"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10 - Cincin Yang Terlalu Sederhana
Safira bangun dengan punggung menghadap Arga.
Itu bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah guling yang semalam ia peluk sudah jatuh ke lantai, sedangkan tangannya menggenggam ujung kaus Arga.
Lebih tepatnya, ia memegang kaus itu seolah takut pemiliknya hilang.
Safira membuka mata perlahan.
Arga masih tidur.
Wajahnya terlihat lebih muda saat tidur. Garis tegas di rahangnya tidak sekeras biasanya. Nafasnya teratur. Jarak mereka memang masih aman, tetapi tangan Safira menjadi pengkhianat.
Ia menarik tangannya pelan-pelan.
Arga langsung membuka mata.
Safira membeku.
"Pagi," kata Arga, suaranya serak.
"Pagi."
"Kamu tidur nyenyak?"
"Lumayan."
Arga melirik kausnya yang sedikit tertarik, lalu menatap Safira.
Safira langsung duduk. "Aku mau mandi."
Ia hampir tersandung guling di lantai.
Arga menahan senyum sampai pintu kamar mandi tertutup.
Pagi itu mereka sarapan roti bakar dan telur. Safira pura-pura sibuk membaca pesan pelanggan, sementara Arga pura-pura tidak melihat wajahnya yang merah setiap kali pandangan mereka bertemu.
"Hari ini kamu ada jadwal?" tanya Arga.
"Mengantar ukuran ke Bu Maya, lalu beli benang dan kancing."
"Saya antar."
"Kamu kerja."
"Saya bisa masuk siang."
"Pekerjaan proyekmu fleksibel sekali."
"Kadang."
Safira menatapnya curiga.
Arga menatap balik dengan wajah paling datar.
Akhirnya Safira menyerah. "Aku juga mau beli beberapa kebutuhan rumah."
"Bagus. Kita pergi bersama."
Mereka berangkat setelah pukul sembilan. Tujuan pertama toko alat jahit. Safira memilih benang seperti orang memilih perhiasan. Ia membandingkan warna ivory, champagne, broken white, dan beige dengan keseriusan yang membuat Arga diam-diam terhibur.
"Bagi saya semua putih," kata Arga.
Safira menatapnya seolah ia baru saja menghina nenek moyang dunia tekstil.
"Ini ivory. Ini broken white. Ini beige muda. Ini champagne. Beda."
"Saya percaya."
"Tidak. Wajahmu tidak percaya."
"Wajah saya memang terbatas."
Penjaga toko tertawa.
Safira akhirnya ikut tertawa. Ia menjelaskan perbedaan warna dengan sabar, bahkan menunjukkan bagaimana satu tingkat warna bisa membuat kebaya terlihat mahal atau kusam. Arga mendengarkan sungguh-sungguh. Tidak semua ia pahami, tetapi ia suka melihat Safira bicara tentang hal yang ia kuasai.
Setelah itu mereka ke supermarket.
Safira membuat daftar: sabun cuci, beras, gula, kopi, teh, minyak, bumbu, tisu, deterjen, gantungan baju, kotak penyimpanan.
Arga mendorong troli.
Safira memilih barang dengan pertimbangan harga per gram.
"Yang ini lebih murah kalau ukuran besar."
"Ambil."
"Tapi berat."
"Saya yang angkat."
"Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan tenaga."
"Sebagian bisa."
Safira menggeleng, tetapi memasukkan deterjen besar ke troli.
Di bagian peralatan rumah, Arga berhenti di depan rak panci. "Kita butuh panci yang lebih bagus."
"Yang di rumah masih bisa."
"Pegangannya longgar."
"Masih bisa dikencangkan."
"Kalau lepas saat kamu angkat kuah panas?"
Safira tidak langsung menjawab.
Arga mengambil panci baru.
"Ini terlalu mahal," kata Safira.
"Ini aman."
"Mas Arga."
"Saya tidak mengajakmu boros. Saya mengajakmu tidak terluka."
Safira menutup mulutnya.
Sulit berdebat kalau lawannya menggunakan kalimat seperti itu.
Dari supermarket, mereka berjalan melewati area perhiasan di mal. Safira sebenarnya ingin langsung turun ke parkiran, tetapi Arga berhenti.
"Kita belum punya cincin yang benar."
Safira mengangkat tangan. "Ini sudah ada."
"Itu cincin akad."
"Cincin akad juga cincin."
"Terlalu tipis."
"Bagus. Tidak mengganggu saat menjahit."
Arga menatap toko perhiasan. "Saya ingin membelikan yang lebih baik."
Safira menggeleng. "Tidak perlu. Uang lebih baik dipakai untuk kebutuhan lain."
"Kebutuhan lain tetap bisa."
"Kamu selalu bicara seolah uang bukan masalah."
Arga diam.
Safira sadar kalimatnya keluar terlalu cepat.
"Maaf. Maksudku, aku cuma tidak mau kamu memaksakan."
"Saya tidak memaksakan."
"Tapi aku juga tidak nyaman memakai cincin mahal. Workshop-ku kecil, aku naik turun pasar, pegang kain, naik ojek kalau kamu tidak antar. Kalau hilang?"
Arga menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Baik. Kita pilih yang nyaman."
"Tidak mahal?"
"Nyaman," ulang Arga.
Mereka masuk ke toko kecil, bukan butik perhiasan mewah. Safira memilih cincin polos dengan detail garis halus. Harganya masuk akal. Arga terlihat tidak puas, tetapi ia tidak membantah.
