IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Dua Hari dalam Sunyi
Lima hari tersisa sebelum hari jadi pernikahan yang seharusnya menjadi perayaan cinta, namun kini hanya terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran yang semakin nyata. Setelah insiden vas kristal yang berakhir dengan kekerasan fisik terhadap dirinya, Brooklyn semakin membatasi diri dari segala interaksi dengan Helena, berharap dengan menjaga jarak sejauh mungkin, ia bisa terhindar dari fitnah-fitnah baru yang terus dirancang wanita itu dengan begitu licik.
Namun harapan itu kembali kandas pada suatu pagi ketika Brooklyn baru saja selesai menyeduh teh hangat di dapur, bermaksud membawanya kembali ke kamarnya untuk menghabiskan waktu jauh dari kehadiran Helena yang selalu membawa masalah.
Ketika ia melewati koridor menuju kamarnya, tiba-tiba terdengar jeritan keras dari arah ruang keluarga—jeritan Helena yang begitu melengking, penuh kepanikan yang terdengar begitu meyakinkan.
"Panas! Astaga, panas sekali! Tolong aku!"
Brooklyn, yang terkejut mendengar jeritan itu, segera bergegas menuju sumber suara, mendapati Helena yang tampak memegangi tangannya sendiri dengan ekspresi kesakitan yang luar biasa, kulit tangannya tampak memerah seolah baru saja terkena air panas.
Liam, yang kebetulan berada tidak jauh dari ruangan tersebut, segera berlari mendekat begitu mendengar jeritan Helena, wajahnya pucat pasi menyaksikan kondisi tangan wanita yang begitu ia sayangi.
"Apa yang terjadi?!" tanya Liam panik, segera memeriksa tangan Helena yang tampak memerah dan melepuh di beberapa bagian.
"Brooklyn," ucap Helena dengan suara lemah yang bergetar, matanya menatap Brooklyn yang baru saja tiba di ruangan itu dengan cangkir teh masih di tangannya. "Dia menyiramkan air panas ke tanganku. Dia bilang aku tidak pantas berada di rumah ini."
Tuduhan itu membuat Brooklyn membelalak tidak percaya, cangkir teh di tangannya nyaris terjatuh karena keterkejutan yang begitu mendalam. "Itu kebohongan! Aku baru saja datang dari dapur! Aku bahkan tidak pernah mendekatimu sama sekali!"
Namun Liam, yang matanya kini dipenuhi kekhawatiran dan amarah menyaksikan kondisi tangan Helena yang begitu mengerikan, sama sekali tidak mendengarkan bantahan Brooklyn. "Kau benar-benar sudah keterlaluan, Brooklyn!" bentaknya, suaranya menggema penuh kemarahan yang tidak terbendung. "Bagaimana bisa kau tega melukai seseorang dengan cara sekeji ini?!"
"Liam, aku tidak melakukannya! Kau harus percaya padaku!"
"Diam!" bentak Liam, matanya dipenuhi kegelapan yang bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya. "Aku sudah muak dengan segala kebohonganmu! Kali ini kau sudah melampaui batas!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Brooklyn untuk membela diri lebih jauh, Liam menyeret lengannya dengan kasar menuju kamar tidurnya sendiri, mendorongnya masuk dengan begitu keras hingga Brooklyn nyaris tersungkur ke lantai.
"Kau akan tetap di dalam sini sampai aku benar-benar yakin kau menyadari kesalahanmu," ucap Liam dingin, sebelum membanting pintu kamar itu dan menguncinya dari luar dengan gerakan yang penuh kemarahan.
Brooklyn menggedor pintu itu dengan panik, jeritannya memohon penjelasan dan keadilan bergema di sepanjang koridor, namun tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya. "Liam! Liam, tolong dengarkan aku! Aku tidak melakukan apa pun! Liam!"
Namun hanya kesunyian yang menjawab teriakannya, sementara di ruangan lain, Liam sibuk merawat tangan Helena yang sesungguhnya hanya diolesi dengan sedikit minyak panas yang sengaja ia siapkan sebelumnya untuk menciptakan efek luka bakar yang meyakinkan.
...***...
Hari pertama dalam kurungan, Brooklyn masih memiliki sedikit harapan bahwa Liam akan segera menyadari kesalahannya dan membebaskannya. Ia duduk di sudut ranjang, menunggu dengan sabar meski rasa lapar mulai menggerogoti perutnya sejak siang hari, mengingat ia belum sempat makan apa pun sebelum insiden itu terjadi.
Ketukan pintu tidak pernah datang. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada seorang pun yang peduli untuk memeriksa keadaannya di dalam kamar yang terkunci itu. Melalui jendela kamarnya, Brooklyn hanya bisa mendengar samar-samar suara tawa Liam dan Helena yang terdengar begitu bahagia dari ruang keluarga di lantai bawah, seolah keberadaannya yang terkurung sama sekali tidak menjadi beban pikiran bagi mereka berdua.
