“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
“Tante, Om, saya pamit pulang dulu, ya. Saya hanya berniat mengantarkan Rania ke sini,” ucap Jonathan. Ia tersenyum tipis dan membungkuk hormat. Sebagai orang luar, ia tahu diri tidak mungkin tetap berada di sana dan mendengarkan semua pembicaraan pribadi yang teramat sakral bagi keluarga mereka.
Rania perlahan melepaskan pelukan ibunya, lalu menoleh ke arah Jonathan dengan mata yang memerah. “Makasih banyak ya, Jo, sudah mau repot-repot mengantarku sampai ke sini.”
“Sama-sama, Ran. Ingat pesan aku tadi ya, jangan terlalu lelah. Nanti kalau ada apa-apa atau kalau kamu sudah selesai, langsung hubungi aku saja,” sahut Jonathan dengan teramat lembut dan penuh perhatian.
Setelah mencium tangan Rima dan Aditya secara bergantian dengan sopan, dokter muda itu pun melangkah mundur dan berpamitan pulang.
Kini, tinggallah mereka bertiga di dalam ruang tamu yang mendadak diselimuti keheningan mencekam namun sarat akan rasa haru. Rima tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rania. Ia menatap lekat-lekat wajah putrinya, ada binar bahagia yang luar biasa karena bisa melihat anaknya lagi. Namun di sisi lain, gurat kesedihan mendalam langsung tercetak jelas di wajah tuanya.
“Rania, kenapa badanmu bisa sampai kurus kering seperti ini, Nak?” tanya Rima, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kembali. Ia mengusap pipi Rania yang tirus. “Bukankah dulu waktu kamu pergi dari rumah ini, kamu masih lumayan berisi? Kenapa sekarang wajahmu pucat sekali seperti orang yang kurang darah?”
Rania hanya terdiam, bibirnya kelu. Ia buru-buru membuang pandangan ke arah lain agar ibunya tidak bisa membaca kebohongan dari matanya. Ia tidak mungkin menceritakan tentang penyakit mematikan yang sedang menggerogoti tubuhnya sekarang.
Berbeda dengan Rima yang penuh kelembutan, Aditya Wiranata masih berdiri mematung di tempatnya. Pria paruh baya itu menatap putri tunggalnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, namun wajahnya sengaja dipasang sedingin es dan sekaku batu.
Ya, ego dan harga diri Aditya sebagai seorang ayah masih teramat tinggi. Ia masih ingat betul bagaimana tiga tahun lalu Rania dengan berani melawannya, membentaknya, dan mengabaikan segala nasihatnya hanya demi bersanding dengan pria bernama Harsa itu. Aditya lah yang kala itu dengan sisa harga dirinya memutuskan hubungan kekeluargaan mereka.
“Untuk apa kamu datang kembali ke rumah ini?” tanya Aditya melangkah maju dengan angkuh, lalu menatap Rania dengan tatapan tajam. “Di mana suamimu yang kamu agung-agungkan itu? Mana si Harsa?! Apa dia sekarang sudah bosan padamu, lalu menendang dan meninggalkanmu begitu saja?!”
Rania sedikit tersentak mendengar kalimat tajam sang ayah. Dadanya terasa nyeri, sesak yang teramat sangat kembali menghantamnya. Rania tahu betul ayahnya masih sangat kecewa padanya. Dan di balik bentakan itu, ada rasa sakit hati seorang kepala keluarga yang pernah diabaikan oleh putri kandungnya sendiri.
“Pa, tolong jangan seperti ini. Biarkan putri kita duduk dan bernapas dulu, Papa jangan langsung menyemprotnya dengan kalimat sekasar itu,” potong Rima membela putrinya, air matanya kembali mengalir melihat ketegangan di depan matanya.
“Diam, Ma! Papa sedang bicara dengannya! Jangan ikut campur!” bentak Aditya dengan suara yang meninggi, membuat Rima seketika bungkam ketakutan.
Meski di luar Aditya nampak begitu murka dan menaruh rasa kecewa yang luar biasa besar, jujur saja jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat menyayangi Rania. Mau sebesar apa pun rasa sakit hati orang tua, Rania tetaplah darah dagingnya, putri kecilnya yang dulu selalu ia timang dengan penuh kasih sayang.
Rania menatap wajah tua ayahnya yang kini nampak dipenuhi amarah. Air mata Rania mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.
“Pa... maafkan Rania... Rania mohon, maafkan semua kesalahan Rania selama ini...”
Aditya langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela besar di sudut ruangan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang mendadak mendesak ingin keluar. Ia sama sekali tidak ingin Rania melihat kalau dirinya saat ini sedang menangis dan runtuh pertahanannya.
Melihat respons dingin dari sang ayah, seketika Rania melangkah maju lalu menjatuhkan tubuh ringkihnya, berlutut di hadapan kaki Aditya. Ia menyentuh kedua kaki ayahnya dengan jemarinya yang bergetar.
“Rania, sayang! Astaga, apa yang kamu lakukan, Nak?! Bangun, Sayang, jangan begini!” seru Rima histeris, mencoba menarik pundak putrinya agar kembali berdiri, namun Rania menolaknya dengan keras.
“Papa boleh tidak menerima Rania kembali ke rumah ini. Papa boleh tetap tidak mengakui Rania sebagai putri Papa sampai kapan pun. Tapi Rania mohon dengan sangat, maafkan semua kesalahan dan kedurhakaan Rania di masa lalu,” isak Rania pecah, tubuhnya berguncang hebat.
Sungguh, saat ini Rania benar-benar tulus ingin berbaikan dan mendapatkan ridha dari kedua orang tuanya. Rania sangat takut jika sisa waktunya habis dan nyawanya nanti tidak bisa diselamatkan, ia akan mati dalam keadaan membawa dosa besar sebagai anak durhaka.
Mendengar tangisan pilu putrinya yang begitu menyayat hati, dada Aditya seolah dihantam godam besar. Namun, ego dan sisa amarahnya memenangkan pertempuran batin itu. Dengan kasar, Aditya menarik kakinya dari cengkeraman tangan Rania. Ia melangkah menuju kamarnya di lantai atas, tanpa memedulikan lagi Rania yang menangis tersedu-sedu.
Rima yang tidak tega melihat pemandangan memilukan itu langsung berlutut di samping Rania. Beliau memeluk erat tubuh putrinya yang terasa sangat rapuh, lalu memapahnya untuk bangun.
“Sudah, Sayang... sudah, jangan menangis lagi, ya? Papamu hanya masih butuh waktu untuk menata hatinya. Nanti malam biar Mama yang mencoba bicara pelan-pelan dengannya,” ucap Rima sembari menyeka air mata di wajah Rania dengan penuh kasih sayang.
“Tapi, Ma... Rania takut papa tidak akan pernah memaafkan Rania lagi...” ucap Rania dengan suara parau yang teramat menyedihkan.
“Cukup, Rania. Mama nggak mau dengar kamu bicara tang tidak-tidak,” ucap Rima, menghentikan kalimat Rania yang dipenuhi keputusasaan. “Sekarang, ayo ikut Mama ke kamarmu. Mama perlu bicara banyak hal denganmu.”
Rima membimbing Rania menuju kamar lamanya. Kamar yang masih tetap sama tanpa Rima ubah sedikitpun.
padahal Harsa sdh mulai sadar naif dan manipulatif nya seorang wulan eh dia dgn bangga nya memerkan tentang dia sebagai calon istri dan lgsg bertabrakan dgn pemilik oerusahaan🤣dasar wulan bodoh masih pede lg bilang calon istri🤣🤣
kemiskinannya😌😌