"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
POV Aga
Aku menunggu Arin sampai sore, perut ini lapar, tapi melihat menu di meja rasanya aku tidak berselera. Ya sejak dulu urusan makanan,keluarga kami memang bergantung pada Arin.
Ibu bahkan sampai jatuh di kamar mandi karena belum makan, dia tidak berselera, Ibu juga punya riwayat magh membuat ibu tidak bisa istirahat dengan tenang.
Kali ini aku benar-benar marah,bukan pura-pura lagi. Begitu dia sampai aku langsung marah padanya, seperti biasa dia hanya diam, dia langsung ke kamar ibu.
Lebih parahnya lagi ibu membelanya.
"Arin sudah siapin obat buat ibu nak, hanya saja Ibu nggak biasa makan makanan orang lain, jadi tidak berani minum"
Ibu benar, aku sendiri saja belum makan dari tadi, tapi malu ingin minta di buatkan sesuatu, al hasil aku memilih langsung ke kamar.
Aku ingin tidur, namun aroma nasi goreng membuat hidung ini tak bisa memejamkan mata.
"Apa dia memasak untuk ku?pasti begitu"
Aku mengintipnya saat dia mengantar makanan untuk Ibu, dia juga menyuapi ibu.
Begitu dia selesai, Aku buru-buru kembali ke kamar, aku sudah melihat nasi goreng di meja dapur. Tapi aku malu mau memakannya langsung. Jadi aku memutuskan untuk menunggu dia membawa nasi goreng itu ke kamar ku.
Sayangnya Rahma menelfon, dia memintaku memanggil nya sayang, pasti dia sedang bertengkar dengan pacarnya, sudah tiga kali mereka putus nyambung, dan aku selalu jadi korban lelaki selingkuhan Rahma. Karena dia sudah banyak membantu ku, jadi aku putuskan untuk membantunya. Kami saling menelfon lama, karena pacar Rahma tak kunjung mau pergi.
Tapi aku juga heran, kenapa nasi goreng ku belum juga sampai ke kamar?
Begitu Rahma selesai aku masih tak melihat Arin masuk, ku putuskan langsung ke dapur karena perut ini sudah keroncongan. Namun nasi yang tadi aku lihat sudah tidak ada. Aku kesal, apa dia memakan nasi goreng itu sendiri? tega sekali dia. Mana dia tidak kembali ke kamar, aku mulai mencarinya dan ternyata dia sudah tidur pulas di pelukan ibuku.
"sepertinya malam ini aku akan tidur dengan perut kosong"
***
Aku bangun pagi sekali karena perut ini keroncongan, aku tidak melihat apapun di dapur, Arin juga tidak kelihatan batang hidungnya, padahal biasanya dia bangun paling awal. Aku justru melihat ibu sudah berdandan rapi dengan membawa koper kecil.
"Ibu mau kemana?"
"Ibu mau ke rumah teman, mau nginep beberapa hari, ada acara bersama. Kamu di rumah jagain Arin ya? Jangan selalu marahin dia, ajak jalan-jalan juga. Jangan di rumah terus" Pinta Ibu. Aku tidak bilang iya, aku hanya menjawab dengan gumaman saja.
Begitu ibu pergi, aku berniat membuat mie instan, aku mencari di mana letak mie itu, tapi tidak juga aku temukan. Hingga Arin kelihatan kebingungan mencari ibu.
"Ibu pergi, katanya dua hari"
begitu mengatakan itu, aku langsung ke kamar. Arin merasa lega, tahu begitu aku tadi kerjain saja dulu. Kenapa aku langsung bilang? Aku tak jadi memasak mie, karena aku yakin Arin akan segera memasak. Dan dugaan ku benar adanya. Aku mencium aroma masakan Arin yang begitu sedap. Rasanya aku tak sabar ingin makan, tapi aku memutuskan mandi dulu.
Mendadak tubuh ini begitu panas, mungkin karena sibuk dengan kasus kemarin, aku jadi jarang makan, apalagi kemarin aku juga tidak makan sama sekali sejak siang. Tubuhku rasanya lemas.
