NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Resep Palsu

Wati pulang ke kota sambil membayangkan antrean pembeli.

Kertas dari Bayu dilipat di dalam dompet. Kepada keluarga Sofyan, dia mengaku telah mempelajari seluruh rahasia Laras selama Lebaran.

“Rendangnya laris karena resep ini,” katanya sambil membentangkan kertas di meja dapur. “Kalau kita menjual lebih murah, pelanggan pasti pindah.”

Ibu Sofyan membaca daftar itu dengan ragu. “Takaran santannya aneh.”

“Mbak Laras memang punya cara khusus.”

“Rempah ditumis belakangan?”

“Itu rahasianya.”

Wati tidak berani mengakui bahwa catatan tersebut dibuat anak tujuh tahun. Dia menambahkan cerita tentang bagaimana Laras menyimpan resep dalam lemari terkunci karena takut disaingi.

Sofyan tertarik setelah menghitung kemungkinan untung. Keluarganya memiliki dapur kecil di belakang rumah dan biasa menjual gorengan serta nasi bungkus. Mereka hanya perlu membeli daging, membuat papan nama, lalu menawarkan kepada pelanggan lama.

“Daging dari peternakan kakakmu bisa murah?” tanyanya.

“Kak Arya pasti memberi harga keluarga.”

“Hubungi.”

Wati menelepon. Arya menjawab bahwa semua pembelian usaha harus melalui kantor dan harga grosir berlaku jika jumlah memenuhi batas. Tidak ada daging gratis.

Sofyan mendecakkan lidah setelah telepon ditutup. “Kakak sendiri pelit.”

“Kita beli dari pasar. Setelah untung, mereka yang akan malu.”

Mereka membeli daging potongan murah yang hampir melewati batas segar. Agar biaya turun, jumlah daging dikurangi dan santan diperbanyak. Kertas palsu menyebut waktu masak terlalu singkat, sehingga bumbu tidak meresap dan kuah tetap encer.

Panci pertama terasa hambar, manis, dan berbau rempah mentah.

Ibu Sofyan meletakkan sendok. “Ini bukan rendang.”

Wati memaksa menelan. “Baru percobaan. Mungkin apinya salah.”

Sofyan mengambil kertas dan memeriksa angka. “Kamu yakin tidak salah menyalin?”

“Aku melihat sendiri Mbak Laras memasak.”

“Melihat atau belajar?”

“Sama saja.”

Ibu mertuanya menyarankan menelepon Laras dan meminta bimbingan. Wati menolak keras. Setelah menyombongkan diri bahwa dia menguasai resep, meminta bantuan berarti mengakui kebohongan.

“Dia akan sengaja memberi cara yang salah,” kata Wati. “Dia takut disaingi.”

Sofyan menatapnya lama. “Kalau usaha ini rugi, modalnya dipotong dari uang belanjamu.”

Wati merasa terpojok, tetapi tetap mengangguk. Dia sudah menggunakan sebagian tabungan tanpa memberi tahu suaminya. Satu-satunya jalan menjaga muka adalah membuat masakan itu terjual.

Panci kedua dibuat dengan cabai lebih banyak untuk menutupi rasa. Rempah tetap dimasukkan terlambat. Kuah mengental, tetapi daging keras.

“Kalau dijual sebagai semur pedas saja?” usul salah satu kerabat.

Wati menolak. Dia sudah membanggakan resep rahasia kepada tetangga dan tidak mau terlihat gagal.

“Kita latihan sekali lagi. Rasanya sudah mendekati.”

Padahal tidak seorang pun di meja menghabiskan porsi uji coba.

Masalah mereka bukan hanya resep. Dapur sempit dipakai bergantian untuk memotong daging mentah, mencuci sayur, dan membungkus makanan matang. Talenan hanya dibilas cepat. Kain lap berbau asam tetap dipakai. Panci pertama dibiarkan di suhu ruang sampai malam, lalu dicampur ke masakan baru agar tidak rugi.

Santan yang sudah terbuka disimpan tanpa pendingin. Ketika baunya berubah, ibu Sofyan ingin membuangnya.

“Masih bisa dipakai kalau direbus,” kata Sofyan. “Tambahkan cabai dan gula.”

“Kalau pembeli sakit?”

“Tidak akan. Orang warung biasa begitu.”

Wati tahu itu berisiko. Namun jika bahan dibuang, modal mereka habis sebelum jualan. Dia memilih diam.

