Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Srak!
Suara tumpukan lembar jawaban komputer diletakkan dengan agak kasar di atas meja guru.
Pak Budi, guru sejarah yang selalu tampil rapi itu, menatap murid-murid kelas sebelas IPS dua dengan wajah datar.
"Bapak sudah memindai semua lembar jawaban pilihan ganda kalian dari ujian kemarin," ucap Pak Budi memecah keheningan kelas pagi itu.
"Ada beberapa yang nilainya mengejutkan, dan ada juga yang masih sangat mengecewakan seperti biasa."
Semua murid langsung duduk dengan tegang menanti hasil ujian mereka.
Bagas yang duduk di tengah terlihat sangat gelisah sambil terus melirik tajam ke arah Dito di depan.
"Nadin, tolong bantu Bapak membagikan kertas hasil ujian ini kepada teman-temanmu," perintah Pak Budi.
"Baik, Pak," jawab Nadin sambil beranjak dari bangkunya.
Gadis berambut sebahu itu mengambil tumpukan kertas dari meja guru dan mulai berkeliling kelas.
"Selamat ya, To, nilaimu sempurna seratus," ucap Nadin sambil menyerahkan selembar kertas kepada Dito.
Dito menerima kertas itu dengan tangan gemetar dan wajah yang langsung berbinar bahagia.
"Te-terima kasih, Nadin," jawab Dito dengan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan.
"Sialan anak itu," gerutu Bagas dengan suara pelan namun sarat akan ancaman dari bangkunya.
Nadin terus berjalan membagikan kertas hingga akhirnya ia sampai di meja paling belakang.
Ia memegang kertas ujian milik Tommy dan menatap angka enam puluh yang tercetak besar di pojok kanan atas.
"Enam puluh, pas di batas kriteria ketuntasan minimal," batin Nadin sambil mengerutkan keningnya.
Nadin tidak langsung memberikan kertas itu, matanya justru meneliti kolom analisis jawaban benar dan salah di bagian bawah kertas.
"Tunggu dulu, ini aneh sekali," gumam Nadin di dalam hatinya dengan perasaan janggal.
Sebagai juara kelas, Nadin sangat hafal tingkat kesulitan dari setiap soal sejarah kemarin.
Ia menyadari bahwa dua puluh soal yang dijawab salah oleh Tommy adalah soal-soal paling dasar di halaman pertama bab buku.
Namun anehnya, tiga puluh soal yang dijawab benar oleh Tommy justru merupakan rentetan soal analisis tingkat tinggi yang menjebak.
Bahkan Nadin sendiri harus berpikir keras untuk menjawab tiga puluh soal bagian belakang tersebut.
"Tom," panggil Nadin pelan sambil meletakkan kertas itu di atas meja Tommy.
"Iya, Din?" jawab Tommy sambil mendongak dengan raut wajah kebingungan yang dibuat-buat.
"Lo sadar gak sih kalau jawaban lo yang salah itu semuanya soal gampang?" tanya Nadin dengan tatapan menyelidik.
Tommy merasakan sedikit getaran peringatan di dalam kepalanya saat mendengar pertanyaan kritis itu.
Namun berkat keahlian Manipulasi Ekspresi Mikro, wajahnya tetap terlihat polos dan agak bodoh.
"Masa sih, Din? Aku gak perhatiin," jawab Tommy sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Terus gimana caranya lo bisa jawab benar semua soal analisis tentang perjanjian pasca perang dunia?" desak Nadin belum puas.
"Oh itu, aku cuma nebak asal saja, Din, hitung kancing baju," bohong Tommy sambil tertawa hambar.
"Berarti keberuntungan lo bagus banget bisa nebak tiga puluh soal tersulit dengan benar tanpa meleset satu pun," ucap Nadin dengan nada sarkastis.
"Namanya juga lagi hoki, Din, alhamdulillah nilai enam puluh aku gak jadi dimarahin," balas Tommy pura-pura bersyukur.
Nadin mendengus pelan dan membalikkan badannya untuk kembali ke bangkunya di depan.
"Dia berbohong," batin Nadin dengan keyakinan yang mulai tumbuh kuat di kepalanya.
"Tidak ada orang yang bisa seberuntung itu menebak pola jawaban acak dari sistem komputer sekolah."
Nadin memutuskan untuk mulai mengawasi gerak-gerik Tommy si bodoh ini mulai sekarang.
Waktu berlalu hingga akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaring.
Kringgg!
Suasana kelas langsung riuh saat murid-murid mulai membereskan buku mereka ke dalam tas.
Tommy sengaja memasukkan bukunya dengan sangat lambat karena ia sedang mengawasi Bagas.
Bagas dan Reno terlihat segera berdiri dan berjalan cepat menghampiri meja Dito.
Brak!
Bagas memukul meja Dito dengan keras hingga anak berkacamata itu terlonjak kaget.
"Ikut gue ke belakang gedung olahraga sekarang juga," ancam Bagas dengan suara rendah yang menyeramkan.
"A-aku mau langsung pulang, Gas, ibuku sudah menunggu," tolak Dito dengan suara bergetar ketakutan.
"Gue gak peduli sama ibu lo, cepat jalan atau gue seret lo dari sini!" bentak Reno sambil menarik kerah belakang seragam Dito.
Dito tidak punya pilihan lain selain pasrah diseret oleh dua preman kelas itu keluar dari ruangan.
Tommy yang melihat kejadian itu dari sudut matanya segera menggendong tas ranselnya.
"Sistem, buka Toko Sistem sekarang," batin Tommy sambil melangkah keluar kelas menjaga jarak dari mereka bertiga.
Ting!
Layar biru transparan langsung muncul di depan pandangannya.
"Tampilkan keahlian yang berhubungan dengan manipulasi suara dengan harga di bawah enam puluh poin," perintah Tommy di kepalanya.
Daftar barang di layar biru itu langsung berputar dan menampilkan beberapa pilihan baru.
[Keahlian Mimikri Suara Dasar (Aktif) - Harga: 20 PS]
[Deskripsi: Memungkinkan pengguna meniru suara siapa pun yang pernah didengarnya dengan tingkat akurasi sembilan puluh persen.]
"Beli ini," batin Tommy tanpa ragu sedikit pun.
[Pembelian berhasil.]
[Poin Sistem dikurangi -20 PS.]
[Skill Keahlian Mimikri Suara Dasar telah ditambahkan ke daftar keahlian Anda.]
Tommy tersenyum tipis merasakan ada sedikit perubahan aneh di bagian pita suaranya yang kini terasa lebih elastis.
Ia mempercepat langkah kakinya menyusul Bagas dan Reno yang sudah membawa Dito ke gang sempit di belakang gedung olahraga sekolah.
Tempat itu terkenal sangat sepi dan jarang dilewati oleh guru maupun murid lain setelah jam pulang.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