NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:404.5k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beban Kerja Terlalu Berat

Di balik meja kerja mahoni raksasa yang bersih dari ornamen tidak penting, Gavin Alvaro Abraham duduk bersandarkan kursi kulit ergonomisnya. Jari-jari tangannya yang panjang bertaut di depan dagu, sementara sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah salah satu monitor LED beresolusi tinggi di sisi kanan mejanya.

Sinar biru dari layar monitor itu memantul di bola mata gelap Gavin, menampilkan visual yang bergerak secara real-time. Di layar itu, tidak ada grafik pergerakan saham, akuisisi bernilai miliaran, ataupun laporan keuangan kuartalan yang dikirim lewat surel resmi eksekutif.

Layar itu menampilkan rekaman kamera pengawas rahasia resolusi tinggi yang terpasang tersembunyi di sudut langit-langit lantai dua puluh sembilan yaitu tepat mengarah ke dalam ruang kerja semi-privat milik Safira Angela.

Gavin tidak berkedip. Tatapannya begitu tajam, dingin, dan penuh dengan kalkulasi yang gelap.

Sejak pukul delapan pagi tadi, fokusnya telah terbagi. Di layar itu, dia melihat bagaimana mantan istrinya duduk dengan punggung yang tegak lurus, jemari lentiknya yang tanpa perhiasan bergerak konstan di atas papan tik, dan bagaimana wajah lembut wanita itu tampak begitu serius menyaring deretan angka di monitor.

"Tiga tahun berlalu, dan kamu masih menggunakan metode penenangan diri yang sama saat merasa tertekan, Safira." bisik Gavin rendah, suaranya parau menembus kesunyian ruangan.

Melalui lensa kamera, Gavin yang sangat mengenali setiap jengkal kebiasaan Safira bisa melihat dengan jelas detail-detail kecil yang luput dari pandangan orang awam.

Dia melihat bagaimana Safira sesekali membasahi bibirnya yang kering, atau bagaimana wanita itu menarik napas dalam-dalam setiap kali menyelesaikan satu tabel data yang rumit. Kelembutan dan ketenangan yang ditunjukkan Safira di lantai bawah justru memicu gejolak amarah yang tertahan di dalam dada Gavin.

Pikiran Gavin kembali melayang pada kejadian di kelab malam The Velvet Room tadi malam. Rasa tidak percaya dan amarah yang meledak saat melihat Safira berlutut di bawah kakinya dengan seragam pelayan malam masih menyisakan rasa pahit di lidahnya.

Bagaimana bisa wanita yang dulu ia ratukan, wanita yang ia limpahi dengan segala kemewahan dan fasilitas terbaik, kini memilih untuk hidup merangkak di kubangan dunia malam demi lembaran-lembaran uang tip?

'Mengapa kamu memilih hidup seperti ini, Safira? Jika uang yang kamu cari saat meninggalkanku dulu, mengapa sekarang kamu justru terlihat seperti pengemis yang ketakutan?' tanyanya dalam hati, rahangnya mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang.

Kebencian Gavin berakar dari rasa dikhianati yang teramat dalam. Surat perpisahan sialan tiga tahun lalu yang menyatakan bahwa Safira tidak pernah mencintainya dan hanya menginginkan harta Abraham Group telah mengubah Gavin menjadi pria berhati batu.

Dan kini, melihat Safira berada di dalam wilayah kekuasaannya, Gavin bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu menjalani hari-harinya dengan tenang. Dia ingin mengikis ketenangan palsu yang selalu dipasang Safira sebagai topeng pertahanan diri.

Tok, tok.

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan. Gavin tidak mengalihkan pandangannya dari layar CCTV saat memberikan izin masuk.

"Masuk." seru Gavin dari dalam.

Dimas melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur, membawa seberkas map kulit berwarna merah tua yang tebal di tangannya.

"Tuan Gavin, laporan operasional kuartal ketiga untuk anak perusahaan logistik di Sumatra sudah siap untuk Anda tinjau." ujar Dimas.

Gavin menegakkan posisi duduknya, pandangan matanya perlahan bergulir dari monitor CCTV ke arah asisten pribadinya. Sinar matanya yang dingin membuat Dimas secara insting menundukkan kepala lebih dalam.

"Letakkan di situ," perintah Gavin datar, menunjuk ke sudut meja. Namun, sebelum Dimas sempat mundur, Gavin mengetuk meja mahoninya dengan ujung pulpen emas.

"Dimas, bagaimana progres kerja staf baru di lantai dua puluh sembilan?" tanya Gavin yang bisa Dimas pastikan kalau itu adalah Safira mantan istri dari tuannya itu.

Dimas berdeham pelan sebelum menjawab, memastikan suaranya terdengar seprofesional mungkin.

"Nona Safira Angela menunjukkan efisiensi kerja yang sangat tinggi, Tuan. Dalam waktu dua jam, beliau sudah berhasil mengonversi enkripsi manual lama dari dua gudang cabang ke dalam sistem utama kami. Tim IT lantai dua puluh sembilan bahkan kagum dengan ketelitiannya." jawab Dimas.

Mendengar pujian itu, sudut bibir Gavin terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang sarat akan dominasi yang kejam.

