NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Tawa kecil yang terdengar sangat getir dan menyayat hati pecah dari bibir Zela. Dalam keheningan gudang tua yang dingin, air matanya menetes makin deras, mengalir melintasi pipinya yang pucat dan ternoda debu. Dada Zela berombak hebat, terasa bagai dihantam beban tonan besi yang meremukkan seluruh impian konyolnya selama ini.

"Haha... hahaha..." Zela tertawa dalam tangisnya, menundukkan kepala dengan bahu yang bergetar hebat. "Lucu banget ya... Gila, gue bener-bener cewek paling bodoh di dunia ini."

Setiap kebaikan, perhatian, dan celotehan riang yang selama ini ia lontarkan—senyuman manis setiap pagi, teh jahe hangat saat salju turun, hingga perjuangannya menerjang bom demi menyelamatkan nyawa Bashkar—semuanya berubah menjadi lelucon paling tragis. Ia berpikir bisa mencairkan hati es suaminya dan memberikannya sedikit kehangatan, namun ternyata Bashkar sejak awal hanya menganggapnya sebagai daging dan organ yang siap dijual demi sepetak kekuasaan.

"Gue udah berusaha..." bisik Zela serak, suaranya gemetar oleh rasa sakit yang teramat dalam. "Gue cuma mau ngasih dia kehangatan... Gue berusaha keras setiap hari... Tapi jangankan menghargai, melirik gue sebagai manusia aja dia enggak pernah!"

Tatapan mata Zela yang tadinya penuh ketakutan kini berubah menjadi kosong, redup, dan dipenuhi oleh pekatnya rasa benci yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Aku benci kamu, Bashkar..." desis Zela lurus pada kegelapan malam, menyunggingkan senyum hampa. "Aku benci kamu setengah mati..."

Sementara itu, tepat pukul dua dini hari.

Sebuah mobil limousine hitam berhenti di pelataran mansion Deluca. Bashkar melangkah masuk dengan wajah kaku dan lelah setelah menyelesaikan urusan transaksi dan rapat darurat bersama Clarissa hingga larut malam.

Pria tegap itu melangkah tegap menuju lantai dua, mendorong pintu kamar pribadinya dengan gerakan dingin seperti biasa.

Namun, begitu pintu terdorong terbuka, langkah Bashkar seketika terhenti di ambang pintu.

Pendar remang cahaya lilin aromaterapi beraroma vanilla bourbon menyapa indra penglihatannya, memancarkan kehangatan yang amat asing di dalam ruangannya yang biasa dingin dan kaku. Di atas meja tengah, tergeletak sebuah kue cokelat pekat yang didekorasi sangat rapi, lengkap dengan lilin angka dan kartu ucapan kecil buatan tangan di sampingnya. Vas bunga mawar putih segar menghiasi sudut tempat tidurnya.

Bashkar membeku sejenak. Manik mata kelabunya menatap tatanan romantis itu, dan dalam sekali lihat, ia tahu betul siapa satu-satunya manusia konyol di mansion ini yang berani bertindak sejauh ini tanpa izinnya.

Raut wajah Bashkar makin mengeras, dipenuhi ketidaksukaan atas ruang pribadinya yang terusik.

Klek.

Bashkar memutar tubuhnya dan menekan bel panggil. Dalam hitungan detik, seorang pelayan wanita senior bergegas datang dengan wajah panik dan menunduk takut.

"Buang semua sampah ini," perintah Bashkar dingin, suaranya datar bagai es tanpa memandang pelayan tersebut. "Dan panggil Zelara untuk menghadapku sekarang juga."

Pelayan wanita itu makin menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar pelan saat memberanikan diri untuk bersuara.

"M-mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan..." cicit pelayan itu dengan suara gemetar. "Nyonya Zelara... belum pulang sejak siang tadi."

Gerakan tangan Bashkar yang baru saja hendak melepas kancing jasnya seketika terhenti. Manik mata kelabunya menyipit tajam, berkilat berbahaya.

"Apa maksudmu?" desis Bashkar dengan nada suara yang turun beberapa oktav, memancarkan intimidasi yang mencekam.