Hari kedua, kondisi Brooklyn mulai memburuk secara signifikan. Tenggorokannya terasa kering dan perih akibat dehidrasi yang mulai menyerang tubuhnya, kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya terasa perih karena kekosongan yang sudah berlangsung lebih dari sehari penuh. Ia mencoba menggedor pintu sekali lagi dengan sisa tenaga yang ia miliki, suaranya sudah mulai serak akibat teriakan-teriakan sebelumnya yang tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Kumohon... seseorang tolong aku..." bisiknya lemah, tubuhnya mulai gemetar akibat kelelahan dan kekurangan cairan yang semakin parah.
Namun tidak ada yang datang. Dari balik pintu, sesekali ia masih bisa mendengar suara tawa dan bisikan mesra antara Liam dan Helena, sebuah kontras yang begitu menyakitkan dibandingkan dengan penderitaan yang sedang ia alami sendirian di dalam kegelapan kamarnya.
Menjelang malam hari kedua, tubuh Brooklyn sudah terlalu lemas untuk sekadar duduk tegak. Ia terbaring di lantai dekat pintu, kesadarannya mulai kabur akibat dehidrasi parah dan kelaparan yang telah berlangsung selama dua hari penuh tanpa henti. Pandangannya mengabur, kepalanya terasa berputar, dan tubuhnya menggigil meski udara di kamar itu tidak terlalu dingin.
...***...
Ketika akhirnya pintu kamar itu terbuka pada pagi hari ketiga, Liam yang membukanya mendapati Brooklyn tergeletak lemas di lantai dekat pintu, wajahnya pucat pasi dengan bibir yang kering pecah-pecah, tubuhnya gemetar hebat dan hampir tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Untuk sesaat, ada kilatan kekhawatiran yang muncul di mata Liam menyaksikan kondisi mengerikan istrinya itu. Namun sebelum ia sempat bertindak lebih jauh, suara Helena yang tiba-tiba mengerang kesakitan dari kamar tamu mengalihkan perhatiannya sepenuhnya.
"Liam! Tanganku... rasanya semakin sakit!" jerit Helena dari kejauhan, suaranya terdengar begitu menderita.
Liam, yang perhatiannya langsung teralihkan sepenuhnya, hanya sempat memberikan segelas air kepada Brooklyn sebelum bergegas meninggalkannya untuk memeriksa kondisi Helena yang ternyata benar-benar mulai demam tinggi akibat infeksi ringan pada kulitnya yang sengaja ia lukai sendiri demi memperkuat kebohongannya.
Brooklyn, dengan tangan gemetar, meraih gelas air itu dan meminumnya dengan rakus, tenggorokannya yang kering akhirnya mendapatkan sedikit kelegaan meski tubuhnya masih terasa begitu lemah. Ia mendengar keributan dari kamar tamu, suara Helena yang terus mengerang kesakitan, dan suara panik Liam yang segera menelepon dokter pribadi keluarga untuk datang memeriksa kondisi Helena yang semakin memburuk.
Selama beberapa jam berikutnya, Liam sepenuhnya sibuk mengurus Helena yang harus dirawat secara intensif akibat demam tinggi dan infeksi yang menyerang tubuhnya, sementara Brooklyn dibiarkan begitu saja di kamarnya sendiri, tidak ada seorang pun yang memeriksa apakah kondisinya sudah membaik setelah dua hari penuh tanpa makanan dan minuman yang layak.
Brooklyn, yang perlahan mulai memulihkan sedikit tenaganya berkat air yang telah ia minum, mendengar setiap detail kepanikan dan perhatian yang diberikan Liam kepada Helena melalui pintu kamarnya yang kini dibiarkan terbuka. Setiap kata perhatian yang Liam ucapkan kepada Helena terasa seperti sayatan baru di hatinya yang sudah begitu terluka—bukan karena rasa cemburu semata, melainkan karena kesadaran pahit betapa tidak berartinya dirinya di mata suaminya sendiri, bahkan setelah mengalami penderitaan fisik yang begitu berat akibat kekejaman yang tidak pernah ia lakukan.
"Aku hampir mati kelaparan di kamar itu," bisik Brooklyn pelan pada dirinya sendiri, air mata mengalir perlahan di pipinya yang masih pucat, "dan dia bahkan tidak repot-repot bertanya apakah aku baik-baik saja."
Malam itu, sambil berbaring lemah di ranjangnya sendirian, mendengar sayup-sayup suara kekhawatiran Liam yang terus mengalir untuk Helena dari kamar sebelah, Brooklyn merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kesedihan—sebuah kehampaan total yang akhirnya menghapus sisa-sisa harapan terakhir yang mungkin masih tersisa dalam dirinya terhadap pernikahan yang telah lama kehilangan segala maknanya ini.