Penjaga toko tersenyum. "Untuk pasangan baru, ya?"
Safira mengangguk.
"Mau diukir nama?"
Safira hendak menolak, tetapi Arga menjawab, "Bisa."
"Mau tulisan apa?"
Arga menatap Safira. "Kamu mau?"
Safira berpikir. Nama lengkap terasa terlalu intim. Tanggal akad terlalu formal. Akhirnya ia berkata, "A & S saja."
Arga mengangguk.
Penjaga toko mencatat.
Sambil menunggu, Safira melihat-lihat etalase lain. Di toko seberang, ia melihat bayangan Rania dan Dimas.
Terlambat.
Rania juga melihatnya.
Kakaknya masuk ke toko dengan langkah anggun yang sengaja dibuat santai.
"Kebetulan sekali."
Safira menahan napas. "Kak."
Dimas berdiri di belakang Rania. Matanya turun ke cincin yang sedang dipilih Safira.
"Beli cincin?" tanya Rania.
"Iya."
Rania melihat label harga yang tadi diletakkan penjaga toko. Senyumnya langsung muncul.
"Oh. Sederhana sekali."
Dimas menambahkan, "Yang penting maknanya, kan?"
Nada itu jelas bukan pujian.
Safira belum menjawab, Arga sudah mengambil cincin contoh dari meja dan memasangkannya ke jari Safira untuk mengecek ukuran.
Gerakannya tenang.
"Nyaman?"
Safira menatap cincin itu. "Iya."
"Kalau begitu ini."
Rania tertawa kecil. "Safa memang tidak banyak menuntut. Dari dulu begitu."
Arga menoleh. "Tidak menuntut bukan berarti tidak berharga."
Senyum Rania membeku.
Dimas berdeham. "Mas Arga sensitif sekali. Kami cuma bercanda."
"Bercanda yang merendahkan tetap merendahkan."
Suasana toko langsung kaku. Penjaga toko pura-pura sibuk membersihkan etalase.
Rania menatap Safira. "Kamu puas sekarang? Setiap orang harus hati-hati bicara di depanmu?"
Safira memandang kakaknya. Dulu ia selalu menengahi. Dulu ia selalu membuat orang lain nyaman meski dirinya yang terluka.
Hari ini, ia memegang tangan Arga.
"Iya. Mulai sekarang, orang harus hati-hati kalau mau merendahkan aku."
Dimas menatap tangan mereka.
Ada sesuatu di wajahnya. Penyesalan? Iri? Safira tidak ingin menebak.
Pesanan cincin selesai tidak lama kemudian. Arga membayar. Safira melihat jumlahnya, lalu menarik napas lega karena masih masuk akal.
Mereka keluar dari toko tanpa menunggu Rania dan Dimas.
Di parkiran, Arga tiba-tiba berhenti.
"Apa?"
"Kamu tadi memegang tangan saya."
Safira langsung melepas.
"Aku cuma... situasinya..."
"Saya tidak protes."
"Wajahmu seperti protes."
"Wajah saya memang terbatas, ingat?"
Safira tertawa.
Arga membuka pintu mobil untuknya. Sebelum Safira masuk, ia berkata pelan, "Cincin itu memang sederhana. Tapi saya tidak membeli yang sederhana karena kamu hanya pantas mendapat itu."
Safira menatapnya.
"Saya membeli karena kamu memilihnya. Lain kali, kalau kamu siap memakai yang lebih baik, saya akan belikan."
"Lebih baik bukan berarti lebih mahal."
"Menurutmu."
"Menurutku."
Arga mengangguk. "Baik. Kalau begitu, saya akan belajar."
Safira masuk ke mobil dengan dada hangat.
Di jari manisnya, cincin baru itu tidak berat.
Tapi untuk pertama kalinya, sebuah benda pemberian suami terasa bukan penanda kepemilikan.
Rasanya seperti janji kecil bahwa pilihannya dihargai.
Malamnya, Safira menyimpan kotak cincin akad di laci bersama kain batik mahar. Ia membuka batik itu sebentar, menyentuh motifnya dengan ujung jari. Semakin dilihat, semakin jelas kualitasnya. Cantingnya halus, malamnya bersih, dan warna soganya tidak pudar meski kain dilipat lama.
"Ini batik mahal," gumamnya.
Arga yang baru masuk kamar berhenti. "Kamu baru sadar?"
"Aku sadar dari awal. Tapi sekarang lebih sadar."
"Itu peninggalan Kakek saya untuk calon cucu menantunya."
Safira menatap kain itu. "Berarti seharusnya untuk Kak Rania."
"Tidak."
Jawaban Arga terlalu cepat.
Safira menoleh.
Arga mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dengan jarak aman. "Mahar itu diberikan saat akad. Yang menerima akad adalah kamu. Jadi sejak awal kain itu milikmu."
"Tapi rencana awal..."
"Rencana awal berubah."
Safira menunduk, mengusap motif parang. "Aku sering menjadi orang yang menerima sisa rencana orang lain."
"Kali ini bukan sisa."
Ia ingin percaya. Ia juga takut percaya.
Arga tidak memaksa.
"Simpan baik-baik," katanya. "Suatu hari, kalau kamu ingin, kamu bisa membuat sesuatu dari kain itu."
Safira membayangkan batik itu menjadi outer modern, dikenakan saat ia membuka butik sendiri.
Bayangan itu terlalu berani.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mengusirnya.