Dalam tiga hari, dapur menghasilkan belasan wadah. Sebagiannya dimasak baru, sebagian dicampur sisa hari sebelumnya. Tidak ada label tanggal produksi. Daging yang belum terpakai hanya ditutup plastik di meja karena lemari pendingin penuh minuman.

Seorang kerabat mengusulkan memakai wadah sekali pakai baru. Sofyan memilih mencuci ulang wadah bekas katering karena lebih murah. Beberapa tutup tidak rapat, tetapi tetap dipakai dan diikat dengan karet.

Mereka juga tidak memisahkan uang tunai dari meja pengemasan. Tangan yang menerima pembayaran kembali menyentuh sendok saji tanpa dicuci. Ketika lalat masuk melalui pintu belakang, Wati hanya menutup panci dengan koran sementara.

“Nanti kalau ramai kita benahi,” katanya.

Semua kekurangan dianggap sementara. Sayangnya, makanan tidak menunggu usaha menjadi mapan sebelum bakteri berkembang.

Sofyan mencetak spanduk bertuliskan “Rendang Resep Warisan Keluarga”. Nama Wati diletakkan kecil di bawahnya sebagai pemilik resep.

“Kenapa namaku kecil?” protes Wati.

“Yang penting orang membeli.”

Telepon Sofyan berbunyi. Dia membalik layar sebelum Wati melihat nama pengirim, lalu keluar dengan alasan mengambil es batu.

Wati sempat mengikuti sampai pintu. Di ujung gang, suaminya tersenyum saat menelepon seseorang, nada yang tidak pernah dipakai kepadanya. Ketika ditanya, Sofyan malah membentak agar dia fokus mengurus masakan.

“Kalau usahamu gagal, jangan salahkan aku,” katanya.

Ucapan itu membuat Wati semakin nekat membuktikan diri.

Hari pertama berjualan, mereka membagikan sampel gratis di depan rumah. Banyak orang mendekat karena spanduk baru dan harga yang jauh lebih murah daripada pesanan Laras. Beberapa mengernyit setelah mencicipi, tetapi cabai dan gula menutupi sebagian bau aneh.

Seorang pedagang minuman bertanya apakah produk itu memiliki izin usaha pangan rumahan atau setidaknya label produksi. Sofyan menjawab mereka masih uji pasar dan jumlahnya kecil. Dia berjanji mengurus semua setelah penjualan stabil.

“Kalau masih uji coba, jangan pakai nama resep terkenal,” kata pedagang itu.

Wati tersinggung. “Ini resep keluarga kami sendiri.”

“Keluarga dari mana?”

“Kakakku pemilik Rejo Makmur. Rendang istrinya terkenal di dua desa.”

Nama itu membuat beberapa pembeli yang tadinya ragu ikut mencoba. Wati tidak menyebut bahwa Arya tidak pernah memberi izin atau bahwa Laras bahkan tidak tahu produknya dijadikan jaminan mutu.

“Rasanya beda,” kata seorang pelanggan.

“Ini versi kota,” jawab Wati cepat. “Resep asli keluarga peternak terkenal di Rejosari.”

Menyebut nama besar Arya membuat orang lebih percaya. Pesanan kecil mulai masuk. Sofyan menyuruh keluarga memperbanyak produksi meski wadah kotor menumpuk dan bahan lama belum habis.

Menjelang sore, satu pelanggan kembali dan mengatakan dagingnya terlalu keras. Wati mengganti porsi tanpa mencatat keluhan. Pelanggan lain menyebut kuahnya berbau asam, lalu Sofyan menambahkan gula ke seluruh panci.

“Besok kita masak lebih banyak,” katanya saat uang dihitung. “Kalau murah, orang tetap beli.”

Wati melihat beberapa lembar rupiah di meja dan memilih percaya kepadanya. Mereka tidak menghitung bahan yang dibuang, wadah yang bocor, atau risiko dari keluhan pertama. Uang tunai kecil tampak seperti bukti bahwa semua keputusan mereka benar.

Ibu mertuanya sekali lagi meminta panci sisa dibuang.

“Besok dipanaskan lagi,” kata Sofyan. “Jangan manja kalau mau untung.”

Wati berdiri di bawah spanduk, dada terangkat, menerima uang dari pembeli pertama.

Di belakangnya, panci berisi campuran masakan lama dan baru tetap berada di meja panas sejak pagi.

Dia tidak sadar bahwa yang sedang dijual bukan rahasia kesuksesan Laras.

Itu adalah awal dari kehancurannya sendiri.

1
Manusia lewat
well, gini y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!