Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sementara itu, di dalam ruang BK yang tegang, Jovan duduk berhadapan dengan Guru BK. Di samping mereka, Kevin berdiri menunduk dengan sudut bibir yang memar, didampingi ibunya yang terus menatap Jovan dengan sorot mata murka.
Ibu Kevin menepuk meja pelan, tak mampu menahan amarahnya. "Anak tidak punya sopan santun! Kenapa kamu malah pukul anak saya sampai memar begini? Dasar anak kurang ajar!"
Jovan mengepalkan tangannya di atas paha. Tatapannya tajam menatap Ibu Kevin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kalau anak Ibu nggak memancing saya duluan, saya nggak bakal pukul dia! Dia yang pertama kali mukul saya. Kalau Ibu nggak percaya, panggil Gian! Dia lihat semuanya!"
"Alasan kamu!" sergah Ibu Kevin lantang. "Anak saya ini anak baik-baik! Kamu saja yang emosian! Mana orang tuamu? Biar tahu rasa punya anak kasar begini!"
"Papa saya sibuk, nggak ada waktu urus hal sepele begini," cetus Jovan dingin, memalingkan wajahnya.
Guru BK mengangkat tangan, mencoba menenangkan suasana yang makin panas. "Sudah, Ibu, Jovan, tolong tenang dulu. Saya sudah menelepon Pak Arvin. Beliau bilang akan ada perwakilan keluarga yang datang sebentar lagi untuk menyelesaikan masalah ini."
Tak lama kemudian, pintu ruang BK diketuk dari luar. Pintu terdorong terbuka, dan Nadia melangkah masuk dengan raut wajah cemas. Pandangannya langsung tertuju pada Jovan yang duduk membisu.
"Selamat siang, Bu Guru," sapa Nadia sopan seraya melangkah mendekati meja.
Guru BK mengangguk dan tersenyum. "Selamat siang. Anda perwakilan dari keluarga Jovan?"
"Saya ibunya Jovan," jawab Nadia.
Jovan sempat menoleh cepat, menatap Nadia dengan raut kaget yang tak bisa ia sembunyikan. Ia tidak menyangka wanita yang selama ini ia musuhi justru menjadi orang yang datang membelanya.
Ibu Kevin langsung mendengus sinis, menatap Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Oh, jadi ini ibunya? Pantesan anaknya kasar begini, ibunya saja datang cuma pakai pakaian biasa begini. Tidak usah banyak basa-basi, Bu! Anak Anda sudah memukul anak saya sampai memar. Saya bisa tuntut keluarga Anda!"
Nadia menatap Ibu Kevin dengan tenang, lalu menoleh ke arah Jovan. "Jovan, coba cerita sama Bunda. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jovan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kevin yang mulai duluan, Bun. Dia menghina keluarga kita, terus pas aku suruh diam, dia malah mukul pipiku duluan. Aku cuma balas! Gian ada di lokasi dan melihat semuanya."
Ibu Kevin menyela lantang, "Jangan bohong kamu! Anak saya tidak mungkin...."
"Permisi, Bu," potong Nadia tegas namun bersuara tenang, membuat Ibu Kevin terdiam. Nadia lalu menatap Guru BK.
"Bu Guru, untuk adilnya, bagaimana kalau kita panggil panggil Gian yang berada di lokasi kejadian? Biar kita mendengar kesaksian dari pihak netral sebelum menyimpulkan siapa yang salah."
Guru BK mengangguk setuju. "Baik, usul yang sangat bagus. Saya akan panggil Gian ke sini."
Tak lama, Gian masuk ke ruang BK dengan wajah agak tegang.
Guru BK langsung bertanya, "Gian, coba kamu jelaskan jujur. Apa yang sebenarnya terjadi antara Jovan dan Kevin?"
Gian melirik Kevin dan Jovan bergantian sebelum akhirnya menatap Guru BK. "Saya lihat semuanya, Bu. Kevin duluan yang ngomong kasar dan bawa-bawa keluarga Jovan. Jovan udah suruh dia diam, tapi Kevin malah dorong dan mukul pipi Jovan duluan. Jovan cuma balas defensif."
Mendengar itu, muka Ibu Kevin seketika merah padam. Ia tidak bisa berkutik lagi karena kesaksian Gian begitu jelas dan jujur.