Arin sepertinya tahu keadaan ku, begitu aku selesai makan, dia memberiku obat, dia juga membawakan aku alat kompres.
Rasanya nyaman sekali, Aku akui Arin gadis yang baik, dia cantik, dia juga pintar masak, pintar cari uang. Eh? Kenapa aku jadi memujinya begini? Bagaimanapun pun dia penyebab papa tiada. Aku tidak boleh suka padanya.
Saat kepala ini pening, mendadak Rahma minta bantuan padaku, dia sedang di puncak, Mantan pacarnya terus mengikutinya dan menanyakan di mana pacar barunya yakni aku.
Dia merengek memintaku datang agar aku membantunya, aku sudah bilang aku tidak bisa, tapi dia mengancam akan memberi tahu ibu tentang kebenaran diriku dan Arin jika aku tidak ke sana. Dengan sempoyongan aku terpaksa mengiyakan. Dari pada ibu tahu dan jatuh sakit, bisa panjang urusannya.
Aku bilang ingin pergi pada Arin, dia melarang ku. Karena dia tahu aku sedang sakit. Andai saja Rahma bisa mengerti keadaanku, pasti aku juga memilih tidur di rumah saja. Tapi aku harus ke sana, aku tidak mau Rahma datang ke rumah dan mengatakan semuanya. Aku bisa di marahi Ibu habis-habisan, apalagi kalau sampai ibu jatuh sakit, aku juga yang akan menyesal.
"Aku mau ke ke Bogor, kamu jaga rumah" Pamit ku.
Dia kembali melarang ku tapi aku kekeh menolak, dia mendadak menangis, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Tapi satu yang aku tahu, dia pasti tidak akan membiarkan aku pergi sendirian dalam keadaan seperti ini. Jadi aku memilih mengempeskan ban motornya. Jadi dia tidak akan bisa mengikuti aku.
Aku benar-benar ke puncak dalam kondisi tidak fit, aku bahkan naik gunung dalam keadaan dingin begini, untung saja tadi Arin sudah memberiku obat, jadi badanku tidak terlalu panas. Untung saja aku seorang abdi negara, aku sudah terbiasa dalam kondisi seperti ini, jadi aku masih sanggup naik sampai puncak.
Rahma terlihat kegirangan saat melihat ku sudah ada di sana. Dia mulai memintaku melakukan hal-hal bodoh. Dia memintaku membuatkan makanan, menyuapinya, kami bahkan selalu selfi berdua di setiap tempat.
Jujur aku rasanya ingin tumbang, keesokan harinya aku kembali harus bersandiwara, kami kembali bermesraan, saling gandengan tangan, saling peluk dan tersenyum di depan Rahma. Ini benar-benar sudah gila. Totalitas sekali Rahma ingin membuat mantannya cemburu.
"Sudah belum? Aku ingin pulang"
"Pulangnya sorean mas, lihat dia masih di sini"
Aku berdecak kesal, di sini aku hanya bisa makan mie instan, sedangkan di rumah Arin pasti sudah memasak kan banyak menu lezat untuk ku. Ini kali pertama kalinya aku merindukan dia, bukan orangnya tapi masakannya.
Aku bahkan sempat membuka ponsel dan mencari kontak Arin, aku ingin bilang kalau aku ingin dia masak makanan kesukaan ku. Tapi Rahma justru makin gila, dia memberiku sebuah cincin dan memintaku melamar dia di sini.
"Drama apa lagi ini? Semoga saja tidak ada drama menikah setelah lamaran"
Batin ku menjerit, aku hanya ingin segera pulang, membersihkan diri dan segera memakan masakan Arin.
Entah kenapa sejak kemarin aku selalu ingat dia, aku penasaran dia sedang apa di sana. Apa mungkin aku merindukan dia? Tidak-tidak tidak, aku tidak akan merindukan gadis pembawa sial seperti dia.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...