"Kagum? Dia memang pintar dalam memanipulasi data dan angka, Dimas. Tapi aku tidak membawa dia ke gedung pusat ini untuk berleha-leha atau menikmati fasilitas kursi yang empuk." ucapnya dengan begitu tajam.

Gavin membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan tiga buah bundel dokumen tebal bersampul kuning yang sengaja ia simpan di sana. Dokumen-dokumen itu adalah audit investigasi internal lama mengenai selisih penyusutan aset yang belum terselesaikan dari lima tahun lalu dan itu adalah tugas yang sangat rumit, membosankan, dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi yang biasanya dikerjakan oleh tim auditor eksternal selama berminggu-minggu.

Gavin mendorong tiga bundel dokumen tebal itu ke hadapan Dimas. "Bawa ini ke lantai dua puluh sembilan sekarang juga. Berikan langsung ke meja Safira Angela."

Dimas menatap bundel dokumen itu dengan ragu. "Maaf, Tuan Gavin... tapi investigasi aset lama ini bukan bagian dari tugas sinkronisasi logistik pasca-akuisisi yang ditugaskan kepada Beliau. Beban kerja ini terlalu besar untuk dikerjakan oleh satu orang staf administrasi."

Gavin mendongak, tatapan mata elangnya menyipit tajam, memancarkan aura intimidasi yang membuat atmosfer di dalam ruangan itu mendadak turun beberapa derajat.

"Apakah aku meminta pendapatmu mengenai beban kerja, Dimas?" tanya Gavin, nadanya rendah namun sarat akan ancaman yang mutlak.

"Maaf, Tuan. Bukan maksud saya...."

"Katakan padanya," potong Gavin kejam, mengabaikan pembelaan asistennya.

"Aku butuh seluruh analisis selisih data dari ketiga bundel dokumen ini sudah diketik rapi dalam bentuk laporan cetak fisik di meja sekretariatku tepat pukul lima sore ini. Tanpa kesalahan satu angka pun. Jika dia tidak sanggup menyelesaikannya tepat waktu, ingatkan dia tentang konsekuensi yang sudah aku sampaikan tadi malam." tegas Gavin.

Dimas menelan ludah dengan susah payah, merasakan ketegangan yang luar biasa dari perintah atasannya. Dia tahu betul bahwa ini adalah cara Gavin untuk menekan dan menyiksa psikologis Safira secara perlahan lewat beban pekerjaan yang tidak manusiawi.

"Baik, Tuan Gavin. Perintah Anda akan segera saya laksanakan."

Dimas mengambil ketiga bundel dokumen tebal itu, membungkuk hormat, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.

Setelah pintu ganda mahoni ditutup kembali, Gavin menyandarkan tubuhnya lagi ke kursi kulit. Matanya kembali tertuju pada layar monitor CCTV. Dia menunggu dengan sabar, mengamati detik demi detik hingga sosok Dimas muncul di dalam frame kamera pengawas lantai dua puluh sembilan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
irma hidayat
seneng sekali ya thor bikin kita penasaran digantung, ga apa2 asal dikasih kabar baik
imel
lama amat neng
Rahma Inayah
ceritanya bgus tp terlalu bertele tele sampe sekrg Safira blm hamil hamil ..blm sempurnah kebahagian Kel Abraham klu blm dengar tangis baby dan repot ngikuti bumi kla ngidam
Eliermswati
yah knp hrs d gantung ky jemuran sih q pengen tau reaksi gavin tuh, bwh Safira hamil😂smngt thor up nya
Yuliana Tunru
garis dua ..positif dong 👍👍
Desi Santiani
ahh thorr ko dgantungg penasaraann reaksii gavinnn
Desi Santiani
please thorr double up, seruuuu🙏
Khadizah thea
hamiiill💪
Eliermswati
klo bnr Safira hamil pasti nya sngt bhgia skli gavin sm keluarga nya😍smngt thor up nya
irma hidayat
mudah2an yg dialami safira tanda2 ngidam
Yuliana Tunru
akhir x tanda2 kehamiln safita mulai terlihat ..ayo gavin lbh peka ya
Rahma Inayah
malu saya...🤭🤭 di kacangi juga di tolak mentah2 jgn kamu main2 dgn Kel Abraham Clarisa klu TDK mau perushaan ortu mu rata dgn tanah .
irma hidayat
lanjut thor ditunggu
Lusi Hariyani
kpn safira hamil
Nany Susilowati
ceritanya sangat bagus ga bertele* jadi semangat untuk kita baca 👍
Sh
jangan lupa sebelum tamat kasih kado ya, Gavin tokcer, istrinya hamil
Yuliana Tunru
cerita x bagus cm msh kurang krn blm hsm kasihan klga abraham klovtanpa penerus kasih twins ya biar lengkap 💪💪👍👍jgn end klo nlm ada penerus x yaa
Eliermswati
cerita nya seru thor cmn nsh ad yg kurang buat lah safira hamil biar mkn seru dan gavin mkn protektif😂 smngt thor up nya
irma hidayat
ayo dong thor yg baik segera kasih calon baby twin🤭🙏
Darmina Sembiring
gavin sama Safira punya bayi Thor biar keluarga kecil mereka makin bahagia 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!