"N-nyonya pergi menyusul Tuan ke kantor tadi siang membawa hiasan ini..." lanjut pelayan itu memburu, keringat dingin membasahi dahi. "Tapi hingga jam dua malam ini, Nyonya belum juga kembali ke mansion, Tuan. Pengawal di depan mengatakan Nyonya tidak pulang bersama mobil jemputan."

Atmosfer di dalam kamar pribadi Bashkar seketika membeku. Keheningan yang menekan dan sarat akan ancaman menyelimuti ruangan, hanya diimbangi oleh pendar remang lilin aromaterapi yang masih membakar uap manis di sudut meja.

Belum sempat Bashkar melepaskan rentetan perintah atau luapan amarah pada pelayan senior yang menunduk ketakutan di depannya, derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian koridor luar.

Klek.

Rian menerobos masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu—sebuah pelanggaran protokol ketat yang amat langka dilakukan oleh sang asisten pribadi. Wajah Rian tampak tegang, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam sewaktu menghampiri sang majikan. Di belakangnya, seorang pengawal berbadan tegap berdiri kaku sambil memegang sebuah kotak kardus berukuran sedang bernoda tanah.

"Tuan," panggil Rian dengan suara rendah yang sedikit tertahan. "Seorang kurir paket misterius baru saja melemparkan kotak ini di depan gerbang utama mansion. Pengawal sempat mengejar, namun pengirimnya berhasil kabur menggunakan sepeda motor tanpa plat nomor."

Pengawal di belakang Rian melangkah maju dengan gemetar, menyodorkan kotak kardus polos tanpa label alamat tersebut tepat ke hadapan Bashkar.

"Paket ini dialamatkan khusus atas nama Anda, Tuan," cicit pengawal itu pelan.

Bashkar tidak melontarkan sepatah kata pun. Manik mata kelabunya memancarkan kilatan gelap yang amat pekat. Dengan gerakan tenang namun penuh tenaga, pria tegap itu meraih kotak tersebut dan merobek selotip penutupnya tanpa ragu.

Begitu penutup kardus teribak, bau anyir darah yang menyengat langsung membumbung keluar, merusak aroma vanilla bourbon dan kayu cendana yang tadinya memenuhi ruangan.

Di dalam kotak tersebut, tergeletak sebuah kantong plastik bening tebal berukuran sedang. Plastik itu terisi penuh oleh cairan darah merah pekat yang masih hangat dan menggenang licin.

Rian dan pelayan senior di ruangan itu menahan napas serentak, wajah mereka memucat seketika saat menyadari apa yang ada di dalam kantong tersebut.

Namun, perhatian Bashkar tertuju pada objek yang tenggelam di dasar plastik berdarah itu. Di antara genangan merah pekat tersebut, tampak sepasang anting-anting perak kecil berbentuk kelopak bunga mungil dengan hiasan permata batu safir di tengahnya.

Deg.

Jantung Bashkar seolah berhenti berdetak selama satu ketukan penuh.

Rahang tegapnya mengeras seketika, dan pupil mata kelabunya mengecil tajam. Ingatan visual pria itu berputar kilat ia mengenali benda itu dengan sangat jelas. Anting perak mungil bermata safir itu adalah anting yang sama persis yang melingkar cantik di cuping telinga Zela siang tadi, saat wanita itu bersiap pergi menyusulnya ke kantor sambil mengomel manis dan tersenyum ceria di foyer mansion.

Genggaman jemari Bashkar pada pinggiran kardus mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, meremukkan karton tebal itu dalam sekali cengkeraman.

Aura membunuh yang teramat pekat, dingin, dan murni seketika meledak dari dalam tubuh sang penguasa underworld, menembus seluruh ruangan bagaikan badai salju yang membekukan darah siapa pun yang bernapas di dekatnya.

1
Icon Diamon
bagus thor buatlah penyesalan terdalam atas kematian zelara karna sikapnya kepada clarissa membuat kemtian bagi zelara ,,aku setuju baget thor lw zelara tiada,,,
Candi Ci
ceritan bagus thor ,,semangat thor ,,lebih semangat lagi buat zelara meningal atau dia hidup kembali tapi dengan ilang ngatan dan pergi jauh dari si baskhar itu ,,💪💪👍
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!