbuka membuat raut curiga di wajah wanita itu perlahan memudar.
"Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?" tanya Gita dengan nada suara profesional, meski rasa lelah tidak bisa disembunyikan dari matanya.
"Saya tadi tidak sengaja mendengar kalau motor operasional kantor Mbak mogok karena terendam banjir di sekitar sini," tutur Shevi. "Kalau Mbak berkenan, biar saya bantu periksa sistem pengapiannya. Biasanya motor yang mogok pasca-banjir hanya mengalami kendala di busi yang kemasukan air atau saluran pembakarannya yang lembap. Kebetulan saya membawa kunci-kunci perkakas dasar di dalam ember saya."
Pak Bambang langsung menimpali dengan antusias. "Nah, Gita! Mas Shevi ini yang tadi pagi membersihkan motor saya sampai kinclong luar dalam. Kerjanya sangat teliti dan sejauh ini sangat jujur. Siapa tahu dia memang paham mesin dan bisa menghidupkan motor operasional yang mogok itu."
Gita terdiam sesaat, jemarinya meremas map dokumen tebal di dadanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB. Jika dia tetap memaksakan diri menunggu angkutan yang tak kunjung datang, urusan perusahaannya malam ini dipastikan terbengkalai.
"Motornya diparkir di sebelah mana, Mbak?" tanya Shevi lagi, memberikan keyakinan lewat tatapan matanya yang mantap.
"Di tempat penitipan motor samping stasiun, Mas. Ada tiga motor bebek operasional kurir kantor kami yang mogok sejak tadi pagi," sahut Gita akhirnya. "Kalau Mas bisa membuat salah satu motor itu menyala dalam waktu lima belas menit, saya akan berikan imbalan yang pantas."
Shevi menggeleng pelan. "Saya murni hanya ingin membantu agar urusan Mbak tidak terhambat. Mari kita ke sana."
Mereka berjalan cepat menuju area penitipan motor terbuka di samping stasiun. Di sudut parkiran, tiga sepeda motor bebek berlogo perusahaan logistik tampak terparkir dengan bekas batas air lumpur cokelat setinggi paha orang dewasa.
Shevi segera berjongkok di depan salah satu motor bebek yang kondisinya paling memungkinkan. Menggunakan obeng dan kunci busi sederhana miliknya, jemarinya yang kasar mulai bekerja dengan fokus penuh.
Pemahaman mendalam tentang anatomi mesin, kompresi pembakaran, hingga seluk-beluk kelistrikan yang mengendap dalam ingatannya membuat gerakan Shevi terasa sangat cekatan.
Shevi melepas kepala busi, mengeringkan sisa air kotor yang menggenang di dalam rumah busi menggunakan ujung kain lap kering, lalu membersihkan kerak karbon di ujung pemantik dengan sikat kawat kecil.
Gita berdiri tepat di belakang Shevi, memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda itu. Di bawah temaram cahaya senja Jakarta yang mulai meredup, dia melihat betapa seriusnya Shevi bekerja. Keringat bercucuran membasahi pelipis dan kerah baju lusuh Shevi, namun tak sepatah kata pun keluhan keluar dari bibir pemuda itu.
"Coba di-engkol sekarang, Pak Bambang," intruksi Shevi setelah memasang kembali busi dengan kencang.
Pak Bambang segera menaiki motor dan memijat tuas engkol dengan kakinya berulang kali. Mesin motor sempat terbatuk menyemburkan asap kusam, lalu kembali mati.
"Karburatornya kemasukan air sedikit," analisis Shevi. Dengan gerakan sigap, dia mengendurkan baut pembuangan di bagian bawah karburator menggunakan obeng minus, membiarkan sisa bensin yang tercampur air mengalir keluar hingga habis sebelum mengencangkannya kembali. "Baik, coba sekali lagi, Pak."
Pak Bambang kembali menghentakkan kakinya dengan kuat.
Derrr... Brmmm!
Suara deru mesin motor bebek itu seketika membelah keheningan penitipan stasiun. Asap knalpot mengepul tipis sebelum akhirnya irama mesinnya terdengar konstan dan stabil.
Mata Gita seketika berbinar. Senyum lega terukir di wajahnya. "Bisa! Luar biasa! Mas, kamu hebat sekali! Motornya benar-benar bisa nyala!" serunya gembira.
Shevi berdiri, menyeka tangannya yang berlepotan oli hitam ke kain lap kotor. "Mesinnya sudah lumayan stabil, Mbak. Tapi nanti kalau ada waktu luang, tetap usahakan dibawa ke bengkel untuk kuras oli, khawatir sudah tercampur sisa air banjir."
"Iya, pasti, Mas!" Gita buru-buru membuka tas kerjanya, mengambil dompet kulit, dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu rupiah. Shevi disodorkan uang tersebut. "Ini, Mas. Terima kasih banyak! Kamu sudah menyelamatkan pekerjaan saya sore ini!"
Shevi menatap lembaran uang merah tersebut, lalu menggelengkan kepala secara halus. "Tidak usah, Mbak. Disimpan saja uangnya. Dari awal saya memang tulus ingin membantu agar pekerjaan Mbak tidak terganggu."
Gita terperangah. Dia menatap tiga lembar uang di tangannya, lalu beralih menatap wajah Shevi dengan pandangan heran bercampur takjub.
"Kamu... benar-benar menolaknya, Mas?" tanya Gita memastikan.
"Benar, Mbak. Silakan berangkat sekarang sebelum jalanan menuju Tomang makin macet," ingatkan Shevi.
Gita menarik napas panjang, mengagumi keteguhan pemuda di depannya. Dia menyimpan kembali uangnya, lalu mengambil selembar kartu nama eksklusif berlogo timbul warna emas dari dalam dompet, menyodorkannya ke tangan Shevi.
"Kalau begitu, tolong terima kartu nama saya ini. Nama saya Gita. Jika suatu saat kamu membutuhkan bantuan atau mencari peluang kerja yang lebih baik, tolong hubungi nomor di kartu ini. Perusahaan kami selalu membutuhkan orang-orang jujur dan berkemampuan seperti kamu."
Shevi menerima kartu nama premium tersebut dengan sopan. "Terima kasih banyak, Mbak Gita. Saya Shevi."
Gita mengangguk mantap, lalu bergegas menaiki motor bebek operasional yang sudah menyala.
Setelah mengenakan helm dan pamit pada Shevi serta Pak Bambang, dia segera memutar gas, melesat membelah kemacetan sore Jakarta menuju Tomang.
Melihat siluet motor Gita yang menghilang di balik tikungan jalan, Shevi menyunggingkan senyum tipis. Di dalam dadanya, rasa percaya diri akan keahlian otomotifnya terasa makin matang—sebuah modal berharga yang siap dia pergunakan untuk mengubah nasib hidupnya dan Emak.