Nadia menatap Ibu Kevin dengan raut wajah tenang namun berwibawa. "Ibu mendengar sendiri, kan? Anak Ibu yang memulai kekerasan fisik dan verbal. Saya mengerti Ibu membela anak, tapi menuduh dan menghina Jovan tanpa tahu kebenarannya itu bukan hal yang bijak."
Ibu Kevin terdiam mematung, meremas tas mewahnya dengan canggung.
Guru BK akhirnya mengambil alih. "Karena kejadian ini dipicu oleh Kevin dan kedua pihak saling memukul, saya harap masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan di sini. Kevin dan Jovan harus saling meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi."
Dengan wajah bersungut-sungut, Kevin akhirnya menyalami Jovan dan meminta maaf, yang dibalas anggukan singkat oleh Jovan.
Setelah urusan di BK selesai, Nadia dan Jovan melangkah keluar menuju pekarangan sekolah. Suasana di antara mereka sempat hening.
Nadia menoleh, menatap pipi Jovan yang agak kemerahan. "Pipi kamu enggak apa-apa, Jovan? Ada yang terasa sakit?"
Jovan mendadak menghentikan langkahnya di bawah rindangnya pohon depan area parkir. Pria muda itu menepis pelan perhatian Nadia, menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata dingin.
"Enggak usah sok perhatian," cetus Jovan dengan nada ketus. "Kenapa harus Kamu yang datang ke sini?"
Nadia menghentikan langkah, menatap Jovan dengan tenang tanpa tersulut emosi.
"Kenapa enggak Papa, Opa, atau Oma yang datang?" cer Cecar Jovan lagi, dadanya naik turun menahan rasa kesal.
"Kenapa harus Kamu? Kamu cuma mau cari muka, kan? Biar Opa sama Oma makin suka sama Kamu dan menganggap Kamu ibu yang baik?"
"Papa kamu lagi ada meeting penting yang enggak bisa ditinggal. Papa yang minta Bunda buat ke sini, Jovan. Mengenai Opa dan Oma... kalau mereka tahu kamu masuk ruang BK karena bertengkar, Opa sama Oma pasti bakal makin kecewa dan kepikiran."
Jovan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Mendengar jawaban Nadia yang masuk akal, ia kehabisan kata-kata untuk membalas, meski egonya menolak keras untuk menerima kebaikan wanita itu.
"Terserah!" dengus Jovan memalingkan wajahnya.
"Aku tetap enggak butuh bantuan Kamu."
Tanpa menunggu balasan lagi, Jovan berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Nadia menuju gerbang sekolah dengan langkah lebar.
"Jovan! Tunggu!" teriak Nadia seraya menghidupkan mesin motornya dan menyusul langkah lebar remaja itu.
Ia menghentikan motornya tepat di samping Jovan yang terus berjalan cepat di trotoar. "Jovan, ayo pulang sama Bunda. Pipi kamu itu harus diobati dulu."
"Nggak usah! Aku bisa pulang sendiri!" sergah Jovan tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun, mengabaikan Nadia sepenuhnya.
Remaja itu langsung berbelok menuju tepi jalan raya untuk menyeberang, bermaksud naik angkutan umum demi menghindari Nadia.
melihat Jovan asal menyeberang di tengah lalu lintas jalan raya yang cukup padat, rasa panik mendadak menguasai Nadia.
"Jovan, awas! Jangan asal nyebrang!"
Tanpa berpikir panjang, Nadia memarkirkan motornya sembarangan di pinggir jalan dan berlari menyusul Jovan. Fokus mata dan pikirannya hanya tertuju pada keselamatan Jovan yang sudah berada di tengah jalan.
"Jovan!" teriak Nadia lagi, ikut melangkah lebar menyeberangi jalan.
Saking paniknya, Nadia sama sekali tidak menyadari dari arah samping sebuah mobil melaju sangat cepat.
Ckiittt!
Suara rem berdecit keras membelah jalanan, namun jarak yang terlalu dekat membuat benturan tak terelakkan.
BRAK!
Tubuh Nadia dihantam keras hingga terpental beberapa meter dan ambruk di atas aspal. Helm yang tak sempat ia kunci terlepas, dan darah segar mulai mengalir membasahi permukaan jalan.
Jovan yang mendengar suara benturan dahsyat itu mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, dan seketika seluruh dunianya serasa runtuh. Matanya membelalak lebar menatap tubuh Nadia yang terbaring tak bergerak di tengah jalanan raya.
"BUNDA!" teriak Jovan histeris, rasa benci dan gengsinya lenyap seketika berganti rasa takut yang luar biasa.