Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Jaminannya?
Kampus adalah satu-satunya tempat Ophelia merasa aman, tapi hari itu dia tidak bisa fokus.
Saat jam istirahat menuju jam kuliah berikutnya, ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya.
[Ophelia, pulang langsung ke rumah. Jangan ke mana-mana. I love you]
Ophelia membalas. [Ya]
Lalu ia menambahkan. [Semuanya baik-baik saja?]
Balasan ibunya datang setelah lima menit kemudian. [Ya, semua baik-baik saja]
Itu bohong. Ophelia tahu.
Ophelia akhirnya memutuskan membolos jam terakhir. Dia kembali ke rumah lebih cepat. Tapi saat mobil masuk ke jalan perumahan mewahnya, dia melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar.
Tiga mobil hitam tanpa plat terparkir di depan gerbang rumahnya. Beberapa pria bertubuh kekar berjaga di halaman. Dan di antara mereka, Ophelia melihat Giorgio sedang berlutut di atas rumput.
Karena takut, Ophelia menyuruh sopir taksi berhenti beberapa rumah sebelum tujuannya. Ia turun dan bersembunyi di balik pagar tetangga.
Seseorang keluar dari rumahnya—pria botak dengan tato ular di leher. Don Salvatore. Dia berjalan santai menuju Giorgio, menatapnya seperti melihat serangga.
"Giorgio, Giorgio ..." suara pria itu berat, hampir seperti suara mesin. "Kau janji bayar. Aku datang. Mana uangnya?"
"Aku ... aku masih mengusahakannya, Tuan. Tiga hari, kan? Masih ada tiga hari!"
Don Salvatore tertawa. Tawanya mengerikan, tanpa humor.
"Aku mengubah kesepakatan. Aku lihat rumah ini. Bagus. Berapa harganya? Dua puluh miliar?"
"Tuan, rumah ini sudah digadai ..."
"Maka kita buat perjanjian baru. Rumah ini untukku. Dan kau kerja untukku. Selamanya."
Giorgio terdiam. Wajahnya berubah dari pucat menjadi abu-abu. "Tuan Salvatore, aku punya keluarga ..."
"Ah, keluarga." Don Salvatore menepuk pundak Giorgio seperti teman lama. "Istri cantik dan putri cantik. Ah ya, aku lupa kau menjaminkan putrimu untuk hutang ini.”
Ophelia tersentak. Jantungnya semakin berdebar. Meskipun dia tak dekat dengan Chloe tapi kakak tirinya itu cukup baik padanya dan selalu menentang Giorgio.
Tak lama, Chloe datang dengan penampilan urakannya seperti biasa. Ophelia masih bersembunyi di balik pagar.
“Ada apa ini?” tanya Chloe dengan mata sinisnya.
Pria bernama Salvatore itu menoleh dan melihat Chloe. “Kau … Chloe Brown, kan?”
“Ya, kenapa?” Chloe menjawab dengan wajah menantang tak kenal takut.
Salvatore mendekatinya dan tersenyum sinis padanya. “Kebetulan sekali kau datang. Ayahmu menjaminkanmu jika dia tak bisa melunasi hutangnya.”
Chloe membelalak. “APA??”
“Tuan … aku akan membayarnya sesuai janjiku!” Giorgio ingin berdiri tapi ditahan oleh anak buah Salvatore.
Salvatore masih menatap Chloe. “Baiklah, akan kutunggu. Jika tidak, putrimu yang cantik ini akan menjadi milik—“
“Shut up!” potong Chloe. “Aku tak akan mempertarukan hidupku untuk hutang ayahku. Kau bunuh saja dia!”
“Apa? Chloe!” teriak Giorgio. “Kau—“
“Kau tetap saja brengsek dan tak berguna! Dasar benalu!” potong Chloe lagi dan berbalik pergi.
Chloe berjalan menjauh. Dia akhirnya melihat Ophelia. Wanita muda itu menghampirinya dan menarik tangannya. “Ayo pergi. Dia bisa saja menjualmu nanti!” geramnya berbisik.
Ophelia mengikuti langkah Chloe. Dia masih ketakutan. Tapi dia tak membantah ucapan Chloe.
“Kita akan ke mana?” tanya Ophelia.
“Untuk sementara ikut denganku.” Lalu Chloe mencegat taksi dan pergi bersama Ophelia.
*
*
Di dalam mobil, Ophelia melihat Chloe. Wanita muda berpenampilan gotic itu tampak penuh amarah.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Ophelia akhirnya. “Ayahmu akan—“
“Aku akan pergi sejauh-jauhnya. Kusarankan kau juga pergi. Jika bisa, bawa ibumu. Tapi jika tidak, pergilah sendiri,” jawab Chloe.
“Aku tak bisa meninggalkan ibuku.”
Chloe menatap Ophelia. “Terserah kau jika kau ingin hidupmu hancur karena pria brengsek itu! Meskipun dia ayahku, dia tetap brengsek di mataku, Pheli!”
Ophelia terdiam dan menunduk. “Aku akan mencoba membujuk ibuku.”
“Bagus! Lakukan itu. Kalau perlu seret dia agar menjauh darinya.”
*
*
*
(JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE DI SETIAP BAB YA)
😭😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